Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 79. Permohonan maaf Giselle


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Setelah mengantar Tania ke rumahnya, Bram juga bergegas pulang ke rumahnya. Rumah yang ia tempati bersama Ara dulu. Dan di rumah itu masih ada foto pernikahannya bersama Ara dipasang di dinding. Padahal sebelumnya saat mereka masih menikah. Foto pernikahan itu tidak pernah dipajang oleh Bram.


Sesampainya di rumah sepi dan hening itu, Bram langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memikirkan kondisi Tania yang menyedihkan, ia kasihan pada gadis itu yang sudah kehilangan kehormatannya. Bram berharap bahwa Tania akan baik-baik saja.


"Kasihan juga dia, semoga dia baik-baik saja." lirih Bram seraya melihat foto pernikahannya di dinding kamarnya. "Kamu penyemangatku Ara, aku janji aku akan kembali mendapatkan kamu." kata Bram penuh tekad.


Namun Bram tidak tahu bahwa kata-kata janjinya itu tidak akan bisa dia tepati. Sebab ada hal yang jauh lebih besar dari yang ia duga, untuk mendapatkan kembali Mantan istrinya menjadi mustahil.


****


Tadinya Regan ingin berada di Maldives sesuai dengan rencana mereka yaitu satu Minggu, namun Ara mengajak suaminya pulang sebab ia sudah rindu dengan mama, papa dan kakaknya. Jadinya mereka hanya 5 hari disana.


Tak apa yang penting pengantin baru itu sudah mendapatkan bulan madu mereka ditempat yang indah. Dan tentunya mereka banyak mengenal satu sama lain karena hanya berduaan saja disana. Regan dan Ara jadi tau kesukaan dan apa yang tidak disukai dari diri masing-masing. Belum lagi bermesraan jadi poin mereka untuk meningkatkan chemistry.


"Kita mau pulang kemana ya mas?" tanya Ara saat ia dan suaminya sampai di bandara Jakarta. Ara mendadak bingung, dia mau pulang ke mana bersama suaminya. Terlalu banyak rumah yang harus mereka sambangi, ada rumah Bu Ratih, rumah kakek, rumah mertua Regan dan juga rumah Regan sendiri. Harus mengunjungi yang mana lebih dulu?


"Kamu maunya pulang ke mana Sayang?" tanya Regan seraya mengelus lembut rambut panjang sang istri. Semua keputusan, Regan serahkan kepada istrinya mau tinggal di mana. Ia ingin segala-galanya nyaman untuk Ara.


"Kok jadi tanya ke aku sih? Aku ikut mas, dong!" Ara menatap suaminya dengan bingung.


"Aku ikut kamu aja mau kemana," jawab Regan santai.


"Istri ikut suaminya mas. Jadi aku akan ikut kemanapun Mas pergi." ucap Ara pada suaminya.


"Gak harus begitu juga sayang. Semua keputusan ada di kamu, jadi aku mau kali ini kamu yang menentukan kita mau pulang kemana dulu."

__ADS_1


"Beneran boleh?"


"Ya, jadi kamu mau kita kemana dulu?" tanya Regan pada istrinya itu. Sungguh, Ara semakin kagum pada suaminya. Apa dulu dia pernah menyelamatkan sebuah negara, sehingga dia diberikan suami tipe perfect seperti ini? Dia sangat bersyukur pada Allah yang maha kuasa. Ara janji akan menjadi istri yang baik dan berbakti untuk suaminya.


"Kita ke rumah mama dulu yuk, gak tau kenapa perasaanku gak enak." lirih Ara sambil memegang dadanya.


"Oke, kita kesana ya sayang." sahut Regan setuju. Pria soft khusus Ara itu, segera menggandeng tangan sang istri dan pergi dari bandara menuju ke rumah Gallan.


*****


15 menit Ara dan Regan menempuh perjalanan ke rumah Gallan dan akhirnya sampai di depan gerbang. Namun alangkah kagetnya mereka ketika melihat ada banyak orang yang membawa kamera tengah berkerumun di depan gerbang rumah itu.


"Ada apa ya mas? Kok banyak orang sih? Kayak wartawan ya?"


"Iya sayang, ada apa ya?"


Tak lama kemudian para wartawan itu berkumpul dan mengerumuni Ara juga Regan. Menanyai kepada mereka tentang Giselle, tentu saja mereka tidak tahu menahu. Karena wartawan yang banyak itu, akhirnya Regan mengusir wartawan-wartawan didepan rumah Ara. Dalam hitungan menit, wartawan-wartawan itu sudah dibereskan oleh orang-orang Regan.


"Mas, siapa orang-orang berpakaian hitam itu? Apa mereka yang bicara sama kamu ditelpon?"


"Iya Ra, anggap saja teman." jawab Regan santai.


Ara tercengang, ia tak menyangka bahwa suaminya yang lembut ini punya teman-teman yang bertubuh kekar dan menyeramkan. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu dan alangkah kagetnya Ara saat dia disambut oleh seseorang yang berlutut didepannya.


"Ara...maafin aku...aku minta maaf Ara."


"Mbak Giselle?"sentak Ara terkejut. Sementara Regan menatap tajam pada Giselle, sumber penderitaan istrinya.

__ADS_1


Giselle memegang kedua kaki Ara dengan erat, wanita itu bersimpuh memohon ampunan pada Ara. Dia menangis dan wajahnya sangat pucat. Giselle belum lama keluar dari rumah sakit setelah keguguran dan rahimnya diangkat. Keadaannya masih lemah dan selama beberapa hari ia tinggal di rumah Gallan. Anna merawatnya.


"Mbak, apa yang mbak lakukan? Berdiri mbak!" pinta Ara risih. Tapi Giselle malah semakin memegang erat kedua kaki Ara.


"Aku gak akan lepasin kamu sebelum aku selesai ngomong sama kamu Ra. Aku minta maaf Ra, aku tau minta maaf ini sangatlah terlambat. Mungkin juga kamu tidak akan memaafkanku, tapi aku benar-benar bersungguh-sungguh minta maaf sama kamu...aku minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku sudah merebut kasih sayang, merebut mama papa, kak Sean dan juga Bram dari kamu. Aku sangat parah, sampai-sampai aku bermain drama untuk menyingkirkan kamu. Aku tau kesalahanku tidak mungkin bisa dimaafkan. Tapi, aku tetap ingin meminta maaf! Kumohon maafkan aku Ara, maafkan aku...hiks..." Giselle menangis terisak-isak, ia menangis memohon maaf atas semua kesalahannya kepada Ara selama ini.


Memang sulit bagi Ara untuk memaafkan Giselle untuk olahan yang dilakukan oleh wanita itu selama ini kepadanya. Giselle ibaratkan sumber penderitaannya selama ini. Tapi sekarang semuanya sudah berlalu bukan? Ara juga sudah menemukan tambatan hatinya, dan tidak hanya dia saja yang mencintai. Namun ia juga dicintai.


"Aku maafkan kamu mbak, tapi tolong jangan begini." ucap Ara lirih.


"Kamu beneran maafin aku?" Giselle menatap Ara dengan air mata yang berlinang.


"Aku maafkan kamu mbak, tapi bukan berarti aku melupakan apa yang kamu lakukan padaku mbak. Ada kalanya manusia berbuat kesalahan sampai khilaf dan keterlaluan. Asalkan mbak Giselle mau berubah, benar-benar berubah...maka aku akan memaafkan!" tegas Ara pada Giselle dengan hati yang ringan. Walaupun pada awalnya Ara berat memaafkan Giselle. Tapi ia masih punya hati untuk memaafkan. Inilah yang membuat Regan begitu sayang pada Ara. Bahkan Ratih dan Mia yang tidak ada hubungan darah dengannya juga sangat sayang padanya.


Giselle dan Ara pun berpelukan. Mereka memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Giselle benar-benar ingin berubah dsn sangat menyesal atas semuanya. Setelah meminta maaf pada Ara, Giselle langsung berpamitan pada semuanya. Giselle akan pergi ke panti asuhan tempat ia ditemukan dulu dan mencari titik terang keberadaan orang tuanya disana. Sekalian dia akan menenangkan diri disana.


"Jadi kamu mau pergi hari ini juga?" tanya Anna pada Giselle.


"Iya Ma, sampaikan pamit aku sama papa dan kak Sean ya."


"Baiklah nak, kamu hati-hati disana." Anna memeluk Giselle dengan erat, ia menangis sedih karena hidup Giselle harus hancur karena didikannya yang salah. Ia turut andil dan merasa bersalah akan buruknya akhlak Giselle.


Wanita itu mengurai pelukannya. "Ya Ma, mama jaga diri mama baik-baik ya. Ra, aku pergi dulu ya. Kalau suami kamu nyakitin kamu, kamu gak boleh pendam semuanya sendiri."


"Saya tidak akan melakukan itu." kata Regan menimpali.


"Haha saya percaya. Bahwa kali ini pak Regan adalah yang terbaik untuk Ara. Saya yakin bapak bisa membuat Ara bahagia." kata Giselle sambil tersenyum. Ia tulus mendoakan kebahagiaan Ara.

__ADS_1


...****...


__ADS_2