
...🍁🍁🍁...
Setelah melalui beberapa drama dari Tania, Adam dan Riana. Akhirnya Regan dan Ara sampai juga pada hari ini. Hari yang mereka tunggu-tunggu. Ya, meski Ara baru bercerai 7 bulan yang lalu. Regan dan Ara tidak peduli bagaimana anggapan orang-orang yang berbicara miring tentang mereka berdua yang menikah cepat. Padahal Ara belum lama bercerai dari Bram. Yang Regan pikirkan adalah bagaimana caranya agar wanita itu menjadi istrinya, agar ia bisa menjaga Ara, mencintai Ara dan menyalurkan hasrat didalam dirinya yang selama ini selalu ingin meledak-ledak.
Dan kini semua orang juga fokus pada pernikahan Regan dan Ara. Pernikahan pertama untuk Regan dan pernikahan kedua untuk Ara. Namun pernikahannya sekarang terasa seperti yang pertama bagi Ara karena kali ini pernikahannya diadakan besar-besaran. Meski sebenarnya Ara tidak mau, tapi semua keluarganya ingin pesta pernikahannya berlangsung dengan mewah. Sekalian mereka akan mengumumkan kepada dunia bahwa Ara adalah bagian dari keluarga Gallan.
Otomatis semua orang di kantor akan tau juga tentang identitas Ara yang sebenarnya. Akan tetapi, tidak apa-apa. Ara tau bahwa keluarganya ingin menyalurkan kasih sayang kepada dirinya dan salah satu caranya, ya begini.
Di ruang rias, Ara baru saja di rias oleh salah satu MUA terbaik di Indonesia. Dia adalah Rachel, kenalan Sean waktu kuliah di luar negeri. Meski hubungannya dan wanita itu tidak terlalu baik, tapi Sean merekomendasikan Rachel untuk mendandani adiknya.
"Kamu cantik banget Ra, tanpa make up sekalipun...kamu udah cantik. Kamu jarang dandan ya? Jadi kelihatan bercahaya banget," puji Rachel tulus. Wanita blasteran Kanada-Indonesia itu tersenyum pada Ara. Rambutnya berwarna pirang dan matanya berwarna abu-abu. Tubuhnya tinggi dan dia sangat cantik. Bahkan Ara tak bisa berhenti menatapnya karena kagum.
"Makasih kak Rachel, kakak juga cantik...pake banget malah. Kak Sean beruntung punya pacar kayak kakak, hehe." kekeh Ara yang membuat kening Rachel berkerut.
"A-aku dan Sean pacaran? Oh! No! Aku tidak pacaran dengannya. Bagaimana bisa kamu berasumsi begitu?" tanya Rachel sambil memasangkan mahkota di kepala Ara.
"Hem... karena kak Sean selalu membicarakan kak Rachel. Tapi--apa kalian gak pacaran?" tanya Ara bingung.
Aneh, padahal kak Sean selalu membicarakannya padaku.
Pipi Rachel yang tadinya berwarna putih, tiba-tiba saja berubah menjadi kemerahan saat mendengarnya. "Be-benarkah Sean membicarakanku?" tanya Rachel gugup.
"Iya! Kakak bahkan merekomendasikan kak Rachel dengan semangat!" cetus Ara sambil tersenyum.
"Se-seperti apa?" tanya Rachel sambil merapikan kebaya modern yang di kenakan Ara di acara akadnya itu.
Ara berbicara tentang kakaknya yang membicarakan Rachel pada keluarganya. Rachel terheran-heran sebab didepannya Sean selalu cuek. Lalu Ara mengatakan bahwa Sean sebenarnya tipe pria penyayang, hanya saja dia tidak banyak berekspresi atau mengekpresikan dirinya. Rachel mengulum senyum indah, ia tak tahu bahwa Sean juga peduli padanya.
Dari dulu Rachel memang sudah suka pada Sean, tapi Sean seperti cuek dan menutup diri dari Rachel. Namun setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Ara, Rachel jadi yakin bahwa Sean juga punya rasa yang sama.
__ADS_1
"Nah...sudah selesai. Kamu sangat cantik Ra, bodoh sekali mantan suamimu itu. Dia lebih memilih Giselle daripada dirimu," ucap Rachel sambil tersenyum.
"Hem...itu sudah masa lalu kak. Tapi apa kakak kenal Giselle?"
"Ya, aku kenal dia. Sekarang aku paham kenapa sikap Sean dan Giselle berbeda, mereka bukan adik Kakak. Beberapa kali dia memfitnah ku, sampai hubunganku dan Sean memburuk. Aku tidak suka padanya...tapi syukurlah ternyata adik kandungnya adalah kamu, kamu sangat baik seperti malaikat dan sangat cantik." Rachel melihat wajah cantik dan bercahaya wanita yang ada didepannya ini.
Ara hanya tersenyum dalam diam. Perlahan ingatannya kembali ke masa lalu dimana ia menikah dengan Bram. Dulu pernikahannya tidak diadakan secara besar-besaran seperti ini, melainkan tersembunyi dan sederhana. Sekarang lihatlah! Ara dilimpahkan dengan kebahagiaan dari keluarga dan juga dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Termasuk si kakak tampannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Tak lama kemudian, pintu ruang rias itu terbuka. Terlihat lah Anna, Ratih, Aryan, Mia, Deni dan juga Rania tante Bram, adik dari mamanya.
Mereka menghampiri calon pengantin itu dan mengucapkan selamat. Tak lupa mereka melemparkan pujian pada Ara yang sangat cantik dengan balutan kebaya putihnya. Kecuali Rania, semua orang memuji Ara.
"Selamat atas pernikahanmu nak, kamu harus bahagia. Maafkan opa ya nak, maafkan opa." lirih Aryan seraya memegang tangan Ara. Matanya berkaca-kaca menatap mantan calon cucu menantunya itu.
"Kenapa opa minta maaf? Apa salah opa?" tanya Ara lembut.
"Maafkan opa, karena opa selama ini sudah memaksakan kehendakmu dan membuatmu tidak bahagia selama berada didalam keluarga Wiratama." papar Aryan yang menyesali semua waktu Ara terbuang dengan penuh luka selama menikah dengan cucunya.
Mereka pun berpelukan dengan haru dan mendoakan agar pernikahan Ara berjalan lancar.
****
Hingga waktu pun berlalu dengan cepat, kini rombongan pengantin pria dan keluarganya telah tiba di tempat acara. Regan terlihat tampan dengan setelah jas hitamnya, wajahnya terlihat bercahaya.
Regan menunggu Ara di dekat penghulu yang sudah bersiap untuk menikahkan mereka. Disana juga ada Arga dan Sean yang berperan sebagai saksi pernikahan.
Sang pengantin wanita pun tiba bersama Mia, Anna dan Ratih. Ara membuat semua tatapan para tamu tertuju kepadanya. Termasuk Bram, jujur saja ia menyesal karena telah semena-mena pada Ara dimasa lalu. Menyesal karena sudah menceraikan berlian cantik dan sosok istri yang baik seperti Ara. Andai saja waktu bisa di ulang, ah... tidak bisa.
"Nyesel ya bro, udah menyia-nyiakan berlian demi kerikil sampah?" bisik Arga menyindir Bram yang memang berdiri tak jauh darinya. Bram tidak bicara, tapi wajahnya menampakkan kemarahan.
__ADS_1
"Kalau Lo berani ganggu nikahan temen gue, awas aja Lo!" ancam Arga pada Bram. Takutnya Bram macam-macam di acara pernikahan ini.
Mantan suami Ara itu memilih bungkam, sebab dia memang tidak ada niat merusak pernikahan ini. Tapi dia akan merusaknya ketika Ara dan Regan sudah jadi pasangan suami-istri, itu niatnya.
Ketika Ara sedang berjalan menuju ke tempat penghulu, atensi Bram tercuri pada sesuatu yang menggantung disana dan ada tali didekat Ara. Buru-buru Bram pergi dari sana entah kemana.
Sementara Regan kini terpaku melihat kecantikan calon istrinya, ia tak berkedip dan menunjukkan senyum bahagianya.
Masya Allah, cantik sekali kamu Malaikat kecilku. Aku janji, kamu adalah sekali seumur hidupku. Batin Regan.
Beberapa detik kemudian, Ara sudah duduk bersanding dengannya didepan penghulu. "Baiklah, apa sudah bisa kita mulai acaranya?" tanya seorang penghulu para para tamu, saksi dan mempelai pengantin, setelah penghulu itu sedikit khutbah tentang pernikahan barusan.
"Sudah pak." sahut semua orang.
Penghulu itu menjabat tangan Regan dengan serius. Bryce tampak duduk disamping pak penghulu. Namun sebelum penghulu itu mengucap ijab kabul, Bryce membisikkan sesuatu kepadanya dan ia mengambil alih berjabatan tangan dengan Regan.
Hari ini dan detik ini, Bryce ingin menyerahkan putrinya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Regan Abian Dirgantara bin Abian Dirgantara dengan anak saya yang bernama Haura Yameena Arandita Gallan dengan maskawinnya berupa uang 2 milyar dan emas 500 gram, tunai.” kata Bryce dengan satu tarikan nafas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Haura Yameena Arandita Gallan binti Bryce Gallan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” balas Regan dengan lantang dalam satu kali pengucapan.
Kata-kata itu adalah kata-kata yang menjadi pengikat Ara dan Regan dalam ikatan pernikahan. Hingga semua orang disana sangat antusias mengucapkan kata SAH.
"Alhamdulillahirobil Alamin..."
Pasangan pengantin baru itu menangkupkan kedua tangan mereka seraya berdoa kepada Allah SWT, akan pernikahan sakinah, mawadah, warahmah sampai Jannah.
Akhirnya kamu sah menjadi istriku Ra.
__ADS_1
Akhirnya aku resmi menjadi makmum kamu, mas.
...****...