
...🍀🍀🍀...
Beberapa detik yang lalu sebelum Regan dan Bram masuk menyusul Ara dan Tania. Kedua wanita itu berjalan bergandengan tangan menuju ke tempat Mia dan Arga duduk.
"Ara, dokter Tania! Sini!" Mia melambaikan tangannya pada dua wanita itu.
Ara dan Tania balas tersenyum, mereka berjalan bersamaan menuju ke meja itu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menubruk mereka dan mendorong Ara dengan cukup keras. Tania yang ada disana juga ikut terdorong bersama Ara.
"AKHHH!" pekik Ara dan Tania bersamaan. Arga dan Mia segera berlari menghampiri mereka.
Kemudian orang itu menyuntikkan sesuatu ke tangan Ara. Sebuah cairan yang entah apa dan sudah jelas sasarannya adalah Ara. Tania mendorong orang itu dan cairan didalam suntikannya tidak sampai habis menembus tangan Ara.
Tepat saat orang itu melarikan diri, Regan dan Bram datang masuk ke dalam sana. "Gan! Tangkap orang itu!" teriak Arga panik.
Regan dan Bram mencegat pria bertudung hitam itu dengan cepat. Mereka berdua melumpuhkannya. Kemudian Hugo dan Sena yang ada disana mengurus sisanya.
"Kita apakan dia pak?!" tanya Hugo.
"Bawa ke kantor polisi!" ujar Regan dengan wajah tegangnya saat melihat sang istri terbaring di lantai dengan kondisi lemah. Ia marah dan ingin menghabisi pria itu, tapi saat ini kondisi istrinya jauh lebih penting.
Hugo dan Sena meringkus orang yang mencelakainya Ara dan Tania keluar dari cafe untuk dibawa ke kantor polisi.
"Tania, kamu gak apa-apa?" tanya Bram seraya membantu Tania berdiri.
"A-aku gak apa-apa pak, cuma perutku sakit dikit. Tapi Ara...dia--" Tania melirik ke arah Ara yang terus meringis kesakitan. Kontan Bram juga menoleh ke arah wanita yang tengah hamil muda itu.
"Sayang? Apa yang sakit?" Regan langsung menggendong tubuh istrinya, ia menanyakan kondisi Ara.
"Perut aku...sakit banget mas...sakit..." Ara memegangi perutnya yang seperti sembelit itu. Rasanya persis seperti saat ia keguguran dulu. "Mas...aku gak mau bayi kita kenapa-napa." dan seketika pikiran buruk mendatangi Ara.
"Tadi orang itu menyuntikkan sesuatu sama Ara." cetus Tania memberitahu dan membuat Regan panik.
"Cepat kamu bawa di ke rumah sakit! Itu ada darah!" seru Arga melihat di lantai ada genangan darah.
Tanpa bicara apapun lagi dengan raut wajah tegang, ia membawa istrinya ke luar dari cafe dan masuk ke dalam mobil dengan segera. Bram, Tania, Arga dan Mia juga mengikuti Regan dan Ara ke rumah sakit.
__ADS_1
"Biar saya saja yang menyetir, bapak di belakang saja bersama istri bapak!" kata Bram seraya meminta kunci mobil Regan. Ya, Regan tidak membawa supir hari itu.
Merasa tak punya banyak waktu, akhirnya Regan menyerahkan kunci mobilnya pada Bram. Pria yang berstatus sebagai calon suami Tania itu pun masuk ke dalam mobil bagian depan bersama dengan Tania. Sementara Regan dan Ara duduk di kursi belakang.
Mia Arga ada di mobil belakang dan mengikuti mobil Regan. Mereka berdoa semoga Ara dan bayinya baik-baik saja. "Mi, kamu jangan tegang gitu! Tenang saja, Ara pasti baik-baik saja."
"I-iya...tapi aku gak bisa bayangin kalau bayinya sampai kenapa-kenapa." kata Mia cemas.
"Jangan bicara gitu, nanti jadi doa loh. Mending kita bilangnya yang baik-baik aja ya, doakan semoga Ara dan bayinya baik-baik aja."
"Iya kak. Tapi siapa sih orang yang ngelakuin ini?"
"Aku gak bisa jawab pastinya karena 1 bulan ini dia gak berulah, tapi aku yakin dia orangnya. Kamu tau kan siapa yang aku maksud?" Arga melirik ke arah Mia sekilas dan Mia langsung mengerti siapa yang dimaksud oleh Arga, yaitu Windy.
"Kalau emang benar dia, aku bakal kasih pelajaran buat dia! Beraninya dia nyelakain Ara!" geram Mia sambil mengepalkan tinjunya.
"Serem banget sih sayangku. Utututu..." Arga masih sempat-sempatnya menggoda Mia dengan mencubit hidungnya.
"Kak Arga! Ish...aku serius." kesal Mia.
"Makasih kak." Mia tersenyum.
****
Sementara itu di mobil Regan.
Ara masih meringis menahan sakit di perutnya, sebisa mungkin ia tak ingin membuat suaminya cemas. Tapi sungguh, rasa sakit di perutnya tidak tertahankan lagi.
"Sayang...kamu bertahan ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Regan mengusap keringat di kening Ara, satu tangan lainnya menggenggam tangan Ara yang gemetar.
"I-iya mas...ka-kamu tenang aja, aku gak apa-apa...ugh."
"Kamu dan anak kita pasti baik-baik saja!" seru Regan mencoba tenang diluar, tapi didalam hatinya ia sungguh kacau dan gelisah.
''Iya mas..."
__ADS_1
"AKHHH!!" pekik Ara semakin kesakitan dan memegang perutnya. Ia tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi.
"Sabar ya sayang," pria itu memegang perut Ara, berharap bahwa apa yang dilakukannya
"Bram, cepet! Ngebut!" ujar Tania pada Bram, ia tak tega mendengar suara Ara yang memekik kesakitan.
"Iya ini udah ngebut sayang." ucap Bram sambil tancap gas lebih cepat. "Kamu gak apa-apa kan sayang?"
"Aku gak apa-apa."
"Bayinya?" tanya Bram yang sontak saja membuat Regan terkejut mendengarnya. Dia jadi tau bahwa Tania hamil.Tapi Ara sepertinya tidak fokus dan tidak mendengar Bram bicara.
"Bram!" sentak Tania seraya melotot pada Bram.
'Aduh! Aku malu' batin Tania.
"Maaf aku keceplosan." kata Bram merasa bersalah.
Suasana di mobil itu pun menjadi hening, saat suara Ara kesakitan tak terdengar lagi. Ya, wanita itu tidak sadarkan diri di pelukan suaminya.
"Pak Bram! Tolong lebih cepat!" teriak Regan panik sambil memegangi istrinya.
"Lampu merah pak Regan." kata Bram seraya melihat lampu merah menyala.
"Terobos aja!" ujar Regan panik. "Biar nanti masalah urusan sama polisi, saya yang bereskan."
Bram melajukan mobilnya menerobos lampu merah. Dengan mengucap bismillah dan hati yang was-was. Mereka menuju ke rumah sakit.
'Ya Allah, tolong selamatkan istri dan calon anak hamba..jangan biarkan terjadi sesuatu pada mereka berdua. Kalau terjadi sesuatu pada bayi kami, Ara pasti akan terluka lagi. Kumohon jangan ya Allah'
5 menit kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit.Regan segera membawa Ara ke ruang UGD. Dokter pun sigap menangani Ara dengan Regan yang terus berada disampingnya.
Sambil menahan marah karena ulah orang itu, dia bersumpah tidak akan melepaskan dalangnya. Tak peduli siapapun orang itu, yang sudah menyakiti istrinya harus habis.
...****...
__ADS_1