
...🍀🍀🍀...
Sean buru-buru menghabiskan rotinya, begitu ia mendengar kedua orangtuanya tiba-tiba membahas soal Rachel.
"Kamu mau mau kemana Sean? Buru-buru banget sih, padahal kantor kamu buka jam 9 pagi!" kata Anna pada putranya itu.
"Mau siapin berkas buat hari ini!" kata Sean beralasan. Padahal ia tidak mau membahas tentang Rachel. Ada alasan kenapa dia tidak mau membahas soal wanita itu.
"Hey! Sean! Kamu tidak boleh menghindari pembicaraan ini, nak! Cepat berikan mama cucu," teriak Anna pada putranya yang sudah pergi jauh dari sana. Anna menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Sean.
Anna yakin Sean menyukai Rachel, tapi kenapa putranya itu terlihat dingin pada Rachel dan menjaga jarak darinya. Padahal usia Sean hampir menginjak 27 tahun itu sudah cukup untuk menikah. Tapi anaknya hanya kerja dan kerja saja, bergelut dengan semua kasusnya.
"Pa, seharusnya papa tidak menjadikan putra kita sebagai seorang pengacara dan jadikan saja dia pengusaha. Lihatlah dia sekarang pa! Jadi sibuk dengan urusan orang lain dan tidak memikirkan perasaannya sendiri." gerutu Anna, lalu meneguk segelas air putih.
"Mama tau sendiri kan, anak mama yang satu itu selalu hidup dengan prinsipnya sendiri. Dari dulu dia ingin jadi pengacara, maka dia akan begitu." cetus Bryce sambil mengunyah makanannya.
"Iya papa benar juga. Tapi siapa nanti yang akan menjadi pengganti papa di perusahaan?" tanya Anna bingung. Ia baru terpikirkan hal ini. Sean sibuk menjadi pengacara, Ara juga sudah mengatakan dia tidak bisa mengurus perusahaan sebesar itu dan kelak ia ingin mempunyai bisnis makanan. Kedua anaknya tidak ingin menjadi pewaris.
"Mama lupa kalau papa masih punya adik." kata Bryce seraya melirik ke arah istrinya.
"Maksud papa..."
"Ya, si anak nakal itu. Dia akan kembali Minggu depan ke Jakarta dan dia akan membantu papa untuk mengurus perusahaan." jelas Bryce yang membuat Anna lega.
"Iya juga ya...kalau begini mama jadi tenang. Tapi, kenapa dia tidak kembali sekarang pa?" tanya Anna penasaran.
"Katanya dia lagi liburan di Maldives atau dimana tuh...papa lupa. Mama tau kan kalau dia suka main diluaran sana. Papa kasih kebebasan sama dia, sebelum dia gak bisa kemana-mana saat ngurus perusahaan nanti." kata Bryce sambil tersenyum.
"Oke deh pa. Tapi--mama mau Ara sama Regan tinggal disini." kata Anna pada suaminya. Ia tak mau jauh jauh dari Ara, walaupun anaknya itu sudah menikah.
"Ma...anak kita kan sudah menikah, biarkan dia ikut suaminya." ucap Bryce.
"Iya mama tau pa, tapi kalau Ara dan Regan setuju tinggal disini. Papa jangan larang larang mereka ya." tukas Anna lugas.
"Iya oke ma." Bryce mengiyakan ucapan istrinya. Jujur saja Bryce juga merasa hampa tanpa ada Ara di rumah karena keberadaan Putri bungsunya itu tidak lama disana. Dan Bryce ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan Ara.
Bryce rasa dia juga belum bisa menebus kesalahannya kepada Ara, kesalahan terbesarnya yaitu membuat Ara kehilangan bayinya. Pria paruh baya itu selalu dihantui rasa bersalah dalam hatinya, meski maaf sudah Ara berikan padanya. Sejak saat itu Bryce berubah total, ia jadi baik dan tidak pandang bulu lagi.
Ketika selesai sarapan, ponsel Anna tiba-tiba berbunyi. Anna mengangkat telpon itu dan Bryce juga masih ada disana. "Halo..... APA? Kamu dimana sekarang Giselle?!" suara Anna panik.
"Ada apa Ma?" tanya Bryce bingung saat melihat raut wajah istrinya.
Anna menutup telponnya, lalu ia menatap sang suami dengan tajam. "Pa, apa papa bisa gak ke kantor dulu hari ini?"
"Huh?"
__ADS_1
****
Di dalam perjalanan menuju ke kantor firma hukumnya, Sean terlihat bingung dan gelisah. Setelah kedua orang tuanya membahas tentang Rachel.
"Kenapa aku jadi mikirin dia sih? Sadar Sean! Sadar! Dia udah punya calon dan calonnya adalah..." Sean tidak melanjutkan kata-katanya, ia kembali fokus menyetir dan mau langsung ke kantornya saja walau ini masih terlalu pagi.
Ketika sedang menyetir, atensinya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang tengah menendang-nendang ban mobilnya. Wanita cantik berambut pirang panjang, ia adalah Rachel.
"SHITT! Kenapa bisa bocor disaat begini sih? Aku kan harus segera pergi ke acara pembukaan butikku!" gerutu gadis bule itu sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia bingung, ia sedang buru-buru tapi ban mobilnya malah pecah.
"Kenapa juga tidak ada mobil yang lewat disini? Ah...ini salahku karena mengambil jalan pintas." gerutu Rachel lagi.
Rachel yang sedang bingung itu, kini dikejutkan dengan keberadaan mobil sedan berwarna hitam yang tiba-tiba saja berhenti tak jauh darinya. Mata Rachel memicing melihat plat nomor kendaraan itu. "Sean?"
Benar saja, mobil itu adalah mobil Sean. Rachel melihat Sean keluar dari mobilnya dan berjalan menghampirinya yang ada di sebrang.
"Mobilmu kenapa?" tanya Sean pada Rachel tapi sayangnya gadis itu malah terdiam dan memandangi wajah Sean.
Pria tampan yang sudah memikat hatinya sejak lama, tapi sulit sekali meraih hatinya itu. Rachel melamun, tiba-tiba saja ia teringat dengan percakapannya dan Ara saat pernikahan kemarin. Bahwa Sean juga sering membicarakannya. Tapi kenapa sikap Sean cuek saja padanya seolah tak peduli.
"Rachel, are you okay?" Sean akhirnya menepuk pundak Rachel dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Iya, i'm fine." jawab Rachel salah tingkah. Ia menggeser rambutnya ke belakang.
'Sean benarkah kamu menyukaiku? Tapi kenapa kamu cuek banget sama aku Se? Setiap aku ingin mendekatimu...kamu selalu saja menghindar'
"Bannya bocor. Tapi kamu tenang aja, aku mau telpon tukang buat benerin mobilnya." ucap Rachel berusaha bersikap biasa saja.
"Oke, tapi kamu lagi buru-buru gak?" tanya Sean pada Rachel karena melihat gelagat aneh dari gadis itu yang terlihat buru-buru.
"Hem...iya, tapi aku tunggu taksi aja." jawab Rachel.
"Disini gak akan ada yang taksi lewat, yang ada begal." celetuk Sean dengan gaya cueknya yang malah membuat Rachel semakin terpesona.
"Hah? Kamu bercanda kan?" Rachel tersentak kaget. Dia pikir Sean bercanda.
"Bawa barang-barang penting kamu di mobil, terus ikut aku." ujar Sean.
"Ta-tapi..."
"Kamu ada pembukaan butik baru hari ini, jangan sampai terlambat." ucapnya lagi.
Akhirnya Rachel pun ikut dengan Sean ke dalam mobilnya, setelah dia membawa barang-barang pentingnya dan menelpon seseorang untuk memperbaiki ban mobilnya.
"Aku bukan supir, kamu." ketus Sean saat melihat Rachel membuka pintu belakang mobil.
__ADS_1
Rachel pun paham dengan maksud Sean, ia pun duduk di kursi depan bersama dengan Sean. "Sorry, kirain kamu gak mau dekat-dekat sama aku karena kamu benci sama aku."
"Benci? Siapa yang bilang?" tanya Sean balik.
"Gak ada yang bilang, tapi sikap kamu yang mengatakannya kalau kamu gak suka sama aku, Se." jelas Rachel sambil menatap Sean yang sedang melajukan mobilnya.
"Memangnya sikapku gimana?" tanya Sean cuek.
"Sikap kamu gak bisa ditebak Se. Kadang kamu baik kadang kamu ketus sama aku, sebenarnya aku kau tanya ini dari dulu sama kamu....kenapa kamu berubah? Kenapa kamu pulang ke Indonesia? Apa karena jauhin aku?" Rachel mencecar Sean dengan pertanyaan yang ada dibenaknya selama dua tahun ini.
"Bukan."
"Sean, jelas-jelas kamu jauhin aku. Padahal dulu kita udah dekat, tapi kamu--" Rachel menatap Sean dengan mata berkaca-kaca.
"Aku suka sama kamu Sean," ucap Rachel yang sontak membuat Sean mengerem mendadak.
Hati Sean berdebar mendengarnya, tapi ia berusaha mengondisikan raut wajahnya tetap tenang. "Kamu jangan bicara sembarangan Rach,"
"Aku serius Sean." Rachel menatap Sean dengan lekat, ia tidak tahan lagi untuk mengungkapkan perasaannya pada Sean. Biarlah dia disebut gampangan atau bagaimana karena wanita menyatakan cinta duluan, yang penting Sean tau isi hatinya.
"Kamu udah punya tunangan, tidak seharusnya kamu--"
"APA? Aku punya tunangan? Siapa yang bilang gitu Sean?!" sentak Rachel terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh Sean padanya.
****
Sementara itu di hotel tempat Ara dan Regan menikmati malam pertama. Ara dan Regan baru saja selesai sarapan. Ara pun bersiap membereskan barang-barang karena mereka akan segera pergi bulan madu ke Maldives. Bulan madu yang telah disiapkan oleh Dimas, kakek Regan.
Melihat istrinya beres-beres, tentu Regan tidak diam saja. Ia membantu sang istri beres-beres juga. "Ra, aku percaya kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak." bisik Regan yang membuat Ara berdebar.
"Kalau istri yang baik?"
"Itu gak perlu aku sebutin lagi, salah satu alasan aku menikahimu karena cinta dan karena kamu adalah wanita yang paling cocok dari ibu untuk anak-anak kita." jelas Regan sambil memeluk tubuh Ara dengan mesra.
Setelah beres-beres mereka pun pergi ke bandara untuk segera berangkat ke Maldives. Tanpa mereka sadari ada dua orang mencurigakan mengikuti mereka berdua di bandara. Tak sengaja dua orang berbeda jenis kelamin itu bertubrukan dan saling melihat satu sama lain.
"KAMU? Kenapa kamu ada disini?" tanya keduanya bersamaan dan sama-sama terkejut. Kemudian mereka pun melihat Ara dan Regan bersamaan.
"Apa jangan-jangan..." si pria menatap si wanita dengan menerka-nerka.
"Ya, pria itu calon suami saya." jawab si wanita dengan mata penuh kilat kemarahan saat melihat Ara dan Regan.
"Kalau begitu, ayo kerja sama!" si pria tersenyum lalu mengajak si wanita untuk bekerjasama.
...****...
__ADS_1
Hai Readers 😁bagi yang tanya kenapa Bram sama Gisele belum dikasih karma...ini lagi otw ya, jangan dikira Bram akan secepat itu menemukan jodoh! No! 👻
Jangan lupa komennya ya guys!