Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 90. Aksi Windy (Revisi)


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Beruntung Ara tidak terlambat di bawa ke rumah sakit, hingga wanita itu dan juga kandungannya bisa diselamatkan. Semua orang terlihat lega setelah penjelasan dari dokter.


Dan tentang cairan yang disuntikkan ditubuh Ara adalah semacam bius hewan dalam dosis tinggi. Tapi Ara beruntung karena dibawa ke rumah sakit tepat pada waktunya dan ia bisa selamat.


"Terimakasih pak Bram, anda sudah membantu saya menyelamatkan nyawa istri dan calon anak saya." ucap Regan saat dia akan masuk ke dalam ruang rawat Ara. Ia tidak bisa melupakan terimakasihnya begitu saja. Kalau bukan karena Bram ngebut, mungkin Ara bisa terlambat di bawa ke rumah sakit.


"Sama-sama, tapi sekarang sepertinya saya harus berurusan dengan polisi dulu." mantan suami dari Haura Yameena Arandita itu tersenyum seraya melihat ke arah dua petugas polisi lalu lintas yang sudah menunggunya tak jauh dari sana.


"Biar saya yang kesana dan bicara sama polisi." tawar Regan, yang merasa bertanggungjawab karena dirinya juga Bram melanggar rambu-rambu lalu lintas.


"Eh! Anda mau kemana? Istri anda membutuhkan anda saat ini. Tenang saja biar urusan polisi, saya yang tangani." kata Bram seraya menenangkan Regan. Nampaknya pria itu sudah banyak berubah, tentunya menjadi lebih baik. Dia tidak terobsesi lagi pada mantan istrinya. Ya, itu karena Bram sudah menemukan sosok lain yang mengisi hatinya yaitu Tania.


"Terima kasih." ucap Regan sambil mengulum senyum tulus. Kemudian ia pun masuk ke dalam ruang rawat Ara. Saat Regan menghampirinya, sang istri sudah siuman dan ada seorang perawat juga disampingnya.


"Mas! Gimana keadaan anak kita mas? Kata suster, anak kita selamat?" Ara langsung mencecar Regan dengan pertanyaan tentang anak mereka.


"Iya sayang, kamu gak usah khawatir. Anak kita baik-baik aja, tapi kamu harus berada di rumah sakit untuk pemulihan. Kamu baru saja mengalami pendarahan sayang." ucap Regan seraya mengecup kening istrinya.


"Alhamdulillah ya Allah, aku pikir aku akan kehilangannya lagi mas. Tapi--ternyata Allah masih mempercayakan amanah ini pada kita." Ara memegang perutnya, ia bersyukur karena bayinya baik-baik saja.


"Iya sayang." ucap Regan lega. "Hugo dan Sena, aku akan menghukum mereka setelah ini! Apa gunanya mereka bila tidak bisa menjagamu? Dan lagi kenapa mereka berada di luar saat itu?" oceh Regan kepada dua bodyguard Ara. "Gak becus banget sih mereka!"


Ara, wanita itu menyentuh dagunya. "Mas...mereka bukannya gak becus, ini semua karena aku yang meminta mereka berada di luar mas. Jangan salahkan mereka."


"Kamu benar sayang, bukan mereka yang salah. Tapi aku yang sudah lalai dan lengah menjaga kamu dan anak kita." kata Regan merasa bersalah.


"Mas, kenapa kamu ngomong gitu sih? Kenapa malah nyalahin diri kamu hem? Aku gak suka mas kayak gitu." Ara mencubit pipi suaminya itu. "Ini semua salah orang jahat yang iri sama hubungan kita, bukan salah mas."

__ADS_1


"Tapi ini semua gak akan terjadi kalau bukan karena aku. Hampir saja aku--"


Cup!


Wanita itu memajukan tubuhnya, kemudian mengecup bibir suaminya. "Hush! Jangan bilang gitu lagi. Daripada merasa bersalah, mending kita selesaikan semua ini mas."


"Maksudnya?" Regan mengernyitkan dahinya.


"Kita selesaikan masalah ini, wanita itu...dia kan masalahnya?" tegas Ara dengan tatapan tajam pada suaminya. Sebelumnya ia tau tentang Windy dari Arga dan akhirnya suaminya ikut menjelaskan semua ini tanpa ada yang ditutupi.


"Sayang..."


"Mas, aku punya rencana." tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Ia ingin mengakhiri semua ini.


Ara menyuruh suaminya mendekat, kemudian ia membisikkan sesuatu pada suaminya. Sesaat kemudian, Regan menjauh dari Ara dan menatap tajam pada istrinya. "Aku gak setuju! Jangan pernah lakukan hal bodoh itu, aku gak mau kamu dan calon anak kita dalam bahaya. Itu ide gila." cetus Regan dengan rahang yang mengeras. Ia tak terima dengan rencana Ara.


"Dengan mengorbankan kamu? Tidak sayang! Lebih baik aku pakai cara kasar saja. Tidak dengan membahayakanmu. Awas ya kalau sampai kamu menjalankan rencana itu. Fokus saja pada kesehatan dan keselamatan bayi kita, paham?" sentak Regan tegas. Baru kali ini Ara melihat suaminya marah. Ya, Ara tau marahnya Regan itu karena sayang. Namun sisi tegasnya ini, mampu membuatnya terdiam dan merinding.


"Ma-maaf sayang, bukan maksudku membuat kamu menangis."


"Siapa juga yang nangis? Gak kok, aku gak nangis." wanita itu segera mengusap air matanya yang menggenang di bawah mata. Belum sempat jatuh.


Buru-buru Regan meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Sayang maafkan aku, aku bukannya marah. Aku cuma cemas sama kamu sayang. Please jangan ngelakuin hal yang bisa buat aku cemas! Aku peringatkan kamu,"


"Iya mas." sahut Ara dusta.


'Maafkan aku mas, aku harus melakukan ini. Tapi aku akan baik-baik saja, aku janji'


*****

__ADS_1


Petugas kepolisian mengabarkan bahwa pria yang mencelakai Ara bunuh diri di penjara dan mereka belum mengetahui tentang siapa dalang dibalik semua ini. Dan Ara merasa bahwa ia harus merencanakan semua ini tanpa sepengetahuan suaminya.


3 hari kemudian...di rumah sakit. Saat keadaan Ara sudah membaik, tapi wanita itu masih pura-pura sakit disana. Malam itu seseorang masuk ke dalam ruang rawat Ara sambil membawa pisau. Begitu dia menyadari bahwa tidak ada penjaga disana.


"Kamu dan bayimu akan mati! Dan Regan akan menjadi milikku!" gumam gadis itu dengan nyali yang besar. Ya, dia adalah Windy.


Windy hendak menancapkan pisau itu ke arah seseorang yang ada di atas ranjang pasien. Namun sebelum itu terjadi, Ara sudah menghindar dari sana.


"Ka-kamu? kenapa kamu datang kemari?" tanya Ara pura-pura terkejut dengan perasaan was-was.


"Mati kamu wanita JALANGG!!" Windy seperti kerasukan setan, ia mengejar wanita hamil itu dan masih membawa pisau. Tatapannya begitu membunuh pada Ara. Windy mengacak-acak barang di kamar tersebut.


Ara menghindar sebisa mungkin, setelah dia mendapatkan sesuatu yang bisa membuat Windy berakhir selamanya. Kedua wanita itu pun terlibat aksi kejar-kejaran sampai akhirnya menuju ke atas gedung rumah sakit. Tentu, Ara tidak sendiri. Ada Hugo, Sena dan beberapa anggota kepolisian yang berjaga dari kejauhan dan ada juga yang mengawasi dari atas gedung lain. Berbahaya untuk Ara lari-lari seperti ini, apalagi ia sedang hamil.


Sementara itu Regan, Mia dan Arga baru kembali ke kamar. Mereka terkejut karena tidak mendapati Ara disana. Bahkan kamarnya juga berantakan.


"A-apa yang terjadi?" Mia cemas.


"Ara!" pekik Regan panik, ia menjatuhkan makanan yang dibawanya dan membuka ponselnya. Ia membuka lokasi pelacak disana yang ada pada cincin kawin milik Ara.


"Atas gedung rumah sakit!" gotcha! Regan langsung pergi ke sana setelah mendapatkan lokasinya.


Mia dan Arga berlari mengikuti Regan yang berlari menuju ke lift rumah sakit. Di dalam perjalanan, mereka bertiga cemas dengan keadaan Ara.


'Ara...kenapa kamu bertindak sendiri?' batin Regan cemas.


...****...


Mohon jangan ditiru ya guys adegan ibu hamil yang satu ini, bahaya 😪

__ADS_1


__ADS_2