Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 73. Pagi pengantin baru


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Seorang dokter? Tapi kenapa tidak bisa jaga diri? Apa dokter tidak tahu bahaya alkohol?" gumam Bram pelan.


"Apa kamu bilang barusan?!" sentak Tania dengan tatapan tajamnya pada Bram. Tania pun melepaskan tangannya yang sedang mengobati wajah Bram.


"Saya tidak bilang apa-apa." sangkal Bram dengan wajah juteknya.


"Bohong, barusan kamu bilang saya seorang dokter tapi saya tidak tahu bahaya alkohol. Apa maksud kamu bilang begitu?" tanya Tania marah.


"Itu anda tau saya ngomong apa, kenapa masih tanya? Anda bego atau apa?" Bram balik marah. Ia paling tidak suka dengan wanita arogan seperti Tania. Seleranya adalah wanita lembut, ya macam Ara atau Giselle yang ia pikir lembut tapi ternyata kucing garong.


Kesal dikatai bego, Tania pun memukul lengan kekar Bram dengan keras.


Plakk!


"Hey! Sakit!" pekik Bram sambil memegang tangannya yang merah karena pukulan dari Tania.


"Jangan sembarangin ngatain saya ya, dasar cowok mulut lemes! Obati lukamu sendiri sana!" Tania beranjak dari tempat duduknya dengan marah. "Dan...makasih udah nolongin saya!" ketus Tania, lalu ia melangkah pergi dari sana begitu saja.


"Dasar cewek sombong! Arogan!" gerutu Bram kesal. "Pantesan aja dia ditinggal sama calon suaminya, orang dia galak gitu." cicitnya lagi sebal.


"Ngomong-ngomong sekarang, Ara lagi apa ya? Dia pasti lagi--ah jangan pikirkan lagi Bram. Jangan! Lagipula hubungan mereka cuma sementara saja." beo Bram dengan harapan yang sama bahwa hubungan Ara dan Regan akan hancur.


*****


Sinar mentari masuk melalui celah jendela kamar hotel itu, membangunkan seorang pria yang semalam baru saja mereguk indahnya surga dunia untuk pertama kalinya.


"Setiap bangun tidur dan setiap mau tidur, aku akan selalu melihat wajah cantik ini, ya Allah...aku sangat bersyukur. Alhamdulillah...duniaku akan menjadi lebih indah." gumam Regan sambil mengusap-usap lembut rambut panjang istrinya. Ara masih terpejam sebab tadi sebelum subuh Regan menggempur kembali sang istri di kamar mandi.


Usai bersih-bersih di kamar mandi, Ara dan suaminya shalat subuh bersama untuk pertama kalinya, kemudian mereka kembali tidur di atas ranjang dengan saling memeluk penuh kasih.


Setelah puas mengagumi keindahan wajah sang istri, malaikat kecilnya yang kini telah menjadi istrinya itu. Regan beranjak pelan-pelan ia mencoba melepas tangannya yang menjadi bantalan kepala sang istri. "Maaf sayang,"


Saat Regan mengangkat kepala sang istri dan memindahkannya ke bantal, Ara bergerak-gerak. "Eum..." lenguh Ara.

__ADS_1


"Tidur lagi aja sayang," bisik Regan seraya mengecup pipi istrinya.


"Gimana aku bisa tidur lagi mas, kalau mas memandangiku seperti itu." Ara membuka matanya, namun ia tak berani menatap suaminya yang saat ini telanjang dada.


Malu karena semalam sepertinya.


"Jadi kamu udah bangun? Kenapa pura-pura tidur?"


"Bisa gak jangan tanya itu, mas." jawab Ara sambil memalingkan wajahnya.


Regan tersenyum, lalu memalingkan wajah Ara jadi menatapnya. Ia pun mencium lembut bibir itu.


"Ehm...MAS!" pekik Ara terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba itu.


"Kamu malu ya? Kamu harus membiasakan ini sayang, kita sudah suami istri." kata Regan blakblakan. "Bahkan semalam kita sudah 3 atau 4 kali ya?" goda Regan.


Ara langsung beranjak duduk dengan raut wajah yang tersipu malu. Dia membelakangi suaminya. "A-aku ke kamar mandi dulu mas, kamu juga pakai baju dong!" tukas Ara.


"Gerah sayang," Regan memeluk Ara dari belakang.


"Ayo! Kalau gitu kita mandi bareng." kata Regan semangat.


"A-apa?" Ara langsung menoleh ke arah suaminya yang ada dibelakang.


"Kamu juga mau mandi lagi kan? Sekalian kita terusin yang--"


"Mas..." Ara langsung memangkas ucapan suaminya yang pasti mengajak untuk kembang kuncup lagi. Tubuh Ara sudah lemas dan lelah, bahkan bagian intinya terasa perih juga seolah baru pertama kali. Tapi pertanyaannya, apa Regan tidak lelah?


"Haha... baiklah, aku bercanda. Aku tau kamu lelah sayang. Aku hanya akan mengantar kamu ke kamar mandi saja." tiba-tiba saja Regan mengangkat tubuh istrinya yang masih berbalut piyama tidur itu.


"Maaf ya mas, bukannya aku nolak...tapi--"


"Ssstt..gak apa-apa. Lagian masih banyak waktu buat ronde selanjutnya." pria itu tersenyum manis dan membuat Ara terpesona lagi dan lagi pada suaminya itu.


"Aku akan menjadi istri yang baik mas, aku janji." lirih Ara dengan setulus hatinya.

__ADS_1


"Tidak perlu kamu ucapkan janji itu sayang, karena aku sudah tau kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik." ucap Regan sangat yakin.


"Terimakasih sudah percaya padaku mas...aku juga percaya sama kamu. Jangan sakiti aku ya mas? Kalau kamu menyukai wanita lain, kamu harus--"


"Ara, itu tidak akan pernah terjadi. Aku mencintaimu, selamanya. Kamu satu-satunya, aku janji sayang." buru-buru Regan memotong ucapan istrinya.


'Aku tau kelau kamu masih takut dengan masa lalumu dalam berumah tangga. Tapi percayalah Ara, bahwa aku tidak akan seperti dirinya' batin Regan.


Kedua netra mereka pun bertemu penuh cinta. Lalu Ara memeluk suaminya dan ia akan mempercayakan hidupnya pada Regan. Bahwa memang Regan adalah yang terbaik untuknya dan pria yang ia cintai saat ini juga berharap hubungan mereka akan langsung selamanya.


****


Pagi itu benar-benar pagi yang indah untuk sepasang pengantin baru. Namun bukan pagi yang indah untuk Anna dan Bryce di mansion Gallan.


Saat sarapan pagi, keduanya terlihat murung. Hingga membuat Sean dan Inah pelayan di rumah itu terheran-heran saat melihatnya. Kedua orang tuanya itu terlihat sedih dan tak bersemangat.


"Ma, pa? Mama sama papa kenapa sih?" tanya Sean seraya melirik kedua orang tuanya itu.


"Sean, mama kangen Ara." ucap Anna sedih.


"Papa juga kangen." sahut Bryce merasakan hal yang sama. Tidak adanya Ara di rumah, seperti ada yang kurang. Seperti lauk tanpa garam.


"Belum 24 jam Ara pergi, kalian udah kangen aja." kata Sean sambil memakan roti dengan selai stroberi itu.


"Emang kamu gak kangen adik kamu? Dia kan belum lama tinggal di rumah ini, kita tidak memiliki banyak waktu bersama sama Ara. Padahal selama 20 tahun lamanya, kita baru menemukannya." jelas Anna dengan sendu. Seharusnya ia tidak mengizinkan putrinya untuk menikah cepat. Padahal ia ingin menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Ara.


"Mama benar, seharusnya kita jangan izinkan Ara menikah dulu. Harusnya Sean duluan yang kita suruh nikah!" cetus Bryce seraya melirik pada putra sulungnya yang selalu berkutat dengan kasus dan kasus sebagai seorang pengacara.


"Kenapa jadi ke aku?!" seru Sean yang malas kalau sudah membahas pernikahan.


"Ya benar pah, harusnya Sean dulu yang kita suruh nikah. Kamu jangan kerja terus dong, kasihan Rachel digantungin." celetuk Anna yang membuat Sean tersedak karena terkejut.


"Ohok.. ohok..."


'Kenapa jadi membahas Rachel?'

__ADS_1


...***...


__ADS_2