
...πππ...
Ara terkejut dan tubuhnya langsung limbung saat melihat isi kotak misterius itu. Kotaknya jatuh bersamaan dengan kepala kucing yang berdarah-darah menggelinding di atas lantai dan tubuh kucing hitam itu masih ada di kotaknya.
"Sayang! Kamu kenapa?" Regan berteriak sambil berlari dari dapur ke ruang tengah menghampiri istrinya yang sudah jatuh terduduk di lantai.
"Mas...itu mas! Itu..." wanita itu terlihat syok, ia bahkan tak berani melihat ke arah kepala kucing yang barusan menggelinding di lantai.
Regan memeluk istrinya, ia juga terkejut melihat mayat kucing yang di mutilasi itu. Jelas Ara ketakutan, Regan juga jadi khawatir pada istrinya yang tengah hamil muda itu. Tubuh Ara gemetaran didalam dekapan Regan, entah kenapa dia jadi sensitif begini.
"Mas...aku takut..."
"Gak apa-apa sayang, ada aku disini. Yuk kita ke kamar ya," ajak Regan pada istrinya.
"Kakiku lemas mas...aku gak tau kenapa." lirih Ara.
Regan dengan sigap langsung menggendong istrinya yang lemas itu. Biasa Regan rasakan tubuhnya masih gemetar. "Kita ke kamar ya, sayang. Kamu harus istirahat."
"Ta-tapi mas...i-itu kucing--"
"Sstt...jangan pikirin itu sayang." Regan meminta istrinya untuk tenang, tapi rupanya Ara masih belum bisa tenang. Wajahnya pucat dan syok. Baru saja pulang dari rumah sakit dan sudah ada yang mengirim seperti itu ke rumahnya. Orang isengkah? Atau emang disengaja? Tapi siapa? Ara bertanya-tanya dalam hatinya.
'Sialan! Pasti ini ulah wanita gila itu. Beraninya dia berbuat ulah lagi, rupanya rumah sakit jiwa belum cukup membuatnya jera' batin Regan kesal dan menduga bahwa Windy pelakunya.
"Mas, wajah kamu kenapa? Serem banget." Ara menatap suaminya yang sedang menggendongnya menuju ke kamar. Wajah Regan terlihat suram dan sorot matanya tajam.
Menyadari Ara ketakutan dengan raut wajahnya, Regan langsung mengubah raut wajahnya kembali. "Aku gak apa-apa sayang," jawab Regan singkat. Ia tak mau membahas soal mayat kucing itu dan nanti malah membuat Ara stress.
****
Setelah mereka sampai didalam kamar, Regan langsung merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang dengan lembut. "Sayang, kamu jangan kemana-mana dulu ya."
"Ta-tapi mas..." Ara memegang tangan suaminya dengan gelisah.
__ADS_1
"Aku gak akan lama, nurut ya sayang... istirahat disini." pria itu menepis pelan tangan Ara, ia akan pergi keluar sana dan membereskan dulu masalah. Terutama yang berkaitan dengan keamanan di rumahnya.
Akhirnya Ara sendirian disana, padahal Ara masih syok dengan apa yang terjadi barusan. Tiba-tiba saja bayangan si kepala kucing berdarah-darah itu terlintas di kepalanya dan membuat Ara mual-mual. Wanita itu pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
****
Di ruang tengah, Regan marah-marah dan menunjukkan sikap aslinya. Ia memanggil semua orang di rumah itu, Herman, Didin, Sena dan Hugo.
Empat orang yang bekerja di rumah itu terkejut saat melihat mayat kucing yang di mutilasi dengan kondisi berdarah-darah. Apalagi kepalanya terlihat mengenaskan dengan otak yang terburai.
"KENAPA KALIAN GAK BECUS KERJA HAH? PADAHAL SAYA SUDAH BAYAR KALIAN MAHAL-MAHAL, TAPI--HAL SEPERTI INI BISA TERJADI DISINI??" sentak Regan pada keempat orang yang sekarang sedang menundukkan kepala mereka.
"Hugo, Sena! Apa kalian tau siapa yang sudah mengirimkan paket ini?! Dan siapa yang menyerahkan paket ini kepada istri saya?!" sentak Regan dengan suara dinginnya itu. Bagi Hugo dan Sena, mereka tidak terlihat terkejut saat Regan menunjukkan sisinya yang seperti ini. Sebab mereka sudah lama mengenal Regan di luar negeri. Tapi bagi Herman dan Didin yang bekerja di kediaman Dirgantara sebelumnya, tidak pernah melihat sisi Regan yang seperti ini. Sikap lembut dan perhatiannya berubah jadi dingin juga tegas. Terasa asing untuk kedua pria paruh baya itu.
Herman lalu mengangkat satu tangannya, ia mengaku bahwa dirinya yang menerima paket tersebut. "Jadi mang Herman yang menerima paket itu dan menyerahkannya kepada istri saya? Benar?"
"I-iya tuan, saya."
"Mang Herman ikut saya dan kamu Sena, bersihkan bangkai kucing itu sampai bersih. Saya tidak mau sampai ada darah dan noda sedikitpun disini. Kalau istri saya sampai melihatnya sedikit saja, saya tidak akan tinggal diam." ujar Regan tegas pada Sena.Ya, selain dipekerjakan sebagai bodyguard Ara, Sena juga dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.
Sementara Regan dan Herman pergi ke tempat lain di rumah itu, Didin kembali ke posnya. Sena dan Hugo membereskan mayat kucing juga membersihkan darah yang ada disana.
"Hugo, aku tidak menyangka bahwa pak Regan sangat mencintai istrinya." ucap Sena dengan tangan yang memegang lap dan membersihkan lantai.
"Apa kamu lupa bahwa nona Haura adalah cinta pertama pak Regan? Kamu tau kan artinya cinta pertama... cinta yang sulit untuk dilupakan. Ya, sama seperti sulitnya aku merupakan perasaan ini sama kamu." celetuk Hugo dengan wajah dinginnya dan membuat Sena tercekat.
"Hugo, itu sudah masa lalu." tepis Sena tak mau membahas masa lalu lagi. Dulu ia pernah pacaran dengan Hugo tapi kandas.
"Oke itu masa lalu, tapi sekarang kan beda. Kita ketemu lagi dan--"
"Stop Hugo! Mending kita kerjain tugas kita sekarang!"
Diam-diam Hugo tersenyum melihat wajah cantik Sena, ada sesal di hati Hugo saat dulu putus dengan Sena.
__ADS_1
*****
Regan mengintrogasi Herman tentang paket misterius itu dan siapa pengirimnya. Regan sudah cek cctv dan ia mengetahui bahwa pengirim paketnya hanya seseorang dari jasa kirim, tak ada yang mencurigakan. Tapi siapa dalangnya lah yang mencurigakan. Regan sudah menduga dan semua dugaannya mengarah pada Windy. Setelah bicara dengan Herman, Regan langsung menelpon orang kepercayaannya untuk mengawasi Windy. Tak lupa Regan meminta agar Hugo dan Sena selalu siaga, juga waspada.
Cekrek!
"Sayang?" lirih Regan saat membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya tengah berbaring dengan mata terpejam. Regan mendekati sosok bidadari cantik yang kini sekarang sudah berstatus sebagai istrinya itu, ia ingin memastikan bahwa Ara baik-baik saja.
"Kamu tidur sayang?" bisik Regan lembut, kemudian ia mengecup kening Ara. Wanita itu tampak damai dalam tidurnya dan syukurlah kejadian kucing mati itu tidak menganggunya.
Tak lama setelah Regan mengecap kening Ara, tiba-tiba saja Ara membuka matanya. "Mas? Aku ketiduran ya?"
"Sayang, kamu gak apa-apa?"
"Aku gak apa-apa mas. Tapi siapa orang yang mengirim paket itu ya mas? Kenapa dia mengirim seperti itu? Apa maksudnya dengan selamat atas kehamilan--"
"Sayang, udah jangan dipikirkan lagi ya. Mungkin itu orang iseng." Regan mengusap lembut rambut sang istri.
'Haahh...sudah aku duga Ara pasti akan bertanya, dia pasti kepikiran. Aku gak boleh buat dia kepikiran. Gak bagus untuk bayi kami' batin Regan cemas.
"Tapi Mas--"
"Kita pindah ke rumah mama atau rumah opa dulu yuk?" ajak Regan pada istrinya itu. Ya, menurutnya mungkin lebih baik bila Ara tinggal sementara waktu bersama dengan keluarga mereka agar banyak yang menjaganya.
"Pindah?"
"Ya, kita pindah sekarang."
...****...
Hai Readers, maaf author kemarin gak up karena kesibukan π btw happy new year buat kalian semua ,semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya β€οΈ berhubung ini hari Senin, jangan lupa vote, komen, gift nya ya
Author juga mau promo novel baru author nih... genrenya cinta remaja, mampir ya βΊοΈ
__ADS_1