Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 54. Rumah sakit


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Kini Ara berada di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa selang infus terpasang di tubuhnya, di dalam sebuah ruangan yang di dominasi warna putih. Ruangan itu luas dan memiliki fasilitas lengkap, sebab ruangan itu adalah ruangan VVIP.


Setelah Ara berhasil diselamatkan oleh Regan dari orang-orang yang hendak memperkosanya dan membuatnya cacat. Ia langsung jatuh tak sadarkan diri didalam gendongan Regan. Maka segeralah ia dibawa ke rumah sakit.


Sementara Sean dan Bram mereka masih mengurusi 3 orang pelaku yang kini dibawa ke kantor polisi untuk di interograsi.


Tiga orang pria yang sudah dibuat babak belur oleh Regan, mereka tetap tidak mengaku siapa dalang dibalik semua ini. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka tertarik pada Ara dan sengaja menculiknya untuk di perkosa.


Mereka bertiga tidak mau mengaku dan akhirnya mendekam di sel sampai interogasi selesai. Kini Bram dan Sean berada di depan kantor polisi, setelah mereka berdua tak mendapatkan jawaban dari ketiga pria itu terkait dalang dibalik penculikan dan pelecahan terhadap Ara.


"Benar, bukan kamu dalang dibalik semua ini Bram?" tanya Sean yang sontak saja membuat atensi tajam Bram tertuju pada pengacara kondang itu.


"Bapak menuduh saya?"


"Tidak, saya hanya bertanya." jawab Sean dengan tatapan curiga pada Bram. Ya, dia sempat menyimpan kecurigaan kepada Bram.


"Entah bapak percaya atau tidak, tapi saya tidak akan pernah menyakiti wanita yang saya cintai." kata Bram sungguh-sungguh.


Sean tersenyum tipis saat mendengar ucapan Bram, seolah ia mengejek pria itu dan menganggap perkataan Bram hanyalah bualan semata.


"Oh begitu? Apakah ini yang namanya cinta datang terlambat, pak Bram? Dan apa kamu bilang barusan? Tidak akan pernah menyakiti wanita yang kamu cintai?"


"Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Bram yang terlihat tidak senang dengan raut wajah Sean saat ini.


"Kamu lupa, apa yang pernah kamu lakukan kepada adik saya saat kalian masih menikah?"


Bram tercekat lalu menatap Sean, tangannya terkepal menahan marah. Jika saja Sean yang bermulut pedas ini bukan kakak dari mantan istrinya, sudah pasti bogem mentah dari tangannya yang akan melayang di wajah Sean.


"Apa perlu saya ingatkan satu persatu dosamu? Kamu mengabaikan adik saya, mengabaikan tanggungjawab sebagai seorang suami pada istrinya, berselingkuh, bahkan kamu melakukan KDRT. Beruntung saya tidak menuntut kamu ke pengadilan karena adik saya yang memintanya," cecar Sean disertai dengan atensi tajam kepada Bram. Sean bahkan bersumpah di dalam hatinya bahwa dia tidak akan membiarkan adiknya kembali dengan pria yang bernama Bramasta Wiratama.


"Ya, saya tahu saya pernah melakukan kesalahan yang begitu besar di masa lalu. Tapi setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dan saya sudah menyadari kesalahan saya. Pak Sean anda jangan bahwa hanya saya saja seseorang yang bersalah di sini. Bukankah keluarga anda juga bersalah pada Ara? Kamu... kamu pernah membenci adik kamu sendiri demi adik angkat dan kesalahan yang paling fatal adalah ketika seorang ayah tega memukuli putrinya sendiri sampai dia keguguran." jelas Bram mengingatkan Sean akan kesalahan keluarganya kepada Ara.

__ADS_1


Sungguh, Bram sama sekali belum berubah. Pikirannya masih saja picik, ia bahkan egois dan tidak mau mengalah. Hanya saja yang berbeda darinya adalah obsesinya kepada Ara setelah bercerai, bahwa pria itu ingin memilikinya kembali.


"Tidak, bukan papaku yang membunuh bayinya tapi kamu Bram." ucap Sean seraya melirik tajam pada Bram. Bahkan pria itu bicara tanpa embel-embel pak atau kata anda seperti tadi.


"Saya?" senyum tipis terpatri di bibir Bram. Seolah mengatakan bahwa ia bukanlah pelakunya.


"Ya, kamu. Kamu sendiri yang membuat bayi itu meninggal. Kamu suami tidak becus yang tidak bisa menjaga istri dan anaknya. Jika saja saat itu kamu tidak fokus pada Giselle dan melindungi Ara. Mungkin dia tidak akan kehilangan bayinya." jelas Sean sarkas.


"Jadi disini semuanya salah saya?" tanya Bram. Dia tidak terima dituduh sebagai satu-satunya orang yang disalahkan atas meninggalnya bayi Ara dulu.


"Jangan menyangkalnya! Saya ingat bahwa kamu juga pernah membayar seorang dokter gadungan untuk mengaborsi kandungan Ara."


Tatapan Sean yang mengintimidasi Bram, membuat pria itu menciut. Lantaran ia menahan kesal, niatnya ingin mengambil hati Sean dan dekat dengan keluarga Mantan istrinya. Tapi semua orang di keluarga Gallan sudah tak respect padanya.


Mau dikatakan bagaimanapun juga, Bram dan keluarga Gallan sama-sama salah.


*****


Keesokan harinya, pagi itu.


"Tolong.... lepaskan saya... TOLONG!!"


Anna dan Mia yang berada disana mendengar teriakan Ara langsung menghampirinya. Tadi mereka masih tertidur pulas sampai Ara berteriak dan membuat mereka terlonjak kaget, sontak membuka mata.


"Ara...sayang kamu kenapa?" Anna mengelus kepala Ara dengan sayang, tapi Ara menepisnya. Sungguh hati Anna sakit melihat Ara seperti ini.


"Ra!" panggil Mia sambil berusaha memegang tangan Ara yang infusnya sudah terlepas dan membuat punggung tangan gadis itu berdarah.


"Lepasin! JANGAN! JANGAN SAKITI SAYA!" teriak Ara sambil memegangi kepalanya, gadis itu histeris. "JANGAN!"


Entah apa yang dibayangkan gadis itu saat ini sampai ia begitu ketakutan. Mungkin bayangan semalam masih menghantuinya.


"Mi-mia...panggil dokter! CEPAT!" titah Anna pada Mia dengan raut wajah panik dan tidak bisa dikondisikan lagi.

__ADS_1


Dia sedih dan cemas melihat putrinya.


Mia segera keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter yang menangani Ara. 2 menit kemudian, Mia datang ke ruangan arah bersama dengan seorang dokter wanita. Dokter itu segera memeriksa kondisi Ara, namun Ara tetap berteriak-teriak hingga membuat sang dokter tidak bisa memeriksa kondisinya.


"Tenang ya Bu, mohon tenang..." lirih dokter itu yang berusaha menenangkan Ara.


"LEPASKAN SAYA! SAYA MOHON JANGAN! JANGAN, JANGAN SENTUH SAYA! SAYA TIDAK MAU! TIDAK MAU!" Ara berteriak menangis dengan buliran air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Gadis itu terlihat stress. Ara tidak mau orang yang ada di sekitarnya.


"Nak...tenang nak, mama disini sayang." Anna juga ikut berusaha menenangkan Ara. Dia percaya bahwa putrinya tidak selemah itu.


"Maaf Bu, saya terpaksa harus memberikan obat penenang untuk anak ibu." Dokter itu meminta izin pada Anna untuk memberikan Ara suntikan obat penenang.


Setelah diberikan obat penenang, Ara kembali tidur. Padahal ia belum minum dan makan apapun pagi itu. Anna terlihat sangat cemas, ia bahkan menangis karena kondisi Ara.


"Pa, pokoknya kita harus menemukan dalang dibalik semua ini! Mama gak mau tau pa, pokoknya orang itu harus mendapatkan ganjarannya!" Anna menangis di pelukan suaminya.


"Mama tenang saja, Sean dan pihak kepolisian pasti akan menemukan orang yang berbuat jahat pada putri kita." Bryce berusaha menenangkan istrinya.


"Keluarga pasien Haura Yameena Arandita!" ujar seorang suster memanggil Bryce dan Anna yang berada di luar ruangan itu. "Dokter Rani ingin bicara." ucap si suster lagi.


Pasangan suami-istri itu masuk ke dalam ruangan dokter Rani yang merawat Ara. Mereka akan membicarakan kondisi Ara.


*****


Di sel tahanan, ketiga pria itu tampak babak belur setelah di pukuli beberapa tahanan disana. Mereka mulai lelah hingga akhirnya Regan mendatangi ketiga pria itu dan menawarkan sesuatu jika mereka mau mengaku juga menyertakan bukti untuk menangkap dalang dibalik penculikan dan pelecehan Ara.


"Sebutkan siapa nama orang itu, lalu hukuman kalian akan di kurangi! Katakan!" ujar Regan pada ketiga pria yang tampak babak belur itu.


"Yo-yoshua Rudolf." jawab salah seorang dari ketiga orang itu.


Yoshua?


"Pak polisi, anda sudah dengar kan?" Regan melirik pada polisi yang ada disana juga.

__ADS_1


Polisi tersebut mengangguk dan mereka menyiapkan surat penangkapan untuk Yoshua.


...****...


__ADS_2