
...🍁🍁🍁...
"Aku Bramasta Wiratama, menjatuhkan talak ketiga pada Haura Yameena Arandita! Mulai saat ini dan seterusnya kau bukan istriku lagi!" seru Bram pada Ara dengan perasaan yang lega. Suara pria itu menggelegar, sampai ia menunjuk-nunjuk jarinya pada Ara.
Air mata Ara luruh seketika, namun sebuah senyuman terbit dibibirnya. Hatinya sakit, tapi juga lega sebab dengan bebas dari pernikahan ini. Ara akan bahagia, ia tak mau direndahkan terus menerus oleh Bram yang tidak pernah menghargainya, pria itu lebih memilih pelakor daripada istri sah.
Ara bodoh, bodoh! Seharusnya ia menyadari kebodohannya ini saat bayinya masih ada, tapi sekarang semua sudah terlambat.Bayinya sudah tiada dan dia harus menerima takdir itu. Tapi belum terlambat baginya untuk bahagia.
Setelah mengucapkan kata talak 3 pada istrinya, Bram merasa lega dan jalannya akan semakin mudah untuk bersama Giselle. Aryan juga tidak akan menghalanginya lagi dan bayi itu juga sudah mati.
Regan, Arga dan Mia menjadi saksi dari kata talak yang diucapkan oleh Bram. Bahkan dengan isengnya Arga merekam ucapan Bram saat itu dengan ponselnya.
Tentang talak tiga?
Talak ba'in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da al dukhul dan habis masa iddahnya.
Akan sulit bagi Bram untuk kembali bersama Ara, apalagi kata talak tiga telah terucap dari mulut Bram.
Wanita itu berusaha tegar, ia tersenyum lalu melepas cincin yang selalu tersemat di jarinya, sebagai bukti kesetiaan dan baktinya pada Bram. Cincin itu adalah cincin yang Bram sematkan tepat di hari pernikahan mereka, ketika Bram selesai mengucapkan ijab kabul kepadanya. Kini cincin itu kembali pada pemiliknya.
"Ini mas."
Ara membuka telapak tangan Bram, lalu meletakkan cincin emas berlian itu di tangan Bram. "Aku serahkan ini kembali padamu. Semoga kamu hidup bahagia dengan mbak Giselle dan anak kalian. Aku tulus berdoa untukmu mas." lirih Ara dengan senyuman miris dibibirnya.
"Kamu menyumpahiku, Ara?" tuduh Bram kesal.
"Lagi-lagi kamu menuduhku, mas. Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas...mari kita urus perceraian kita secara negara secepatnya."
"Tanpa kamu suruh juga, aku pasti akan segera mengurusnya dan kamu harus jelaskan pada opa kalau kamu yang minta cerai, bukan aku. Aku tak mau kehilangan warisan dan posisiku di perusahaan!"
Regan, Arga dan Mia yang mendengar ucapan Bram langsung jijik dengan pria modelan Bram ini. Arga dan Mia bahkan mengumpat Bram karena kesal. Mia mengatainya sebagai pemeran pria di sinetron ikan terbang, alias suami b*ngsat.
__ADS_1
Bahkan sampai akhir pun kamu masih saja egois mas. Tidak ada kata maaf darimu, padahal bayi kita telah tiada. Tapi kamu--ah sudahlah. Aku harus ikhlas, aku harus bisa tegar dan aku harus bahagia.
"Baik, aku akan bicara pada Opa nanti, kamu tidak usah khawatir mas." kata Ara pada suaminya, ah mungkin mantan suaminya. Tiba-tiba saja ia memegang perutnya. "Ish..."
Bram hendak menyentuh Ara, namun wanita itu menepis tangannya.
"Ra!" Regan menghampiri Ara lebih dulu, ia memegang bahu Ara, menatap wanita itu cemas.
"Saya gak apa-apa Pak," Ara terhuyung dan Regan menopang tubuhnya.
Entah kenapa perasaan Bram terasa aneh saat melihat Regan menolong Ara. Tanpa peduli masih ada Bram disana, Regan dan Mia memapah Ara ke atas ranjang. Tubuh Ara masih lemah.
Kemudian Bram pun keluar dari ruangan itu dan kembali untuk menemui Giselle di kamarnya.
****
Setelah kepergian Bram, Ara kembali berbaring diatas ranjangnya. Ia berterima kasih pada Regan, Mia dan Arga yang selalu ada untuknya. Tak lupa dia juga meminta maaf karena mereka harus mendengar perbincangannya dengan Bram. Perbincangan itu harusnya privasi, tapi malah ada yang tau selain Bram dan Ara.
"Ya bener, saya malah senang lihat si cecunguk itu. Dia pasti bakal menyesal sudah menyia-nyiakan kamu," celetuk Arga sambil tersenyum.
"Saya harap dia tidak menyesal pak, saya malah berharap dia bisa bahagia dengan pilihannya." kata Ara sambil tersenyum. Ia tulus mendoakan mantan suaminya, ya karena mereka sudah bercerai secara agama.
"Baik banget kamu Ra, masih mau doain buaya buntung kayak dia! Kalau saya, udah pasti saya potong anunya!"
"Hush!"
Plakk!
Regan langsung menepuk lengan temannya yang selalu bicara sembarangan itu.
"Galak banget Lo sama gue, gan!" ujar Arga kesal.
__ADS_1
"Udah yuk, mending kita pergi dari sini. Ara mau istirahat." kata Regan sambil menarik tangan Arga dan membawanya keluar dari sana.
"Iya deh iya! Ra, kamu harus istirahat ya biar besok bisa pulang. Muach!" ucap Arga genit pada Ara dan membuat kedua wanita di dalam ruangan itu tertawa.
"ARGA! Lo cari mati ya!" Regan menarik tangan Arga semakin kencang, ia kesal karena Arga menggoda Ara.
"Cie ada yang cembukor! Hahaha..." Arga tertawa melihat raut wajah temannya itu. Arga semakin menggoda Regan ketika melihat wajah pria berlesung pipi itu memerah.
"Berisik, lu!"
Ara dan Mia masih tertawa bahkan setelah kedua pria itu keluar dari ruang rawat Ara. Mereka tidak menyangka bahwa Regan si dosen yang terkenal dingin itu bisa marah-marah juga.
"Ra, kamu gak apa-apa kan?" tanya Mia seraya menatap Ara yang berbaring sambil melamun.
"Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja, untuk saat ini aku gak baik-baik saja. Tapi mungkin ini keputusan terbaik dan takdir dari Allah. Aku sedih berpisah dengan mas Bram karena masih ada rasa cinta di hatiku untuknya, walau sedikit. Namun aku lebih sedih karena kehilangan anakku, amanah dari Allah yang seharusnya aku juga." ucap wanita itu dengan penuh derai air mata.
"Please Ra, jangan nyalahin diri kamu lagi... ini bukan salah kamu." Mia mencoba menguatkan Ara.
"Aku gak apa-apa Mi, mungkin ini sudah takdir dari Allah...aku mencoba menerimanya. Sebab ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya dan tidak menginginkannya, jadi Allah mengambilnya kembali."
"Ya itu benar dan kamu jangan menyesal karena sudah berpisah dengan pria seperti itu! Apa yang kamu lakukan ini sudah benar!"
"Iya, seharusnya dari dulu aku melakukannya. Lagi-lagi aku memberi kesempatan dari hubungan yang sudah hancur, tanpa cinta, itu sulit. Sekarang aku melupakan segalanya!" Ara tersenyum penuh tekad, ia akan melupakan segalanya termasuk Bram dan masa lalunya. Ia akan berubah!
Saat Ara akan beristirahat, tiba-tiba saja seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu. Ara dan Mia menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Mau apa ibu kemari? Apa ibu mau nyakitin Ara lagi, sama seperti suami ibu?" tanya Mia sarkas.
"Tidak...maafkan saya, apa saya boleh bicara sebentar dengan Ara?" kata wanita paruh baya itu sopan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1