Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 41. Tidak ada gunanya mengulang waktu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Silahkan kalau mau pergi," ucap Anna lelah dengan sikap Giselle.


Giselle menangis, ia terlihat kecewa dengan jawaban Anna. Selama ini Giselle tak pernah di bentak oleh orang tuanya maupun Sean. Wanita itu sakit hati dan marah pada Ara yang ternyata telah merebut kasih sayang mereka. Dan Giselle akhirnya menyadari bahwa kedua orang tua juga kakak laki-lakinya sering pergi ke rumah Ratih untuk menemui Ara bukan hanya sekedar merasa bersalah, tapi menemui anak kandung mereka.


Hati Giselle seperti di sayat sayat mendengar kata pengusiran dari Anna. Giselle tidak menyangka bahwa Anna yang menyayanginya sanggup mengatakan itu pada Giselle.


"Jadi mama usir aku? Mama usir aku karena kehadiran wanita itu?!" sentak Giselle marah.


Anna meraup wajahnya dengan kasar, ia juga bingung harus bagaimana lagi. Sikap Giselle tidak bisa di tolerir lagi. Bukankah sungguh dramatis bahwa sebelumnya Anna mendukung Giselle menjadi pelakor sampai hubungan rumah tangga anak kandungnya sendiri jadi hancur. Dia telah mendukung orang yang salah karena di butakan rasa cinta dan sayang kepada Giselle.


"Dia putri mama, papa juga Sel. Sama sepertimu, dia adik kamu dan kamu harus menerima dia. Kalau kamu menghina Ara seperti itu lagi, papa tidak akan tinggal diam!" seru Bryce pada Giselle.


"Nggak, aku gak punya adik seperti dia. Aku satu-satunya anak perempuan di keluarga ini! Aku nggak mau menerima wanita kampungan itu sebagai adik aku," Giselle menggelengkan kepalanya.


"GISELLE!" bentak Sean pada adik angkatnya itu.


"Kalian hanya bisa memilih, aku atau wanita kampung itu?! Karena aku tidak bisa menerimanya!" seru Giselle tak terima.


"Kami pilih adik kamu," jawab Anna tegas dan dingin. Ia menatap Giselle dengan sorot mata yang tajam. Bryce dan Sean juga tidak menyangkal, mereka setuju dengan jawaban Anna.


"A-apa? Kenapa Mama?!" Lagi-lagi gadis itu tak terima dengan jawaban Anna yang lebih memilih Ara dibandingkan dirinya.


"Mana mungkin mama lebih membela putri ang--"


Astagfirullah...aku hampir keceplosan.


Anna terdiam begitu ia menyadari akan mengucapkan kata-kata yang akan membuat Giselle makin sakit hati. Fakta bahwa gadis itu hanyalah anak angkat.


"Putri apa ma? Kenapa gak diteruskan?" tanya Giselle bingung.


"Sudahlah! Lebih baik kamu pergi ke kamar sekarang. Papa akan segera menikah kamu dengan ayah dari bayi itu, tadi tantenya menelpon mama." jelas Bryce menyudahi semuanya.

__ADS_1


"APA? Aku gak mau pa!"


"Masuk ke kamarmu Giselle!" Bryce tak ragu menunjukkan jarinya pada Giselle, ia benar-benar marah pada Giselle.


Giselle pun dibawa masuk ke dalam kamar oleh salah satu pelayan di mansion itu karena ia terus membantah. Sungguh, fakta tentang Ara yang adalah adiknya membuat Giselle tak terima dan sakit hati.


"Dulu wanita itu menikah dengan orang yang aku cintai, dia merebut Bram dariku! Lalu sekarang dia merebut keluargaku juga? Aku tidak akan membiarkanmu wanita kampung! Kau tidak akan pernah bisa masuk ke dalam rumah ini! Hanya aku satu-satunya putri di keluarga ini!" Giselle meremass tangannya dengan bulir air mata terus jatuh membasahi pipinya. "Aku harus bertahan di rumah ini untuk mempertahankan posisiku!"


Sementara itu di luar sana, Anna, Bryce dan Sean tengah berbicara serius tentang Ara. Mereka akan membawa Ara ke rumah dan mendisiplinkan Giselle.


Tapi Sean tak setuju bila nanti Ara serumah dengan Giselle. Sean merasakan firasat buruk kalau mereka berada dalam satu atap. Bryce membenarkan, maka dari itu ia akan mengirim Giselle pergi ke negara lain bersama suaminya nanti. Dengan begitu Giselle tak akan serumah dengan Ara.


"Ya udah, papa telpon tantenya si Yoshua itu. Mereka nikah siri dulu aja deh, nanti udah Giselle lahiran...baru mereka nikah lagi sekalian resepsi." ucap Anna pada suaminya.


"Iya ma. Mama juga bantu papa ya bujukin Ara, papa benar-benar ingin Ara memaafkan papa dan tinggal disini ma."


"Pa, itu juga yang mama dan Sean harapkan! Kita semua mengharapkan itu pa, selama ini kita belum memberikan kasih sayang pada Ara." jelas Anna sedih.


"Maka kita harus berusaha untuk mendapatkan hati Ara, pa, ma." kata Sean seraya tersenyum.


Mereka bertiga berencana untuk membuat Ara tinggal dengan mereka, tentunya mereka akan melimpahkan kasih sayang pada Ara yang selama ini belum pernah Ara dapatkan.


****


Rumah Ara.


Terlihat gadis itu ketiduran di sofa setelah shalat duhur. Ia terlihat pulas sampai tak sadar jika ada sepasang mata yang memandanginya dengan raut wajah teduh.


"Cantik banget sih kamu, Ra." decak kagum Regan saat melihat wajah cantik yang tengah tertidur pulas itu.


Regan masih ada disana dan rencananya sebentar lagi dia akan kembali ke Jakarta, sebab dia memiliki pekerjaan lain. Dosen hanya pekerjaan sampingannya, sebenarnya ia memiliki pekerjaan lain yang tidak banyak diketahui banyak orang. Namun Regan masih belum serius dengan pekerjaan itu.


"Pak Regan," panggil Mia setengah berbisik karena takut membangunkan Ara.

__ADS_1


"Iya, Mia?"


"Bapak mau pulang kapan? Saya masih mau disini aja pak, saya mau nemenin Ara." ucap Mia pada Regan.


"Iya gak apa-apa, bagus kalau kamu disini." senyuman mengembang di wajah tampan Regan, seketika Mia pun langsung tau bahwa semua itu karena yang terjadi tadi pagi. Dimana Regan telah mengungkapkan perasaannya pada Ara, memang tidak ada jawaban dari sahabatnya itu. Tapi Ara juga tidak menolaknya dan malah menunjukkan bahwa gadis itu gugup. Artinya ada rasa bukan?


"Pak sabar ya, tunggu sampai perceraiannya selesai. Eh masa Iddah!" kata Mia sambil tersenyum. Sontak saja Regan terdiam saat mendengar ucapan Mia.


Namun dalam hati Regan membenarkan apa yang diucapkan oleh Mia. Dia masih harus menunggu Ara karena ia serius ingin menjadikan Ara istrinya bukan hanya sekedar pacaran.


Satu hal yang tidak Ara dan semua orang ketahui, bahwa sebelumnya Regan pernah bertemu dengan Ara.


*****


1 Minggu berlalu, kini Ara dan Bram berada di depan gedung pengadilan. Ya, ini sidang perceraian mereka yang terakhir. Keduanya sama-sama menatap gedung pengadilan agama itu dengan hati yang berkecamuk.


Bagaimanapun juga pernah ada rasa cinta untuk Bram di hati Ara. Ada sedikit rasa sakit juga saat harus mengakhiri pernikahan ini, sakit sebab jalan ini yang harus ia ambil. Jalan yang dibenci oleh Allah yaitu perceraian.


Ketika keduanya berjalan menaiki tangga, atensi mereka tak sengaja bertemu. Ara melihat suami yang sebentar lagi resmi menjadi mantan suaminya itu, terlihat kurus dan tidak terawat. Kantung matanya begitu tebal dan hitam. Bahkan ada cambang cambang tipis yang tumbuh di wajahnya.


"Gimana kabarmu, Mas?" Ara mendahului bertanya, namun tanpa menoleh ke arah Bram.


"Seperti yang kamu lihat." jawab sekenanya. "Tapi sepertinya kamu terlihat baik-baik saja?" tanya Bram.


Ara menghela nafas panjang lalu dia berkata. "Tentu saja, aku akan terlepas dari pernikahan yang sama sekali tidak pernah membuatku bahagia. Harusnya kamu juga senang karena akhirnya hubungan kita berakhir begini, kamu bisa bebas."


"Tidak Ra! Aku sama sekali tidak senang dengan perceraian ini, jika waktu bisa diulang... aku pasti tidak akan pernah mengucapkan kata-kata itu dan tidak akan pernah bersikap jahat padamu." jelas Bram penuh penyesalan, hingga bulir air mata jatuh di pipinya.


"Tidak ada gunanya mengulang waktu Mas. Apa sudah terjadi di antara kita memang takdir dari Allah. Dan untuk kedepannya kita sama-sama belajar saja. Belajar untuk melupakan satu sama lain, belajar untuk lebih bisa menjaga kata-kata." ucap Ara bijak, tanpa ada rasa penyesalan sama sekali tentang keputusan untuk bercerai. Tapi Bram lain, hatinya hancur berkeping-keping setelah dia menyadari cinta yang terlambat di dalam hatinya telah tumbuh untuk Ara. Istri yang selama ini dia sia-siakan.


Sementara itu Bram hanya bisa menangis mendengarkan ucapan Ara. Haruskah ia masuk ke dalam gedung itu atau tidak?


...****...

__ADS_1


Hai Readers, author mau crazy up 😬 bantu komen, like, gift dan vote nya dong!


__ADS_2