Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 39. Bram BRENGSEK!


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Apartemen Regan.


Pagi sekali, Regan sudah bersiap untuk pergi ka Bandung. Setelah mendapatkan jawaban pesan dari Ara. "Saya baik-baik saja pak, terimakasih. Saya baru selesai shalat subuh dan akan bersih-bersih." ☺️


Regan merasa mendapatkan lampu hijau ketika melihat jawaban itu. Walaupun sudah mendapat jawaban, tetap saja Regan ingin pergi ke Bandung dan melihat wajah wanita itu secara langsung.


"Shalat subuh? Ah...aku sudah lama tidak shalat." gumam Regan setelah ia mendapatkan pesan dari Ara.


Shalat? Sudah lama Regan tidak melakukan itu padahal dia beragama Islam. Melihat pesan Ara, ia jadi semakin yakin bahwa Ara memang wanita yang tepat untuk mendampinginya sebagai istri, kelak. Dan dia juga harus berusaha menjadi lebih baik untuk menjadi pasangannya kelak. Regan sangat serius ingin menjalin hubungan dengan Ara. Namun maslahanya adalah perasaan Ara, apakah dia juga menaruh hati padanya?


Usai shalat subuh yang sudah lama tak ia lakukan, Regan keluar dari apartemennya, ia bergegas menuju ke Bandung dengan alamat yang diberikan Bu Ratih sebelumnya.


****


Di depan rumah Ara.


Orang-orang tengah berkumpul di sana sebab Ara mengacuhkan Bram yang sedang sakit. Mereka tidak terima Ara mengacuhkan Bram karena Bram adalah tamunya dan status mereka masih menikah dalam hukum negara. Mereka mulai membicarakan hal jelek tentang Ara yang temperamen dan tidak berperikemanusiaan.


"Neng, si neng mah tega banget. Masa suami sendiri di biarin tidur di luar, sampai sakit."


"Tapi pak RT, dia itu--" Ara bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ketika ucapan orang-orang menekan seolah ia yang bersalah. Ara kesal karena semua liburan dan ketenangannya hancur, akibat ulah keluarga Gallan terutama Bram yang tidak tahu malu.


"Lebih baik bawa si AA nya ke dalam neng," ucap pak Rt pada Ara.


Sebenarnya Ara malas untuk membawa Bram masuk ke dalam, tapi pak Rt dan beberapa warga membawa Bram yang tidak sadarkan diri itu masuk ke dalam rumah Ara.


"Taruh saja dia di kursi pak!" ujar Ara dengan lirikan sinis pada Bram. Memang wajah pria itu terlihat pucat dan mengenaskan, semalaman di luar rumah dalam keadaan udara yang dingin dan tidur di lantai. Pasti membuat Bram sakit, Bram tidak terbiasa tidur seperti itu. Dia lahir dengan sendok emas, ranjang empuk dengan fasilitas mewah sudah mendarah daging dalam dirinya.


Apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan luluh padamu mas. Aku ingat dulu kamu pernah membuatku menunggumu semalaman, ketika kamu bilang akan pulang tapi kamu malah pergi bersama wanita itu. Ini belum seberapa mas.


"Neng, di urusin ya suaminya neng! Bagaimana pun juga si AA teh masih suami neng Ara," nasihat pak RT.


"Kenapa harus bercerai sih neng? Kasihan si AA udah mohon-mohon sama neng, semalaman saya lihat si AA tiduran di depan." celetuk mang Usman salah satu petugas ronda dan tetangga Ara juga. Ia melihat Bram berada di luar semalaman.


Ara memilih bungkam, ia tidak mau menjelaskan sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh orang lain. Bukankah dia yang merasa sakit? Bukankah dia yang tau bagaimana perasaannya sendiri pada Bram? Mereka tidak tahu apa yang dilakukan Bram padanya. Rasanya percuma kalau di jelaskan, mereka tak akan paham.


"Makasih pak RT, pak Usman dan ibu-ibu sekalian. Saya akan mengurus suami saya," ucap Ara sambil menghela nafas panjang.


Semua orang pun pergi dari sana kecuali Ijah karena Ara memintanya untuk tetap tinggal disana. Ara tidak mau berduaan di rumah itu bersama Bram, sedangkan mereka sudah cerai secara agama. Haram hukumnya bila mereka berduaan di dalam rumah itu tanpa ada orang ketiga.


"Ra...kumohon...jangan tinggalkan aku Ra...aku menyesal Ra..." tubuh Bram menggigil, tapi pria itu masih belum membuka matanya. Ara sama sekali tidak iba padanya, hanya rasa kasihan saja sebagai manusia.


Rasa sakit yang kamu alami sekarang...tidak sedalam rasa sakitku selama jadi istrimu, mas.


"Neng Ara, demamnya si aa gak turun juga. Saya panggilkan pak mantri aja ya neng?" tanya Ijah dengan logat sundanya. Ia cemas pada Bram yang demamnya belum turun juga bahkan setelah Ara mengompres dan memberikan obat padanya.


"Gak usah Bu, biar saya rawat aja dia."


"Tapi neng-- bukankah neng ingin agar si AA cepat pergi dari sini? Kalau dia sembuh dia bisa cepat pergi neng."

__ADS_1


Apa yang dikatakan Ijah memang benar. Ara mengangguk setuju dan membiarkan Ijah pergi memanggil mantri yang tak jauh dari sana. Kini Ara dan Bram pun berdua saja di rumah, tapi pintu dibuka lebar karena takut menimbulkan fitnah.


Begitu bodohnya aku Ra, aku menyia-nyiakan kamu yang selalu menjaga diri. Kamu perempuan baik, kamu juga ternyata adalah keluarga Galan.


Tanpa Ara sadari, Bram sudah bangun dan melihat Ara tengah mengganti handuk kompres yang mulai kering itu dan ia celupkan pada baskom berisi air.


Tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di tubuh Ara dan membuatnya kaget hingga menjatuhkan baskom berisi air itu dan akhirnya air itu tumpah ke lantai.


PRAK!


"Mas Bram! Lepaskan aku mas! Jadi kamu sudah bangun? Cepat pergi dari sini!" teriak Ara kesal, sambil melepaskan tangan Bram yang melingkar ditubuhnya. Ara beranjak dari tempat duduknya dengan nafas yang baik turun.


"Ra, aku mohon maafin aku...aku menyesal. Kita pulang ke Jakarta ya sayang? Kita kembali ke rumah kita!" bujuk Rayu Bram yang sama sekali tak mempan untuk Ara.


"Pulang? Disini rumahku! Kamu mending cepat pergi dari sini Mas, aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" hardik Ara seraya menarik tangan Bram dan mendorong-dorong pria itu dengan keras.


Sayangnya pria itu tak bekerja sama, dia enggan untuk pergi. "MAS! PERGI!" teriak Ara kesal.


BRAK!


Bukannya pergi, Bram malah menutup dan mengunci pintu rumah itu. Ia mendekati Ara lalu memeluknya dengan paksa. "Mas! Kamu udah gila ya! Lepasin aku, Mas!" Ara memukul-mukul tubuh Bram dengan sekuat tenaga.


"Gak! Aku nggak akan lepasin kamu Ra! Aku sayang kamu, aku cinta kamu."


"Tapi aku tidak mencintaimu lagi Mas. Lepaskan aku Mas! Jangan gila--humpph--"


Kata-kata Ara terhenti manakala Bram meraup bibirnya dengan rakus. "Hmph--hmph--"


"Ack!"


Ara mengigit bibir Bram sampai berdarah, ia mulai ketakutan dan melarikan diri dari Bram. Pria itu mengejarnya dan membopong tubuh Ara dengan paksa. "Mas! Jangan kumohon pergi!"


"Karena kamu susah dibujuk dengan kata-kata, maka aku akan menunjukkan sikapku!"


Brugh!


Bram menjatuhkan Ara di atas ranjang dengan kasar. Ara mencoba melarikan diri saat Bram lengah, namun sayang tenaganya jauh dari Bram.


"Mas...kamu mau apa? LEPAS! Aku akan teriak!"


"Teriak saja, laporkan aku ke polisi dengan tuduhan pelecehan atau pemerkosaan...kamu jangan lupa Ara, aku masih suamimu!" Bram menatap Ara dengan nanar dan penuh nafsu. Melihat Ara menangis, ia sama sekali tidak kasihan dan tetap menjalankan aksinya. Tangan Bram bergerilya masuk ke dalam kaos yang dikenakan Ara dan membuka penyangga dua buah gunungnya.


"Tidak Mas! Kumohon! Kita bukan suami istri lagi, aku---" Ara mencoba menahan tangan Bram, disela isak tangis dan ketakutannya.


"Aku akan membuatmu hamil anakku lagi, Ra! Dengan begitu perceraian kita akan batal,"


Ketika Bram hendak kembali mencium bibir Ara, tiba-tiba saja tubuhnya terpental ke belakang. Ia jatuh ke lantai.


"Hiks..." Ara segera merapikan bajunya, dia terkejut melihat Regan ada disana.


"BRENGSEK!" bentak Regan seraya menarik tubuh Bram dan memukulinya habis-habisan. Tak hanya Regan yang ada disana, tapi ada Mia, Ijah dan seorang dokter pria yang disebut mantri.

__ADS_1


Buk!


Buk!


"Beraninya Lo nyentuh dia, HAH?!" Regan menatap Bram dengan emosi dan masih memukulinya. "Brengsek!"


"Ra, kamu gak apa-apa?" Mia dan Ijah menghampiri Ara yang menangis.


"Mia...hiks..."


Tak peduli dimana, Regan dan Bram saling adu bogem. Terlihat wajah Bram yang semula babak belur, kini bertambah lagi babak belurnya.


"Kenapa kau selalu menganggu dan berada di sekitar istriku?!" Bram meludahkan darah di bibirnya. Ia menatap Regan dengan tatapan tajam.


"Apa urusanmu, hah?!"


Brugh!


Regan terkena bogem mentah dari Bram di pipinya. Regan membalasnya kembali. "Menurutmu kenapa?! Aku hanya tidak suka kamu memperlakukan Ara seperti itu!"


"Kenapa tidak suka hah? Apa kamu suka pada Ara?" tanya Bram dengan dada yang naik turun.


"Kalau iya, kenapa?!"


Deg!


Orang-orang disana terkejut saat mendengarnya. Termasuk Ara. Mereka tidak menyangka bahwa Regan akan mengiyakan pertanyaan Bram.


Sontak saja kemarahan Bram semakin menjadi-jadi, dia menyerang Regan dengan brutal. "KURANG AJAR! BERANINYA KAU MENYUKAI ISTRIKU?!


...*****...


Spoiler bab berikutnya....


"Jadi si jalangg itu adalah adikku?!"


Plakk!


"Giselle jaga mulutmu itu!" Sean melayangkan tamparan di pipi Giselle, adik yang selama ini ia sayangi untuk pertama kalinya.


"Kalian jahat...kalian semua jahat! Kalian semua membela dia, kalian jahat!"


****


"Maafkan saya Ara, saya memang sudah jatuh cinta padamu."


"Tidak usah minta maaf pak, jatuh cinta bukanlah kesalahan. Hanya saja anda jatuh cinta pada orang yang salah."


...****...


Biar cepet update, jangan lupa kasih gift nya ya 😁😁🀧🀧 eh komennya juga ☺️😁

__ADS_1


__ADS_2