Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 32. Kedatangan Yoshua


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Anna tercengang mendengar ucapan Ara bahwa dirinya sudah ditalak oleh Bram. Apakah ini karena Giselle? Ya Allah, Anna telah salah membela anak angkatnya yang sudah menghancurkan sebuah pernikahan.


Rasa bersalahnya semakin besar pada Ara. Dia keguguran, bercerai, suaminya memiliki anak dari wanita lain dan sudah jelas bahwa Bram memilih Giselle.


"Nak, kamu masih mencintai suamimu kan? Ibu akan bicara pada Giselle, ibu akan suruh dia menjauhi Bram...soal anaknya itu akan ibu urus. Tapi, ibu mohon kamu jangan sampai bercerai dengan suamimu nak!"


"Tidak usah Bu, aku dan mas Bram memang sudah mengambil keputusan ini. Keputusan untuk berpisah, ini bukan karena anak ibu, tapi ini murni keinginan kami. Jadi ibu jangan merasa bersalah, tolong restui mereka." ucap Ara tulus.


"Nak..." lirih Anna seraya menatap sendu pada putri kandungnya itu.


"Tidak apa-apa Bu, tolong ibu jangan membahas lagi tentang semua ini. Saya hanya ingin berpisah dengan mas Bram, dengan tenang dan Saya tidak mau terlibat lagi dengan mbak Giselle ataupun keluarga ibu lagi." kata Ara tegas. Ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalu dan orang-orang yang berada di dalam masa lalunya, orang-orang yang pernah menyakiti hatinya termasuk Anna.


"A-apa?" Air mata Anna kembali lurus begitu mendengar perkataan Ara yang tidak mau memiliki hubungan lagi dengannya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk.


"Sekarang ibu lebih baik pergi dari sini, teman saya mau istirahat, dia belum lama keguguran dan kondisinya masih lemah." ujar Mia mengusir Anna.


Anna pun berpamitan pergi dari sana dengan perasaan sedih. Anna bahkan baru ingin memulai hubungan dengan putri kandungnya, tapi malah disuruh menjauh. Anna sungguh sedih, sebab hubungan mereka di awal menjadi buruk karena kelakuannya. Usai menemui Ara, Anna berjalan ke kamar Giselle.


Namun ia terkejut begitu melihat Giselle tengah berdebat dengan Sean di lorong rumah sakit. Ada Bram juga disana memapah Giselle. Entah kenapa, Anna jadi tidak suka saat melihat keberadaan pria itu di sana.


"Giselle, kamu tetap tak mau mengaku? Buktinya sudah jelas? Kenapa kamu malah memfitnah orang? Apakah kamu tau karenamu papa sampai masuk penjara? Demi membela mu!" Sean bicara dengan suara membentak, ia telah mengetahui bukti kamera dari mobil si penabrak bahwa ia terlihat disana Giselle sengaja menabrakkan dirinya dan Ara sama sekali tidak mendorong Giselle. Sean sangat marah, begitu mengetahuinya.


"Ada apa ini Sean? Kenapa kamu memarahi adikmu begitu?" tanya Anna yang baru saja datang.


"Ma! Giselle, dia sudah memfitnah Haura! Haura tidak pernah mendorongnya!" Sean menunjukan jarinya pada Giselle, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Sean selama hidupnya.


"Kak! Kenapa kak membela wanita itu? Padahal aku terluka sampai masuk rumah sakit karena dia, lihat luka cakar ini...semua perbuatannya." Giselle tak mau disalahkan, ia bersembunyi di belakang Bram.

__ADS_1


"Kamu hanya terluka dan dia kehilangan bayinya, Giselle! Kamu drama banget," ketus Sean marah.


Anna juga terdengar kecewa, ia tak percaya bahwa Giselle memfitnah Ara. Anna yang kesal dan pusing kepala, memutuskan untuk pergi dari sana. Sepertinya Anna dan Bryce telah salah mendidik Giselle, memanjakannya membuat Giselle tumbuh menjadi perempuan yang egois dan keras kepala.


****


Dua Minggu kemudian, setelah Ara menjalani sidang perceraian yang pertama dengan Bram. Ara memutuskan berdamai dengan masa lalu dan membebaskan Bryce dari penjara. Ara ingin pergi ke kampungnya di Bandung selama beberapa hari atau satu Minggu lebih,untuk liburan. Ia sudah berpamitan pada Aryan, Mia dan Ratih. Aryan sungguh sangat menyayangkan sikap Bram yang benar-benar membuat Ara terluka dan pada akhirnya pria tua itu harus kehilangan cucu mantu yang baik.


"Ra, kamu yakin kamu mau pergi?" tanya Ratih pada Ara yang sudah berkemas.


"Iya Bu, nanti kalau mau wisuda aku bakal balik lagi kesini kok." ucap Ara sambil tersenyum. "Atau saat sidang perceraianku yang kedua," imbuhnya lagi yang malas menyebutkan nama Bram.


"Ya sudah kalau kamu maunya begitu," Ratih memeluk bahu Ara dengan lembut. Mungkin memang lebih baik bagi wanita itu untuk menenangkan dirinya, pikir Ratih dalam hati.


Ara berpamitan kembali dengan Ratih dan Mia. Lalu ia pun pergi ke stasiun kereta api diantar oleh Ratih dan Mia.


****


"Katakan padaku! Apa benar yang dikatakan oleh pria ini, bahwa anak yang kau kandung bukan ANAKKU?!" hardik Bram pada Giselle, saat mereka tengah periksa kandungan.


"Sayang, dia hanya mengada-ngada...aku bahkan tidak mengenalnya!" seru Giselle seraya menatap tajam pada pria bernama Yoshua itu, mantan pacarnya di Prancis.


Yoshua tersenyum menyeringai, lalu dia membuka ponselnya dan menunjukkan foto-foto mesranya dengan Giselle. "Gak kenal? Ini buktinya!"


Darah Bram mendidih melihat foto-foto mesra Yoshua dan Giselle, bahkan ada video yang mengabadikan momen bercinta mereka.


"GISELLE!"


"Bram...itu bohong, itu cuma editan!" Giselle masih berusaha menyangkal semua yang ditunjukkan Yoshua.

__ADS_1


"Bohong kamu bilang? Kalau kamu tidak percaya, cek saja keaslian video itu...aku sudah tidur dengannya 6 kali dan aku yakin bayi yang dikandungnya adalah bayiku." kata Yoshua sambil tersenyum.


"Tidak! Ini bayi kamu Bram, beneran!" Giselle panik.


"Dokter bilang barusan bahwa usia kandunganmu itu 3 bulan, gimana bisa Giselle? Sedangkan kita baru melakukan itu satu bulan yang lalu, jadi bagaimana mungkin bayimu adalah anakku?! KARENAMU aku menceraikan Ara yang mengandung ANAKKU! Dan kamu berbohong?" pria itu berbicara dengan intonasi yang tinggi, terlihat kemarahan dan kekecewaan mendalam pada Giselle yang sudah membohonginya.


"Bram! Aku...aku melakukan semua ini karena aku cinta kamu dan kita saling cinta!"


"Aku memang mencintaimu, tapi aku juga tidak mau buta karena cinta! Giselle, kamu benar-benar membuatku kecewa!" Bram menepis tangan Giselle yang memegang tangannya.


"Bram...aku mohon maafin aku," Giselle kembali menunjukkan raut wajah memelasnya.


"Sayang, kenapa kamu minta maaf sama dia? Kan ada aku yang akan tanggung jawab untuk bayi kita!" kata Yoshua pada Giselle yang saat ini sedang menangis.


"Jangan pernah temui aku lagi Giselle! Kita berakhir!" seru Bram tegas.


"APA? Nggak Bram! Kita gak berakhir!" seru Giselle menolak berpisah.


Bram pergi meninggalkan Giselle, lalu ia masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan rumah sakit. Bram mengacak-acak rambutnya dengan kasar, ia tak percaya Giselle yang sangat dicintainya akan tega berbuat seperti ini.


Pria itu merasa bodoh dan menyesal telah percaya pada Giselle, sampai menyia-nyiakan Ara. Istri yang selalu berbakti padanya, mencintai dirinya.


"Opa benar, Giselle bukan wanita baik-baik dan dia tidak tulus mencintaiku. Orang yang mencintaiku tidak akan menipuku apalagi sampai hamil anak orang lain. Ara...aku harus membatalkan perceraian kami, aku harus mempertahankannya...dia wanita baik dan selalu mencintaiku, pasti dia akan memaafkan semua kesalahanku." pria itu melajukan mobilnya menuju ke rumah Bu Ratih. "Maafin aku Ara...maafkan aku...aku menyesal," gumam Bram penuh penyesalan.


Berharap masih ada maaf untuknya, berharap ia bisa membatalkan perceraiannya dengan Ara.


...****...


Hai Readers, makasih buat yang kasih vote, gift dan komennya ya ❤️❤️❤️😍😍

__ADS_1


__ADS_2