
...🍁🍁🍁...
Ara terdiam dan tersentak kaget saat mendengar ucapan bi Ani bahwa Bram ada didepan rumah dan sedang menunggunya. Keluarga Ara terlihat tidak senang dengan berita yang dibawa oleh Ani itu.
"Mau apa lagi dia kesini? Dia gak ada capeknya ya deketin kamu terus, Ra. Apa aku hajar saja dia ya?" tanya Sean gemas sebab Bram terkadang datang ke rumahnya untuk menemuinya Ara dengan alasan Aryan yang sakit.
"Iya, papa juga sebel. Mau apa sih dia kemari? Kali ini pakai alasan apa lagi dia biar bisa bawa kamu pergi?" celetuk Bryce tidak senang.
"Kak...jangan gitu deh. Aku temuin mas Bram dulu." Ara beranjak dari tempat duduknya, namun Anna mencegahnya.
"Biar mama yang temuin dia, kamu habiskan dulu saja sarapanmu." tegur Anna, lalu dia pergi menuju ke pintu rumah itu untuk menemui Bram.
Melihat mamanya sudah beranjak pergi, Ara kembali duduk saja dan melanjutkan makannya yang belum usai bersama dengan Bryce dan Sean.
****
Didepan rumah besar itu, Bram terlihat berdiri sambil sesekali melihat-lihat kesana kemari dengan bosan. Tangannya memegang buket bunga mawar merah, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Ara? Pria itu masih belum menyerah untuk mendapatkan hati mantan istrinya kembali.
CEKLET!
__ADS_1
Begitu pintu rumah terbuka, Bram langsung menyodorkan buket bunga mawar besar itu pada seseorang yang membuka pintu.
"Assalamualaikum Ara! Ini buat kamu! Selamat ya...karena ini hari pertama kamu bekerja!" seru Bram tanpa melihat siapa yang ada didepannya itu. Bram tersenyum ketika Anna mengambil buket bunga itu, ia pikir Anna adalah Ara.
Ara terima buket bungaku? Tuh kan, aku bilang juga apa. Ara masih ada rasa padaku, tidak mungkin cinta pertama bisa dilupakan begitu saja.
Namun buket bunga itu malah di lempar ke atas meja yang ada depan rumah itu. Bram terkejut begitu mendengar bunyi sesuatu yang dilempar. Tapi dia lebih terkejut lagi manakala ia melihat orang yang didepannya ini bukanlah Ara melainkan Anna ibunya.
"Mau apa lagi kamu kesini?" tanya Anna dengan suara yang tidak ramah sama sekali.
Pria itu langsung tersenyum dan berusaha mengendalikan raut wajahnya didepan Anna. Bram mendekati Anna lalu mencium tangannya dengan sopan. "Assalamualaikum Tante,"
"Waalaikumsalam." jawab Anna malas.
"Nggak Tante, opa saya sehat kok. Saya kesini bukan untuk itu."
"Terus?"
"Saya mau ketemu Ara, Tante. Hati ini hari pertama Ara bekerja ke kantor dan saya ingin mengantarnya." kata Bram menjelaskan dengan jujur tujuan Bram datang kemari.
__ADS_1
"Maaf, tapi anda tidak berhak untuk itu pak Bram. Saya rasa calon menantu saya yang lebih berhak," ucap Anna seraya melihat Regan yang kini sudah berdiri di belakang Bram. Pria itu juga membawa buket tapi bukan buket coklat melainkan buket permen dan coklat.
"Assalamualaikum tante." sapa Regan, lalu mendekati Anna dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan sopan.
Melihat kehadiran Regan disana membuat Bram panas. Apalagi barusan Anna memanggil Regan sebagai calon menantunya.
Kenapa sih dia ada disini? Calon menantu? Jadi benar mereka akan menikah?
"Waalaikumsalam Regan, kamu mau ketemu Ara ya? Biar Tante panggilkan." kata Anna ramah, beda dengan sikapnya pada Bram yamg ketus.
"Iya Tante, saya tunggu disini aja."
Anna kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil anaknya. Sementara Bram dan Regan ada di depan rumah itu sambil menatap tajam satu sama lain.
****
Di sebuah rumah mewah, terlihat Tania sedang bersama dengan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya.
Ayahnya pak Adam memberitahukan kepada Tania tentang perjodohannya dengan keluarga Dirgantara. "Aku mau pah! Aku mau dijodohkan sama Regan Dirgantara!" kata Tania senang dan langsung setuju dengan usul perjodohan ini.
__ADS_1
"Baik, kalau gitu nanti papa akan bilang sama Tante Riana tentang ini." ucap Adam seraya tersenyum.
...*****...