Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 46. Fakta menyakitkan untuk Giselle


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Biar Sean aja yang jemput Ara, papa disini aja sama mama." ucap Sean pada kedua orang tuanya.


"Tapi--"


"Pa, papa tau kan Ara masih marah sama papa? Papa udah bunuh anaknya dan kalau papa ikut aku kesana, yang ada Ara gak mau ikut kesini." ucap Sean yang membuat Bryce tertegun mengingat dosa terbesarnya pada Ara.


Dosa yang sulit dimaafkan, membunuh nyawa didalam rahim Ara ,nyawa cucunya sendiri yang masih ia sesali sampai sekarang. Setiap malam Bryce menangisi kebodohan dan dosanya.


"Gak...biar mama aja yang pergi, mama ingin lihat Ara. Mama mau ketemu sama dia! Please...mama sendiri yang mau bujukin dia." Anna beranjak dari ranjangnya dan berusaha untuk bangkit walau keadaannya lemah.


"Enggak ma, mama gak boleh ke mana-mana Mama kan lagi sakit!" tegur Sean pada mamanya.


"Mama mohon, mama mohon...hiks. Mama mau ketemu sama Ara sekarang, bawa mama ke rumahnya." Anna memohon pada anak dan suaminya untuk membawa Anna bertemu Ara, ia ingin membujuk Ara secara langsung.


"Ma, kenapa sih mama harus pergi bujukin dia? Kalau dia gak mau ya udah gak usah dipaksa." kata Giselle yang tiba-tiba saja sudah berada dimbang pintu kamar itu.


Kata-kata Giselle tidak di sukai oleh Sean, Bryce dan Anna. Terutama Anna yang sudah kesal dari kemarin-kemarin karena sikap dan kata-kata Giselle. Tapi dalam hati ia menyesal karena telah salah mendidik Giselle sampai gadis itu berubah menjadi pribadi yang keras kepala, manja dan egois hingga Giselle bisa menjadi seorang wanita yang menghancurkan pernikahan orang lain.


"Giselle! Ara adalah adik kamu dan juga apakah kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan padanya? Kamu sudah menghancurkan rumah tangga adik kamu sendiri!" Anna bicara dengan suara meninggi pada Giselle. "Harusnya kamu sadar dan meminta maaf sama dia. Tapi kamu gak ada itikad baik sama sekali." kata Anna lagi.


Giselle malah terlihat malas mendengar ucapan Anna.


Belum apa-apa, mama sudah membela wanita kampungan itu. Apalagi kalau dia sudah berada di rumah ini?


"Kenapa jadi salahku? Dia sendiri yang tidak bisa menjaga suaminya dan perlu mama tau ya! Bram sejak awal adalah milikku, dia yang merebutnya dariku!" seloroh Giselle tanpa merasa bersalah.


"Merebut? Bahkan sekarang kamu tidak mendapatkan Bram setelah Ara berpisah darinya. Seharusnya kamu introspeksi Giselle!" seru Sean sarkas pada Giselle. Entahlah mereka semua jadi tidak respect dengan Giselle.


"Sudahlah Ma, mama mau ke rumah Ara kan? Lebih baik kita segera pergi, kita semua pergi kesana." saran Bryce pada semua anggota keluarganya.


"Dan kamu Giselle, terserah kamu mau ikut atau tidak." sambung Sean seraya melirik pada Giselle.


"Aku ikut." jawab Giselle malas.


Aku harus ikut, aku harus mencegah si wanita kampungan itu untuk masuk ke dalam rumah ini.


"Ya udah, ayo kita pergi kesana."


"Hati-hati ma, sini Giselle bantu." kata Giselle sambil membantu Anna turun dari ranjangnya. Sikap Giselle langsung berubah 180 derajat saat itu, entah apa maksudnya.


Akhirnya Giselle dan keluarga Gallan pun pergi menuju ke rumah Ratih. Walau keadaan Anna sedang lemah dan tidak baik.

__ADS_1


*****


Pagi itu, Ara dan Mia tengah bersiap untuk pergi ke kampus dan mengurus berkas untuk wisuda. Setelah selesai memasak sarapan, Ara, Ratih dan Mia sarapan bersama.


Tiba-tiba saja suara telpon berdering dari tas selempang milik Ara. "Wah siapa tuh yang telpon? Apa jangan-jangan pak Regan?" tebak Mia sambil tersenyum dan berhasil membuat wajah Ara bersemu merah.


"A-apaan sih? Mia...kamu tuh ih."


"Habisnya semalam juga chattingan sama pak Regan kan?" tebak Mia lagi


"Oh ya? Kamu chattingan sama pak Regan? Lama-lama kamu semakin dekat dengan pak Regan ya. Dia pria baik, ibu lihat begitu." ucap Ratih menimpali. Kata-katanya seperti provokator yang memprovokasi Ara.


"Eh..itu..."


"Ra, kamu jangan takut ya nak, kamu berhak bahagia. Tapi tunggu masa Iddah dulu ya." ucap Ratih dan membuat Ara terkejut.


Tak lama kemudian, Ara pun mengangkat panggilan itu dan ternyata benar dari Regan. Sepagi ini Regan sudah menelponnya setelah malam mereka chattingan sampai jam 12 malam.


"Aku akan telpon dulu ya Bu, Mia." Ara berpamitan untuk mengakhiri sarapan paginya lebih dulu.


"Oke oke...santai saja! Ngobrol aja yang lama ya." kata Mia terkekeh.


"Ish Mia!" seru Ara sambil memonyongkan bibirnya, kemudian wanita itu pun pergi ke halaman belakang rumah untuk menerima telpon dari Regan.


Wajah Ara terlihat bercahaya, apalagi Regan selalu ada disisinya. Pria itu terlihat gencar mendekati Ara, tapi dia juga menjaga jarak dengan Ara karena takut dengan omongan orang. Ara BERCERAI belum lama dan ia takut wanita itu digunjingkan orang-orang.


"Assalamualaikum pak,"


"Waalaikumsalam Ra, maaf aku ganggu kamu pagi-pagi begini. Aku cuma mau--"


"Ya pak? Mau apa?"


"Mau tanya kamu udah sarapan atau belum?"


"Alhamdulillah sudah pak, bapak sudah sarapan?" Ara bertanya baik.


"Alhamdulillah kalau sudah. Maaf ya kalau saya sudah ganggu kamu. Kalau begitu sampai ketemu di kampus ya!" seru Regan lalu menutup telponnya begitu saja. Dia sangat gugup setelah menunjukkannya perhatiannya itu.


Ara juga terlihat bahagia karena mendapatkan telpon dari Regan.


*****


Setelah melalui perjalanan selama 15 menit, akhirnya keluarga Gallan sampai di rumah Ratih. Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan oleh Ratih. Keadaan Anna cukup lemah hingga ia harus di papah oleh suami dan anaknya.

__ADS_1


"Maaf Bu, apa maksud kedatangan ibu dan bapak sekeluarga kemari?" tanya Ratih dengan sopan.


"Kami ingin..."


Belum sempat Bryce menyelesaikan kata-katanya, ia melihat Anna berdiri dan berjalan terhuyung-huyung lalu memeluk Ara.


"Nak...mama kangen kamu sayang,pulang ke rumah ya nak. Mama mohon...hiks." Anna menangis.


Ara mulai membalas pelukan Anna, entah kenapa ia menjadi luluh melihat Anna seperti ini. Mungkin ada ikatan batin diantara mereka.


Disisi lain Giselle tidak senang melihat itu, dia cemburu mamanya memeluk Ara. Ya meski ia taunya Ara adalah adiknya.


Tiba-tiba saja tubuh Anna ambruk ke lantai, lalu Anna berlutut di depan Ara. Sontak saja semua orang kaget melihat itu.


"Maafin mama nak, maafin papa, maafin kami semua...mama adalah mama kandungmu nak, kami keluargamu nak. Mama mohon maafkan kami dan pulanglah bersama kami nak!" Anna terisak sambil memegang kedua kaki Ara.


"Ibu..tolong jangan begini." Ara merasa tidak enak.


Bryce dan Sean juga ikut memohon pada Ara. Mereka kompak meminta Ara untuk kembali ke rumah.


Tidak tega melihat kakak dan kedua orang tuanya memohon, Ara pun menganggukkan kepalanya dan setuju.


"Baik, saya setuju untuk kembali! Tapi maaf, saya tidak bisa tinggal satu rumah dengan wanita yang pernah menghancurkan rumah tangga saya!" kata Ara seraya melirik Giselle dengan tajam.


Plakk!


Giselle langsung menampar Ara begitu mendengar ucapannya. "Dasar wanita kampung! Memangnya aku mau satu rumah sama kamu?!" hardik wanita itu.


Sean, Bryce, Anna, Ratih dan Mia kesal dengan sikap Giselle. Atensi tajam semuanya tertuju pada wanita itu.


"Jaga mulutmu Giselle! Sudah cukup!" teriak Sean marah.


"Apa sih kak? Kenapa kakak belain di terus? Dia secara terang-terangan mau ngusir aku!" Giselle tak terima.


"Ara, kamu akan kembali ke rumah dan Giselle TIDAK AKAN ada disana. Papa akan pastikan itu!" kata Bryce tegas.


"Papa! Aku gak mau tinggal sama JALANGG ini!" Giselle menunjukkan jarinya pada Ara.


"Jangan pernah mengatakan anakku seorang JALANGG! Dia darah dagingku, sedangkan KAU BUKAN!" sentak Bryce pada Giselle yang membuat wanita itu terkejut bukan main.


Semua orang kaget mendengar ucapan Bryce. Sungguh semua fakta ini sepertinya akan sangat menyakitkan Giselle.


...****...

__ADS_1


__ADS_2