
...🍀🍀🍀...
Disebuah kamar hotel bintang 5, tempat Yoshua dan Giselle berada. Setelah pe rgi dari rumah Gallan, tidak ada yang mempedulikan dan memperhatikan Giselle kecuali dalam masalah uang. Bryce masih berbaik hati memberikan anak itu uang asalkan Giselle tidak tinggal lagi di mansion Gallan.
Rasanya uang pun tak cukup untuk Giselle, ia merindukan kasih sayang yang dulu. Kasih sayang keluarga Ara dan juga cinta dari Bram. Kini ia telah kehilangan semua itu.
Lalu sekarang Giselle harus ikut panik dengan kondisi Yoshua?
Dan ya, Yoshua terlihat panik dan tidak menyangka bahwa rencananya akan menjadi Boomerang, sebab orang yang menemukan semua ini bukanlah orang sembarangan. Ya, orang yang bukan sembarangan itu adalah Regan.
"Honey, polisi pasti akan menangkapku! Kenapa kau tidak bilang bahwa Regan Dirgantara bukan orang sembarangan?"
"Apa maksudmu sayang?"
"Regan Dirgantara dia adalah mantan ketua dari organisasi Black snake." jelas Yoshua dengan wajah resahnya.
"Organisasi apa itu? Aku tak tau, Yos." ucap Giselle tak tahu.
"Saat berada di Singapura aku pernah ingin bergabung dengan organisasi itu, tapi--masuk nya amat sulit dan ketua dari organisasi tersebut adalah Regan Dirgantara." Yoshua menjelaskannya pada Giselle bahwa Regan bukan orang sembarangan.
"Mak-maksudmu organisasi terlarang yang memiliki harta kekayaan terbesar di seluruh dunia? KAMU SERIUS, YOS?" sentak Giselle tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Yoshua. Mana mungkin Regan yang softly ternyata memiliki sisi lain dalam dirinya.
Wow...itu artinya si Regan sangat kaya raya. Dia juga tampan sama seperti Bram. Huh beruntung sekali wanita kampung itu ya.
"Iya sayang aku serius. Ya sudah sayang, aku harus segera pergi dari sini. Aku harus sembunyi dulu,"
Cup!
Tiba-tiba saja Giselle mengecup bibir Yoshua dengan lembut. Namun Yoshua tidak ingin kecupan saja, ia menarik tengkuk Giselle dan menciumnya lebih dalam lagi.
"Yos! Aku tak bisa bernafas." Giselle mengurai ciuman mereka lebih dulu.
"Aku tak sanggup jauh berpisah darimu, tapi aku harus melakukan ini sebab aku tidak mau nanti kau terseret dalam kasus ini!" Yoshua menatap Giselle penuh cinta. Ia bahkan rela menjadi pelaku seorang diri bila tertangkap oleh polisi nanti, itu demi Giselle dan bayinya.
"Iya Yos, aku doakan semua kamu baik-baik saja. Dan kalau kamu tertangkap polisi, kamu tidak boleh bilang kalau aku yang menyuruhmu sayang. Kamu harus ingat bahwa aku tidak berbadan satu lagi, aku mengandung anakmu." kata Giselle menegaskan Yoshua untuk tidak membawa-bawa dirinya.
__ADS_1
"Iya sayang, aku paham. Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Yoshua lalu mengecup kening Giselle dengan lembut.
Kemudian Yoshua pun keluar dari hotel secara diam-diam, meninggalkan Giselle di kamar hotel itu sendirian.
Naas, saat Yoshua akan menaiki taksi didepan hotel itu. Beberapa petugas kepolisian dan juga Sean disana.
"Berhenti! Angkat tangan anda tuan Yoshua Rudolf!" sentak seorang anggota kepolisian seraya mengatakan pistol tepat ke kepala Yoshua.
Pria itu tidak memberikan perlawanan, ia tak bisa kabur juga karena semua jalan keluar sudah di kepung oleh aparat penegak hukum itu.
"BRENGSEK! JADI KAMU DALANG DIBALIK SEMUA INI!"
BUGH!
Sean tak sabar dan memukul Yoshua tepat di wajahnya. Beruntung petugas kepolisian segera membawa Yoshua dan akhirnya bisa menghentikan Sean dari main hukum sendiri.
Sean juga minta pada pihak kejaksaan juga aparat hukum agar Yoshua dan ketiga orangnya di hukum berat.
*****
Di rumah sakit, kedua orang tua tengah berbicara dengan dokter Rani yang menangani Ara.
"Tidak dok! Anak saya tidak mungkin gila!" serka Anna memotong penjelasan sang dokter. Ia menepis semua pikiran buruk tentang Ara.
"Ma, tenang ma. Dengerin dulu dokternya, ma." Bryce menenangkan istrinya yang sudah nethink duluan. "Ara baik-baik saja, Ma." lirihnya lagi.
Anna berusaha menenangkan dirinya. "Silahkan di lanjutkan dok," ujar Anna dengan nafas yang masih memburu.
"Begini pak, Bu, saya rasa anak bapak dan ibu perlu bimbingan seorang psikolog."
"Tapi dok anak saya tidak gila!" Anna lagi-lagi menyela, ia tak terima dengan ucapan dokter.
"Bu, di periksa oleh psikolog bukan berarti anak bapak dan ibu mengalami gangguan jiwa. Tidak seperti itu Bu! Saya pikir Bu Haura membutuhkan pembicaraan dengan seorang psikiater, untuk memastikan bagaimana kondisinya. Entah anak bapak dan ibu hanya syok atau--bisa jadi memang ada gangguan lainnya. Tapi ibu dan bapak tenang saja, semoga apa yang saya khawatirkan tidak benar dan Bu Haura hanya syok saja." tutur sang dokter menjelaskan.
Pasangan suami-istri itu jadi was-was setelah mendengar penjelasan dokter. Namun mereka segara menepis pikiran negatif itu, berdoa agar Ara baik-baik saja dan tidak seperti apa yang di prediksi oleh dokter. Bryce dan Anna pun setuju dengan saran dokter untuk mendatangkan psikolog untuk Ara.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruang rawat, Ara tampan tenang dan dia juga sudah siuman. Regan dan Mia ada disana untuk menemaninya. Tapi Ara hanya diam saja dengan tatapan mata kosong dan sesekali gadis itu menangis.
"Ra...makan dulu yuk, aku suapi. Kamu harus makan," ujar Mia membujuk sambil menyiapkan sendok berisi bubur untuk sahabatnya itu.
Tidak ada respon dari Ara, dia hanya membeku dengan pandangan kosong yang sama. Hati Mia dan Regan perih melihat kondisi Ara yang seperti ini.
Ra, kamu jangan kayak gini dong...hiks...
"Mia, biar saya yang bujuk." ucap Regan sambil mengambil mangkuk bubur dan sendok itu dari tangan Mia.
Kini Reganlah yang menggantikan posisi Mia untuk membujuk Ara makan. Dengan lembut, Regan mencoba membujuk Ara.
"Ra, makan dulu yuk? Aku dengar cacing-cacing di perut udah mulai bunyi tadi," canda Regan seraya tersenyum.
Ara sedikit menunjukkan responnya, ia menoleh ke arah Regan. Ternyata candaan Regan yang garing itu membuat Ara merespon. Ya dan ini hal yang baik.
"Makan yuk, aaa....aku suapi!"
Tanpa di duga duga Ara membuka mulutnya, lalu dengan cepat Regan menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut gadis itu. Mia dan Regan tersenyum melihatnya.
"Nah...itu baru bagus." puji Regan.
Uwekkk...
Detik berikutnya Ara memuntahkan bubur itu ke lantai. Kalau dia mengusap usap bibirnya dengan jijik. "Aku benci! Aku benci bibir ini! Mereka sudah menyentuhnya! AKU BENCI!" teriak Ara kembali histeris.
Regan dan Mia yang tadi tenang, kini berubah panik melihat kondisi Ara seperti itu.
...****...
Spoiler...
"Ja-jadi...kamu kakak tampan itu?!"
Regan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel baru author ya guys, 🙈🙈