Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 26. Bukan saya, pak


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Dalam upaya menenangkan hatinya, Ara menyibukkan diri di tengah kehamilannya menginjak usia 4 bulan ini. Dia memutuskan untuk pergi dari hal-hal yang bisa membuat dirinya dan calon anaknya tertekan. Percayalah, bahwa kesehatan batin dan mental itu sangat penting bagi setiap orang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa mental yang tidak sehat akan membawa fisik menjadi tak sehat juga. Ara tidak mau hal itu terjadi dan dia berusaha menjaganya.


Keluar dari rumah Bram ternyata membuat Ara tenang dan kandungannya yang tadi lemah kini sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Ara sangat bersyukur, meski suaminya tidak peduli padanya. Masih banyak orang yang baik padanya.


Cafe Chocolate Lovers G.


Ara terlihat sedang bersih-bersih meja, wajahnya terlihat lelah, tapi bibitnya tersenyum bahagia menikmati pekerjaan itu. Gina yang melihat Ara lelah, langsung menghampirinya saat itu juga.


"Ra,"


"Iya Bu Gina? Apa ada yang bisa saya bantu, Bu?" sahut Ara sopan.


"Gak ada yang perlu dibantu kok. Mending kamu istirahat dulu aja deh, nanti Indra aja yang bersih-bersih."


"Gak apa-apa kok bu."


"Ra, saya gak mau sampai di marahin Regan kalau dia tau kalau kamu kecapekan terus sakit. Regan sudah menitipkan kamu pada saya," jelas Gina yang tidak mau dibantah oleh siapapun juga. Apalagi dia tau bahwa Ara tengah berbadan dua, tentu wanita hamil itu tidak boleh memaksakan dirinya untuk bekerja.


"I-ibu jangan salah paham, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Regan. Pak Regan itu baik pada saya karena kasihan, saya harap ibu tidak marah! Karena pak Regan hanya mencintai ibu!" kata Ara merasa tak enak hati karena Regan terus memperhatikannya bahkan meminta Gina yang ia kira kekasihnya untuk menjaga Ara.


"Hah? Ara, apa maksudmu? Regan mencintaiku?" tanya Gina tersentak kaget mendengar ucapan Ara.


"Saya tidak pernah berniat menganggu hubungan ibu dan pak Regan, tapi kami beneran tak ada apa-apa Bu!"


"Tunggu Ara, sepertinya ada kesalahpahaman disini." kata Gina sambil menghentikan Ara yang terus bicara padanya.


Ara terdiam dan mendengarkan Gina bicara. Gina meluruskan pada wanita itu bahwa dia dan Regan adalah saudara sepupu. Gina adalah kakak sepupu Regan, bukannya pacar. Ara sangat malu karena sudah salah paham dengan hubungan Gina dan Regan, ia meminta maaf karena sudah overthingking.


"Gak apa-apa kok Ara, hehe...saya yang harusnya minta maaf sama kamu karena sudah membuat kamu salah paham."


"Kenapa ibu bicara begitu?" tanya Ara bingung dengan permintaan maaf Gina itu.


"Karena kamu dan Regan--kan---"


Gina menggantung ucapannya di sana dan memutuskan tidak berbicara lebih lanjut karena takut wanita itu malah jadi malu. "Sudahlah tidak apa-apa, jam kerja kamu udah selesai kan? Sekarang lebih baik kamu pulang saja."


Ara menundukkan kepalanya dengan bingung. Setelah selesai membersihkan meja terakhir, sore itu Ara pada Gina dan juga beberapa staf yang ada di cafe tersebut.


Ara berniat pulang ke rumahnya setelah membeli beberapa cemilan didekat cafe itu untuk Ratih dan Mia dari uang gajinya. Saat dia keluar dari toko cemilan tradisional disana. Ara melihat Giselle turun dari mobil dan tiba-tiba menghampirinya.


"Mbak Gis--"


Plakkk!


Giselle langsung melayangkan tamparan yang cukup keras ke pipi Ara. Tak banyak orang disana karena hari sudah sore, hanya ada beberapa pengunjung dan juga seorang kasir.


"Apa apaan ini? Kenapa kamu memukul saya?!" hardik Ara tak terima dengan perlakuan Giselle.


"Beraninya kamu menghubungi Bram dan mengirimkan banyak pesan padanya! Dasar kamu wanita sialan!" sentak Giselle marah.

__ADS_1


Sejak wanita ini mengirimkan banyak pesan padanya, Bram jadi tidak fokus padaku dia juga sering melamun dan memikirkannya. Kenapa sih?


"Apa salah kalau seorang istri mengirim pesan pada suaminya? Kenapa kamu yang seorang pelakor marah?" sindir Ara tanpa rasa takut.


"APA?"


Giselle yang sudah dikuasai emosi, langsung menjambak rambut Ara dan Ara juga membalasnya. Alhasil kedua wanita hamil itu saling Jambak rambut dan tanpa sadar mereka semakin ke tengah jalan.


"Jauhi Bram!"


"Aku sudah pergi darinya, aku hanya mengirimkan pesan padanya!"


"Dia milikku! Kau tidak boleh mengirimkan pesan padanya!" seru Giselle yang masih menjambak rambut Ara. Perih yang dirasakan Ara saat ini, belum lagi wajahnya di cakar. Giselle juga sama terkena cakaran Ara.


"Giselle?"


"Itu Giselle kan? Sean berhentikan mobilnya!"


Sean dan Bryce yang kebetulan sedang lewat disana, tak sengaja melihat Giselle sedang berkelahi dengan seorang wanita di jalan. Mereka berdua langsung keluar dari mobil untuk menolong Giselle. Bersamaan dengan Sean dan Bryce, Bram juga baru sampai disana.


Ia menyusul Giselle sebab wanita itu sedang marah padanya karena Bram ketahuan akan membalas pesan dari Ara.


"Giselle!"


Beberapa saat kemudian, Giselle melirik ke arah tiga pria yang tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum menyeringai, lalu menjatuhkan dirinya pada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan rendah disana.


BRAK!


Sean, Bryce dan Bram berlari mendekati Giselle yang sudah terkapar di aspal sambil memegangi perutnya. Kepalanya terlihat berdarah.


Sementara Ara terlihat syok dengan apa yang dilakukan oleh Giselle, bagaimana bisa GISELLE melakukan hal seberani itu?


"Giselle! Sayang!" Bram menggapai tubuh Giselle.


Mata Giselle mendelik ke arah Ara, lalu ia tersenyum tipis. "Mampus Lo!" batin Giselle.


"Bram... selamatkan anak kita, tolong..." Giselle tidak berbohong soal sakitnya, terutama di bagian perut. Terlihat darah mengalir dari pangkal pahanya.


"Ara...aku tidak menyangka bahwa kamu--" Bram menatap kecewa pada istrinya itu.


"Mas, aku tidak--" bibir Ara kelu, dia akan menjelaskan semuanya namun menggantung ucapannya disana.


Sean dan Bryce begitu cemas melihat Giselle terluka. Mereka juga marah pada Ara, terlihat dari tatapan tajam mereka yang mengarah padanya.


"Kamu! Beraninya kamu--" Bryce melotot pada Ara dengan emosi.


"Pah, kita tunda nanti dulu! Kita harus bawa Giselle ke rumah sakit," kata Sean pada papanya yang akan meledak amarahnya.


"Bram, bawa dia ke rumah sakit!"


Tanpa banyak bicara dan memendam marah, ketiga pria itu segera membawa Giselle ke rumah sakit. Giselle naik mobil Bram karena dia ingin ditemani oleh ayah bayinya, katanya begitu. Ara juga ikut pergi ke rumah sakit dengan naik taksi, karena ia cemas pada Giselle, berharap bahwa bayi Giselle baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit, Giselle langsung dibawa ke ruang perawatan. Sean, Bryce dan Bram menunggu di depan ruangan itu. Sean juga mengurus pria yang sudah menabrak Giselle.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini, Ara?" tanya Bram sinis pada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


Sakit hati Ara melihat tatapan Bram yang sinis padanya. Sudah jelas dia menyalahkan Ara.


"Mas..."


"Ini semua gara-gara kamu! Kalau aja kamu gak kirim pesan, pasti Giselle tidak akan marah! Awas saja, kalau terjadi sesuatu pada bayiku...kamu akan terima akibatnya!"


"Sungguh, aku tidak melakukan apa-apa, dia sendiri yang menabrakkan dirinya ke mobil!" Ara berkata yang sebenarnya. "Dia ingin menuduhku!" sambungnya lagi.


"Jangan gila kamu! Mana mungkin dia membahayakan nyawanya dan nyawa bagi kami hanya untuk menuduhmu? Apa kamu gila?" hardik Bram emosi. Pasangan suami istri itu berbicara dengan berbisik-bisik karena takut didengar oleh Sean dan juga Bryce.


Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan Giselle dan mengatakan bahwa Giselle baik-baik saja begitu juga dengan bayinya. Hanya saja ada cedera kaki yang membuatnya harus di rawat.Namun tetap saja Sean dan Bryce marah pada Ara.


Bram masuk ke dalam ruang rawat bersama Sean, sementara itu Bryce masih berdiri di luar. Ia memandang Ara dengan sinis dan tajam, entah kenapa hati Ara sakit mendapatkan tetapan tajam seperti itu dari Bryce.


"Pak, saya tau bapak salah paham pada saya...tapi bukan saya yang--"


BUGH!


BUGH!


"AKHHH...sakit pak...tolong jangan pukul saya, tolong!"


Ara terkejut karena pria itu tiba-tiba saja memukuli tubuhnya, sontak saja Ara melindungi perutnya yang ditendang oleh Bryce. "Beraninya kau menyakiti putriku! Hah! Akan ku beri pelajaran, KAMU!"


Tak peduli berada di mana, Bryce yang memang keras kepala dan pemarah bila menyangkut keluarganya. Menyerang Ara tanpa mempedulikan wanita itu sedang hamil sekalipun.


"Tolong jangan sakiti saya...jangan pak..." Ara berusaha kabur untuk melindungi dirinya, tapi Bryce menahan tangannya dan terus memukulinya. Sasaran Bryce adalah perut Ara yang masih datar. "Sungguh bukan saya...hiks...hiks..."


Bryce sering mendengar cerita dari Giselle tentang Ara yang selalu berusaha untuk mencelakai Giselle. Jadi dia semakin marah ketika dia melihat Ara mendorong Giselle ke tengah jalan.


Ara meringis kesakitan, hingga darah keluar mengalir dari pangkal pahanya. Saat itulah Arga dan beberapa petugas medis di rumah sakit itu datang untuk menghentikan aksi kekerasan yang di lakukan oleh Bryce.


"Anda sudah gila ya pak!" seru Arga sambil membopong tubuh Ara yang sudah penuh luka, wanita itu sangat kesakitan. Sementara Bryce terkejut, bahwa emosinya telah membawanya sejauh ini.


Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan?


"Tolong... selamatkan bayi saya...tolong dokter.... ahhh..." Ara mencengkram baju Arga karena tak kuat akan rasa sakit di perutnya.


"Kamu tenang saja,"


Ya Allah kasihan sekali kamu Haura. Arga membatin.


Arga bergegas membawa Ara ke ruang perawatan bagian kandungan untuk segera dilakukan pemeriksaan.


Bryce hendak melangkah memasuki ruang rawat Giselle setelah perbuatannya menyiksa Ara. Lalu ia tak sengaja melihat gelang merah yang tidak asing berada di dekat kursi ruang tunggu.


"Gelang siapa ini?" Bryce memungut gelang itu dan melihatnya baik-baik.


...***...


Siapa yang berharap Ara keguguran? Jangan ya readers, kasihan 🤧🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2