Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 42. Setelah ketuk palu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Ra... kamu yakin dengan perceraian kita? Kamu yakin ingin masuk ke dalam sana? Setelah kita masuk ke dalam gedung itu, mungkin kehidupan kita akan berubah." kata Bram sedih.


"Aku yakin mas, ini adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Jadi, aku mohon...mas juga harus berlapang dada dan kita jalani hidup masing-masing." ucap Ara sambil tersenyum tipis.


Lalu Ara melangkah lebih dulu mendahului Bram, sedangkan Bram masih terpaku disana dengan Penyesalannya yang sudah terlambat. "Perpisahan ini hanyalah awal Ra, karena pada akhirnya kamu akan kembali lagi padaku." gumam Bram sambil memegang cincin pernikahannya, cincin itu kini basah oleh air matanya.


Mereka berdua pun duduk di ruang sidang, bersama para hakim disana. Tidak banyak perdebatan, sebab keduanya telah sepakat untuk bercerai. Bukti dari Arga yang ditunjukkan Mia, juga telah memberatkan Bram untuk tidak bisa mempertahankan rumah tangganya lagi.


Sebuah hubungan tidak akan bisa bertahan apalagi menuju dermaga impian, itu sangat mustahil, bila tak ada cinta dan kepercayaan. Bila kapal rumah tangga telah dinaiki oleh orang ketiga, maka hanya hancurlah sebuah hubungan.


"Dengan ini hakim memutuskan bahwa saudara Bramasta Wiratama dan saudari Haura Yameena Arandita, RESMI BERCERAI!"


Tok, tok, tok!


Hakim mengetuk palu, mengesahkan perceraian Ara dan Bram.


Ara memejamkan matanya, hingga bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Ara tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi.


Sekelebat ingatan masa lalu terlintas di kepalanya, ingatan tentang rumah tangganya yang hanya bertahan selama 5 bulan saja. Tidak ada rasa bahagia sama sekali dalam pernikahan itu, yang ada Ara hanya menunggu dan menunggu sang suami mencintainya. Tapi Bram malah membawa wanita lain ke dalam kehidupan mereka dan menghancurkan semua fantasinya tentang rumah tangga bahagia, sekali seumur hidup, hanyalah angannya saja.


Mulai sekarang Ara memutuskan untuk menjalani karirnya lebih dulu dan hidup bahagia. Masalah cinta? Ia akan pikirkan belakangan.


Sama halnya seperti Ara, Bram juga merasa sedih karena perceraian ini. Beberapa memory terlintas di kepalanya. Tentang bagaimana ia memperlakukan Ara, tentang bagaimana baiknya wanita itu bersabar dengan semua sikapnya yang bajingan.


Bulir air mata mengalir deras membasahi wajahnya, kali ini bukan air mata palsu. Tapi benar-benar penyesalan.


Maafkan aku Ra, maaf karena aku terlambat menyadari bahwa selama ini aku telah jatuh cinta padamu. Maaf, karena aku sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu. Tapi kamu tenang saja Ra, kita akan kembali bersama. Aku akan mencarikan calon suami untukmu, lalu kamu akan bercerai dan kembali padaku lagi Ra.


Setelah ketuk palu, Ara dan Bram pergi keluar dari ruang persidangan. Walau sempat menangis, tapi Ara lega karena kini statusnya bukan lagi istri tersakiti melainkan janda muda. Janda di usia 20 tahun, tergolong muda kan?


"Ra...apa aku boleh peluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Bram tiba-tiba yang membuat Ara terkejut.

__ADS_1


"Kamu bilang apa mas?"


"Boleh aku peluk kamu, Ra? Terakhir kalinya... please." pinta Bram dengan wajah memelasnya.


Ara berpikir sejenak, lalu tidak ada salahnya jika ini adalah yang terakhir. Ara menganggukkan kepalanya. Lalu Bram memeluknya, meski tak mendapatkan balasan dari Ara. Pelukan itu terasa lembut, seolah Bram adalah pria yang benar-benar mencintai wanita di depannya ini.


Seandainya dulu kamu memelukku dengan hangat seperti ini mas, aku pasti akan sangat bahagia. Tapi... kini semua sudah terlambat. Kita harus menjalani hidup kita masing-masing, namun yakinlah bahwa ini memang yang terbaik. Bismillah ya Allah.


Aku pasti akan mendapatkanmu kembali, Ra. Batin Bram penuh keyakinan, ia sudah memiliki segudang rencana di kepalanya untuk mendapatkan kembali mantan istrinya itu.


Ara mengurai pelukan itu terlebih dahulu. Bagaimana pun juga hubungan mereka gini bukanlah pasangan suami istri lagi, secara agama maupun negara.


"Mas, aku harap setelah ini kita bisa menemukan kebahagiaan kita masing-masing." Ara tersenyum tulus.


"Iya Ra, aku juga berharap kamu dapat menemukan kebahagiaan kamu." ucap Bram sambil tersenyum dan mengusap air matanya.


Perceraian kita bukanlah akhir Ra, tapi awal dari hubungan kita yang baru. Aku yakin aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi.


"Iya mas, insya Allah. Kalau gitu, aku pergi dulu ya mas. Salam sama opa, kak Rania, Kanaya sama Oliv." ucap Ara sambil tersenyum, lalu dia melangkah pergi meninggalkan Bram.


Ara menoleh lalu tersenyum. "Ya mas, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Bram membalas senyumannya juga. Namun senyuman Bram terlihat pahit.


Hatinya masih berat dengan perpisahan ini, tapi tenang saja. Ia akan memastikan Ara kembali menjadi miliknya.


*****


Berbeda dengan Bram yang galau, Ara terlihat bahagia dengan perceraiannya. Bebas, nyaman, itulah yang dirasakannya. Bahkan Mia dan Arga menyiapkan pesta untuk merayakan bebasnya Ara dari pernikahan itu.


Malam itu usai shalat isya, Mia, Arga dan Ara pergi cafe Chocolate Lovers G, tempat Ara bekerja. Kebetulan Ara sebentar lagi selesai bekerja.


"Kalian makan aja sepuasnya, aku yang traktir!" seru Arga pada kedua wanita yang tengah duduk di hadapannya itu.

__ADS_1


"Makasih banyak pak Arga, tapi nanti saya bayar sendiri aja." ucap Ara sopan.


"Nggak apa-apa, saya lagi senang hari ini! Jadi saya traktir kalian..haha." Arga memang orangnya begitu, selalu ceria dalam keadaan apapun.


Iya, si Regan yang bahagia. Aku yang kena imbasnya. Udah ini pokoknya harus diganti tuh uang.


"Ya Ra, biarin pak Arga yang traktir... kali-kali di traktir kita." celetuk Mia yang pandai memanfaatkan situasi.


"Tenang aja Mi, saya punya banyak uang kok." kata Arga dengan gaya angkuhnya.


"Iya, oke deh makasih pak. Kita rayakan kebebasan Ara." ucap Mia dan membuat Ara tersenyum, agaknya Ara juga setuju dengan ucapan Mia. Merayakan kebebasan.


"By the way, aku kerja dulu ya. Bentar lagi beres kok, tinggal beres-beres dapur doang." Ara tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya.


"Oke Ra, kita tunggu disini ya! Bentar lagi Regan datang kok,"


"Hah? Pak Regan?" tanya Ara kaget. Kaget karena jantungnya berdegup kencang tiap ada nama itu terdengar di telinganya.


"Iya, dia juga mau datang kesini katanya udah otw." jawab Arga sambil terkekeh seraya melihat raut wajah Ara.


Bro, lampu hijau buat lo. Batin Arga.


Ara pun pergi ke dapur untuk membereskan cucian piring sekalian membersihkan dapur. Disana juga ada Gina yang memperhatikan kinerja karyawannya. Ia sangat suka dengan Ara yang supel, rajin dan sopan, tak heran jika Regan jatuh cinta padanya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ara berjalan ke arah tempat duduk Mia dan Arga. Disana sudah tersaji minuman dan cemilan ringan. Tampak Arga dan Mia sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. "Hihi...Mia sama pak Arga semakin dekat saja. Apa mereka jodoh?" gumam Ara pelan.


Ketika berada ditengah perjalanan, Ara dikejutkan dengan pria yang membawa buket bunga untuknya. "Ra, ini buat kamu..."


Ara melihat pria itu dengan tatapan tidak suka. Sementara itu Regan baru datang dan berdiri di ambang pintu. Hati Regan mencelos melihat seorang pria memberikan Ara bunga. Pria itu terlihat tampan, rapi dan sepertinya bukan orang sembarangan.


Siapa pria itu?


...****...

__ADS_1


Terima kasih atas komen kalian 😍😍🙈🙈 bantu mood author 😬 author mau tambah satu bab lagi nih silakan komennya 👍👍


__ADS_2