
...🍀🍀🍀...
Anna memberanikan dirinya untuk bicara dengan Ara, walaupun rasa bersalah menderanya.Tujuannya bukan untuk dimaafkan, bukan meminta ampunan untuk Bryce yang saat ini sudah mendekam di dalam jeruji besi karena menyerahkan dirinya. Tapi ia ingin meminta maaf atas kesalahannya selama ini pada Ara. Dia ingat benar bagaimana tangannya menampar Ara dengan kasar, bibirnya memaki Ara.
Seandainya saja dia tahu lebih awal bahwa Ara adalah putrinya. Ia tidak akan pernah melakukan itu apalagi melukai hatinya. Tapi apakah pintu maaf itu akan terbuka? Sebab mengaku dirinya sebagai ibu kandung saja ia malu.
Saat ini, hanya untuk saat ini. Anna memilih menyembunyikan tentang hubungan diantara mereka dan memilih untuk pendekatan dulu dengan Ara alias Lyodra. Sebab maaf itu pasti tak mudah, tapi tak ada salahnya untuk berusaha lebih dulu bukan.
"Mau apa ibu kesini? Apa ibu mau menyakiti Ara sama seperti SUAMI ibu menyakitinya?" sarkas Mia dengan pandangan tajam pada Anna.
Mata Anna berkaca-kaca mendengar sambutan sangat tidak ramah dari Mia. Lalu apa kabar dengan Ara? Dia dimaki-maki, dipukuli, apa hatinya tidak sakit? Salah! Apa fisiknya juga tak sakit?
"Maafkan saya...saya kesini ingin bicara berdua dengan Ara. Apa boleh?"
"Apa kita sedekat itu sampai harus bicara berdua, Bu?"
Deg!
Pertanyaan Ara sontak saja membuat Anna tercengang, rasanya sakit sampai ke ulu hati. Putri kandungnya bicara seolah-olah tak mau bicara dengannya dan tak mau dekat dengannya. Tapi yang lebih membuat Anna sakit hati adalah sorot mata tajam Ara padanya.
Ia tau ia tak berhak sakit hati setalah semua yang ia lakukan pada wanita itu. Mungkin karena ia sudah tau siapa Ara sebenarnya, jadi rasa ikut terasa sangat nyata.
Anna, kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus mendapatkan kepercayaan dan juga maaf dari putrimu.
Anna mendekat pada Ara dan Mia. Tubuhnya gemetar, matanya mengembun, air mata itu masih ia tahan. "Kalau kamu tidak mau bicara berdua dengan saya, maka izinkan saya bicara disini."
Ara masih tidak merespon, namun entah kenapa ada rasa yang aneh ketika ia melihat wanita paruh baya didepannya ini akan menangis.
__ADS_1
"Saya tau ini terkesan tidak tahu diri, tapi saya harus mengutarakan ini...saya ingin meminta maaf sama kamu, Ara. Saya, suami saya, juga Sean...kami minta maaf sama kamu atas perlakuan kami selama ini." Anna menundukkan kepalanya, menyembunyikan isak tangisnya dan menahan tangan yang ingin memeluk Ara.
Sungguh nak...mama ingin memeluk kamu, mengatakan bahwa kamu adalah anak mama. Tapi mama belum berani, mama terlalu banyak salah sama kamu nak.
Terdengar isak tangis dari wanita paruh baya itu, Mia dan Ara menjadi iba saat mendengarnya. Namun Mia menyingkirkan semua rasa iba itu sebab dia teringat dengan perlakuan Anna pada Ara sebelumnya. Apalagi ia tahu Anna adalah ibu dari Giselle, si pelakor yang menghancurkan rumah tangga Ara dan Bram.
Ya Allah, kenapa hatiku gak tega melihat Bu Anna menangis.
"Sudah jangan nangis Bu," hibur Ara pada Anna yang masih terisak.
Kini wanita itu mengangkat kepalanya, air mata sudah membasahi wajahnya. Ara semakin tak kuasa melihatnya.
"Bu..."
Plakk!
Plakk!
"I-ibu! Apa yang ibu lakukan?!" sentak Ara.
"Kamu ingin pipi saya ditampar berapa kali? Saya tidak akan berhenti sampai kamu memaafkan saya..."
Tangan ini, tangan ini sudah menampar putri kecilku yang malang. Bahkan semua tamparan ini belum cukup.
Anna terisak dan kembali menampar pipinya bahkan sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Mia pun menghentikan aksi Anna yang terbilang nekad itu. "Bu! Cukup ya! Bukan kayak gini caranya meminta maaf." sergah Mia keki pada wanita paruh baya itu.
"Saya memaafkan ibu, jadi tolong ibu hentikan semua ini Bu." kata Ara sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ka-kamu mau memaafkan ibu nak? Benarkah?" Anna menatap Ara dengan mata yang berbinar-binar namun masih berlinang air mata.
"Iya Bu, udah yah Bu jangan nangis." tangan Ara terulur mengusap air mata Anna tanpa ia sadari. Lalu ia pun menarik tangannya lagi, Mia tak suka melihat Ara dengan mudahnya memaafkan Anna.
Suamiku, seandainya kamu melihat ini. Lihatlah betapa mulianya hati putri kita.
"Ibu akan meminta Giselle untuk menjauhi suamimu dan ibu pastikan Giselle tidak menganggu rumah tangga kamu lagi, nak!" cetus Anna pada Ara.
"Tidak usah Bu! Biarkan putri ibu si pelakor itu menikmati hidup bahagia bersama si banci Bram itu!" kata Mia ketus.
"Hush...Mia!" sergah Ara yang meminta Mia untuk sopan pada Anna.
"Tapi--"
"Bu, ibu tak perlu melakukan itu...saya dan mas Bram, kami sudah memutuskan untuk berpisah. Tadi mas Bram sudah mengucapkan talak tiga kepada saya. Semoga dengan semua ini, mas Bram bisa bersama dengan mbak Giselle dan calon anaknya. Saya tidak akan mempermasalahkannya lagi, ini sudah seharusnya dan ini sudah takdir." jelas Ara yang membuat Anna sakit sampai ke ulu hatinya.
"Ka-kamu dan Bram? Kalian--"
Ara hanya tersenyum getir melihat Anna yang terdiam menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
...*****...
Spoiler bab berikutnya....
Ketika Ara tengah berjalan di dekat stasiun kereta api sambil menenteng tas besarnya ,di rumah sakit tengah terjadi perdebatan sengit.
"Katakan padaku! Apa benar yang dikatakan oleh pria ini, bahwa anak yang kau kandung bukan ANAKKU?!"
__ADS_1
Gak sabar pengen ke bab berikutnya 😍😍 jangan lupa gift dan vote nya ya...ini hari Senin loh 😘😘