Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 44. Masa lalu (1)


__ADS_3

Melihat adegan pelukan Ara dan Regan, seketika membuat darah Bram mendidih. Namun ia sadar keadaannya saat ini tidak baik, sebab ia baru saja meminum minuman haram. Bram tidak mau menunjukkan sisi kotornya didepan Ara. Sebisa mungkin ia akan membuktikan bahwa dirinya sudah berubah, ya setidaknya didepan Ara dan keluarganya.


"SIALAN KAU REGAN! AKU BARU SAJA BERCERAI DARI ISTRIKU DAN KAU SUDAH MENGAMBIL KESEMPATAN? LIHAT SAJA! APA YANG AKAN AKU LAKUKAN PADAMU!" teriak Bram didalam mobilnya, tangannya memukul-mukul setir kemudi hingga tak sengaja ia memijit tombol klakson.


Tiiiitttttt....


"Sial!"


Brummm..


Mendengar suara klakson itu, sontak saja Regan dan Ara melepas pelukan mereka. Dan mata mereka menatap ke arah mobil yang baru saja pergi.


Aku sepertinya kenal mobil itu? Batin Ara saat melihat mobil sedan hitam yang baru saja pergi dari sana. Plat nomornya tidak asing.


"Ma-maaf, saya malah meluk kamu Ra."


"Eunghh--tidak apa-apa pak. Sa-saya yang minta maaf karena saya sudah bersandar pada bapak." Ara benar-benar tidak enak karena sikapnya pada Regan yang terhanyut suasana berada dalam pelukan pria itu.


Nyaman, itulah yang ia rasakan berdekatan dengan Regan.


"Tidak usah meminta maaf untuk hal itu, saya senang kalau kamu bersandar sama saya." jawab Regan blak-blakan. Sejak ia lebih dekat dengan Ara, Regan memberanikan diri untuk mengungkapkan rasanya dengan sikap.


"Ka-kalau begitu saya pulang dulu ya pak." pamit Ara seraya mengusap air matanya.


"Saya antar ya?" tanya Regan dengan raut wajah teduhnya.


"Nggak usah pak, saya bisa--"


"Saya nggak akan macam-macam kok, cuma antar kamu aja. Please jangan tolak saya..." ucap Regan seraya memohon.


"I-iya pak,"


Wajah Regan seakan seperti bunga yang bersemi, ia tersenyum lebar dan berseri. Akhirnya ia bisa mengantar pujaan hatinya pulang ke rumah Ratih. Di sepanjang perjalanan, Regan dan Ara mengobrol tentang masalah wisuda kampus yang akan di laksanakan seminggu lagi.


"Kamu mau pergi kan Ra? Ke acara makan malam setelah wisuda?" tanya Regan pada Ara.


"Kalau Mia ikut saya juga ikut pak."


"Oh...oke..."


Berarti aku harus bujukin Mia biar ikut ke acara pesta itu.


"Oh ya Ra, ini mengenai pak Arsean, jadi dia benar-benar kakak kandung kamu?"


"Hem...iya pak, saya memang keluarga mereka secara hubungan darah.Tapi entahlah, saya tidak merasa bahwa saya termasuk dalam hidup mereka."

__ADS_1


"Iya Ra saya paham bagaimana perasaan kamu. Kamu pasti syok dan masih belum menerima semua ini, tapi saya ingat kalau kamu sebelumnya pernah bicara pada saya. Bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk berubah, jadi mengapa kamu tidak memberikan kesempatan itu kepada keluarga kamu?" bujuk Regan bijaksana.


Baik Regan maupun Ara, keduanya memiliki sifat yang lembut, pemaaf dan baik hati. Tapi bukan berarti semua kesalahan akan dilupakan. Namun tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan.


"Bapak benar juga, saya akan mencoba untuk berdamai dengan hati saya terlebih dahulu. Barulah setelah itu saya akan mencoba memberikan mereka kesempatan." jelas Ara yang menerima nasihat dari Regan.


"Bagus."


Setelah mengantar Ara pulang, Regan berbicara dengan seseorang di telpon. Ia mengatakan bahwa dirinya akan mengambil alih perusahaan.


"Oh, jadi kamu benar-benar mau serius untuk bergabung di perusahaan?" suara seorang pria terdengar di seberang sana sedang bicara dengan Regan.


"Iya, aku siap kek."


"Apa karena wanita itu?"


"Sebagian besar alasannya karena dia." akui Regan.


"Baguslah, kakek juga suka dengan wanita itu. Bawalah ke rumah dan langsung saja ajak menikah, jangan pedulikan mamamu. Kau tau kan? Kakek selalu mendukungmu."


"Ya kek, dia baru saja bercerai dan aku rasa ini bukan waktu yang tepat." jawab Regan.


"Baiklah, kalau begitu... kapan kau akan kembali ke rumah?"


"Satu Minggu lagi, berikan aku waktu satu Minggu lagi, kek."


Setelah sambungan telpon itu terputus, Regan melajukan mobil dan sampai di Apartemennya. Regan memasuki apartemen yang ia tempati seorang diri. Pria itu memasuki kamarnya dan ia melihat dua cincin plastik berhenti hello Kitty.


Regan terkekeh melihat cincin plastik itu. "Kenapa kamu nggak inget sama aku Ra? Sama masa kecil kita?"


#Flashback


17 tahun yang lalu.


Sore itu di desa Mekarwangi.


Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun tengah berlari-lari ditengah hujan dengan sebelah alas kaki. Tubuhnya terlihat berdarah-darah. Anak laki-laki itu menangis dengan wajahnya yang ketakutan.


"Mama...papa...hiks...aku takut."


Anak laki-laki itu adalah Regan kecil, ia di kejar oleh beberapa orang bertopeng aneh dan berpakaian serba hitam. Pria-pria itu bertubuh besar dan sangat garang. Mereka juga membawa senjata tajam, celurit, pisau, bahkan pistol.


Saat itu keadaan desa begitu sepi dan jauh dari keramaian. Jarang terlihat rumah disana dan membuat keadaan semakin mencekam karena hujan deras.


"Dimana kau bocah kecil? Keluar atau kau mati!"

__ADS_1


"Tenang saja, kami hanya ingin tau dimana mobil mainan itu!" seru seorang pria dengan suara keras.


Sementara Regan masih bersembunyi di belakang tembok disana. "Tolong aku ya Allah...tolong aku..." Batin Regan terisak.


"Dimana anak itu? Aku yakin dia ada disini!"


"Sialan! Kita harus tau dimana mobil mainan itu." kata seorang pria dengan nafas memburu.


Ditengah hujan itu, seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahunan itu tengah membawa payung merah muda dengan gambar sailor moon diatasnya. Dia sangat berani berjalan di tengah hujan seorang diri. Ia melihat Regan tengah bersembunyi di balik semak-semak disana.


"Kakak itu lagi ngapain ya disana?" gumam Ara kecil. "Kenapa dia tampak ketakutan?" imbuhnya lagi begitu melihat Regan ketakutan dan bersembunyi dari pria pria itu.


Kemudian salah satu pria itu mulai mendekati semak-semak. Ara pun berlari mendekati pria-pria bertubuh besar itu dengan berani.


"Hey anak kecil! Kenapa kamu sendirian diluar hujan-hujan begini?" tanya salah seorang dari mereka.


"Aku habis beli obat buat ibuku, tapi om pada ngapain disini? Om kayak nyari sesuatu?" tanya Ara polos. Dengan tatapan mata melirik ke arah Regan. Regan terlihat panik dan Ara melihat ada darah di kaki Regan.


Ara juga melihat senjata di tangan pria-pria itu, senjata sungguhan.


"Iya dek, om lagi nyari anak kecil cowok...siapa tau adek lihat?" tanya seorang pria lembut.


Jangan, kumohon jangan kasih tau. Batin Regan berharap.


"Oh...tadi aku lihat om, ada kakak laki-laki lari lari kesana om!" tunjuk Ara pada arah yang berlawanan dari sana. Keempat pria bertopeng itu tampak tak yakin dengan ucapan Ara.


"Dek, kamu jangan bohong ya? Bohong dosa loh, nanti di marahin pak ustadz!"


"Salah om, nanti dimarahin Allah dong." cetus Ara sambil memonyongkan bibirnya.


"Kamu gak bohong kan dek? Beneran adek lihat kakak laki-laki itu kesana?" tanya salah seorang pria itu pada Ara kecil.


"Iya om, kalau om gak percaya ya udah sih." ucap Ara dengan cueknya.


Akhirnya keempat pria itu pun pergi ke arah berlawanan dengan tempat persembunyian Regan kala itu. "Kakak! Sudah aman kak, ayo keluar kak!"


Regan menatap ke arah Ara dengan sendu, sejak saat itu ia sudah menyimpan rasa pada malaikat kecil yang menolongnya.


"Makasih adek malaikat..." ucap Regan sambil membalas uluran tangan Ara.


...****...


Aku up lagi ya nanti 🤧😍 jangan lupa komennya guys...maaf tak aku balas semua komennya 😍


Jangan lupa mampir ke novel ku yang lain ya.

__ADS_1



__ADS_2