Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 77. Panas hati Bram Tania


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Berada didalam keterpurukan karena keadaannya, Anna dan Bryce masih berada disampingnya. Berusaha untuk membuat anak angkatnya kembali bangkit dari keterpurukan. Tapi Anna rasa Giselle perlu waktu.


Wanita itu masih menangis, air matanya tidak berhenti juga. Apa yang dikatakan oleh dokter tentang kondisinya sungguh membuat Giselle terpukul. Giselle merasa ini memang karma yang harus diterimanya karena sudah banyak berbuat dosa. Terutama kepada Ara, anak kandung dari orang tua angkatnya.


Dia jahat, sangat jahat dan dia sangat menyesali semua perbuatannya. Ketika Ara dan Regan pulang dari bulan madu, Giselle berencana untuk meminta maaf pada Ara. Lalu ia akan menghilang dari kehidupan mereka.


"Ma, pa, kalian jangan bersikap baik lagi sama aku. Please..." lirih Giselle pada Anna dan Bryce yang masih ada disana.


"Nak..." ucap Anna heran.


"Apa kalian gak sadar kalau aku yang sudah membuat anak kandung kalian menderita? Harusnya kalian benci aku, tapi kalian masih baik padaku."


"Kami memang tidak suka dengan sikapmu Giselle, tapi kami tidak membencimu. Bagaimana pun juga kamu pernah menjadi bagian dari keluarga kami. 20 tahun kita hidup bersama. Kami akui bahwa kami sayang sama kamu, tapi disisi lain kami tidak suka melihatmu. Karena setiap kali kami melihatmu, kami jadi teringat dengan penderitaan Ara. Dan rasa penyesalan kami sebagai orang tua yang sudah jahat pada anak kandung kami sendiri." tutur Bryce jujur, ia sayang pada Giselle, tapi kecewa dan sakit juga karena kasih sayangnya pada anak angkatnya itu membuat anak kandungnya terluka.


Hati Giselle mencelos mendengarnya, ia tidak bisa bicara dan hanya air mata yang terus basahi pipinya.


"Anggap saja kasih sayang yang kami berikan padamu sekarang, adalah bentuk kasih sayang kami yang terakhir untuk kamu." jelas Bryce pada Giselle. "Jadi--kamu jangan salah paham dengan sikap kami. Setelah ini kamu pergilah yang jauh,"


Tadi, pasangan suami istri itu sempat berdiskusi tentang sikap mereka kepada Giselle. Rasanya tidak akan adil bila mereka masih memberikan kasih sayang kepada Giselle sedangkan Ara di nomor duakan. Padahal Ara adalah anak kandung mereka. Akhirnya pasangan suami istri itu memutuskan untuk mengusir Giselle dari hidup mereka setelah semua ini.


"Ya pa, ma, Giselle ngerti. Setelah Ara kembali, Giselle akan meminta maaf sama dia. Lalu Giselle akan pergi dari sini selamanya." ucap wanita itu sambil terisak. Ia menerima semua keputusan dari orang tua angkatnya itu. Giselle tidak akan mencoba untuk merebut kasih sayang orang tua Ara lagi, sekarang ia akan fokus untuk menjalani hidupnya dengan menjadi lebih baik lagi.


Dan tentu, setelah bertemu dengan Yoshua. Ia juga akan meminta maaf pada pria itu. Giselle akan meminta maaf karena sudah melukai hatinya dan memanfaatkannya.


*****


3 hari kemudian di Maldives.


Tania dan Bram masih saja menguntit pasangan yang berbulan madu. Bahkan sesekali berusaha menggagalkan momen romantis pasangan suami-istri itu. Tapi rencana mereka selalu gagal, ya mungkin rencana jahat mereka tidak di ridhoi oleh yang kuasa.


Mereka berdua malah kepanasan, kebakaran jenggot melihat kemesraan Ara dan Regan setiap harinya. Termasuk mendengar suara-suara vulgar dari pasangan suami-istri itu.

__ADS_1


"Dipikir-pikir lagi, rencana kita gak pernah berhasil ya?" tanya Tania sambil menyeruput segelas jus jeruk di siang hari yang terik itu.


"Ya, kamu benar. Apa kita pulang saja? Aku juga banyak pekerjaan di Jakarta." kata Bram yang sudah 3 hari menyerahkan semua tanggung jawab pekerjaan kantornya pada Rania, tantenya.


"Apa? Jadi semudah itu kamu menyerah?!" tanya Tania mendelik tajam pada Bram.


"Kita pulang aja sekarang, nanti sampai di Jakarta... kita pikirin cara lain buat misahin mereka." saran Bram pada Tania karena selama 3 hari ini Bram merasa kepanasan melihat kemesraan Ara dan Regan.


"Nggak! Aku gak mau pulang! Kalau kamu mau pulang, kamu pulang aja sana. Dasar cowok gak ada usaha!" seru Tania ketus. Jika Bram pulang ia tak punya sekutu lagi untuk melancarkan rencananya. Dan sebagai catatan, selama 3 hari ini mereka berdua jadi dekat karena sering bersama.


"Kamu ini ambekan banget sih jadi cewek. Ya udah terserah deh, mau bilang aku seperti apa. Tapi yang jelas aku mau pulang," ucap Bram pada Tania, seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan pulang dong! Kita harus awasi mereka. Gimana kalau nanti wanita itu hamil anaknya Regan? Aku gak mau itu sampai terjadi. Bram, ayolah!"


Percayalah, Bram juga tidak ingin Itu semua terjadi. Tapi berada di sini dan melihat sepasang pengganti tengah berbulan madu, malah membuat hatinya panas dan melukai hatinya sendiri. Nanti saja setelah di Jakarta, ia akan temukan banyak cara untuk memisahkan mereka, tentunya dengan cara yang halus, bukan cara kekanak-kanakan seperti ini.


"Aku akan tetap pulang," ucap Bram pada Tania.


"Mas--eh pak Bram? Dokter Tania? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Ara pada dua orang yang berbeda jenis kelamin itu. Wajah Bram dan Tania pucat pasi hanya dengan mendengar pertanyaan itu saja. Jangan lupakan, di samping Ara ada seorang pria yang menatap dua orang penguntit itu dengan tatapan tajam dan datar.


'Jadi mereka masih ada disini? Apa mereka gak bosan dan gak capek ngikutin aku dan Ara terus?' batin Regan terheran-heran melihat Bram dan Tania masih berada di sini. Dari awal Regan memang sudah tahu dari orang kepercayaannya bahwa Bram dan Tania mengikuti acara bulan madu mereka. Regan sengaja membiarkan mereka berdua berada disana selama tidak menganggu bulan madunya dan pasti mereka juga akan pergi dari sana dengan sendirinya. Namun kedua orang ini masih berada di sini.


"Pak Bram? Dokter Tania...apa jangan-jangan kalian..." Ara menatap keduanya dengan memicing, ada beberapa praduga yang ada di dalam benaknya tentang hubungan Tania dan juga Bram.


Bram dan Tania langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan mereka tahu apa yang Ara pikirkan. "TIDAK! Bukan begitu!"


"Sejak kapan kalian dekat? Selamat ya!" kata Ara dengan polosnya. Dan ya, dia benar-benar beranggapan telah terjadi sesuatu pada mantan suaminya dan psikolognya itu. Sayangnya perasaan Ara polos, dia tidak terpikirkan tentang Bram dan Tania yang berada di Maldives. Ara tidak kepikiran bahwa mereka berdua berada di sana untuk menjadi penguntit.


'Ya Allah, syukurlah kalau mas Bram sudah menemukan tambatan hatinya'


"Tidak! Hubungan kami, bukan hubungan seperti itu. Kami...kami cuma ada urusan bisnis di sini." alibi Bram, ia tidak mau Ara salah paham.


"Ya sudah kalau begitu, kami permisi dulu silakan nikmati kencan kalian." kata Regan seraya tersenyum. Lalu ia menggandeng tangan Ara, membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


"Sepertinya dia salah paham," ucap Bram lirih.


"Mantan istrimu benar-benar polos, lihat saja...pasti aku akan mudah merebut Regan darinya." cetus Tania sambil tersenyum menyeringai.


"Aku izinkan kamu untuk merebut suaminya, tapi kamu tidak boleh menyakitinya." tegas Bram mengingatkan.


"Kalau menyakiti hatinya? Apa tidak boleh?"


"Tidak apa, kamu menyakiti hatinya dan aku yang akan menyembuhkannya." kata Bram sambil tersenyum.


Deg!


Tania tersentak kaget melihat senyuman Bram, yang tampak aneh dan menciptakan gelanyar aneh di dalam dirinya.


'Kenapa si Bram terlihat tampan?'


****


Malam itu Bram terlihat membereskan baju-bajunya. Ia sudah bertekad untuk pulang ke Jakarta. Rasanya sakit hati melihat Ara dan Regan bermesraan. Ada rasa sesal di dalam hatinya saat pergi ke Maldives dan menjadi penguntit.


"Harusnya aku tidak datang kemari. Aku seperti orang bodoh saja." gumam Bram pelan.


Tak lama kemudian, terdengar suara dering ponselnya berbunyi. Bram mengangkat panggilan video call itu dari Tania, awalnya ia malas dan tidak mengangkatnya. Namun untuk ketiga kalinya, panggilan video itu menganggunya dan dia putuskan untuk mengangkat panggilannya.


"Ada ap--"


Bram melihat di layar ponsel itu, ia terkejut saat melihat apa yang ada disana.


"TOLONG! Tolong aku..." jerit Tania seraya meronta-ronta dari cengkraman dua orang pria.


Terlihat kedua pria berkulit gelap itu menggerayangi tubuh Tania dengan paksa. Bram langsung berdiri dari rebahan santainya dan pergi dari kamar itu, kemudian bergegas menyusul Tania.


...****...

__ADS_1


__ADS_2