
...🍁🍁🍁...
Ara menikmati waktunya di hari wisuda itu, berfoto bersama teman-temannya kedua orang tua dan juga Sean kakaknya. Mereka semua menyempatkan waktu untuk Ara.
Usai berfoto, Ara meneteskan air mata ketika melihat bayangan Dewi dan Danang di sana. Andai saja kedua orang tua angkatnya masih hidup dan melihat dirinya yang sudah meraih gelar sarjana. Ara ingin mereka berada disini bersamanya.
"Sayang, kamu kenapa nangis nak?" tanya Anna cemas melihat Ara tiba-tiba menangis.
Tidak hanya Anna yang cemas, tapi juga Regan, Mia, Arga, Bryce dan Sean yang berada didekat sana. Mereka cemas begitu melihat Ara menangis terisak-isak.
"Hiks...aku nggak apa-apa kok."
"Kamu kenapa nak?" tanya Bryce seraya memegang bahu putrinya itu.
"Aku cuma...cuma keingetan bapak sama ibu."kata Ara sambil menangis terisak.
"Ehm...nanti kita pergi ziarah ke makam ayah dan ibu kamu ya nak? Sekarang jangan nangis ya, ada kami disini..." ucap Anna lembut sambil memeluk putrinya. Ara menikmati pelukan itu dengan nyaman.
Setelah acara selesai, Ara langsung pulang bersama kedua orang tua dan kakaknya. Katanya ada yang ingin didiskusikan oleh mereka pada Ara.
Sesampainya di rumah, mereka semua duduk di ruang keluarga. Bryce langsung mengatakan maksudnya itu bahwa dia ingin mengangkat konferensi pers yang menjelaskan bahwa Ara adalah Putri kandung mereka. Dunia harus tau tentang Ara.
"Maaf pa, aku rasa tidak perlu melakukan itu! Aku tidak masalah." Ara menolak.
"Nggak sayang, ini masalah. Kamu adalah putri kami dan semua orang harus tau itu. Sekalian mama juga akan mengumumkan pada semua orang bahwa Giselle bukan Putri kandung mama." jelas Anna yang seperti malas membahas Giselle.
"Ma, bagaimana bisa Mama setega itu. Mbak Giselle sudah mama urus dari kecil kan?" tanya Ara heran.
"Iya sayang. Tapi Mama nggak bisa membiarkan dia melakukan sesuatu sama kamu, bahkan mama nggak mau dia menghina kamu lagi. Giselle orangnya pendendam." ucapan Anna sontak saja membuat Ara, ayah dan kakaknya terdiam.
Ya, Giselle orangnya pendendam dan mereka tau itu. Apalagi dia selalu playing victim untuk menjatuhkan lawannya. Anna, Bryce bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena telah gagal mendidik Giselle.
"Pa, ma, tolong jangan menyalahkan diri kalian sendiri." Ara memegang tangan Anna dengan lembut.
"Iya nak...Alhamdulillah luka di hati mama dan papa yang telah salah mendidik Giselle, justru terobati karena ada kamu nak. Karena kamu tumbuh menjadi anak yang memiliki akhlak yang baik."
__ADS_1
"Mama benar dan papa sangat berterima kasih kepada almarhum ibu dan bapak kamu yang sudah membesarkan kamu dengan sangat baik. Seandainya saja mereka masih ada dan kita bisa bertemu dengan mereka. Papa sama mama tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkan terima kasih. Mereka berdua telah merawat putri yang sangat baik," Bryce mengusap wajah Ara dengan lembut. Ia benar-benar terlihat menyayangi Ara.
Tulus, bukan karena rasa bersalah lagi.
"Ibu sama bapak pasti senang bertemu sama mama dan papa." kata Ara sambil tersenyum lalu memeluk Bryce dengan hangat.
Meski pernah ada luka diantara mereka, tapi Ara dan Bryce masih memiliki ikatan batin sebagai ayah anak. Masih ada maaf dan kesempatan.
*****
Malam itu Ara dan Mia baru saja selesai dari mall bersama Anna. Mereka juga pergi ke salon spa untuk memanjakan diri. Anna yang membayar semuanya, ia ingin putrinya tampak cantik sempurna di hari pesta kelulusannya.
Ara dan Mia tidak melaksanakan shalat sebab mereka sedang halangan. Dan waktu pun bebas untuk mereka berdua sampai tak terasa hari sudah malam.
"Ma, kayaknya cukup deh belanjanya kok banyak banget!" seru Ara yang kasihan melihat Wiryo, supir Anna yang membawa barang belanjaan Ara dan Mia.
"No...no sayang, ini bahkan belum cukup. Kamu harus punya barang-barang mahal, mama juga sekalian belanjain Mia!"
"Makasih Tante, seharusnya Tante gak usah repot-repot begini." Mia merasa tak enak sebab Anna sangat baik padanya.
Maksud Anna disini adalah dukungan yang diberikan oleh Mia dan juga Ratih kepada arah ketika wanita itu berada dalam keterpurukan karena ulah Bram dan Giselle. Saat itu Anna tidak tau permasalahan yang sebenarnya. Anna sangat berterimakasih pada Ratih dan Mia.
"Tante...tapi saya tulus."
"Tante juga tulus kok, jadi kamu harus terima ketulusan Tante ya nak?" Anna membujuk.
"Ya udah deh, makasih Tante." sahut Mia.
Tante Anna baik juga, padahal dulu dia pernah jadi nek lampir. Batin Mia mengingat Anna yang dulu jahat pada Ara.
"Iya nak. Nah ayo sekarang kita ganti baju ya! Ada toko gaun disana, kalian harus tampil perfect buat pesta hari ini. Dan buat Regan tidak berkutik saat melihat kamu nak," celetuk Anna yang membuat Ara malu-malu kucing. Ia yang sudah menatap rambut dari salon dan sedikit make up-an. Tersipu malu.
"Ma...mama apaan sih!"
"Cie cie...yang mau di jemput pak Regan nanti! UHUY!" ledek Mia sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu juga kan mau di jemput dokter Arga! Huh, jangan kamu kira aku gak tau ya?" Ara tidak mau kalah dengan ejekan Mia. Kali ini Mia yang dibuat terdiam. "Apa jangan-jangan kamu udah jadian sama dokter Arga? Hayo ngaku!" seru Ara dengan atensi menelisik pada sahabatnya itu.
Mia memalingkan wajahnya. "Ayo Tante kita ke butik, hehe." Mia mengalihkan perhatian dengan berjalan lebih dulu bersama Anna.
"Ish MIA!" pekik Ara kesal.
Kemudian mereka pun pergi ke butik bersama-sama dengan senyum bahagia.
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan Ara dengan penuh rasa iri. Dia adalah Giselle dan disana juga ada Yoshua yang sedang menemaninya belanja.
"Kamu lihat kan? Mama kamu udah buang kamu karena dia sudah menemukan anak kandungnya! Kamu cuma punya aku sayang, ayolah menikah denganku lalu hidup bahagia di Singapore." ucap Yoshua sambil meraih pipi Giselle yang kini sudah basah oleh air mata. "Don't cry baby."
Mamaku, papaku, kak Sean bahkan Bram...semuanya meninggalkanku gara-gara dia. Batin Giselle sakit hati.
"Yos, kamu benaran mau nikah sama aku?" tanya Giselle serius.
"Iya honey, aku mau dan itu yang aku inginkan selama ini." ucap Yoshua sambil menatap sepasang mata berwarna hitam itu dengan lekat.
"Aku akan menikah denganmu, tapi kamu harus bunuh dia dulu! Ah...tidak membunuhnya juga tidak apa-apa, buat dia CACAT! Aku tak mau dia BAHAGIA!"
"Maksudmu siapa honey?"
"Wanita itu, wanita kampungan itu! Aku mau kamu buat dia cacat, atau mentalnya rusak, hancurkan dia dan aku akan menikah denganmu!"
Tersungging senyum smirk dibibir Yoshua. "Are you serious honey? Kau tak akan bohong padaku kan?"
"Aku serius! Hancurkan dia, buat dia menangis, buat dia malu. Ketika aku sudah melihat semua itu, aku akan menikahimu!" cetus Giselle dengan tangan yang terkepal erat. Dia marah pada Ara dan karena wanita itu hidupnya berubah drastis.
"Okay."
Yoshua langsung mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, kemudian dia menelpon seseorang.
...*****...
Untuk bab kali ini gak ada spoiler 😂 silahkan kalian tebak sendiri apa yang akan terjadi ya 😁❤️
__ADS_1