Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 84. Bodyguard untuk Ara


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Dari tadi Ara memperhatikan raut wajah suaminya yang gelisah, Regan tersenyum tapi senyumnya itu seperti dipaksakan. Ara jadi curiga dengan gelagatnya, apa jangan-jangan Regan tidak suka dia hamil cepat? Sama seperti Bram? Pikiran Ara jadi terbayang masa lalu pernikahannya yang pertama. Tapi Regan tak akan seperti itu kan?


"Mas, ini hanya perasaan aku aja...atau kamu emang gak senang dengan kehamilan aku?" tanya Ara yang membuat Regan tersentak kaget.


Regan beranjak dari tempat duduknya dan lebih mendekat kepada istrinya. Kini jarak mereka hanya beberapa senti saja. "Sayang, kok kamu ngomong gitu?"


"Habisnya dari tadi aku perhatikan kamu senyumnya gak ikhlas saat tau aku hamil. Senyum kamu gak tulus. Jadi aku pikir kamu emang gak senang kan dengan kehamilan aku?" cecar Ara pada suaminya, dengan kening berkerut.


"Astagfirullah Ra! Jelas aku senang kalau kamu hamil, sangat senang." Regan memegang tangan istrinya dan meyakinkan pada Ara bahwa ia senang dengan berita ini. Tapi tau kan, hal yang membuat Regan gelisah adalah kedatangan Windi. Namun mana mungkin Regan menceritakan tentang ini. Windi adalah masa lalu yang sudah dia kubur.


"Lalu kenapa wajah kamu kayak nunjukin yang sebaliknya?" tuduh Ara curiga. Ia curiga kalau suaminya akan seperti suami pertamanya. Meski hati kecilnya bilang tidak. Tapi untuk jaga-jaga saja, boleh kan Ara bersikap begini. "Atau kamu lagi mikirin cewek lain, mas?" tanyanya lagi dan membuat Regan lebih terkejut dengan pertanyaan Ara yang tadi. Regan tak habis pikir, bisa-bisanya Ara berpikir jauh begitu.


Cup!


Regan mencium bibir sang istri, kedua tangannya merengkuh tubuh mungil itu pelan-pelan. Menjaga agar selang infusnya tidak lepas karena pelukannya ini. Usai 2 menit bertukar saliva, Regan mengurai ciumannya dan benang saliva mereka masih terlihat usai berciuman.


"Mas..."


Jari-jari Regan mengusap air liur di bibir Ara dengan lembutnya. Dia menatap sang istri dengan lembut juga. "Sayang, aku tidak akan menanyakan kenapa kamu sampai berpikir sejauh itu. Aku cuma minta kamu untuk percaya, mana mungkin aku begitu sayang. Aku tidak pernah memikirkan wanita lain, mamaku saja tidak aku pikirkan karena aku hanya memikirkan kamu. Please jangan memikirkan hal macam-macam sayang, maaf kalau raut wajah aku seperti ini. Aku sebenarnya takut."


"Takut kenapa?"


"Aku takut kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita kelak dan jujur aku berdebar. Saking senangnya aku yang akan jadi seorang ayah, makanya tanpa sadar aku menunjukkan raut wajah seperti ini. Maaf udah buat kamu cemas sayang." Regan tersenyum dan tangannya mengelus perut datar Ara dibalik baju pasien yang dipakainya.


Sebenernya apa yang dikatakan Regan hanya alibi, ia memang gelisah memikirkan wanita lain. Tapi bukan gelisah memikirkan hal berbau cinta, melainkan rasa takut. Regan takut Windi akan berbuat nekad seperti dulu ia membunuh wanita-wanita yang dekat dengannya. Namun sebelum Windi bisa mendekati Ara dan mencelakainya, Regan akan mencegah semua itu. Regan akan menjaga Ara, dia tidak akan membiarkan istri dan calon anak tercintanya terluka.


"Kamu pasti akan jadi ayah yang baik Mas, kamu gak usah takut. Maaf ya mas aku udah nuduh kamu yang macam-macam, mas tau kan kalau aku pernah gagal dalam pernikahan dan aku takut kalau kamu--"


"Ssstt..." Regan meletakkan jari telunjuknya pada bibir Ara. "Aku tidak akan seperti mantan suami kamu itu, sayang. Aku berbeda dan aku harap kamu percaya padaku. Bahwa aku tidak akan pernah mengecewakan kamu sayang." ungkapnya tulus dari lubuk hati yang terdalam.


"Iya aku percaya, mas. Tapi aku ingin kita tetap saling jujur satu sama lain mas. Kalau ada sesuatu yang membuat kamu gelisah atau ada sesuatu yang kamu simpan di dalam hati. Ada baiknya di ungkapkan mas. Jangan sampai ada kesalahpahaman di antara kita nantinya."


Regan terdiam sejenak, ucapan Ara kali ini membuatnya berpikir ulang. Haruskah ia memberitahukan tentang Windy kepadanya? Tentang masa lalunya dulu. Padahal dia tidak mau menceritakan ini. Baginya hal ini sama sekali tak penting. Ya, daripada Ara kepikiran Windy. Regan lebih memilih untuk menyelesaikannya di belakang tanpa Ara tau.


"I-iya sayang." jawab Regan lalu ia pun mengecup kening sang istri dengan lembut. "Sekarang tidur lagi ya sayang,"


'Maaf aku gak jujur sama kamu tentang masalah ini sayang. Aku akan membereskannya sebelum kamu tau' batin Regan merasa bersalah.


"Iya mas, mas juga bobo ya. Yuk disini sama aku, mas." ajak Ara sambil bergeser sedikit dan menyisakan tempat disebelahnya.


"Aku tidur di sofa sayang, kamu sama anak kita harus tidur dengan nyaman." kata Regan perhatian.


"Ya udah deh mas, makasih ya mas udah jadi suami yang pengertian dan sayang sama aku. "kata Ara sangat bersyukur memiliki suami seperti Regan. Paket komplit, tampan, kaya, baik, idaman. Sedangkan dirinya adalah seorang janda. Regan masih mau menerimanya.


"Jangan bilang gitu sayang, udah jadi keharusan dan kewajibanku untuk selalu sayang sama kamu." Regan memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang dan menemaninya sampai tidur. Setelah yakin Ara tidur pulas, pelan-pelan Regan beranjak dari ranjang itu dan mengambil ponselnya di atas nakas.


Raut wajah Regan berubah menjadi kelam dan tidak setenang tadi. Ia pun pergi meninggalkan kamar itu dan menelpon seseorang didepan rumah rawat Ara.

__ADS_1


"Kirimkan Hugo dan Sena kemari sekarang juga, aku ingin mereka menjadi bodyguard untuk istri saya." kata Regan tegas pada seseorang di sambungan telponnya. "Dan selidiki tentang Windy, kenapa dia bisa datang kemari dan bebas dari RSJ!" titah Regan kemudian ia menutup telponnya.


****


Di rumah Ratih.


Arga masih enggan pulang dari sana padahal hari sudah sangat larut. Ia harus mendapatkan maaf dulu dari Mia, barulah ia bisa pulang ke rumah dan tidur nyenyak. Tapi bagaimana bisa dia mendapatkan maaf kalau Mia saja tak mau mendengarkan penjelasannya?


"Maaf nak Arga, bukannya ibu mau mengusir kamu. Tapi apa gak bisa dibicarakan besok saja? Mia bilang katanya dia ngantuk," kata Ratih memberitahu pada Arga yang masih stay duduk di sofa ruang tengah rumah sederhana itu.


"Maaf Bu kalau saya menganggu ketenangan ibu dan Mia. Tapi saya tidak akan tenang sebelum saya bicara dengan Mia, bahkan saya tidak akan bisa tidur nyenyak kalau belum menjelaskan semuanya." jelas Arga keras kepala. Ya, dan dia tidak tahu malu. Meski sudah malam, ia tidak pantang menyerah untuk bicara pada Mia. "Saya tidak akan pulang sebelum bicara dengan Mia, Bu." ungkapnya lagi tegas.


Ratih menghela nafas panjang, kemudian dia pun kembali ke kamar Mia dan berusaha membujuknya Mia agar mau bicara pada Arga.


"Mi, kasihan nak Arga nungguin kamu. Katanya dia gak akan pulang sebelum bicara sama kamu. Udah kamu temuin dia dulu gih, gak enak sama tetangga kalau ada yang lihat Arga masih ada disini malam-malam." nasehat Ratih pada Mia yang sedang tengkurap di ranjang sambil memeluk bantal.


"Dia pasti pulang bentar lagi Bu, udah biarin aja." ucap Mia malas.


"Mia..."


"Udah ah Bu, aku ngantuk. Ini udah jam setengah 12 malam, besok aku harus kerja pagi. Ibu juga cepet tidur sana, si Arga biarin aja." ujar Mia tak peduli pada Arga, ia masih kesal dengan Arga yang katanya mau serius tapi masih dekat dengan wanita lain. Bagaimana Mia mau percaya padanya? Mia kesal, sangat kesal sekali.


"Ah Bu! Bilang sama dia kalau dia masih ada di rumah ini, aku gak bakal mau ngomong sama dia lagi. Udah gituin aja, nanti dia bakal langsung pergi." kata Mia pada ibunya lagi.


Ratih hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Mia, bagaimana bisa ia tidur sedangkan Arga masih ada di rumahnya. Ratih pun keluar dari kamar Mia, ia mengatakan pada Arga bahwa Mia tidak mau bicara pada Arga lagi kalau pria itu masih berada disana.


"Iya nak, kamu hati-hati ya." pesan Ratih.


"Assalamualaikum, Bu." ucap Arga.


"Waalaikumsalam." jawab Ratih sambil tersenyum.


Arga pun keluar dari rumah itu, Ratih segera mengunci pintunya dan pergi tidurnya setelah ia beritahukan kepada Mia bahwa Arga sudah pergi. Mia lega karena sudah Arga pergi, lalu ia pun memilih tidur nyenyak dan tidak mau memikirkan Arga yang membuat kepalanya makin pusing.


****


Keesokan harinya, sehabis shalat subuh. Seperti biasanya, Mia pergi keluar rumah untuk bersih-bersih rumah. Namun alangkah kagetnya ia saat membuka pintunya.


"Maling! MALING!" Mia memukuli orang yang tergeletak di atas lantai itu dengan sapu yang dibawanya.


Buk!


Buk!


"Aduh...sakit...Mia, ini aku woy!" seru Arga sambil meringis kesakitan memegang tangannya. Mia pun menghentikan pukulan sapunya.


Ratih dan Mia tercengang melihat Arga ada disana, wajahnya juga pucat. Apa Arga semalaman ada disini?


"Kak Arga?!"

__ADS_1


"Nak Arga?" ibu dan anak itu sontak menatap Arga dengan bingung.


****


Rumah sakit pagi itu.


Regan masih stay di rumah sakit setelah menyuapi istrinya sarapan pagi dengan bubur, padahal sebentar lagi ia harus pergi bekerja dan ada meeting penting. Ara juga sudah menyuruhnya pergi saja karena Anna akan segera datang untuk menjaganya.


"Mas, kamu cepetan berangkat! Nanti kamu telat." tukas Ara pada suaminya yang sudah memakai setelan kemeja ala kantornya itu.


"Apa aku ambil cuti dulu ya sayang?" bukannya menanggapi ucapan sang istri, tapi Regan malah bertanya yang lain-lain.


Plakk!


Tiba-tiba saja tangan Ara melayang menepuk lengan suaminya.Ara jadi galak dan sensitif.


"Aduh sayang, kok kamu jadi galak gini sih?" Regan memegang lengannya yang baru di pukul itu.


"Kamu ngomongnya aneh-aneh! Mau cuti apa coba? Udah sana kerja yang bener. Aku gak apa-apa kok kamu tinggal."


"Iya, kamu gak apa-apa. Tapi baby kita gak mau ditinggal papanya," lirik Regan pada perut datar Ara sambil tersenyum.


"Nggak usah modus mas! Baby kita nyuruh papanya kerja," ucap Ara dengan bibir yang mengerucut.


"Apa sayangku bilang gitu?" kekeh Regan sambil mengusap-usap perut Ara. Rasanya ia bahagia sekali dengan kehamilan Ara, sampai enggan pergi.


"Mas..."


Tok, tok,tok!


Pintu ruangan itu diketuk dari luar, hingga menghentikan pasangan suami istri yang tengah bercanda gurau disana. Ara bertanya-tanya siapa yang datang dengan mengetuk pintu? Kalau mamanya, tidak mungkin. Jika mamanya yang datang pasti dia akan langsung masuk ke dalam ruangan itu, tanpa mengetuk pintu.


"Siapa ya mas?"


"Biar aku yang kesana."


Regan beranjak dari tempat duduknya kemudian dia berjalan melangkah menuju pintu ruang rawat. Regan membuka pintunya mana kalau dia melihat dua orang yang datang ke sana. Seorang pria bertubuh tegap, berpakaian rapi dan juga ada seorang wanita dengan tubuh tinggi dan rambut di ikat. Ara mengerutkan kening, ia benar-benar tidak mengenal dua orang asing itu. Tapi tampaknya dua orang itu mengenal suaminya.


"Selamat pagi Bu, pak." sapa Hugo dan Sena bersamaan.


"Pagi." sapa Ara pada mereka berdua. Kemudian Ara berbisik pada suaminya. "Ehm...mas apa kamu kenal mereka? Kok kayak terminator ya...raut wajahnya itu loh mas, pada datar."


Regan tersenyum kemudian mengusap lembut pipi istrinya. Begitu polos sekali Ara ini. "Sayang, kenalin...dia Hugo dan ini Sena. Mereka akan jadi bodyguard buat kamu saat ini sampai seterusnya." Regan memperkenalkan dua orang itu sebagai Sena dan Hugo, mereka akan menjadi bodyguard istrinya.


"Hah? Bodyguard?!" pekik Ara tercengang saat suaminya memperkenalkan dua orang itu sebagai bodyguard-nya.


'Bodyguard?' batin Ara heran.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2