
...πππ...
Ara mengikuti petunjuk jalan itu, kakinya melangkah diatas karpet merah. Dia dikelilingi oleh lampu yang berkelap-kelip disana, terlihat indah seperti bintang di malam hari yang bersinar.
Gadis itu pun sampai di halaman pintu dekat halaman belakang, langkahnya terhenti begitu melihat spanduk dengan petunjuk arah lurus dengan tulisan "Jalan lurus, aku menunggumu!" juga ada tanda love disana. Ia mengulas senyuman indah begitu melihat tulisan itu. "Ini tulisan kak Regan." gumamnya pelan.
Ara kembali berjalan ke taman belakang yang sepi dan awalnya tak ada cahaya disana. Tapi dalam setiap langkah Ara, lampu menyala dengan indahnya seolah menerangi setiap langkahnya. Tak lama kemudian lampu depan menyala, memperlihatkan pemandangan indah didekat kolam kecil dan seorang pria berpakaian rapi tengah membawa gitar di tangannya. Pria itu berdiri tegak, terlihat tampan, senyumnya lebar sampai memperlihatkan kedua lesung pipinya yang manis.
"Kak Regan..." lirih Ara terpukau dengan sosok tampan Regan disana.
Regan mengambil kertas bertuliskan sesuatu, lalu ia menunjukkannya pada Ara. "Tunggu disitu sebentar dan dengarkan."
Ara yang tadinya akan melangkah, jadi mengurungkan niatnya, ia melihat Regan dengan bingung. Hatinya bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh Regan. Ia juga tidak tahu Regan bisa main gitar atau tidak.
Ayo Regan, kamu bisa...kamu bisa...
Regan menghela nafas dan menghembuskannya, ia terlihat gugup. Namun ia berusaha untuk mengesampingkan semua itu karena hari ini detik ini, ia akan melamar Ara.
Pria itu mulai memetik gitarnya dan mulai buka suara untuk bernyanyi.
πΆπΆπΆ
Jujur saja ku tak mampu...
Hilangkan wajahmu di hatiku, meski malam menganggu...
Hilangkan senyummu di mataku, ku sadari aku cinta padamu...
Meski ku bukan yang pertama dihatimu, tapi cintaku terbaik untukmu..
Meski ku bukan bintang di langit, tapi cintaku yang terbaik...
πΆπΆπΆ
Suara Regan mengalun indah bersamaan dengan petikan gitar itu. Regan tak menghentikan pandangannya dari sosok cantik bernama Haura Yameena Gallan itu. Sosok yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Ara tersenyum, lalu ia bertepuk tangan setelah mendengar Regan bernyanyi. Matanya mengembun, ia tak pernah diperlakukan dengan romantis seperti ini oleh seorang pria. Malah ia selalu di sakiti oleh orang yang dulu ia cintai yaitu Bram.
__ADS_1
Tapi Regan sungguh memperlakukannya dengan berbeda, Ara merasa di hargai, dicintai dan disayangi dengan tulus.
Pria itu meletakkan gitar di atas kursi, kemudian ia berjalan mendekati Ara sambil membawa balon berbentuk hati. Kini mereka sudah berada berdiri saling berhadapan. Ara menatap Regan dengan kepala mendongak karena tubuh Regan jauh lebih tinggi darinya.
"Aku tau...aku memang bukan menjadi yang pertama untukmu. Tapi aku ingin menjadi yang terakhir buat kamu Ra. Aku tau kamu pernah terluka dan gagal dalam berumah tangga, tapi itu bukan kesalahanmu Ra. Kamu sama sekali tidak memiliki kekurangan, kamu sempurna untukku. Dari dulu sampai sekarang, kamu sempurna. Dan aku ingin membuat wanita sempurna didepanku ini bahagia, aku ingin bersama kamu selamanya." tutur Regan seraya memegang tangan Ara, yang satunya lagi memegang balon.
Deg!
Ara tercekat mendengar semua ucapan Regan. Hatinya seperti di penuhi bunga-bunga yang bermekaran. Kata-kata Regan mampu membuatnya luluh, mampu meluluh lantakkan hatinya yang terluka berubah menjadi haru.
"Malaikat kecilku, maukah kamu menjadi cinta dalam hidupku...menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?" tanya Regan pada akhirnya yang membuat air mata gadis itu menjadi luruh.
Ya Allah, apakah aku pantas bersama dengan kak Regan? Apakah aku yang seorang janda ini pantas bersanding denganmu kak?
Ada keraguan didalam hati Ara, ia tak menyangka bahwa Regan akan melamarnya secepat ini. Baru 2 bulan lebih ia bercerai dari Bram, apa ia bisa membina hubungan baru? Apakah ini yang terakhir untuknya? Ara bingung, ia takut masa lalu kembali terulang. Tapi bukankah Regan berbeda? Regan mencintainya, tidak seperti Bram yang sama sekali tidak ada rasa padanya.
Ara terdiam untuk waktu yang cukup lama setelah mendengar ungkapan cinta dari Regan. Regan melihat keraguan di wajah wanita itu, lalu ia pun mulai bicara lagi untuk meyakinkannya.
"Aku janji, aku tidak akan pernah seperti orang ITU. Aku tidak akan pernah menyakitimu, aku akan selalu mencintaimu, aku tidak akan pernah selingkuh, hanya kamu satu-satunya Ra. Tolong percayalah padaku! Aku mencintaimu, beri aku kesempatan untuk membuktikannya." jelas Regan penuh kesungguhan.
"Aku tak peduli!" pungkas Regan yakin.
"Aku...punya banyak kekurangan." Ara bicara lagi dan Regan menyela.
"Semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, aku juga punya."
"Tapi aku pernah--"
Regan meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara sekilas. "Ssstt...kalau kamu mau bicara tentang masa lalu kamu. Hanya satu hal yang bisa aku katakan, LUPAKAN semuanya dan mulai hidup yang baru denganku. Percayalah aku tidak akan seperti masa lalumu, aku dan orang itu berbeda. Aku mencintaimu sedangkan dia tidak. Kamu tau itu kan Ra?"
"Kak..."
"Aku menerima semuanya yang ada pada dirimu, Ra. Jadi--maukah kamu menikah denganku? Jadi istriku dan ibu dari anak-anakku?"
"Kalau kamu mau, terima balon ini dan peluklah. Kalau kamu tidak mau, kamu pecahkan balonnya!" Regan menyodorkan balon itu pada Ara dan Ara tersenyum. Ia langsung memeluk balon itu dengan erat.
"Iya, aku mau kak...aku mau jadi istri kakak." kata Ara dengan tangis bahagia. Ya, dia berhak bahagia setelah kegagalan rumah tangganya.
__ADS_1
"Ka-kamu serius?" mata Regan terbelalak tak percaya.
"Kalau kakak gak mau ya udah," cetus Ara sambil mengusap air matanya.
"Mau dong!" sahut Regan bahagia, lalu ia bersiap mengambil cincin yang sudah disimpannya di saku. Cincin yang sudah disiapkan oleh Regan.
Prok, prok, prok!
Tiba-tiba saja lampu menyala bersamaan dengan tepuk tangan riuh. Keluarga Gallan, Mia, Gina, Arga, kakek Regan dan orang kepercayaannya penampakan diri pada Regan dan Ara.
Ara terkejut begitu melihat semua orang terdekatnya berada di sana, namun ia lebih terkejut saat melihat sosok pria tua yang tak lain adalah kakek dari Regan. Ara mengenali kakek itu karena mereka pernah bertemu saat waktu kecil. Saat Regan kecil di jemput olehnya.
"Mama, papa, kak Sean? Mia, pak Arga, kak Gina?" panggil Ara pada semua orang disana.
"Ayo cepat pasangkan cincinnya pada cucu menantuku, jangan lama-lama Regan." ucap Dimas pada cucunya sambil tersenyum.
"Kakek..." lirih Ara saat memandang ke arah Dimas.
"Iya cucu mantuku!" sahut Dimas ramah, dia sangat menerima Ara menjadi bagian dari keluarganya.
Dengan disaksikan semua orang disana, Regan memakaikan cincin di jari manis Ara sebagai tanda mereka telah menjalin hubungan ke yang lebih serius. Semua keluarga Gallan setuju dengan pilihan Ara, mereka tau Regan adalah orang yang baik dan bisa membahagiakan Ara.
Namun untuk pernikahan, mereka belum membahasnya. Ara juga tidak mau terburu-buru.
Mereka memberikan selamat pada Ara dan Regan yang sudah resmi menjalin hubungan menuju sah. Semua orang pun makan malam bersama setelah acara lamaran dadakan itu, diiringi dengan canda tawa bahagia.
"Oh ya kak...hubungan kita kan sudah mengarah pada pernikahan. Tapi aku belum tau tentang mama kakak."
Regan terdiam begitu Ara membahas tentang mamanya. Lidahnya mendadak kelu, raut wajahnya juga tidak baik.
*****
Di mansion mewah Dirgantara, seorang wanita dengan rambut dicepol dan wajah cantiknya baru saja menginjakkan kaki disana.
"Regan sudah benar-benar keterlaluan! Dia dan papa sama sekali tidak menghargaiku sebagai keluarga! Aku tidak setuju dengan gadis itu, tidak!"
...****...
__ADS_1