
...🍀🍀🍀...
Pintu rumah itu tertutup rapat untuk keluarga Gallan maupun Bram. Orang-orang yang sudah menyakiti hati Ara dengan sangat dalam. Mungkin penyesalan itu sudah terlambat atau memang tak ada kesempatan.
Tapi yang jelas, Ara tidak mau bertemu dengan mereka.Apalagi fakta bahwa dia adalah putri yang hilang tentunya membuat Ara syok dan tidak percaya.
Keluarga Gallan dan Bram masih berada didepan rumah Ara. Mencoba membujuk wanita itu untuk membuka pintu rumah dan pintu hatinya, tapi itu semua tak mungkin. Mengingat semua yang terjadi dulu dan masih basah, rasanya Ara tidak bisa kalau di suruh untuk melupakan semua itu.
"Pa, gimana ini? Ara tidak mau menerima kita," lirih Anna pada suaminya.
"Kita kembali dulu saja Ma, mungkin anak kita memang membutuhkan ketenangan." ucap Bryce pada istrinya. "Setelah luka yang kita buat untuknya, seenaknya kita minta maaf dan mengaku bahwa kita adalah keluarganya. Tentu aja membuat Ara bingung dan syok." ucap Bryce dengan rasa sesak di dadanya. Sedari tadi matanya berkaca-kaca, ingat dosanya pada Ara. Terutama janin yang ada didalam kandungan Ara.
"Baiklah pa, kita pulang dulu sekarang. Kasihan juga Giselle di rumah sendirian, pa." kata Anna teringat dengan Giselle yang sendirian, apalagi ia sedang hamil.
"Iya Ma, ayo." Bryce menggandeng tangan istrinya, namun atensinya tiba-tiba saja tertuju pada Bram yang juga ada disana. Mereka baru ingat, mereka belum bicara sama sekali karena fokus pada Ara.
"Oh ya, ngapain kamu disini? Kenapa kamu bukannya sama Giselle?!" hardik Bryce pada Bram.
"Saya tidak akan pernah menemuinya lagi, om." jawab Bram yang membuat semua keluarga Gallan terkejut saat mendengarnya.
"Apa maksudmu Bram?" tanya Sean dengan atensi tajam pada Bram.
"Giselle, dia sudah menipu saya. Saya tidak pernah tidur dengannya dan dia hamil anak orang lain," seloroh Bram.
"Kamu jangan bicara sembarangan!" serka Bryce marah.
__ADS_1
"Saya tidak bicara sembarangan. Kalau kalian semua tidak percaya, saya punya buktinya!" seru Bram sambil mengambil ponsel di saku jasnya. Ia membuka ponsel itu lalu menunjukkan pada keluarga Gallan tentang video syur Giselle dan Yoshua juga beberapa pria di luar negri.
Sean, Bryce dan Anna terkejut melihat video dan foto-foto di ponsel Bram. Bahkan Anna sampai memijat kepalanya yang pusing.
"Sudah lihat kan?" Bram kembali menyimpan ponselnya.
"Ini gak mungkin pa! Giselle itu anak baik!" kata Anna tak percaya begitu saja. Anna tau Giselle dari kecil, hingga ia percaya bahwa Giselle masih anak yang polos seperti tadi.
"Video itu asli dan bukan editan Ma, itu asli... Giselle dia...dia sudah menghancurkan pernikahan Ara!" Sean yang paling menyayangi Giselle juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah fakta bahwa Giselle tidak sebaik yang mereka pikirkan.
Kecewa, mereka sangat kecewa dengan Giselle. Lihat saja begitu mereka sampai di Jakarta, mereka akan bicara pada Giselle tentang semua ini.
"Meski begitu...kenapa kamu ada disini, hah?"
"Saya ingin kembali pada istri saya," ucap Bram dengan mudahnya.
"Apa?"
Sean menarik baju Bram dengan kasar lalu memukul wajah pria itu dengan emosi. "Tidak akan aku biarkan kau kembali bersama ISTRIKU! Pria yang membela wanita lain dan mengabaikan istrinya, tidak pantas untuk ADIKKU!"
BUGH!
"Sudah benar Ara bercerai darimu, jangan pernah berpikir kembali padanya!" teriak Sean tepat di wajah Bram.
"KAU TIDAK BERHAK IKUT CAMPUR URUSANKU DAN ARA!" Bram tak mau kalah, akhirnya terjadi adu bogem disana.
__ADS_1
"Hentikan! Bram, Sean!" Bryce berusaha melerai keduanya.
Mendengar keributan di luar, Ara langsung membuka pintu rumahnya. "Ada apa ini?!"
Niat Ara untuk menenangkan diri malah diganggu oleh mereka. Ara kesal dengan semua orang itu.
*****
Di Jakarta, sebuah apartemen mewah.
Regan tengah duduk sambil memandangi ponselnya. Beberapa pesan telah ia kirimkan untuk Ara, sekedar menanyakan kabar atau lainnya. Namun belum dibaca alias cek list satu.
"Apa Ara baik-baik saja ya? Haruskah aku ke sana besok untuk melihat keadaannya? Apakah tidak menganggu?" gumam Regan gelisah.
"Ara...aku kangen kamu." lirih Regan sambil menghela nafasnya. "Ah! Apa yang ku katakan?"
Dreett...
Regan segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. "Ara...eh...bukan Ara."
"Waalaikumsalam Ga," jawab Regan pada seseorang yang menelponnya itu. Beberapa detik kemudian, entah apa yang didengarnya. Wajah Regan langsung berubah jadi pucat.
"Se-serius Lo? Si Bram pergi ke Bandung?!"
...*****...
__ADS_1
Maafkan chapter ini pendek, aku lanjutkan besok ya.😍