Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 22. Membalas ucapan Bram


__ADS_3

...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Kejadian 20 tahun yang lalu, sangatlah menyakitkan untuk Anna dan Bryce. Mereka kehilangan anak perempuan mereka yang berusia 2 tahun saat itu. Anak mereka diculik oleh asisten rumah tangga mereka karena dendam telah dipecat dari rumah itu, lalu kabarnya di culik orang gila. Setelah itu mereka tidak tahu kabar tentang putri kecil mereka.


Anna yang depresi, membuat Bryce sedih. Akhirnya Bryce mengambil seorang anak dari panti asuhan, yaitu Giselle yang usianya 3 tahun lebih tua dari putri kandung mereka. Lalu Bryce mengadopsinya menjadi adik Sean dan anaknya.


Perlahan keadaan Anna membaik, sikap Giselle yang ceria walau kadang keras kepala dan manja, kembali membuat senyum di wajah Anna. Keluarga Gallan sangat menyayangi Giselle layaknya putri mereka sendiri, memanjakannya dengan segala kasih sayang yang harusnya untuk Putri kandungan mereka. Sama sekali mereka tidak pernah menyinggung soal Giselle yang hanya anak angkat. Mereka sayang Giselle, tapi di relung hati yang terdalam. Anna masih belum bisa melupakan putri kandungnya, Lyodra Shara Gallan.


Kabar terakhir yang mereka dapatkan bahwa Lyodra meninggal terbakar di rumah orang gila yang membawanya itu. Tapi Anna tak percaya begitu saja.


Tapi entah kenapa hari ini Anna begitu merindukan Lyodra. Bryce kembali menenangkan istrinya itu dan beralih membicarakan masalah Giselle. Putri mereka yang hamil di luar nikah dan ia hamil oleh suami orang.


"Ma, kita harus pikirkan solusi dari semua ini. Papa tidak mau kalau anak kita menjadi istri kedua," kata Bryce pada istrinya.


"Mama juga tidak mau pa, lalu kita harus bagaimana?" Anna kembali fokus pada urusan Giselle putri kesayangannya.


"Kita harus temui keluarga Bram dan juga kita harus bicara pada istrinya." kata Bryce pada istrinya.


"Iya pa,"


"Besok kita temui dia." kata Bryce pada sang istri. Mereka pun tidur bersama karena hari sudah malam.


****


Malam itu Ara kembali ke rumah lamanya bersama Bram dengan terpaksa. Bram juga bersikap agak kalem tidak seperti biasanya setelah dari rumah Giselle. Sementara yang menjaga Aryan di rumah sakit adalah Rania untuk malam ini.


"Mas, apa kamu mau makan malam? Mau aku buatkan?" tawar Ara, masih berusaha menjadi istri yang baik dan sabar. Dia merasa ketenangan Bram ini adalah kesempatannya untuk mengambil hati Bram.


"Ya."


"Kamu mau apa mas?"


"Nasi goreng," jawab Bram singkat.

__ADS_1


"Akan aku buatkan ya mas," kata Ara sembari mengulumm senyum tipis. Ara pergi ke dapur untuk memasak nasi goreng permintaan suaminya. Ia juga lapar belum makan malam, tapi ia berdoa semoga makanan yang ia makan kali ini tidak di keluarkannya lagi seperti tadi siang.


Bram baru saja selesai dari kamar mandi membersihkan dirinya, ia melihat pakaian tidur yang sudah ada di atas ranjang. Tanpa berpikir panjang ia menyambar pakaian itu dan memakainya, sudah bisa ditebak bahwa Ara yang melakukannya.


"Kamu memang baik, tapi sayang aku tidak mencintaimu." gumam Bram.


Bram mendengus harum masakan istrinya yang memang selalu enak. Ia pergi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke dapur.


Ia melihat Ara sedang memindahkan nasi goreng ke piring. Tak lupa Ara menyimpan telur ceplok diatas nasi goreng khusus untuk Bram.


"Mas, disini ada susu hamil...apa ini untukku?" tanya Ara senang melihat ada 2 kotak susu ibu hamil rasa coklat disana.


"Itu punya Giselle."


"Oh,aku meminumnya tadi."


"APA?" sentak Bram emosi.


Apa yang kamu harapkan Ara?


Pria itu menghela nafas berat, lalu dia mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Ya sudah, itu untuk kamu. Nanti aku belikan lagi untuk Giselle. Tapi lain kali kamu tidak boleh begitu, main asal ambil aja, gak sopan!" ketus Bram sambil mengambil gelas berisi air minum di atas meja lalu meneguknya.


"Aku pikir itu untukku mas," jawab Ara membela diri.


"Udah gak usah jawab, cepet siniin makanannya." kata Bram tidak sabar, perutnya sudah lapar dari tadi siang. Ia bahkan tak sempat makan di rumah Giselle, boro-boro makan yang ada dia malah banyak pikiran. Dan lagi-lagi dia menyalahkan semuanya pada Ara.


Tanpa bicara apa-apa, Ara menyimpan piring berisi nasi goreng tepat ke hadapan Bram. Lalu Ara duduk dan bersiap untuk makan juga.


Terlihat mulut Ara yang komat-kamit membaca doa sebelum makan yang tak pernah ia lupakan. Sementara suaminya langsung melahap makanan dengan rakus tanpa mengucap doa.


"Mas, kamu belum berdoa...makannya jalan cepat-cepat, nanti kamu tersedak mas."

__ADS_1


"Bisa diem gak? Orang lagi makan malah dibawelin!" seru Bram kesal, seraya menatap istrinya dengan kesal.


"Maaf mas, aku cuma mengingatkan mas aja."


"Makan aja deh gak usah berisik! Kamu tuh beda sama Giselle, dia selalu diam dan tidak cerewet sama kamu yang suka suruh makan, suruh ini itu, intinya dia gak bawel." gerutu Bram yang mulai membandingkan istrinya dengan Giselle, kekasihnya.


Ya Allah, tolong beri aku kekuatan untuk menghadapi suami seperti ini. Batin Ara sambil menarik nafas.


"Oh jadi mbak Giselle begitu ya mas? Itu artinya dia gak perhatian sama kamu dong?" tanya Ara memberanikan diri.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu?" kedua mata Bram melebar menatap Ara dengan kesal.


"Apa yang aku bilang bener kok. Kalau Mbak Giselle memang sayang sama mas, dia pasti gak akan biarkan perut mas kosong sampai sekarang. Dia pasti akan memperhatikan kamu, setiap apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi sama kamu. Orang yang sayang sama kamu tidak akan membiarkanmu sakit."


"CUKUP!" teriak Bram marah dan tidak terima dengan perkataan Ara tentang Giselle. Tapi dalam hatinya ia memikirkan ucapan istrinya.


"Kalau dia sayang sama Mas, dia tidak akan meninggalkan mas dan pergi keluar negeri disaat hidup mas sedang susah untuk naik ke posisi CEO." Ara kembali mengingatkannya disaat tersulit Bram beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia belum menjadi CEO di perusahaannya dan masih karyawan biasa. Ara yang selalu mendukung Bram disaat-saat tersulitnya untuk meraih posisi CEO. Tapi saat itu Giselle meninggalkannya ke Paris dengan alasan berkarir disana.


"Itu karena dia berkarir!"


"Oh ya? Kalau dia berkarir di sana, kenapa dia tidak menghubungi Mas Bram sama sekali? Kenapa juga dia kembali saat tau mas Bram naik menjadi Presdir?"


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan pernah menjelek-jelekkan Giselle!" Bram menunjuk-nunjuk pada Ara dengan kesal. Akhirnya mereka tidak fokus makan, malah tertunda karena berdebat.


"Kenapa mas? Kamu gak bisa jawab kan? Itu artinya mbak Giselle sama sekali tidak sungguh mencintaimu." kata Ara yang berusaha untuk menyadarkan Bram bahwa Giselle tidak tulus mencintainya.


"Kamu sungguh, membuat nafsu makanku jadi hilang!" sentak Bram kemudian pergi meninggalkan meja makan. Tanpa membawa piring yang masih berisi setengah dari nasi goreng itu disana.


Ara melihat Bram pergi dari sana, ia kembali melanjutkan kegiatan makannya walau hatinya tidak nyaman. "Kita harus tetap makan dek, dalam keadaan apapun dan tolong kuatkan mama ya? Kuatkan mama, agar papa kamu menyadari bahwa kita ada didalam hidupnya." Ara mengelus perut ratanya seraya tersenyum tipis. "Mama bertahan demi kamu, demi opa, demi menghindari perbuatan halal yang sangat dibenci Allah yaitu thalaq."


^^^Hadis Rasul yang berbunyi โ€œPerbuatan halal yang sangat dibenci Allah adalah thalaq (cerai)โ€(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)^^^


...****...

__ADS_1


__ADS_2