
...🍀🍀🍀...
Arga tau benar bahwa kehadiran Windi pasti akan menimbulkan bencana bagi rumah tangga Regan dan Ara, sahabatnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk menyingkirkan kerikil-kerikil itu. Termasuk Windi, wanita yang sangat terobsesi dengan Regan.
"Kenapa Lo bisa keluar dari rumah sakit jiwa hah? Kenapa secepat itu?"
"Aku sudah dinyatakan sembuh oleh dokter," jawab Windi yang masih berusaha melepaskan genggaman tangannya dari cekalan Arga.
"Gue lihat Lo masih gila! Jangan kejar-kejar Regan lagi, apalagi sampe nyelakain istrinya. Regan bakalan benar-benar bunuh Lo kalau sampai Lo berulah!" kata Arga dengan lantangnya. Ia pun mendorong Windi sampai tubuhnya menempel ke tembok.
Arga benar-benar membenci Windi, dia adalah mantan pacar Regan yang sempat Regan pacari selama 4 bulan karena pria itu merasa bahwa Windi dapat membuat Regan melupakan cinta pertamanya yaitu Ara. Selama itu Windi bersikap manis dan lembut, hingga sebuah fakta menyeramkan keluar dari dirinya. Rentetan pembunuhan wanita cantik yang pernah dekat dengan Regan saat ada di luar negeri, ternyata Windi lah pelakunya.
Windi dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena mentalnya yang terganggu. Ia membunuh semua wanita yang dekat dengan Regan karena rasa cemburu. Windi bisa di definisikan sebagai psikopat. Sejak saat itu Regan hidup dalam rasa bersalah karena kematian wanita-wanita tak bersalah itu, hingga Regan memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan mencari cinta pertamanya setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.
Lalu kenapa Windi bisa keluar dari rumah sakit jiwa? Dan harusnya dia ditahan bukan? Kenapa dia bisa kembali ke Indonesia? Sudah jelas pasti karena Regan.
"Aku...aku gak ada niatan kayak gitu kok Arga, aku cuma mau minta maaf sama Regan dan syukurlah kalau dia udah nikah. Apa cewek itu cinta pertama yang selalu Regan bilang?" cerocos Windi dengan wajah polosnya yang bisa menipu orang.
"Gue gak bisa percaya sama Lo! Mending Lo balik sana ke Amrik!" ujar Arga mengusir Windi dengan sinis.
"Aku baru aja balik, masa mau balik lagi kesana? Kamu tenang aja Arga, aku gak akan gangguin mereka kok." kata Windi sambil tersenyum santai. Namun Arga tetap tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Windi.
Arga kembali memegang tangan Windi dengan kasar. "Dengerin gue baik-baik! Jangan sampai Lo ganggu mereka, kalau Lo gak mau sisi iblis Regan bangkit!" ancam Arga pada Windi, hingga menyisakan jarak beberapa senti saja diantara wajah mereka. Windi terlihat takut pada Arga.
"Kak Arga!" teriak seorang wanita yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah marah menatap Arga dan Windi.
Arga langsung menoleh ke asal suara itu, seketika wajahnya langsung berubah jadi panik. Buru-buru ia melepaskan tangan Windi.
"Mia...tu-tunggu ini tidak seperti yang kamu pikirkan!"
__ADS_1
"Whatever!" ketus Mia sambil menyimpan kotak bekal yang ia bawa untuk Arga ke atas kursi disana. Tak peduli mau Arga mengambilnya atau tidak, gadis itu melenggang pergi dari sana.
"Gawat! Ibunda ratu marah!" Arga panik sendiri melihat wajah Mia yang seperti Suzana di film horor saja. "Lo! Cepet pergi dari sini dan ingat peringatan dari gue!" hardik Arga pada gadis bernama Windi itu.
Arga pun berlari secepat kilat menyusul Mia yang pasti belum jauh dari sana. Dia bahkan lupa mengucapkan selamat pada Regan dan Ara yang akan akan segera di karuniai buah hati.
Tak lama setelah kepergian Arga, Windi yang tadi berwajah polos kini menunjukkan seringai licik di bibirnya. Sorot matanya berubah kelam dan tajam.
"Jadi--wanita itu cinta pertama kak Regan dan sekarang jadi istrinya?" gumam Windi pelan.
****
Semua keluarga Gallan dan juga Regan berada di ruang rawat Ara. Wanita itu baru saja siuman. Tapi ia melihat wajah semua orang yang ada di sana terlihat berseri-seri.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang?" tanya Regan lebih dulu seraya mengusap kening sang istri.
"Jangan, baru aja Ara siuman...masa mau disuruh tidur lagi. Regan, Ara belum makan kan?" tanya Anna pada menantunya itu. Sementara Ara masih lemah, entah kenapa kepalanya sangat pusing.
"Belum Ma, tadi kami baru mau makan ma." jawab Regan. "Sayang, aku beli makanan dulu ya. Ma, Pa, kak Sean, aku titip Ara ya."
"Kamu tenang aja, ada mama, papa sama Sean disini. Cepet beli makanannya ya, kasihan istri kamu sama babynya." kata Anna semangat.
"Baby? Baby siapa?" lirih Ara lemah.
"Ara, kamu hamil sayang. Selamat, kamu akan segera menjadi ibu!" kata Bryce sambil tersenyum. "Papa sama mama akan jadi kakek dan nenek."
Ara menoleh ke arah suaminya dan Regan menganggukkan kepala seraya tersenyum. Regan membenarkan semua yang dikatakan oleh ibu dan ayah mertuanya. "Aku hamil Mas?"
"Iya sayang, kamu sedang mengandung anak kita. Alhamdulillah Allah telah memberikan amanah kepada kita." ucap Regan seraya mengusap lembut perut istrinya.
__ADS_1
"Masya Allah...aku akan jadi ibu." Ara tersenyum dibibir pucatnya itu. Ia bahagia karena masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk mempunyai anak dan secepat ini.
'Kali ini mama akan menjagamu nak, mama janji' batin Ara.
Setelah itu Regan keluar dari ruangan Ara, ia berencana membelikan makanan untuk istrinya. Untung saja Ara tidak ingin makan yang aneh-aneh dan hanya ingin makan martabak telur. Tidak sudah dicari pada malam itu, Regan langsung gercep membawakan martabak untuk istrinya. Tak hanya itu, Anna dan Bryce juga ikut membantu Regan untuk membawakan pakaian Ara di rumah. Sebab wanita itu harus di rawat sampai demamnya sembuh.
"Mas, mama, papa, kakak, aku mau pulang aja. Lagian kalau cuma demam, bisa istirahat di rumah aja kok." pinta Ara.
"No sayang, kamu lagi hamil. Tadi dokter bilang kalau kamu harus dirawat dulu. Kamu kecapekan dan dehidrasi. Mulai sekarang kamu gak boleh kerja dulu." larang Regan perhatian.
"Papa setuju, kamu jangan kerja dulu sampai cucu papa kuat didalam sana." timpal Bryce yang setuju dengan larangan Regan.
'Cucu opa, opa akan menjaga kamu sayang. Opa tidak akan membiarkan kesalahan opa terulang lagi sayang' batin Bryce sambil memegang perut rata Ara. Dia jadi teringat saat Ara hamil anak Bram dulu dan dia membunuhnya. Kali ini Bryce akan menjaga Ara dan cucunya itu.
"Tapi--" Ara berusaha menyela, tapi ia tidak diberi kesempatan.
"Sayang, dengarkan apa kata suamimu." sergah Anna.
Ara tidak bisa berbuat apa-apa, baiklah untuk saat ini ia akan menurut dulu dan pasrah. Malam ini ia akan tinggal di rumah sakit bersama suaminya walau ia tidak suka.
Setelah semua orang pulang dan hanya tinggal Ara Regan disana. Regan terlihat gelisah, ia melamun memikirkan sesuatu.
"Mas, kamu belum tidur?" tanya Ara dengan suara lemah.
"Bentar lagi sayang." sahut Regan dengan senyum yang dipaksakan.
"Mas, ini hanya perasaan aku aja...atau kamu emang gak senang dengan kehamilan aku?" tanya Ara yang membuat Regan tersentak kaget. Tampaknya raut wajah gelisah Regan menimbulkan beragam spekulasi Ara tentang suaminya itu.
...****...
__ADS_1