Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 14. Aryan marah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku memikirkan wanita itu? Mau apa dan dimana dia, aku tidak peduli.


Bram pikir ia sudah tidak waras, saat melihat hujan deras di luar sana dan kepergian Ara belum lama ini. Tiba-tiba saja terlintas wajah Ara di pikirannya dan kata-kata terakhirnya.


...Baik mas, aku pergi.... terimakasih mas karena aku tidak perlu repot-repot meminta izinmu. Ingatlah mas, bahwa kau yang mengusirku! Kamu akan menyesal MAS....


"Menyesal? Tidak akan pernah." gumam Bram pelan. "Ini yang ku inginkan." gumamnya lagi.


"Honey, kamu ngapain sih disitu?" tanya Giselle heran melihat Bram berdiri mematung didekat jendela. Pikiran Giselle mulai sedikit gelisah melihat Bram begitu.


Apa Bram memikirkan wanita itu? Tidak mungkin kan!


"Gak apa-apa sayang, aku cuma lihat hujan...hujannya deras banget."


"Kenapa? Kamu mikirin istri kamu? Ternyata kamu udah jatuh cinta sama dia...lalu apa artinya aku dan anak kita buat kamu?" wanita berambut pendek itu memegang perutnya, tak lupa dia dengan wajah memelasnya berusaha meraup simpati Bram.


Giselle bersumpah pada dirinya, dia tidak akan melepaskan Bram dan tidak akan berhenti karena jalannya sudah sejauh ini untuk bersama mantan kekasihnya itu. Ia tak akan biarkan Ara menjadi pengganggu.


Pria itu langsung menghampiri Giselle, ia duduk berlutut didepannya dan mengusap air mata Giselle. Ditatapnya wanita itu penuh cinta, beda sekali dengan caranya menatap Ara.


"Sayang, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa kamu meragukan cintaku? Lihatlah, aku bahkan lebih memilih kamu daripada dia. Masih kurang cinta kah aku sama kamu, sayang?" lirih dan begitu lembut perlakuan Bram pada Giselle. Ya, secara Giselle adalah cinta pertamanya. Mungkin kutukan cinta pertama yang tidak bisa dilupakan itu benar adanya pada Bram. Dia tidak bisa berpindah hati sebesar apapun kesalahan yang pernah Giselle lakukan padanya.


Padahal wanita itu meninggalkannya disaat saat tersulit saat Bram belum jadi CEO, hanya Ara lah yang peduli kepadanya saat itu. Tapi Ara seolah hanyalah angin lalu bagi Bram. Semua yang dilakukan Ara tidak berarti apapun setelah Giselle datang kembali dalam kehidupan Bram.


Cinta pertama Bram pada Giselle terlampau kuat dan mengalahkan perhatian Ara pada suaminya itu. Ara telah kalah setelah berjuang. Hanya Giselle cintanya Bram.


"Benaran kan? Kamu gak mikirin dia?" tanya Giselle dengan tatapan mata tajam pada Bram.

__ADS_1


"Gak lah sayang, di dalam hatiku dan pikiranku hanya ada kamu dan anak kita saja." tangan Bram mengelus pipi Giselle dengan lembut.


Giselle tersenyum, kemudian tangannya merengkuh tubuh Bram dan memeluknya. "Makasih sayang, makasih sudah memperjuangkan aku. Tapi aku harap kamu secepatnya bercerai dengan istri kamu, aku gak mau di cap pelakor sama orang-orang. Karena sebenarnya, aku yang pertama dan terakhir yang ada di dalam hidup kamu, bukan dia."


"Aku akan segera menceraikan dia, kamu jangan khawatir!" Bram meyakinkan Giselle bahwa ia akan bercerai dari istrinya. Tak peduli istrinya sedang berbadan dua sekalipun.


Namun di pikirannya saat ini,tiba-tiba saja terlintas Aryan. Kakeknya itu pasti akan marah karena Bram ingin menceraikan Ara. Ara itu kan sudah seperti cucunya sendiri.


###


Sementara itu Ara pergi bersama Regan menuju ke rumah Mia. Ara terus memegangi perutnya, bahkan beberapa kali perutnya berbunyi.


"Ra, kamu mau makan apa? Biar saya belikan." Regan cemas melihat wanita yang sedang hamil itu terus memegang perutnya.


"Gak apa-apa pak, saya pengen cepat-cepat ke rumah Mia aja. Dan maafkan saya pak karena saya mobil bapak basah."


Ara terdiam mendengar pertanyaan Regan padanya. Dia mengigit bibirnya sendiri, kepalanya menunduk dan menyembunyikan raut wajahnya.


Seandainya mas Bram yang bertanya seperti ini padaku? Seandainya mas Bram perhatian padaku...aku ingin mas Bram yang bertanya padaku. Tapi kenapa malah pria lain yang bertanya padaku mas? Kenapa bukan kamu?


"Ra?"


"Hiks...hiks..." tangis Ara pecah ketika ingat dengan suaminya yang sama sekali tidak peduli padanya sama sekali.


"Ba-baiklah saya antar kamu ke rumah Mia, tapi kamu jangan nangis ya."


"Saya mau sate...saya mau sate kambing pak." ucap Ara disela isak tangisnya.


"Sate kambing? Ba-baiklah...akan saya belikan. Kamu jangan nangis ya." Regan sungguh tidak tega melihat Ara menangis. Dia ingin bertanya ada apa, tapi dia mengurungkan niatnya itu.

__ADS_1


Ara, apa yang terjadi padamu?


****


Rumah keluarga Wiratama.


Aryan akhirnya mengetahui berita tentang Bram yang berselingkuh dengan Giselle dan Giselle yang sedang hamil. Bahkan latar berita gosip itu berada di rumah sakit, Ara juga berada disana.


"Pah! Papa tenang dulu dong!" Rania mencoba menenangkan papanya yang emosi sampai membanting banting barang di sekitar ruang tamu.


Prangg!!


"Opa... opa jangan marah-marah, nanti penyakit jantung Opa kambuh.." kata Olivia yang mencoba bicara pada Aryan, tapi tak digubris.


Prang!!


Olivia dan Kanaya, kedua anak Rania alias sepupu Bram juga sangat ketakutan melihat Aryan sangat marah karena masalah Bram.


"Panggil anak sialan itu kesini, Rania! CEPAT! SEBELUM AKU SENDIRI YANG AKAN KESANA UNTUK MEMBUNUHNYA!" suara Aryan begitu menggelegar, tangannya terkepal erat. Dia sangat marah pada Bram yang sudah membuat malu keluarga dan juga menyakiti Ara.


Kalau papanya sudah emosi begini, Rania tidak berani membantah. Ia langsung menelpon Bram, namun tak diangkat angkat.


"Pa... telponnya gak diangkat sama Bram." kata Rania setelah mencoba menelpon Bram berkali-kali.


"Anak kurang ajar!!" teriak Aryan emosi sambil memegang dadanya.


Bagaimana Bram mau mengangkat telponnya? Dia sedang asyik bercumbu dengan Giselle di rumahnya dan tak mempedulikan dering teleponnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2