
...🍁🍁🍁...
Pagi itu adalah pagi yang sepi untuk Bram yang kini tinggal sendirian di rumahnya. Sesekali ada pembantu rumah tangga yang membersihkan rumah, tapi hanya pada siang sampai sore hari saat tak ada siapapun di rumah.
Bayang-bayang Ara selalu terlintas di kepalanya. Contohnya pagi ini saja dia melihat bayang-bayang mantan istrinya tengah menyiapkan pakaian kerja untuknya seperti saat mereka masih terikat pernikahan dulu.
Suara Ara, bibirnya yang tersenyum, ocehannya yang selalu menanyakan mau makan siang apa atau mau pulang kapan. Terngiang-ngiang di dalam diri Bram setiap harinya. Terutama pagi hari ini.
Kini Bram sendirian, tengah menyantap sarapannya dan bersiap pergi ke kantor setelahnya. Pria itu tersenyum tipis, ia tidak menyangka bahwa dirinya masih berada dalam penyesalan terberat dengan menceraikan istri sebaik Ara.
"Mungkin ini hukuman dari Allah untukku, rasa rindu ini, penyesalan ini, semua bayang-bayang tentang kamu. Adalah hukuman untukku yang sudah menyia-nyiakan kamu Ra. Tapi aku janji, kalau kita kembali lagi dan kita masih berjodoh...aku tidak akan menyakitimu lagi. Akan aku bahagiakan kamu, Ra." gumam Bram miris. Pria itu masih belum saja melupakan mantan istrinya. Entah sampai kapan rasa itu akan berakhir.
"Sakit sekali Ra, membayangkan masa-masa yang aku lewati dengan menyakitimu. Aku menyesal, sangat." decak Bram penuh rasa sesal.
Usai sarapan dengan tidak berselera seperti biasanya, Bram mengambil tas kerjanya. Kemudian ia pun pergi keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil. Di dalam perjalanan menuju ke kantornya, Bram melihat kerumunan orang-orang didepan rumah sakit tengah heboh akan sesuatu.
"Ada apa itu ya? Kok rame-rame gitu sih." gumam Bram yang mulai tertarik dengan orang-orang di depan rumah sakit. Akhirnya Bram memutuskan untuk memberhentikan mobilnya tak jauh dari rumah sakit itu.
"Mbak! Turun Mbak! Mbak..ya Allah Gusti!" seru seorang ibu-ibu seraya melihat ke lantai paling atas gedung rumah sakit itu. Terlihat seorang wanita berjas putih khas dokter berdiri di ujung gedung rumah sakit.
"Mbak!"
"Bu, ada apa ini?" tanya Bram seraya menepuk bahu seorang wanita paruh baya didepannya.
"Oh ini mas, ada yang mau bunuh diri."
"Siapa Bu?" Bram penasaran.
"Katanya dokter di rumah sakit ini, dia seorang psikolog mas. Katanya juga dia depresi karena diperkosa sampe hamil." bisik si ibu itu pada Bram.
"Kasihan ya." kata si ibu yang satunya lagi, merasa iba.
"Psikolog?" gumam Bram. Kata psikolog mengingatkannya pada Tania, dia seorang psikolog juga. Tapi mana mungkin kan Tania mau bunuh diri? Dan apa katanya, hamil? Namun karena rasa penasarannya, akhirnya Bram melihat siapa sosok yang akan bunuh diri itu.
"Astagfirullah! Dia..." pekik Bram saat melihat Tania berada diatas gedung bersama dengan beberapa orang yang mencoba menghentikannya untuk bunuh diri.
Tadinya Bram tidak mau peduli, tapi berhubung dia kenal dan demi rasa kemanusiaan. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan bergegas menuju ke atas gedung untuk menolong gadis itu.
__ADS_1
****
Sementara itu di atas gedung, Tania menangis sambil melihat ke bawah gedung. Sebuah fakta yang sangat menyakitkan baginya, kejadian di Maldives itu ternyata membuatnya hamil. Tania tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya nanti karena hamil anak dari 3 orang yang telah menodai kesuciannya itu, entah benihnya dari siapa. Tania tidak terima, apalagi semua orang sudah tahu bahwa putri dari pengusaha besar Adam Kartawirya tengah mengandung hasil di perk*sa.
"Tania dengarkan papa sayang, jangan bodoh...papa mohon. Hidup masih panjang nak, papa tidak malu dengan keadaanmu nak... sungguh." kata Adam seraya membujuk putrinya untuk tidak melakukan hal bodoh yang akan dia sesali seumur hidup.
"TIDAK PAH! Jangan hentikan aku! Lebih baik aku dan bayi sialan ini mati, daripada aku harus hidup menanggung malu! Aku juga sudah mempermalukan nama papa. Mati lebih baik pa, hiks...hiks..."Tania menangis terisak-isak. Angin yang berhembus itu menerbangkan rambutnya yang panjang hingga melambai-lambai. Ia sudah bersiap untuk terjun ke bawah sana, didalam emosi dan kesedihannya.
"Tidak sayang, papa mohon turunlah nak. Kamu anak papa satu-satunya, papa tidak mau kehilangan kamu! Papa sayang kamu nak, apapun keadaanmu papa akan selalu menjagamu, nak." bujuk Adam seraya berjalan mendekat ke arah Tania.
Namun gadis itu mengangkat tangannya, meminta Adam untuk tetap diam di tempatnya dan tidak melangkah lagi. "STOP PAPA! Lebih baik papa pulang, pergi Pa! Huhu..." tukas Tania tegas pada papanya itu.
Perasaan seorang ayah mana yang tidak hancur melihat masa depan putrinya hancur, tapi ia akan lebih hancur lagi bila putrinya memilih jalan yang salah.
"Silahkan lompat!" seru seseorang yang datang dengan terengah-engah kesana. Semua atensi tertuju pada pria itu dengan tajam.
"Kamu..." Tania melihat ke arah Bram. Dengan pikiran yang bertanya-tanya, kenapa Bram ada disini?
"Silahkan saja lompat dan dengan begitu kamu akan menyesal." cetus Bram pada Tania. Dan ia berhasil membuat Tania terdiam, menghentikan langkahnya ke ujung gedung. Kini perhatiannya tertuju pada Bram.
"Begitu kamu lompat kesana, kamu akan langsung ke neraka. Kamu juga membunuh bayimu."
"Memangnya kamu bisa menjamin dirimu masuk surga? Don't be stupid, dokter Tania...jangan mengambil keputusan berdasarkan rasa marah dan sedih. Ingat bahwa ada nyawa lain didalam dirimu, dia berhak diberikan kesempatan untuk hidup." ucap Bram yang teringat dengan Ara ketika melihat Tania saat ini. Ara yang saat itu mati-matian mempertahankan bayi mereka. Bram jadi sadar bahwa sebuah nyawa didalam rahim seorang wanita sangatlah berharga.
Dia ingin menolong Tania, dia tidak ingin wanita itu menyesal karena sudah mengambil keputusan yang salah.
"Anda gak tau apa-apa tentang saya, jadi jangan ikut campur! Gak usah ceramah! Anda gak paham perasaan saat ini!" seru Tania dengan kemarahan dan kesedihan di matanya.
"Saya memang tidak tahu apa-apa, tapi saya tau bahwa bayi itu tidak bersalah."
"Cih! Jangan sok-sokan peduli pada bayi yang ada di dalam kandungan saya, anda pikir saya tidak tahu kamu sebrengsek apa saat dulu kamu menikah dengan mantan istri kamu!" ketus Tania yang ternyata sudah mengorek masa lalu Bram sebelumnya.
"Saya memang brengsek, saya bukan orang suci. Saya berlumuran dosa, saya mengkhianati istri saya, menyiksa bahkan membuatnya keguguran meski bukan dengan saya langsung. Saat itu saya juga ingin bunuh diri karena penyesalan, tapi saya berpikir ulang. Daripada bunuh diri, lebih baik memperbaiki diri bukan?"
Hati Tania mencelos mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Bram padanya. Tangan wanita itu terkepal, ia mulai terpengaruh dengan kata-kata Bram padanya. Adam menatap pria yang berusaha membantu putrinya itu.
'Dia... bukankah dia Bramasta Wiratama? Dia kenal dengan Tania?' batin Adam.
__ADS_1
"Begitu kamu turun kesana, jaminan kamu ke neraka! Dan kamu akan menyesal, papa kamu akan sedih kehilanganmu." Bram masih mencoba memprovokasi wanita itu untuk tidak melakukan aksi bunuh dirinya. Pria itu bahkan mengulurkan tangannya untuk membantu Tania.
Tania mencelos, tangannya mulai terulur menggapai tangan Bram. 'Pak Bram benar, aku tidak boleh melakukan ini. Papa pasti akan sedih'
Saat tangan Bram dan Tania akan bersentuhan, tak sengaja kaki Tania terpeleset dan tubuh wanita itu oleng. Semua orang yang melihatnya sontak saja berteriak panik ketakutan.
"TANIA!" teriak Adam.
Bram menarik tangan wanita itu sekuat tenaganya dan akhirnya dia bisa menolong Tania.
Tania berada dalam dekapan Bram, nafas keduanya sama-sama terengah setelah kejadian menegangkan yang barusan mereka alami. Tania hampir jatuh, mungkin dia mati bila Bram terlambat sedikit saja. Bram adalah penyelamat Tania.
Deg, deg..
Entah kenapa jantung dan hati Tania merasakan reaksi berbeda saat berada di pelukan si duda itu.
****
Rumah Ratih, pagi itu.
Arga demam tinggi, setelah semalaman ia berada di luar tidur di lantai, tanpa alas, apalagi selimut. Mia terus mengoceh, dia menyebut Arga idiot karena bukannya pulang tapi pria itu malah diam di depan rumahnya.
"Mia, udah dong kmu jangan marah-marah kayak gitu. Orang lagi sakit kok dimarahin?" tukas Ratih pada Mia yang terus saja mengoceh.
"Ih...ibu kenapa ibu malah belain dia sih?" Mia sebal. Sementara Arga yang berada di bawah selimut itu tersenyum senang sebab Ratih membelanya.
"Udah ah, ibu mau keluar dulu beli obat. Kamu jagain dulu nak Arga." kata Ratih seraya pergi dari sana.
"Ta-tapi Bu..." belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Ratih sudah melenggang pergi dari sana.
Akhirnya Arga dan Mia berdua saja di sofa ruang tamu rumah itu dengan pintu rumah yang terbuka. Arga terlihat pucat dan ia berbaring di sofa. "Mia..."
"Apa?" ketus Mia.
"Aku bakal jelasin semuanya, please kasih izin." pinta Arga memohon.
"Hem..." Mia hanya menanggapinya seperti itu, tapi ia siap mendengarkan penjelasan Arga.
__ADS_1
...****...