
...🔥🔥🔥...
Apa yang lebih buruk dari sebuah Penyesalan? Apa yang lebih menyebalkan dari rasa bersalah? Itulah yang dirasakan Bram saat ini dan tiba-tiba saja kata-kata Mia sebelumnya terngiang di kepalanya.
"Tidak! Penyesalanku belum terlambat, Ara itu baik dan dia masih sangat mencintaiku. Pasti Disa akan memaafkan kesalahanku dan kami akan kembali bersama," gumam Bram berpegang teguh pada cinta Ara yang akan membuat gadis itu memaafkannya.
Namun Bram salah kaprah, memang Ara mencintainya tapi bukan berarti ia akan memaafkan atau bahkan melupakan kesalahannya. Mungkin Bram adalah definisi dari tidak tahu malu, setelah semua yang dia lakukan kepada Ara. Dia masih punya muka untuk meminta maaf dan meminta kembali padanya.
Semudah itukah Ara memaafkannya?
Beberapa menit kemudian, mobil Bram sudah terparkir didepan rumah Ratih yang memiliki halaman cukup luas. Namun ketika Bram keluar dari mobilnya, ia terkejut melihat ada mobil lain disana.
"Sepertinya aku kenal mobil ini," gumamnya seraya melihat mobil yang berwarna merah itu.
Pertanyaannya pun terjawab manakala ia melihat sosok pria yang akhir-akhir ini selalu bersama dengan Ara. Ya, siapa lagi kalau bukan Regan. Disaat-saat terpuruk Ara, Regan adalah salah satu orang yang selalu ada untuknya dan memberikan dukungan pada wanita itu.
"Kenapa ya saya sering melihat anda di sekitar istri saya?"
Pertanyaan sinis Bram sontak saja membuat Ratih, Mia dan Regan yang tengah berada di luar rumah langsung menoleh ke arahnya. Mereka memandang sinis ke arah Bram.
"Apa anda tidak tahu salam, pak Bramasta?" sindir Regan sinis pada pria itu.
Bram mengepalkan tangannya, menahan marahnya didepan Ratih dan Mia. Bagaimanapun juga dua orang itu adalah orang yang penting untuk Ara, maka dari itu Bram harus pintar cari muka didepan mereka.
Pria itu mendekati Ratih dan hendak mengambil tangannya untuk bersalaman. Namun wanita itu menarik tangannya jauh-jauh dari Bram. Ratih tak sudi bersentuhan dengan Bram. Tangan Bram yang sudah banyak menyakiti Ara dan membuat Ara menderita.
__ADS_1
Tatapan tajam dan sinis tertuju pada Bram, Bram sadar akan hal itu tapi dia mencoba tebal muka dan tak peduli. Keinginannya kesini hanya satu, yaitu bertemu Ara dan memintanya membatalkan perceraian mereka.
"Assalamualaikum Bu," akhirnya Bram hanya mengucap salam tanpa mencium punggung tangan Ratih.
Ratih, Mia dan Regan tidak menjawab salam dari Bram dan hanya diam. Pria itu kesal lalu berkata lagi. "Menjawab salam hukumnya wajib,"
Seketika ucapan Bram langsung membuat Mia ingin muntah. Delikan sinis dan bibir memanyun, menyiratkan kebencian Mia pada pria itu.
"Waalaikumsalam." jawab Regan, Mia dan Ratih, pada akhirnya walaupun mereka malas.
Mau apa si comberan ini datang? Maki Mia dalam hatinya para Bram.
"Apa saya gak akan disuruh masuk?" tanya Bram seraya melirik pada Ratih dan Mia.
Sementara itu Regan masih ada disana karena ingin tau apa yang ingin dilakukan Bram.
"Kamu harus punya tujuan yang jelas dan saya harus punya alasan kenapa saya harus menyuruhmu masuk." kata Ratih sarkas.
"Saya ingin bertemu dengan Ara Bu,"
"Ara gak ada!" sahut Ratih dengan cepat.
"Ibu jangan bohong sama saya, Bu." ucap Bram tak percaya dengan jawaban Ratih.
"Saya gak bohong," ungkap Ratih jujur, memang Ara tidak ada dirumahnya lagi karena gadis itu pergi ke Bandung.
"Bu, Ara masih istri sah saya secara negara! Ibu tidak berhak melarang saya bertemu dengan Ara." Bram masih tidak percaya dengan perkataan Ratih.
__ADS_1
Istri?
Mia tertawa mendengar Bram mengakui bahwa Ara adalah istrinya. "Istri? Hahaha!"
"Ada angin apa, bapak mengakhiri Ara sebagai istri bapak? Wow...apa matahari terbit dari Utara?" sindir Mia yang selalu ceplas-ceplos.
"Saya tidak punya banyak waktu untuk bicara sama kamu." kata Bram kesal. "ARA sayang! Aku mau bicara sama kamu sayang, aku disini! Ra! Mas mohon, mari kita bicara."
Mendengar kata-kata lembut disertai sayang itu, membuat Ratih, Regan dan Mia menertawakan Bram. Apa pria itu kesambet setan atau bagaimana? Mereka keheranan dengan sikap Bram yang berubah ini.
"Kamu gak usah teriak-teriak gitu, Ara gak bakal keluar karena dia memang gak ada didalam sana." jelas Mia sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Bram yang kesal langsung masuk ke dalam rumah bahkan sebelum diizinkan tuan rumahnya. Ia mencari-cari keberadaan Ara disana, namun nihil. "Dimana Ara?"
"Kan sudah saya bilang, Ara gak ada. Dia pergi ke kampung orang tuanya," jawab Ratih malas.
"Daerah mana Bu?" tanya Bram dengan dada yang naik turun, ia tak sabar bertemu dengan Ara.
"Kamu pernah jadi suaminya, kamu pasti tau dong dia berasal dari mana."
"Saya masih suaminya, Bu!" hardik Bram yang kesal karena Ratih dan Mia tak kunjung menjawabnya tapi malah mempermainkannya.
"Suami? Kamu lupa sudah talak tiga sama dia? Talak Tiga, pak Bram...artinya kamu sudah melepaskan dia dan secara agama kalian sudah BERCERAI!" tegas Ratih yang membuat Bram kembali tertampar kenyataan.
Ya, dia sudah mengucapkan talak 3 waktu itu di rumah sakit dalam keadaan marah.
...*****...
__ADS_1
Spoiler bab berikutnya,
"Opa...tolong bantu Bram, bantu Bram bujukin Ara supaya dia balik lagi sama Bram! Cuma opa yang bisa, please opa!"