
...πππ...
Tadinya Ara ingin kembali ke kampung mendiang ibu dan ayahnya yang ada di Bandung. Namun Ara mengurungkan niat itu sebab ia masih harus menyelesaikan kuliahnya di sana. Apalagi sekarang ia sedang menyusun skripsi.
Sudah seminggu Ara tinggal di rumah Ratih, tidak ada kabar dari Bram sama sekali. Dia benar-benar tak peduli pada istrinya yang sedang hamil itu. Tapi Ara masih suka mengiriminya pesan, sebagai bentuk perhatian dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Pesan yang berisi perhatian pada Bram, mengingatkan Bram untuk makan dan menjaga kesehatan. Tapi tak satupun pesan dibalas olehnya. Biarlah Bram tidak membalas, yang penting sudah terkirim dan dibaca. Ara berharap Bram menjaga kesehatannya dan bahagia bersama Giselle, walau perih rasanya berdoa begitu.
Ara juga mulai merasa tak enak menumpang hidup dengan Ratih tanpa melakukan apapun. Ara memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Tentu saja Mia dan Ratih melarang Ara untuk bekerja, apalagi Ara sedang hamil.
Kini Ara dan Mia terlihat sedang berjalan di lorong kampus, mereka baru saja menyelesaikan bimbingan mereka bersama Regan selaku dosen pembimbing mereka.
"Gak! Kamu gak boleh kerja Ra, kamu tuh lagi hamil." Mia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak permintaan Ara untuk ikut kerja paruh waktu dengannya di restoran.
"Dokter kan bilang kalau kandunganku itu udah baik-baik aja, lagian aku juga udah gak mual-mual lagi!" Ara tersenyum ceria. Ya, yang menjadi lebih baik sejak meninggalkan rumah Bram.
Sekarang kandungannya sudah mulai memasuki usia 4 bulan, dia tidak mual-mual lagi seperti sebelumnya. Bahkan dia menjadi lebih kuat.
"Nggak, aku gak mau kamu sama calon ponakanku kenapa-napa!" Mia tidak mau dibantah oleh Ara dan ini juga demi kebaikan wanita itu.
"Tapi...."
"Tidak Ara!"
"Tapi aku harus menghasilkan uang, aku nggak enak kalau terus-terusan berada di rumah dan diam saja. Aku juga bosan, please...aku mau ikut kerja ya? Gak full kerja kok," bujuk Ara pada Mia, ia ingin bekerja.
"Gak full kerja gimana? Restoran tempatku kerja itu, full time sore malam! Terus kerjanya juga capek, Ra. Udah deh kamu gak usah macam-macam."
"Saya ada lowongan pekerjaan yang gak capek," celetuk seorang pria yang berdiri tepat dibelakang dua wanita itu. Ya, pria itu adalah Regan si dosen tampan, muda dan sudah jelas cerdas.
Ara dan Mia menoleh ke belakang dan melihat Regan dengan tatapan bingung.
"Siang pak," sapa Mia dan Ara bersamaan.
"Siang, tadi saya dengar kamu butuh pekerjaan paruh waktu ya?" tanya Regan seraya melirik ke arah Ara.
"Iya pak, bapak ada kerjaan buat saya?" mata Ara langsung berbinar-binar walau Regan hanya bertanya tentang pekerjaan saja.
"Ara! Nggak boleh!" seru Mia melarang.
__ADS_1
"Mi..." rengek Ara manja, dengan wajah memelas pada Mia.
"Ara, kamu gak boleh kerja."
"Mia, please." kata Ara memohon lagi
Regan tiba-tiba saja berdehem. "Ehem, kerjaannya gak berat kok. Cuma jadi asisten saya."
Kata-kata Regan membuat Ara dan Mia terkejut. Mereka pikir Regan tidak serius. Regan kembali bicara, ia serius dengan tawarannya. Ya, itupun jika Ara mau menerima tawaran tersebut.
"Maaf pak, pekerjaan itu memang bagus dan tidak cukup melelahkan. Tapi saya tidak bisa, lebih baik bapak memberikan pekerjaan kepada saya yang berada di tempat umum."
"Loh? Kenapa?"
"Saya tidak bisa menjadi asisten bapak, menjadi asisten Pak Regan artinya saya harus selalu berada di sekitar bapak. Bukannya saya tidak mau, tapi status saya tidak memperbolehkan saya berduaan dengan pria lain yang bukan muhrim saya." kata Ara dengan tegas menjaga dirinya.
Mia langsung melihat raut wajah Regan yang memucat, apakah pria itu tersinggung dengan ucapan Ara?
Bramasta Wiratama, kau benar-benar bodoh. Berlian seperti Haura kau buang dan kau abaikan. Lihat, betapa dia yang begitu menjaga hubungan kalian bahkan sampai menjaga jarak dari pria lain. Hanya untuk pria bodoh sepertimu?
Regan sungguh menyayangkan sikap pria yang sudah menyia-nyiakan Ara. Gadis sebaik ini dan begitu menjaga kehormatannya, diperlakukan dengan tidak baik dan diabaikan. Demi wanita lain yang belum tentu lebih baik darinya.
"Tidak! Saya tidak tersinggung oleh kamu, saya malah senang kamu begitu---ah sudahlah jangan dibahas lagi. Kamu bilang butuh kerjaan ditempat umum kan?" tanya Regan sekali lagi pada Ara.
"Iya pak saya mau." Ara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pak, jangan pak!" Mira menggelengkan kepalanya, ia tidak mau Ara bekerja.
Namun Ara tetap keras kepala, sepulang bimbingan ia pergi bersama Regan dan Mia. Regan membawa kedua wanita itu ke cafe bernama Chocolate lovers. Cafe yang menyediakan cemilan coklat, cake, makanan yang asin asin juga ada. Jam kerja di cafe itu tidak terlalu berat, ada jadwal sif pagi, siang dan malam. Kebanyakan yang datang ke cafe itu adalah remaja yang sekedar nongkrong ataupun pasangan kekasih yang tengah kencan. Regan juga merasa aman bila Ara bekerja disana dan lagi manager cafe itu adalah orang yang dikenalnya.
"Nama saya Haura, ibu bisa panggil saya Ara. Terimakasih karena ibu sudah menerima saya bekerja disini,Bu." kata Ara seraya tersenyum ramah pada Gina, manager cafe itu.
"Okay Ara, saya Gina. Panggil saja saya Kak Gina, gak usah sungkan...kamu kan akan menjadi adik---"
Regan langsung membungkam mulut Gina dengan satu tangannya dan menghentikan mulut itu untuk bicara. 'Aduh kak Gina ini,' Regan menatap Gina dengan tatapan kesal.
"Ibu bilang apa?"
__ADS_1
Kayanya pak Regan punya hubungan deh sama Bu Gina. batin Ara mengira Gina dan Regan dekat, ya melihat gelagat mereka yang sangat akrab.
"Hahaha....gak apa-apa, gak apa-apa." Gina menyingkirkan tangan Regan darinya.
"Ya udah Ara, kamu bisa bekerja mulai besok!" kata Gina ramah.
"Sekarang juga bisa kok, Bu." kata Ara dengan wajah polosnya.
"Besok saja Ra," ucap Regan perhatian pada Ara dan membuat Gina tersenyum.
"Ya besok aja, gak apa-apa kok."
"Saya mau bekerja sekarang aja Bu, saya juga bosan di rumah!" kata Ara lalu melenggang pergi meninggalkan Gina, Regan dan Mia yang berada di dekat meja kasir. Ara langsung beradaptasi dengan pekerjaannya sebagai pelayan.
Regan melihat Ara sambil tersenyum, ia senang karena Ara bisa tersenyum dan menikmati pekerjaannya. "Bu Gina, saya titip Ara ya Bu! Sekarang saya harus pergi bekerja,. ini nomor saya Bu...kalau terjadi sesuatu pada Ara kasih tau saya ya Bu." Mia menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya kepada Gina.
Gina menerima secarik kertas tersebut kemudian dia tersenyum. "Baiklah!"
Mia pun berterima kasih sekaligus berpamitan kepada Gina dan Regan, ia harus kembali kepada rutinitasnya bekerja paruh waktu di sebuah warung makan dekat rumahnya. Terpaksa dia harus meninggalkan Haura di sana.
"Cie...cie...kayaknya aku mau punya adik ipar nih." Gina menggoda Regan dan menyenggol lengannya.
"Kakak!" Regan langsung melotot pada Gina, kakak sepupunya.
"Dia cantik, baik, sopan, gak genit, tipe kamu banget tuh!" goda Gina lagi sambil terkekeh. "Jadi es batunya udah cair nih?" tanya Gina lagi.
"Ish kakak, apaan sih? Kak aku titip Ara ya, aku harus pergi ke kantor papa. Jangan biarkan dia kelelahan kak, dia lagi hamil." kata Regan yang membuat Gina terkejut dan terdiam selama beberapa saat.
"Aku pamit dulu kak, assalamualaikum." kata Regan lalu melenggang pergi dari sana.
"Regan! Kamu udah hamilin dia?!" seru Gina tercengang. Namun sayangnya, Regan sudah pergi jauh dari sana. "Gila! Anak orang dibikin bunting, padahal wajahnya polos polos...waahhh..." Gina berdecak dan berpikir yang bukan-bukan.
Dari kejauhan Ara melihat Gina dan Regan yang terlihat dekat. Ia menganggap bahwa mereka pasangan kekasih.
"Pak Regan baik banget, dia seperti malaikat tak bersayap. Semoga hubungan Bu Gina dan pak Regan langgeng, ya Allah...aamiin." Ara tersenyum seraya mendoakan langgengnya hubungan Gina dan Regan.
...****...
__ADS_1
Ademnya satu bab tanpa si pelakorππ