Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 68. You are the one


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Di sebuah restoran mewah, terlihat Tania, papanya Adam dan juga Riana sedang Duduk di atas meja yang sama. Mereka bertiga berbincang-bincang sembari menunggu kedatangan Regan.


Banyak hal yang mereka bicarakan terutama tentang Regan. Tania bertanya banyak hal pada Riana, tentang apa yang disukai Regan dan tidak di sukainya. Hobi, tanggal lahir, kebiasaan bahkan sampai nomor sepatu pun ditanyakan nya. Tania sangat ingin tau tentang Regan, semuanya.


"Maaf ya pak Adam, dokter Tania, Regan baru pulang kerja kayaknya jadi dia agak terlambat." ucap Riana yang tak enak pada ayah dan anak itu dan memberikan alasan kenapa Regan terlambat.


"Tidak apa-apa Tante, santai saja." kata Tania seraya memegang tangan Riana. Dia menunjukkan sikap ramah dan baiknya didepan wanita yang mungkin akan jadi ibu mertuanya.


Dalam hati ia gelisah, apakah Regan terlambat karena ia menjemput Ara? Atau bahkan pria itu tak jadi pergi kesana? Tapi, Regan sudah janji akan datang ke acara pertemuan itu.


Riana juga sempat heran karena Regan langsung setuju datang ke sana dan tidak menolak ataupun marah seperti biasanya. Aneh! Itulah yang ada di benak Riana saat ini. Tapi yang penting Regan mau datang hari ini, itulah yang Riana inginkan. Mungkin Regan sadar bahwa Ara bukanlah wanita yang baik untuknya. Pikir Riana dalam hatinya.


Namun semua pikiran Riana harus terbantahkan manakala ia melihat sosok Regan berada disana bersama dengan Ara. Regan bahkan menggandeng tangan wanita cantik itu dengan intim. Dan ya, Regan setuju datang kesana bukan tanpa alasan. Ia ingin menunjukkan bahwa Ara hanya satu-satunya wanita yang ia nikahi. Sekali seumur hidup.


Sementara atensi Ara terkunci saat melihat sosok Tania disana, hatinya bertanya-tanya kenapa Tania bersama dengan mama Regan.


"Assalamualaikum, maaf ya aku telat." kata Regan dengan santainya.


"Assalamualaikum," Ara juga ikut mengucapkan salam, ia hendak meraih tangan Riana tapi wanita itu melengos tak menganggap keberadaan Ara disana. Riana tak ragu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Ara, tak peduli bahwa dia adalah putri keluarga Gallan.


Baginya janda tetaplah seolah janda! Riana tidak mau anaknya menikah dengan janda, dalam artian bekas orang lain. Menurut Riana.


"Waalaikumsalam," jawab Adam dan Riana dengan bingung.


"Ayo sayang, duduk." Regan menggeser kursi untuk tempat duduk Ara. Wanita itu bingung, ada apa dengan semua ini? Tapi ia menurut pada Regan.


Ara duduk di kursi tepat disamping Regan, sementara itu Tania terlihat meremass rok spannya dengan kesal.


"Jadi ini putra ibu yang bernama Regan? Dia tampan sekali, pantas saja anak saya langsung setuju dengan perjodohan ini. Padahal sebelumnya dia selalu menolak untuk dijodohkan." Adam memuji ketampanan Regan dan aura pemimpin pada diri pria itu. Dalam sekali lihat, Adam yang seorang pria saja langsung menyukai perangai Regan.


Cocok! Itulah gambar Regan saat ini, cocok menjadi menantunya. Fantasi Adam tentang menantu idealnya telah jadi nyata karena Regan.


Ara tercengang mendengar ucapan Adam, ia menoleh pada Regan yang duduk disampingnya. Keningnya berkerut, sudah jelas ia bingung dan ingin penjelasan. "Apa maksudnya ini mas?" akhirnya Ara bertanya.


"Kamu dengarkan dulu semuanya ya sayang ,jangan marah dulu." bisik Regan pada calonnya itu, membuat Ara menjadi tenang. Dia percaya Regan tak akan menyakitinya.


Kemudian Regan menatap Adam dan Riana bergantian dengan tajam.


"Maaf pak, sepertinya anda sudah salah paham. Kedatangan saya kemari bukan ingin melanjutkan perjodohan yang diatur oleh bapak dan mama saya. Tapi untuk memperjelas semuanya, bahwasanya saya tidak akan pernah melakukan perjodohan ini." jelas Regan tegas.


Riana, Adam dan Tania menatap Regan dengan kesal.Terutama Adam yang merasa di permainkan oleh Riana dan Regan. "Apa maksudnya semua itu Bu Riana? Bukankah ini sudah mengatakan kepada saya, bahwa Regan setuju dengan perjodohan ini?" nada suara Adam dan tatapannya begitu tajam pada Riana, ia menuntut penjelasan.


Jadi Tante Riana mau menjodohkan mas Regan dengan dokter Tania? Ara terdiam dan membatin, ia hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Regan saat ini.


Wajah Riana memucat mendengar kemarahan Adam. "Pak Adam, sepertinya anak saya ini salah bicara. Kita akan tetap melakukan perjodohan kedua anak kita pak--"

__ADS_1


"Tidak pak! Saya sudah bertunangan dan saya akan segera menikah. Bulan depan adalah pernikahannya." kata Regan memotong ucapan Riana yang belum usai. Tak hanya itu, ia juga memegang tangan Ara, lalu menunjukkan cincin yang dipakai olehnya dan Ara.


Deg!


Ara terkejut mendengar kata bulan depan yang dilontarkan oleh Regan dengan yakin tanpa keraguan.


Rahang Adam mengeras, wajahnya memerah karena marah. Ia merasa sudah dipermainkan oleh Riana. "Apa-apaan ini Bu Riana? Regan! Kalian MEMPERMAINKAN SAYA?!" hardik Adam sambil menggebrak meja dengan marah.


"Maafkan saya pak, saya tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan bapak. Saya juga tidak pernah mengatakan kepada Mama saya kalau saya setuju dengan perjodohan ini. Sebab saya sudah memiliki tunangan dan tak lama lagi kami akan menikah." kata Regan sambil menundukkan kepalanya seraya memohon maaf kepada Adam.


Riana dan Tania terlihat kesal pada Regan. Namun mereka bungkam.


"Ayo kita pergi Ra," tatapan Regan beralih pada wanita yang duduk disampingnya, lalu menggenggam tangannya kembali. Keduanya pun beranjak dari tempat duduknya.


"Iya Mas," sahut Ara.


Ketika baru berjalan dua langkah dari meja itu, tiba-tiba saja guyuran air dari gelas yang dipegang Riana, membasahi wajah Ara.


"MAMA!" hardik Regan pada mamanya.


"Berani kamu ya membentak dan melawan mama karena wanita ini!" bentak Riana pada Regan.


"Mama juga udah berani sama Ara, apa aku gak boleh marah?" tanya Regan sinis.


"Mas...aku gak apa-apa." Ara memegang tangan Regan seraya menenangkan kemarahan pria itu. Wajahnya kini basah karena jus yang di lemparkan Riana.


"Tuh kan! Gara-gara wanita ini kamu jadi membangkang!" Riana melotot pada Ara.


"Udahlah Tante, aku gak apa-apa kok. Kalau anak Tante tidak mau menerima perjodohan ini, tidak apa-apa." kata Tania berusaha terlihat untuk rendah hati.


Tapi Ara dapat merasakan bahwa Tania memiliki perasaan pada Regan dan itu membuatnya terancam.


"Gak bisa begini Tania!" sergah Riana marah pada Ara dan Regan. "Regan kamu dengarkan mama, hanya Tania yang cocok dengan kamu nak. Kamu akan menyesal kalau kamu menikah dengan wanita itu!" seru Riana tegas.


"Terserah mama mau bilang apa. Terserah juga mama mau merestuiku atau tidak. Aku tidak peduli, sama seperti mama tidak peduli padaku selama ini. Ara tetap pilihan hatiku, dia satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi dan kami akan menikah!" seru Regan, lalu ia pergi membawa Ara pergi dari sana.


Mereka pun sampai di tempat parkir, Ara melepaskan tangan Regan yang memegangnya. "Mas... tenanglah! Jangan emosi begini,"


Pria itu segera mengambil sapu tangan yang ada di saku bajunya, lalu dia mengusap basah di wajah Ara. "Maafin aku Ra, kamu jadi mengalami semua ini. Sumpah ya...mama itu benar-benar keterlaluan." gerutu Regan kesal.


"Aku nggak apa-apa mas, kamu gak usah semarah ini. Mau bagaimanapun juga, Tante Riana itu mama kamu. Kamu nggak boleh bersikap kasar sama mama kamu mas." tegur Ara pada suaminya.


"Ini nih yang buat aku semakin yakin bahwa kamu memang malaikat dalam hidupku!" Regan menangkup pipi Ara setelah dia selesai membersihkan basah di wajah Ara.


"Mas..."lirih Ara dengan mata yang meragu saat menatap Regan.


"Kenapa kamu melihatku begitu? Kamu ragu?" Regan selalu bisa menebak dengan benar.

__ADS_1


"Hem...aku cuma heran aja kenapa kamu menolak dokter Tania." cicit Ara pelan.


"Jadi kamu maunya aku terima perjodohan ini, begitu?" Regan menatap dalam Ara.


"Oh...jadi mas kepikiran mau terima perjodohan sama dokter Tania?" sungut Ara yang malah membalikkan pertanyaan Regan.


"Loh! Kenapa malah tanya balik? Kan aku yang lagi tanya," Regan gemas lalu mencubit hidung Ara dan menggoyangkannya ke kiri ke kanan.


"Ya jawab aja Mas,"


"Aku nggak kepikiran sama sekali," Regan menggelengkan kepalanya dengan yakin.


"Tapi dia cantik, berpendidikan, dia juga belum menikah dan--"


"Ssstt..." Regan meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara dan membuat wanita itu bungkam.


"Aku nggak kepikiran wanita lain, selain kamu. You are the one, Ara." Entah bagaimana dan kapan, namun kini kening mereka telah menyatu. Mata mereka saling menatap dalam.


Kata-kata pria itu sungguh menggetarkan hati Ara.


"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu ini mas?" tanya Ara.


"Iya, bisa. Bulan ini kita menikah ya?"


"Tapi Tante Riana--"


"Kalau perkara restu kamu tenang saja, dia akan segera setuju, kamu nggak usah cemas." ucap Regan yakin.


Ara menenggelamkan tubuhnya di dalam dekapan Regan. Ia memutuskan untuk percaya pada pria itu.


Ya Allah semoga mas Regan adalah pelabuhan terakhir ku dan semoga pernikahanku kali ini tidak seperti pernikahanku yang sebelumnya.


"I love you mas..." Ara mendongak lalu menatap Regan.


"I love you too Ara," balas Regan.


"I love you three...hehe." balas Ara seraya terkekeh.


Regan tertawa lalu mencubit pipi Ara yang sekarang jadi chubby itu. Keduanya terlihat bahagia bersama-sama. Tanpa mereka sadari ada dua orang yang melihat mereka dengan tatapan terluka.


*****


Satu bulan kemudian...


Dibelakang gedung hotel mewah berbintang lima. Terlihat beberapa orang yang hadir dalam sebuah pernikahan dengan tema outdoor. Di depan pintu masuk itu terlihat gambar pasangan dan juga sebuah tulisan.


...H ❤️ R...

__ADS_1


...****...


__ADS_2