
...🍁🍁🍁...
Regan membeku di ambang melihat Ara bersama seorang pria yang menyodorkan buket bunga mawar merah untuknya. Matanya kontan terkunci melihat adegan yang terkesan romantis itu.
Siapa pria itu?
Ara terlihat tidak nyaman dengan perlakuan pria itu, hampir setiap hari ia datang memberikan bunga, makanan untuknya. Tak hanya dia saja yang datang, tapi bersama kedua orang tuanya juga.
"Pak Sean, kenapa bapak datang lagi kemari? Bukankah saya sudah bilang kalau saya tidak mau, saya sudah menolak. Apa bapak tidak memahami bahasa Indonesia?" tanya Ara sarkas pada Sean, kakak kandungnya.
"Apa aku tidak boleh mengunjungimu, Ra?" tanya Sean sambil memegang tangan Ara, dia berharap adiknya akan segera luluh dan pulang ke rumah bersamanya.
"Maaf pak, lebih baik bapak pergi dari sini. Saya sudah bilang kalau saya tidak mau pergi bersama bapak maupun pak Bryce dan Bu Anna." jelas Ara tegas sambil menepis tangan Sean.
"Ra, kamu adalah anggota keluarga kami. Aku mohon...ikut aku ya?" bujuk Sean pada Ara seraya meraih tangannya kembali dan menggenggamnya.
"Saya--"
"Lepaskan dia!" Regan menarik tangan Ara dari Sean. Hingga pegangan tangan pria itu terlepas dari Ara. Mata Regan menunjukkan bahwa ia tak suka Ara disentuh oleh Sean. Satu hal yang belum Regan ketahui, bahwa Sean adalah kakak kandung Ara.
Mia dan Arga melihat adegan itu. Mereka seperti melihat adegan dalam film. Tadinya Mia ingin menengahi mereka, tapi ia lebih memilih menikmatinya karena kata-kata Arga.
"Udah, kamu disini aja Mi. Jarang-jarang lihat si kulkas cemburu." ucap Arga pada Mia.
"Iya juga ya pak. Lebih baik nikmati saja sambil makan popcorn hehe." Mia terkekeh dan kembali duduk ke tempat duduknya.
"Panggilnya jangan bapak dong, saya berada ketuaan dipanggil bapak!" celetuk Arga tak senang dengan panggilan bapak dari Mia.
"Terus saya harus panggil apa dong? Dokter sableng?" canda Mia sambil tertawa kecil.
"Lah! Kok saya dipanggil begitu sih," sahut Arga dengan bibir mencebik.
"Terus?"
"Dokter ganteng dong, kakak dokter ganteng!" kata Arga percaya diri dan membuat Mia sebal.
"Ish...dokter sableng aja ah!" celetuk Mia sambil terkekeh.
Mia dan Arga yang selalu bicara cuplas-ceplos dan saling melempar candaan itu, kini semakin dekat. Entahlah, keduanya merasa nyaman dengan hubungan ambigu mereka saat ini. Mia tau ia tak mungkin menjalin hubungan lebih dengan Arga walau ia ada rasa karena Arga adalah tipikal yang selalu bercanda dengan banyak wanita. Pendapat Mia tentang Arga, pria seperti itu adalah playboy.
__ADS_1
Disisi lain Regan masih menggenggam tangan Ara, ia memelototi Sean dan meminta Sean untuk pergi dari sana.
Sumpah demi apapun, Ara berdebar dengan perlakuan Regan saat ini.
"Bisa anda pergi dari sini? Ara tidak nyaman dengan keberadaan anda." ucap Regan ketus.
Dia kan Arsean Gallan. Pengacara terkenal itu? Apa dia juga suka pada Ara? Kapan mereka saling kenal?
Seketika timbul banyak pertanyaan didalam hati Regan dan sebagiannya lagi adalah rasa cemburu.
"Heh! Siapa kamu yang melarang saya bertemu dengannya?" tanya Sean sinis.
"Saya adalah dosen kampusnya!" celetuk Regan yang sontak membuat hati Ara mencelos.
Dosen kampus? Ah...aku berharap sih. Kenapa aku gak senang dengan jawaban pak Regan?
"Cuma dosen kampus doang, berani melarang saya bertemu dengan adik saya!" seru Sean yang membuat Regan kaget.
Jelas Regan kaget, sebab ia terpaku pada kata adik yang diucapkan oleh Sean.
"Adik? Ra apa maksudnya ini?" Regan bertanya pada wanita itu seraya menoleh ke arahnya.
"KAKAK? Bukankah kamu anak tunggal? D-dan dia adalah kakak dari wanita jahat itu!" seru Regan yang tidak percaya dengan semua ini.
"Ceritanya panjang pak." jawab Ara pada Regan. Lalu tatapannya beralih pada Sean. "Tapi yang jelas saya tidak mau bapak Sean berada disini dan berhenti untuk mencari saya. Kalian punya seorang putri, tapi bukan saya!"
Sungguh jawaban Ara membuat Sean terhenyak,ia tak menyangka bahwa Ara akan memberikan jawaban seperti itu. Artinya Ara memang tidak mengakui keluarga Gallan.
"Ra...kakak mohon jangan begini. Kita ini sedarah Ra, kita harus bersama."
"Selama ini saya baik-baik saja tanpa kalian, sebelum saya tau siapa kalian hati saya baik-baik saja. Tapi setelah tau bahwa kalian keluarga saya, kenapa hati saya malah merasa tak nyaman? Lebih baik...kita hidup masing-masing saja pak, tanpa saling kenal. Saya ingin hati saya nyaman," ucap Ara dengan bulir air mata tertahan di bawah pelupuk matanya.
Benar, Ara selama ini baik-baik saja tanpa keluarga Gallan. Ia hidup bahagia sebagai Haura Yameena Arandita, sebagai anak dari Dewi dan Danang mendiang kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai supir dan Guru. Ara bahagia dan dia tidak perlu kasih sayang dari keluarga kandungnya. Kasih sayang sudah ia dapatkan dari kedua orang tua angkatnya.
Sejak Ara tau bahwa keluarga Gallan adalah keluarga kandungnya, hati Ara malah terasa sakit. Apalagi mengingat Bryce yang memukulinya, menjambak rambutnya seakan rambut itu akan terlepas dari kepalanya. Hal itu tidak bisa ia lupakan. Sebab saat itu ia kehilangan bayinya.
"Sungguh, saya hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Lebih baik jangan akui saya, lebih baik kalian hidup bahagia tanpa ada saya. Daripada kalian meminta saya untuk kembali karena rasa bersalah." Air mata pun jatuh membasahi pipinya perlahan.
Deg!
__ADS_1
Sean menangis mendengar kata-kata Ara yang menyiratkan luka didalam benaknya. Sungguh bukan karena rasa bersalah Sean dan kedua orang tuanya meminta Ara kembali ke rumah. Mereka ingin Ara kembali karena menang mereka sayang pada Ara dan ingin memberikan Ara kasih sayang.
"Ara..."
"Pergi pak!" usir Ara pada Sean.
"Pak maaf...lebih baik anda pergi dari sini. Saya tidak mau Ara menangis," ucap Regan menyuruh Sean pergi sebab ia tak bisa melihat Ara menangis.
Sean mendesah pelan, ia menghapus air matanya. Lalu ia menyimpan buket bunga yang dibawanya ke salah satu meja didekat sana. "Kakak akan kembali lagi, maaf sudah membuatmu menangis ya Ra." ucap Sean sebelum ia terpaksa pergi meninggalkan cafe itu.
Setelah Sean pergi, Ara juga ikut pergi dari sana sambil membawa tasnya. Ara tidak mau menangis disana. Regan menyusul Ara, dia tak mau membiarkan Ara sendirian.
"Ra...saya antar pulang ya," ujar Regan seraya memegang tangan Ara.
"Saya akan pulang sendiri pak, maaf...hiks." jawabnya terisak.
"Ara, saya mohon...saya tak mau kamu sendirian disaat seperti ini." Regan perhatian, tatapannya tak luput dari wanita itu.
"Saya tidak mau terlihat begini didepan bapak," ucap Ara sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak bisakah kamu percaya pada saya Ra? Saya ingin menjadi orang yang kamu butuhkan, saya ingin kamu bersandar pada saya."
"Pak...tapi saya..."
Grep!
Tanpa aba-aba, Regan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ara tidak menolak, ia malah menangis sejadinya di dalam dekapan Regan yang hangat itu.
"Tidak apa-apa, keluarkan saja semuanya ya."
"Hiks...hiks...saya ingin bahagia pak, sungguh saya ingin tenang."
"Ya, kamu akan bahagia Ra. Setelah ini saya akan membahagiakanmu." ucap Regan tulus, seraya mengusap kepala dan punggung wanita itu. Berharap sentuhannya ini bisa membuat Ara sedikit tenang. Dia pun berjanji akan membahagiakan Ara.
Dari dalam mobil, tampak seorang pria yang menatap mereka dengan sorot mata tajam tak suka melihat semua itu.
"KURANG AJAR! Beraninya dia menyentuh Ara! Ara milikku!"
...****...
__ADS_1