Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 40. Gas keun Regan!


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Perkelahian antara Bram dan Regan pun berakhir manakala banyak warga desa yang datang kesana. Mereka pun dibawa ke balai desa, dimintai keterangan apa yang terjadi sebenarnya.


"Jadi kalian sudah talak tiga? Benar itu neng Ara?" tanya pak lurah pada Ara.


"Iya pak, saya berusaha menjelaskan ini tapi pak RT dan warga lainnya tidak mau mendengarkan saya." jelas Ara dengan tubuh yang masih gemetar.


Ya, ini aku saja yang bodoh. Aku pikir mas Bram tidak akan berani melakukan ini. Aku seperti orang tolol saja percaya padanya. Ara memaki dirinya sendiri yang masih kasihan pada Bram.


Cinta? Tidak, cinta itu sudah lenyap bersama buah cinta mereka yang telah tiada.


"Maaf neng, kami tidak tahu kalau neng sama si AA udah talak tiga." ucap Usman merasa bersalah. Bukan banyak pak Usman


"Maaf, saya yakin pasti bapak dan ibu-ibu disini tau arti talak tiga kan? Jadi mereka tidak bisa bersama-sama lagi, satu rumah maupun berdekatan." celetuk Mia yang sontak saja mendapatkan pelototan tajam dari semua orang. "Apalagi pria ini sudah melakukan kdrt kepada teman saya, tidak hanya sekali! Itulah alasan mereka bercerai,"


Bram bungkam, dia tidak berani bicara dan hanya menahan amarahnya.


Sungguh para warga desa malu pada Ara karena memaksa Ara untuk membawa Bram masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya mereka pun mengusir Bram dari kampung itu. Bram sangat kesal, ia juga merasa malu karena kelakuannya yang sudah diluar batas dan harusnya dia menahan diri. Melakukan semua ini hanya akan membuat Ara menjauh.


Dalam benaknya Bram bertanya-tanya, apakah Ara melupakannya karena ada Regan? Tidak! Bram tidak akan menyerah, dia akan tetap bersama dengan Ara.


*****


Kesalahpahaman pun selesai, kini di rumah Ara tinggal Mia, Ijah, Regan dan Ara. Keadaan Ara terlihat baik dari luar, tapi sebenarnya dia sangat terluka dan syok. Apalagi dengan ungkapan cinta dari Regan.


Mungkin Regan mengatakan itu hanya asal bicara saja. Pikir Ara begitu.


Disisi lain Mia dan Ijah tengah berada di dapur, mereka seperti sengaja membiarkan Ara dan Regan berdua.


"Pak, maaf... gara-gara saya bapak jadi terluka begini." ucap Ara merasa bersalah, melihat luka-luka di wajah Regan karena perkelahian dengan Bram. Ara baru saja selesai membersihkan dan mengobati luka di wajah tampan Regan yang blasteran itu.


"Tidak, jangan meminta maaf pada saya. Justru saya yang ingin minta maaf karena saya terlambat, hingga kamu terluka." Regan hendak menyentuh sudut bibir Ara yang bengkak itu. Namun Ara menggelengkan kepalanya, memalingkan wajah ke arah lain.


"Sa-saya tidak apa-apa pak. Terima kasih bapak sudah menolong saya dengan berbohong bahwa bapak menyukai saya," ucap Ara yang membuat Regan terhenyak.


"Saya tidak berbohong Ara."


"A-Apa?"

__ADS_1


"Maafkan saya Ara, saya memang sudah jatuh cinta padamu dan saya tidak bohong." ucap Regan jujur.


Ara terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke arah Regan dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh pria itu.


Jadi selama ini pak Regan menyimpan rasa padaku? Tidak, mau dipikirkan bagaimana pun juga ini tak benar. Pak Regan itu sempurna.


"Tidak usah minta maaf pak, jatuh cinta bukanlah kesalahan. Hanya saja anda jatuh cinta pada orang yang salah." seloroh Ara yang sontak membuat Regan terkejut.


"Sa-saya tau ini terlalu cepat, saya tidak akan meminta jawaban karena saya tau kamu masih dalam fase yang tidak memungkinkan untuk menjalin hubungan. Saya tidak akan memaksamu, saya hanya ingin kamu tau saja perasaan saya karena saya juga telah terlanjur mengungkapkannya."


Ah...ya Allah...apa aku akan ditolak?


Ara terdiam, ia menelan salivanya.Entah mengapa perasaannya tidak karuan. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, ia tidak marah dengan ungkapan Regan, hanya saja aneh dan bingung. Kenapa bisa pria itu menyimpan rasa padanya?


"Ka-kalau begitu saya permisi dulu, saya akan pergi ke dapur un-untuk--"


Ara beranjak dari tempat duduknya, ia terlihat gugup dengan ucapan Regan. Terlihat senyuman dibibir Regan, lega, karena adanya wanita itu tidak menunjukkan reaksi penolakan ataupun marah padanya.


"Auww...."


Ara membalikkan badannya kembali dan menoleh ke arah Regan yang tiba-tiba meringis kesakitan. "Kenapa pak? Apa ada yang sakit?" tanya Ara cemas.


Belum sempat Regan menyelesaikan ucapannya, Ara sudah lebih dulu memegang tangannya. Ia melihat ada luka juga disana, ia pikir hanya wajah Regan saja yang terluka. "Maaf pak, maaf karena sudah memegang tangan bapak. Saya akan obati luka bapak, ya?"


"Ya, silahkan."


Mau kamu pegang berapa lama pun, aku rela Ra.


Ara kembali fokus mengobati tangan Regan yang terluka. Sementara Regan fokus menatap wajah cantik Ara, rasanya semakin hari wanita itu semakin cantik saja. Sudah cantik, baik, otaknya cerdas, tapi sayangnya dia bodoh dalam hal perasaan. Regan berharap Ara dan Bram segera bercerai.


Disisi lain, Mia dan Ijah mengintip kebersamaan mereka berdua. Mia terlihat senang melihat itu semua. "Gaskeun pak Regan! Mantap!" Ijah tersenyum.


"Haha...udah ah bi, kita di dapur aja. Jangan gangguin mereka," ucap Mia terkekeh.


Good luck pak Regan!


****


Di Jakarta, mansion mewah Gallan.

__ADS_1


Pagi itu Giselle berdebat dengan Bryce, Anna dan Sean tentang Bram. Giselle ingin segera menikah dengan Bram. Hal ini membuat Bryce dan Anna sadar bahwa mereka telah salah mendidik putri mereka. Sedangkan Ara? Dia memiliki sifat yang baik, tidak seperti ini.


"Kamu mau menikah Bram sedangkan kamu mengandung anak orang lain? Jangan gila kamu Giselle!" serka Bryce dengan suara meninggi.


Giselle tersentak kaget dengan nada bicara papanya yang tidak biasanya seperti ini. "Pa, kenapa sih papa, mama sama kak Sean berubah setelah pulang dari Bandung? Kenapa kalian jadi kasar sama aku?" tanya Giselle dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak! Kami bukan kasar sama kamu tapi kami tegas. Sudah seharusnya kamu tidak meminta pernikahan dengan pria yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan anak kamu." jelas Anna lembut.


"Tapi aku mau nikah sama Bram! Ayah bayi ini harus Bram, aku gak mau menikah sama berandalan itu." Giselle menangis.


"Kalau kamu gak mau nikah sama dia, kenapa kamu hamil anak dia? Kamu bahkan menjadi pelaku dan menghancurkan pernikahan orang lain! Giselle, rupanya kami telah salah mendidikmu." sesal Bryce yang selama ini memang terlalu memanjakan Giselle.


"Bahkan Ara yang hidup dilingkungan miskin saja, akhlaknya sangat baik." ucap Sean bergumam.


"Apa? Kenapa kakak membahas wanita jalangg itu?!" hardik Giselle yang mendengar gumaman Sean.


"Jaga bicaramu Giselle! Ara bukan wanita jalangg! Dia adalah adikku, adikmu juga!" sentak Sean emosi.


"Jadi si jalangg itu adalah adikku?!"


Plakk!


"Giselle jaga mulutmu itu!" Sean melayangkan tamparan di pipi Giselle, adik yang selama ini ia sayangi untuk pertama kalinya.


"Kalian jahat...kalian semua jahat! Kalian semua membela dia, kalian jahat!" Gisella tak terima. "Aku gak sudi punya adik seperti dia, aku akan pergi dari rumah ini!"


"Silahkan kalau mau pergi," ucap Anna lelah dengan sikap Giselle.


Giselle menangis, ia terlihat kecewa dengan jawaban Anna. Selama ini Giselle tak pernah di bentak oleh orang tuanya maupun Sean. Wanita itu sakit hati dan marah pada Ara.


...****...


Spoiler bab berikutnya...


"Bramasta Wiratama dan Haura Yameena Arandita, resmi bercerai!"


Begitulah hakim mengetuk palu, meresmikan perceraian mereka.


Alhamdulillah...

__ADS_1


...****...


__ADS_2