Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 38. Buang saja Penyesalanmu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Regan panik begitu mengetahui dari Arga, kronologi kejadian di rumah sakit antara Giselle, Yoshua dan Bram. Bahwa intinya Giselle sudah ketahuan, bahwa dia tidak mengandung anak Bram melainkan anak pria lain.


"Jadi dia nyusul ke Bandung?!"


"Tenang bro, tenang. Ini baru dugaan gue sih soalnya tadi si kunyuk bilang kalau dia bakal balikan lagi sama si Ara. Dia gak mau cerai!"


"Oh...itu gak bisa karena mereka udah talak tiga. Tapi gimana kalau si Bram ngelak udah talak 3 saat di pengadilan nanti?" Regan panik dengan berbagai spekulasi di dalam pikirannya. Entah kenapa dia takut Ara kembali dengan Bram, walau itu tak mungkin.


"Hey kawan! Kenapa Lo resah gitu? Tenang aja, kalau si muter balikin fakta...gue ada bukti dia udah talak tiga. Gue yakin mereka bakal cerai kok, Lo tenang aja." kata Arga seraya menenangkan temannya yang panik itu.


"Gue gak peduli kok, dia mau cerai atau enggak!" sanggah Regan.


"Lo jaim banget sih Gan, ngaku aja kalau Lo suka sama dia. Susah amat!" cetus Arga yang langsung membuat Regan menjadi semakin gelisah.


"Si-siapa yang--"


"Gue temenan sama Lo udah lama Gan dan gue gak pernah lihat Lo bersikap perhatian sama cewek kayak gini. Tenang aja bro, dia bentar lagi janda...tunggu masa iddahnya terus Lo Pepet dah sampai ke pelaminan," celetuk Arga sambil terkekeh.


Arga telah berteman dengan Regan sejak SMP sampai sekarang, Arga tau seluk beluk Regan bahkan keluarganya. Sifat Regan, Arga sudah tau benar. Regan cuek pada wanita yang mendekatinya, tapi pada Ara dia menunjukkan kehangatan dan kelembutannya.


"Lo emang selalu tau isi hati gue, tapi buat ke pelaminan masih jauh kayaknya Ga. Bahkan gue juga gak tau gimana perasaan dia sama gue."


"Gue yakin dia ada rasa sama Lo juga, cuma dia belum sadar. Percayalah Gan, kalau Ara jodoh Lo...Allah pasti mendekatkan kalian. Lo pepet aja di sepertiga malam Lo."

__ADS_1


"Haha...oke Ga, gue paham. Thanks infonya, besok gue bakal ke Bandung lihat keadaannya."


"Nah gitu dong, semangat Regan!" kata Arga menyemangati Regan.


Setelah itu Regan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Besok ia akan menemui Ara ke Bandung kalau wanita itu belum membalas pesan dan panggilan telepon darinya.


****


Rumah Ara di Bandung, malam itu.


Permasalahan selesai ketika Ara memutuskan untuk memanggil pak RT, hingga akhirnya keluarga Gallan terpaksa berpamitan pada Ara meski enggan. Bram juga harus pergi dari sana.


Tapi Bram masih disana bahkan setelah semua orang pergi. Dia menunjukkan raut wajah memelasnya. Wajah Bram tampak lebam dan memar karena Sean.


"Kenapa kamu masih disini, mas?" tanya Ara sarkas, sambil berdiri di ambang pintu rumahnya. Ia menatap Bram yang masih berdiri didekatnya.


"Jangan ngomong sembarangan kamu mas, kita udah cerai! Haram bagi kita untuk bersama-sama, kita bukan muhrim lagi mas!"


"Ara, aku tau aku salah...saat itu aku emosi dan tidak berpikir panjang. Aku menyesal Ara, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita." pinta Bram seraya mengatupkan kedua tangannya dan memohon maaf pada Ara. Terlihat sesal di mata Bram saat itu.


Ara memandanginya cukup lama, mungkin dulu ada cinta disana tapi kini semua rasa itu telah berganti dengan benci. Potongan-potongan ingatan tentang beberapa bulan ini selama menikah dengan Bram, terngiang lagi di pikirannya. Bagaimana pria itu memperlakukan dirinya? Bagaimana sabarnya ia di abaikan? Bagaimana harga dirinya diinjak-injak. Lalu saat dia hamil, Bram malah semakin menjadi-jadi. Membawa wanita lain ke dalam kehidupan mereka dan saat itu Ara hanya sampah.


Tidak Ara! Kamu harus kuat, jangan iba pada pria yang menyakitimu ini. Menyakitimu bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Batin Ara sambil memegang dadanya , menguatkan hatinya.


"Tidak tahu malu kamu mas, setelah apa yang kamu lakukan padaku selama ini. Kamu hanya bilang maaf, menyesal, lalu kamu ingin kembali padaku setelah kau tau mbak Giselle bukan hamil anakmu?!"

__ADS_1


Bram tercekat mendengar ucapan Ara, bagaimana bisa Ara tau tentang Giselle? Apakah Ara mendengar semua percakapannya dengan keluarga Gallan.


"Kenapa diam mas? Aku benar kan? Kamu minta maaf padaku, ingin kembali padaku bukan karena kamu menyesal. Tapi karena kamu kecewa sama mbak Giselle yang sudah menipumu. Jika dia hamil anakmu dan tidak menipumu, mungkin kalian sudah menikah kan dan kamu gak akan minta kembali bersama denganku kan?" Ara bicara sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya.


Bram meraih tangan Ara, wanita itu mencoba menampiknya tapi Bram terus memeganginya dengan paksa. "MAS BRAM!"


"Tidak Ra, i-itu tak benar. Aku kemari karena aku benar-benar menyesal atas perlakuanku selama ini, bukan karena aku kecewa jadi Giselle. Sungguh aku tidak pernah berniat untuk menjadikanmu pelampiasan, Ra. Aku kesini karena aku sadar aku mencintaimu dan kamu berharga buat aku. Aku nyesel Ra, aku mohon maafin aku! Kita jangan bercerai!"


"Buang saja Penyesalanmu, Mas! Aku lelah dengan semua omong kosongmu. Kembali ke Jakarta dan jangan pernah temui aku lagi! Kita bertemu saat sidang terakhir perceraian kita saja!!" teriak Ara emosi sambil mendorong Bram yang ternyata sudah duduk berlutut didepannya. Air mata membasahi wajah Bram, entah air mata itu palsu atau tidak. "Menyesal pun sudah terlambat Mas, kau sudah menceraikanku!" seru Ara kesal.


Ara masuk ke dalam rumah dan membiarkan Bram berada di luar. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat, niat hati ingin memaksa Ara. Tapi ia mencoba dengan cara lembut dulu.


"Aku tau kamu tidak akan tega Ra, cepat atau lambat kita bisa kembali seperti dulu lagi. Maafkan aku Ra, maaf karena aku sudah menyia-nyiakan kamu Ra." ucap Bram menyesal, ia merogoh sesuatu di saku celananya. Terlihat ada cincin di tangannya itu, cincin milik Ara yang ia berikan saat hari pernikahannya.


Di dalam rumah, Ara menangis terisak mengingat semua kenangan dulu. Ia kesal, kenapa Bram harus datang kesini dan mengganggunya. "Kamu ingin kembali? Jangan mimpi mas, kita sudah berakhir sejak bayi ini tiada...sejak kamu bersama wanita lain, semua sudah musnah. Aku tidak mencintaimu lagi," lirih Ara sambil meremass pakaiannya sendiri. Ia berkata dengan sungguh-sungguh bahwa cinta itu memang sudah tidak ada lagi untuk Bram.


******


Keesokan harinya, Ara membuka pintu pada pagi hari dan sapu-sapu rumah seperti biasa. Alangkah kagetnya ia melihat Bram tidur di lantai depan rumahnya dengan posisi meringkuk memegang lutut.


"Mas Bram?" Ara membulatkan matanya melihat sosok berwajah pucat itu, benar itu adalah Bram.


Bersambung....


Spoiler bab selanjutnya...

__ADS_1


"Mas, apa yang kamu lakukan? Mas! Lepaskan aku!"


...****...


__ADS_2