
...πππ...
"Iya, ini aku malaikat kecilku...kamu ingat aku sekarang?" tanya Regan seraya membelai pipi Ara yang basah tanpa ia sadari.
Ara masih menangis, dadanya naik turun mengingat masa lalu antara dirinya dan Regan. Mengapa ia bisa tidak menyadari bahwa Regan adalah pria yang dulu pernah ia ajak menikah?
#Flashback
"Ya udah kakak tampan, kita nikah aja ya biar cincinnya bisa kita pakai balengan." celetuk Ara seraya tersenyum polos.
"Hah?"
"Iya kak, kita pakai cincinnya ya kak! Terus udah gede aku mau nikah sama kakak tampan."
"Kamu ini haha..." Regan tertawa mendengar celetukan polos dari Ara yang dengan mudahnya mengatakan bahwa ia akan menikah dengan Regan. Bisa dikatakan bahwa Ara melamar Regan walau tak serius.
"Ih! Kok kakak malah ketawa sih?"
"Emang kamu mau nikah sama aku?"
"Mau dong, kakak kan tampan!" Ara tersenyum kembali dengan manis.
"Oke, kakak juga mau nikah sama malaikat kecil kakak. Cincinnya kakak pakaikan ya!" Regan mengambil cincin plastik itu lalu memakainya di jari manis Ara.
"Horey! Aku nikah cama kakak tampan." Ara kegirangan dengan cincin yang kini ada di jari manisnya. "Aku jadi istri kakak!"
Sekarang giliran Ara yang memakaikan cincin di jari Regan. Cincinnya muat di jari tengah. Kedua anak yang berbeda usia 5 tahun itu tertawa bersama setelah memakai cincin itu.
#End flashback
"Sejak kapan kak? Sejak kapan kakak tau kalau aku adalah malaikat kecil?" Ara tidak menyangka bahwa dia akan kembali bertemu dengan si kakak tampan, cinta monyet masa kecilnya. Tapi sekarang sepertinya rasa itu bukanlah cinta monyet lagi.
"Sejak kita bertemu pertama kali di kampus, aku sudah mengenalimu. Kamu ingat? Kamu pernah bertubrukan denganku? Saat itu kamu menjatuhkan kotak pensilmu dan aku melihat...."
"Kakak melihat gantungan yang ada di kotak pensil itu, cincin plastik hello Kitty!" sambung Ara seraya tersenyum pada Regan.
"Benar....ah harusnya tidak begini. Harusnya tidak secepat ini. Kamu bahkan sudah melihat cincin berliannya." Regan terlihat malu-malu, ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal itu.
__ADS_1
Ara mengernyitkan keningnya, ia bingung dengan apa yang dikatakan Regan saat ini. "Iya, aku sudah lihat kedua cincinnya. Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud untuk melihatnya. Aku nggak sengaja."
"Tidak apa-apa....tapi sebenarnya aku ingin menunjukkan cincin ini nanti." ucap Regan mendesah pelan.
"Memangnya kenapa?" tanya Ara dengan wajah polosnya.
Regan terlihat bingung, ia sebenarnya ingin menunjukkan cincin berlian itu nanti saja saat melamarnya dan pada saat yang telah dia rencanakan. Tapi Ara sudah terlanjur melihatnya. Padahal dia ingin momen romantis, tapi semuanya sudah terlanjur ketahuan lebih awal karena kecerobohannya menjatuhkan kotak cincin itu.
Ara sudah melihatnya, ya sudah...aku terpaksa memajukan rencana bulan depan jadi sekarang.
"Kakak...aku minta maaf. Aku benar-benar..." Ara merasa bersalah sebab Regan diam saja, ia pikir Regan marah padanya.
"Tidak! Jangan minta maaf, kamu nggak salah Ra."
"Terus kenapa kakak diem aja?"
"Haaihhh...kamu tunggu sebentar disini ya. Tunggu dan jangan kemana-mana!" ucap Regan sambil menghela nafas, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Ara sendirian di sana.
Ara semakin bingung dengan sikap Regan, sebenarnya pria itu kenapa? Apa dia marah atau ada hal lain yang membuatnya begitu?
Ternyata, Regan pergi untuk menelepon keluarga Gallan dan juga bicara dengan Gina. Malam ini juga dia akan melamar Ara. Setelah beberapa menit Regan berada di ruangan Gina, ia pun kembali menghampiri Ara dan mengajaknya buru-buru pulang.
"Kak, sebenernya kenapa sih?"
"Nanti malam udah isya, jam 8 kamu datang ke restoran kak Gina ya?"
"Hah?"
"Jam 8, ok?" Regan bicara sambil menyetir mobilnya.
"Ya-ya udah."
Sebenarnya kak Regan kenapa?
Setelah mengantarkan Ara pulang, Regan langsung pergi begitu saja bahkan ia lupa mengucapkan salam. Regan terlihat buru-buru dan membuat Ara semakin bingung.
*****
__ADS_1
Ara masuk ke dalam mansion Gallan sore itu, ia melihat ada Giselle dan Anna di tengah rumah. Tunggu? Giselle? Mengapa wanita itu ada disana dan terlihat seperti menangis.
"Assalamualaikum Ma," Ara menghampiri mamanya dan mengecup punggung tangan Anna dengan sopan.
"Waalaikumsalam sayang, kamu sudah pulang." sambut Anna seraya memeluk putrinya dengan hangat. Diam-diam Giselle yang ada di sebrang sana terlihat tidak senang melihat Anna bersikap hangat pada Ara.
Padahal dulu dia adalah satu-satunya putri di rumah ini, tapi sekarang Ara alias Lyodra adalah putri yang asli dan satu-satunya di sana. Bahkan Giselle iri melihat penampilan Ara sekarang, elegan dan semua barang-barang yang dipakainya adalah barang mewah. Barang itu ada yang dibelikan oleh Anna, Sean dan Bryce. Sedangkan dirinya? Sekarang hancur tanpa Yoshua, tanpa Bram dan tanpa keluarga Gallan.
Ara segera mengambil posisi duduk di samping mamanya. Ia melihat Giselle dengan sinis, entah kenapa dia masih sulit memaafkan Giselle. Bukan karena Bram, tapi karena sikap Giselle yang playing victim itu.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Ara dengan lirikan tajam pada Giselle.
"Maafin aku Ara, aku kesini mau minta izin sama mama, papa, kak Sean dan kamu juga. Aku ingin tinggal di rumah ini, sementara saja kok. Sampai bayiku lahir." Giselle memegang perutnya yang sudah mulai membuncit sebab usia kandungannya yang sudah menginjak 5 bulan.
"Kenapa kamu harus minta izin sama keluargaku untuk tinggal disini? Memangnya kamu siapa mereka?" Ara tersenyum sinis, ia tak menyangka Giselle masih tidak tahu malu.
"Maaf...aku...aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mama, papa dan kak Sean. Kalau kamu tak mengizinkan ku disini, baiklah aku akan pergi." Giselle memelas dan membuat Anna sedikit luluh olehnya. Tapi Ara tidak, ia tidak akan biarkan dirinya disakiti lagi. Keberadaan Giselle adalah salah satu penyebab dari rasa sakitnya.
"Ya sudah pergi saja,"
Giselle tercekat mendengar ucapan Ara begitu pula dengan Anna. "Sayang,"
"Kalau mama menerima dia tinggal disini, aku yang akan pergi Ma." kata Ara tegas sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Nggak sayang! Kamu jangan pergi, kamu anak mama." Anna menggenggam tangan Ara. "Maaf Giselle, saya tidak bisa membantu kamu." ucap Anna pada Giselle.
Sialan Lo cewek kampung! Batin Giselle kesal. Niatnya menjadi putri di rumah itu dan menyingkirkan Ara, rupanya tidak berhasil.
Ara tersenyum melihat raut wajah Giselle yang pucat itu.
Maaf! Tapi aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki celah untuk menyakitiku lagi. Termasuk kamu.
...****...
Spoiler...
"I love you, Haura Yameena Gallan..."
__ADS_1
####
Uwu uwu di bab berikutnya ya β€οΈπjangan lupa voting dan gift guys...biar cepet di halalin sama author nya π€£