
...🍁🍁🍁...
Begitu mendapatkan telpon dari kekasihnya, Bram langsung pergi meninggalkan rumah sakit tanpa pamitan pada siapapun juga terutama kepada Ara yang berstatus sebagai istrinya.
Ara benar-benar istri yang terabaikan. Bram tidak peduli padanya, meski wanita itu sedang hamil. Bram malah menyesal pernah menyentuhnya disaat kesepian dan dia malah mengkhianati cintanya dari Giselle. Padahal 3 bulan ini Giselle tak punya kekasih selain dirinya dan hanya fokus dalam karir modelingnya.
Bram merasa bersalah pada Giselle, padahal tadinya kalau ia tak dijodohkan Ara maka ia akan menikahi Giselle. Tapi Giselle pergi dan dalam keadaan pikiran tak stabil, Bram menerima perjodohan dari kakeknya karena sebagian dari rasa sakit hatinya juga. Tapi sekarang Bram sadar, bahwa dia akan memperjuangkan cintanya pada Giselle dan bercerai dengan Ara secepatnya, ia tak peduli dengan bayi yang dikandung Ara. Bayi itu seharusnya tak pernah ada karena Bram tidak pernah menginginkannya.
Sementara Bram pergi ke rumah orang tua Giselle, Ara baru saja selesai melaksanakan shalat dhuhur. Ia merentangkan kedua tangannya seraya bersedekap dan berdoa. Mengadukan segala keluh kesahnya pada yang kuasa.
"Ya Allah, apa aku harus memberikan kesempatan pada hubungan ini satu kali lagi? Apakah hati mas Bram bisa jatuh kepadaku? Apakah harus aku bertahan di dalam pernikahan ini?"
Hatinya mantap ingin berpisah dengan Bram, tapi dia banyak menimbang lagi. Dia tengah hamil saat ini dan Aryan juga sedang sakit. Sungguh Ara bimbang, ia juga ingin bahagia, ia ingin bebas. Tapi keadaan seakan tak mendukungnya.
Dalam shalatnya, dalam doanya ia mendapatkan sebuah keputusan. Ia akan mencoba untuk mempertahankan hubungan ini sekali lagi, hanya sekali lagi saja. Jika suaminya tidak bisa luluh sampai ia melahirkan bayinya, atau jika suaminya mencoba membunuh bayinya lagi. Maka tidak ada maaf untuk Bram. Perlu ditekankan lagi, bahwa saat ini ia bertahan karena keadaan dan jawaban dari kegundahannya lewat doa.
"Bismillah ya Allah, akan kuberikan hubungan ini kesempatan sekali lagi. Jika mas Bram tidak berubah, maka aku benar-benar akan---" Ara menggantung ucapannya disana.
Setelah selesai shalat dari mushala, Ara kembali ke ruangan Aryan. Namun sebelum itu ia meminjam telpon rumah sakit untuk menghubungi Ratih bahwa ia ada di rumah sakit karena Aryan berada di rumah sakit. Ratih lega karena Ara memberikan kabar padanya.
Tapi wanita itu berpesan pada Ara untuk segera pulang karena ia tak mau Ara sakit hati berada di tengah-tengah keluarga Bram.
"Ra, kamu pulang ya nak. Ibu gak mau kamu sakit hati,"
"Bu, aku akan mencoba memberikan kesempatan satu kali lagi." Ara menghembuskan nafas panjang.
"Apa maksudmu?" tanya Ratih yang terdengar tak senang dengan keputusan Ara.
"Bu, aku tidak bisa egois...aku akan segera jadi seorang ibu dan juga keadaan opa. Pokoknya aku akan mencoba kesempatan untuk sabar dan memperbaiki hubungan kami!"
__ADS_1
"Ara, apa yang coba kamu perbaiki nak? Kapal rumah tanggamu sudah karam oleh orang ketiga nak! Kalaupun kamu bertahan, kamu hanya akan terombang-ambing." tegur Ratih yang tidak rela Ara bertahan hanya untuk disakiti.
"Aku tau Bu, aku hanya mencoba untuk mengambil kesempatan Bu! Setiap orang punya kesempatan Bu, aku akan memberikannya pada hubungan kami."
"Baiklah, terserah kamu saja nak! Tapi jika kamu ingin pulang dan kamu tidak bisa bertahan. Datanglah kemari nak, ibu akan selalu ada untuk kamu," Ratih mendesah pasrah dengan keputusan Ara.
"Makasih Bu, kalau gitu Ara temui dulu opa ya Bu." kata Ara berpamitan.
"Iya nak, jaga hati kamu dan jaga bayi kamu nak! Ibu memiliki firasat tidak enak tentang mereka."
"Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa Bu, bismillah." ucap Ara. "Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." balas Ratih dengan suara lesu.
Kemudian sambungan telpon itu pun terputus. Ara mendesah panjang, sembari mengusap dada dan berharap semoga keputusannya ini benar. Ara melihat gelang berwarna merah yang selalu dipakainya, gelang peninggalan kedua orang tuanya. Gelang kesayangannya.
****
Rumah orang tua Giselle yang berlokasi di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan. Kini Bram berada disana dan bertemu dengan semua keluarga Giselle, yang terdiri dari kakak laki-laki, ibu dan ayah.
"Jadi kapan kamu akan menikahi anak saya?"tanya seorang pria dengan wajah dinginnya. Dia adalah Bryce Gallan papa Giselle.
"Sa-saya..." Bram tampak gugup, jujur ia belum bisa memberikan jawaban pasti karena opanya melarang ia menikah lagi sebelum Giselle dan Ara melahirkan.
"Jawab pertanyaan papaku, Bram!" sentak Sean, kakak dari Giselle yang amat menyayangi adiknya itu. Dia adalah seorang jaksa muda dan memiliki karir cemerlang.
Artinya Giselle juga berasal dari keluarga terhormat.
"Maafkan saya Om, Tante, Sean, saya belum bisa memberikan jawaban yang pastinya kapan saya akan menikahi Giselle.Tapi pasti saya akan bertanggungjawab terhadap Giselle dan anak kami, namun untuk saat ini saya masih memiliki istri." jelas Bram sambil menetralkan dadanya yang naik turun.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak segera menceraikan istrimu? Oh...atau kamu berniat menjadikan adikku orang ketiga?" Sean menatap tajam pada Bram, dia tidak mau bila adik kesayangannya menjadi istri kedua alias orang ketiga.
"Sean, posisiku sulit karena Ara juga..."
"Istri Bram sedang hamil, ma, pa, kak." sambung Giselle memperjelas semuanya dan membuat semua anggota keluarganya kaget.
"Astaga...." Anna mendesah sambil memegang kepalanya. Ia merasa posisi Giselle sangatlah sulit karena Bram masih memiliki istri. Sementara Giselle hanya bisa menangis di pelukan mamanya itu.
"Saya tidak mau tau, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan anak saya! TITIK!" Bryce membentak Bram dan seolah keputusannya mutlak.
"Saya akan bertanggungjawab om, saya akan bicara pada opa saya tentang ini." hanya itu yang bisa Bram ucapkan saat ini.
Aku harus membujuk opa lagi, aku harus segera bercerai dari Ara. Kasihan Giselle.
"Putriku harus menjadi satu-satunya, camkan itu BRAM!" tunjuk Bryce pada pria yang duduk di hadapannya itu.
"I-iya om."
Setelah itu Bram pergi dari rumah Giselle dan masalah belum selesai. Rasanya kepala Bram mau pecah, kalau saja Ara tidak hamil maka masalah tidak akan sesulit ini, pikir Bram dalam hatinya.
Di dalam kamar pasangan suami istri Bryce dan Anna, terlihat Anna tengah memandangi foto seorang bayi mungil dengan gelang berwarna merah dengan mutiara berbentuk hati disana. Anna menangisi foto itu.
"Sayang, sudah 20 tahun...apa kau akan terus seperti ini? Kita bahkan sudah punya Giselle sebagai putri kita," Bryce memeluk istrinya, lalu mengusap air matanya dengan tangan lembutnya. Istrinya selalu seperti ini, setiap hari ia selalu merindukan sosok anak mereka yang hilang 20 tahun yang lalu.
"Aku yakin bahwa putri kita masih hidup, aku yakin Bryce." kata Anna yakin.
"Anna..." lirih Bryce sambil memeluk istrinya dengan erat. Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian 20 tahun yang lalu, dimana putri mereka menghilang.
...****...
__ADS_1