
...🍁🍁🍁...
Giselle berusaha menahan rasa kesalnya karena Ara berhasil membuat Anna tidak bisa menerimanya lagi di rumah itu. Ternyata rasa sayang Anna pada Ara sudah sangat besar, padahal dulu wanita paruh baya itu sangat menyayanginya.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya Ma, Ara." Giselle berpamitan dengan wajah memelas. Berharap Anna dan Ara akan bersimpati padanya.
Namun Giselle salah, Ara bukan Ara yang dulu lagi dan ia belum tau itu. Ara tidak mudah diperdaya, setelah sakit batin yang ia alami. Ara sadar bahwa ada beberapa jenis manusia yang bisa di maafkan tapi tidak bisa di lupakan kesalahannya dan itu termasuk Giselle.
Kesalahan Giselle, kesalahan Bram, mereka berdua yang menyebabkan kemalangan dan sakit hati di dalam hidupnya. Bukannya Ara pendendam, ia hanya berusaha menjaga hati dari rasa sakit. Ia harus bahagia kali ini, itulah yang harus ia rasakan. Tak boleh ada penderitaan lagi.
"Biar saya antar sampai ke depan rumah," ucap Ara dengan santainya dan membuat Giselle tercengang. Wanita yang didepannya ini pura-pura kuat atau bagaimana? Tanya Giselle dalam hatinya.
Ara benar-benar mengantarkan Giselle sampai ke pintu gerbang depan rumah mewah itu. Sementara Anna hanya didalam rumah saja, jujur Anna memang sayang pada Giselle tapi ia tak mau kehilangan anak kandungnya yang ia sayangi. Apalagi Ara belum lama ditemukan dan jelas Anna memilih darah dagingnya bukan?
"Ara, maafin aku ya....aku nggak bermaksud buat kamu tidak nyaman. Aku cuma mau tinggal sama mama, sama papa dan kak Sean. Aku rindu mereka, apalagi mereka sudah menjadi keluargaku selama bertahun-tahun. Aku sayang mereka, jadi tolong maafkan aku ya..."
"Udah ngomongnya?" Ara menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya begitu sinis pada Giselle. "Nggak usah pura-pura lagi, disini nggak ada mama dan gak ada siapa-siapa." beo Ara ketus.
"Apa sih? Memangnya aku pura-pura apa?" tanya Giselle dengan wajah polosnya yang dibuat-buat.
Ara kini paham kenapa dulu Bram bisa terperdaya olehnya. Giselle pandai berakting dengan wajah memelas demi meraup simpati.
"Tidak heran kamu seorang artis! Dunia keartisan berhutang piala nobel padamu, Giselle." cetus Ara tanpa embel-embel kata mbak seperti biasanya.
Sialan! Kenapa sih dia jadi begini? Kemana sifat begonya itu?! Giselle menahan kesal dalam hati.
__ADS_1
"Ara...aku tau kamu marah padaku karena hubunganku dan Bram di masa lalu. Tapi aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya dan itu masa lalu. Mari kita hidup sebagai saudara ya? Kamu juga adikku, walau kita tak sedarah!" seru Giselle masih stay dengan aktingnya yang tampak konyol di mata Savana.
"PFut...haha...apa kamu bilang? Saudara? Aku tak punya saudara yang dipungut dari tempat sampah--ups maaf, aku keceplosan." puas wanita itu menertawakan Giselle bahkan menghina asal-usulnya yang berasal dari tempat sampah. Ya Giselle di pungut ibu panti dari tempat sampah.
Giselle tidak tahan lagi menahan diri dari amarahnya, tangannya pun terangkat ke atas dan hendak menampar Ara. Namun sayangnya malah Ara yang duluan menampar Giselle.
Plakk!
"Apa-apaan ini gadis kampung?!" hardik Giselle marah.
"Nah...sekarang kelihatan kan watak aslimu. Apa kamu nggak capek pura-pura terus?" tanya Ara senang bisa membalas Giselle walau tidak menuntaskan semua rasa sakit hatinya.
"KURANG AJAR!"
"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali ke rumah keluargaku! Kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang menjadi milikku."
Ara hanya tersenyum tipis, lalu ia mengelus perut Giselle yang membuncit. "Nak, aku harap kau tak seperti mamamu. Dia terobsesi dengan milik orang lain padahal dia adalah pengganti. Jadilah anak yang baik nak,"
Setelah mengatakan itu, Ara kembali menarik lengannya. Lalu ia tersenyum sinis pada Giselle.
"Berubahlah Giselle! Kalau kau tidak mau berubah, maka orang-orang di sekitarmu tidak akan menerimamu. Aku peringatkan ini sebagai sesama manusia," ucap Ara sarkas, kemudian ia pergi meninggalkan Giselle yang mematung di depan gerbang itu. Ara memerintahkan satpam di rumah itu untuk menutup gerbangnya dan mewanti-wanti agar Giselle tak boleh masuk ke dalam rumah itu lagi.
"SIALAN! Awas saja kau wanita kampungan, aku akan membalasmu!" seru Giselle dengan air mata yang berlinang.
Ara masuk ke dalam rumah dan langsung menangis sejadinya didalam kamar dengan pintu yang terbuka. Ia duduk di bawah lantai dan kepalanya bersandar di atas ranjang.
__ADS_1
"Seandainya aku bersikap tegas seperti barusan dari dulu, pasti ibu tidak tidak akan kehilanganmu nak. Kau pasti masih ada disini," wanita itu tiba-tiba melow saat teringat dengan bayinya saat ia melihat perut Giselle.
"Tapi kali ini aku tidak akan kehilangan apapun karena aku akan mempertahankannya. Aku akan kuat, aku akan bahagia, aku janji...hiks." Ara memegang perutnya. Ia janji pada dirinya bahwa ia akan bahagia dan kuat.
******
Malam itu usai shalat isya, Ara sudah berdandan dengan dress selutut berwarna ungu dengan sepatu pentople berwarna senada dengan bajunya. Tak lupa ia memakai jepit rambut dan mengurai rambut panjangnya. Sesuai janji, Ara akan bertemu dengan Regan jam 8 di cafe Chocolate Lovers G.
Ketika ia sudah siap berangkat dan berpamitan pada semua keluarganya, dia terheran-heran sebab mama, papa dan kakaknya tidak ada disana. Salah seorang pelayan rumah itu mengatakan bahwa semua orang pergi entah kemana.
Hem...mungkin mereka lagi ada acara dadakan. Ya udah deh aku pergi sendiri aja.
Ara pun berangkat sendiri dengan diantar supir pak Wiryo ke cafe itu. Sesampainya disana, Ara berjalan menuju ke dalam cafe tapi anehnya cafe tersebut sangat sepi dan tidak ada seorang pun disana. Bahkan lampunya gelap.
"Eh? Apa cafe tutup ya? Kenapa tidak ada orang sama sekali dan lampunya juga gelap? Aku telpon kak Regan aja deh." gumam Ara lalu mengambil ponselnya yang ada didalam tas selempang. Ia menelpon Regan tapi tak ada jawaban.
"Ish...kak Regan gimana sih?" gerutu Ara mulai kesal.
Melihat pintu cafe itu masih terbuka, Ara pun melangkah masuk ke dalam sambil menunggu Regan.
Ctass!
Alangkah kagetnya Ara saat ia masuk kedalam cafe, lampu tiba-tiba menyala dan dirinya ada diatas karpet merah. "I-ini...."
Ara melihat ke depan, ada spanduk bertuliskan seperti peta yang menunjuk ke arah kanan. "A-apa ini?"
__ADS_1
...****...