Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 23. Drama Giselle


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ara mencoba bertahan dan berusaha tegar sekuat batu. Entah sampai kapan ia akan bertahan dengan semua ini.


Demi bayinya, demi ikatan pernikahan yang karam, demi keadaan Aryan. Itulah yang menguatkan Ara sampai saat ini. 1 Minggu telah berlalu, Ara masih berusaha untuk merebut hati suaminya. Namun hasilnya masih nihil, suaminya masih peduli pada Giselle. Baiklah, Ara mencoba mengerti sebab ia tau Giselle sedang hamil anak suaminya juga.


Kerap kali Bram berbohong bertemu dengan Giselle dan jarang pulang ke rumahnya, nyatanya Bram tak berubah juga. Tunggu sampai mana kesabaran yang diberikan Allah padanya akan bertahan.


Pagi itu, ketika ia dan suaminya duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Ara melihat suaminya tengah memainkan ponsel, Ara sudah bisa menebak bahwa suaminya pasti berkirim pesan dengan Giselle.


"Mas, boleh aku minta tolong?"


Bram tidak menjawab, tapi matanya menoleh pada Ara dengan tatapan dingin seperti biasa. Astagfirullah, Ara benar-benar selalu terluka oleh sikapnya ini.


"Bolehkah mas berada di rumah malam ini? Jangan menginap di luar lagi, apalagi mas dan mbak Giselle belum sah menjadi pasangan suami-istri. Aku hanya takut dengan anggapan miring orang lain tentang kamu dan mbak Giselle." Ara bicara baik-baik.


BRAK!


Tangan Bram menggebrak meja, wajahnya terlihat kesal menatap istrinya. "Kamu tuh kenapa sih Ra? Dibiarin malah semakin menjadi-jadi! Kamu gak sadar diri, tau gak?"


"Gak sadar diri gimana Mas?" wanita itu coba bersikap senang mungkin meski suaminya tengah emosi.


"Aku tau--kamu menjelek-jelekkan Giselle pada semua orang di kompleks ini? Waktu Giselle didepan rumah ini dia nangis-nangis karena dia di omongin sama ibu-ibu kompleks!"


"Hah? Kapan dia ke rumah ini mas? Aku gak tau!" Ara bingung, ia bahkan tidak tahu kalau Giselle pernah ke rumah. "Dan aku tidak pernah menjelek-jelekkan dia mas, semua orang memang sudah tau dari media kalau--"


Sela Bram memotong ucapan Ara. "Kamu gak tau atau pura-pura gak tau, hah? Aku tau kamu iri padanya, tapi kamu gak usah playing victim begini Ra. Aku mencintainya dan kamu tau itu! Setelah bayimu lahir, aku akan segera menceraikanmu. Dan aku tidak suka bila ada yang menghina ibu dari anakku sebagai pelakor, jelas-jelas Giselle bukan pelakor karena dia sudah memilih hatiku sejak awal sampai sekarang dan selamanya."


Lagi-lagi kata-kata Bram seperti tajamnya pedang yang menusuk ke dalam hatinya. Dadanya terasa sesak, matanya mulai mengembun. Harus sesabar apalagi dia mempertahankan pernikahan ini? Harus sampai kapan?


"Lalu aku...apakah pernah ada aku sedikit saja di hatimu mas? Apa saat kita berhubungan suami istri, kamu mencintaiku?"

__ADS_1


Dengan mudahnya Bram menjawab."Saat itu aku khilaf!"


"Mas, jangan pernah bilang begitu. Kalau kamu bilang gitu, artinya kamu menolak kehadiran anak kita!" Ara mulai meneteskan air mata.


"Udah ya, aku lelah berantem terus sama kamu. Mending aku berangkat kerja sekarang," ucap Bram sambil menyambar tas kerja miliknya yang berbentuk persegi panjang di atas meja.


"Mas, kita belum selesai bicara! Aku tidak pernah menjelek-jelekkan mbak Giselle mas, aku juga tidak tahu kalau dia pernah datang kemari. Kamu harus percaya padaku mas, aku mohon jangan begini...aku istri kamu, aku sedang mengandung anakmu juga Mas." Ara memegang tangan suaminya seraya memohon pada Bram untuk percaya padanya.


"Alah! Bullshitt!!" Bram menepis tangan Ara, hingga wanita itu terjatuh dan punggungnya mengenai pot bunga besar didepan rumah tersebut.


Brugh!


"Aaaahhhh!!" Ara memegangi perutnya yang masih datar itu, dia merasakan sakit di sana.


"A-Ara!" Bram langsung panik dan menghampiri Ara yang jatuh terduduk. Ia memegangi tangan Ara dan mencoba memapah wanita yang tengah meringis kesakitan itu.


"Sayang!"


Astaga, pasti Giselle salah paham.


"Sel, aku hanya membantunya." jelas Bram.


Giselle menghampiri Ara dan ia membantu Ara berdiri. "Kamu gak apa-apa Ra?" tanya Giselle menunjukkan wajah ramahnya.


Ara menahan sakit di punggung dan perutnya itu, ia menatap Giselle dengan sinis. Ara menepis tangan Giselle pelan.


Giselle pun terjatuh ke lantai, lalu dia memegangi perutnya. Ara dan Bram terkejut melihat Giselle yang jatuh. Sontak saja Bram melepaskan Ara. "Aahhh...Bram, sakit...ini sakit sekali..." Giselle meringis kesakitan.


Bram menggendong Giselle ala bridal, lalu i melotot pada Ara. "ARA! AKU TAU KAMU TIDAK SUKA PADA GISELLE, TAPI JANGAN BEGINI CARANYA! KAMU WANITA LICIK!"


"Mas, aku bahkan tidak men--" Ara menangis, ia begitu terluka dengan bentakan dan tatapan Bram padanya. Padahal ia tidak mendorong Giselle dan hanya menepis tangan wanita itu pelan-pelan. Kenapa dia bisa jatuh?

__ADS_1


"CUKUP! KALAU TERJADI SESUATU PADA GISELLE DAN ANAKKU, AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM!" bentak Bram pada istrinya dengan penuh amarah.


"Bram...sakit...sakit..." Giselle meringis kesakitan.


Haha, rasain kamu Ara. Kamu tidak akan pernah bisa merebut hati Bram. Tidak!


"Sabar sayang, kita ke rumah sakit ya? Ayo..." Bram menaiki mobilnya sambil membawa Giselle. Ara dapat melihat perhatian suaminya pada wanita lain, bahkan bi Marni yang baru saja menyiram tanaman di halaman depan juga melihat Bram lebih memilih Giselle daripada Ara, istrinya sendiri.


Padahal aku juga terluka mas, tapi kenapa kamu lebih memilih mbak Giselle?


Ara memegangi perutnya yang masih terasa sakit, tapi lebih sakit melihat suaminya memilih menolong Giselle daripada dirinya.


"Non, non gak apa-apa? Astagfirullah...non...tega banget tuan ninggalin non kayak gini?" gerutu Marni sambil membantu Ara berdiri. Dia mengutuk kelakuan Bram yang seperti pria di sinetron ikan terbang. "Awas saja tuan Bram, nanti nyesel baru nyaho siah!" gerutu Marni yang Gedeg dengan majikannya itu.


"Bi, tolong bantu saya jalan ke dalam ya? Sakit banget perut dan punggung saya," ucap Ara meminta bantuan pada Marni.


"Siap non!"


Pak Hadi juga ikut memapah Ara masuk ke dalam rumah, pak Hadi adalah satpam di rumah itu. Ia juga merasa kasihan pada Ara yang tetap bertahan dengan Bram.


Keadaan Ara tidak enak setelah itu, ia memutuskan untuk diam di rumahnya dan beristirahat. Ia libur bimbingan skripsi dengan Regan. Belum lagi hatinya yang saat ini sedang terluka karena Bram. "Kenapa kau tega sekali padaku, Mas? Aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi kau memaksaku untuk menyerah?"


Ketika wanita itu sedang merebahkan tubuhnya di sofa, ia mendengar suara bel berbunyi. Ara beranjak dari sofa tempat rebahannya, lalu ia langkahkan kakinya menuju pintu depan rumah. Langsung saja dibuka pintu itu dan tiba-tiba sebuah tamparan keras melayang ke pipinya.


Plakk!


"Beraninya kamu mendorong anak saya, HAH?"


Ara menatap seorang wanita yang berdiri diambang pintu rumah, wanita yang menamparnya? Siapa dia?


...****...

__ADS_1


Hai Readers, aku tau perasaan kalian....karena aku pun kalau jadi Ara pasti udah kabur🤧🤧 tapi ada beberapa wanita yang memilih berjuang dan bertahan. Entah itu Demi anak, demi orang tua, atau takut dengan omongan orang. 🤧


__ADS_2