
...πππ...
Mansion dirgantara, malam itu.
Setelah mendengar kejadiannya dari Regan, Dimas langsung menegur Riana yang bersikap kurang ajar pada Ara dan keluarganya. Ya, Riana tampak menyesali sikapnya sebab ia salah menilai Ara, ia tak tau sebelumnya bahwa Ara berasal dari keluarga terpandang.
Riana taunya, Ara adalah gadis kampung, seorang janda dan pernah hamil juga Keguguran. Pokoknya segala yang menjadi nilai minus di mata Riana. Namun apa yang akan menyangka bila Ara adalah keturunan dari keluarga Gallan sedangkan Giselle yang elegan hanya anak angkat.
"Kalau sampai orang tuanya Ara membatalkan pernikahan kami, aku tidak akan pernah memaafkan mama!" sentak Regan pada mamanya itu. Dia jadi terbayang-bayang di mana saat Anna marah padanya, mengatakan bahwa dia akan mempertimbangkan kembali hubungan Ara dan Regan.
Regan takut kehilangan cintanya.
"Kamu--berani kamu bentak Mama cuman demi gadis itu?" Riana terperangah kecewa dengan Regan.
"Jangan sebut dia gadis itu! Dia adalah wanita yang kucintai dan mama tidak berhak menunjukkan raut wajah kecewa mama." ucap Regan tegas lalu ia pergi ke kamarnya dan membanting pintu kamar dengan marah.
Brak!
"Anak itu benar-benar tidak sopan!" teriak Riana marah pada Regan.
"Riana, lagian kamu sih keterlaluan! Kenapa kamu menghina calon cucu mantuku? Wajar Regan marah begitu sama kamu."
"Papa jangan ikut ikutan pa!" bentak Riana pada pria tua itu marah.
"Kamu yang jangan ikut-ikutan. Lagian kenapa kamu disini? Bukannya kamu sudah bahagia dengan suami baru dan anak kamu itu? Ngapain kamu mengusik cucu papa!" hardik Dimas dengan kening berkerut. Dimas heran kenapa anaknya itu pulang setelah 15 tahun menelantarkan Regan dan pergi keluar negeri bersama suami baru dan anaknya dengan suami baru itu.
"Aku kesini buat anak aku pa, buat kebahagiaan anak aku." jawab Riana.
"Kebahagiaan apa Riana? Dengan kamu tidak kembali saja, Regan sudah bahagia dan kamu tau sumber kebahagiaan Regan? Dia adalah gadis yang bernama Haura itu. Jika kamu menghalangi kebahagiaan Regan, papa tidak akan tinggal diam RIANA!" seru Dimas tegas.
Riana berusaha menahan amarahnya, ia pun kembali bicara dengan suara rendah dan baik-baik. "Pa... meskipun wanita itu berasal dari keluarga Gallan tapi dia pernah menikah. Regan berhak untuk mendapatkan gadis yang lebih baik dari dia dan aku sudah mempunyai calon yang cocok untuk Regan." jelas Riana.
Dimas langsung terperangah mendengar ucapan Riana yang seenaknya saja datang dan ingin menjodohkan Regan. "Riana, Regan berhak menentukan jodohnya sendiri. Jadi, kamu jangan mengaturnya dan Jangan coba macam-macam dengan Regan dan Ara." kata Dimas mengancam. Dimas tidak mau bila ada yang mengganggu kebahagiaan cucunya.
Selama ini cucunya telah banyak menderita, dia pernah diculik, Regan juga terpaksa pernah menjadi bagian dari sindikat kejahatan di luar negeri. Sekarang Regan telah kembali pada jalan yang benar dan dia ingin menjalani hidup yang normal juga bahagia.
Riana terlihat tidak menerima ucapan Dimas, ia tetap bersikeras untuk menjodohkan Regan dengan wanita pilihannya karena wanita itu bisa menjadi batu loncatannya untuk memperbesar perusahaan yang kini tengah dibangun oleh suami barunya di luar negeri.
****
Malam itu Regan terlihat sangat kesal dengan semua kejadian yang belum lama terjadi. Regan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian dia mengambil ponselnya saat dia teringat dengan Ara.
Terlihat lah wallpaper di ponsel itu adalah cincin plastik yang pernah Ara berikan padanya. Regan tersenyum kemudian dia mengotak-atik ponselnya. Regan mengganti wallpaper ponselnya dengan foto Ara dan dirinya saat di taman tadi.
__ADS_1
Dipandanginya foto itu dengan hati yang berbunga-bunga dan membuat ia sedikit melupakan rasa kesalnya pada Riana.
"Apa Ara sudah tidur ya? Aku ingin bicara padanya tentang Tante Anna. Apa dia benar-benar tidak setuju dengan hubungan kami karena sikap mama?" gumam Regan gelisah.
Pria itu menggigit bibir bagian bawahnya, kemudian dia menekan tombol panggilan video call di ponselnya.
Ara calling....
Tak lama kemudian Ara mengangkat video call dari Regan, kebetulan sekali wanita itu belum tidur dan baru akan merebahkan tubuhnya.
"Assalamu'alaikum Ra." sapa Regan pada Ara, ia melihat Ara tengah duduk di atas ranjang dengan memakai piyama tidurnya.
"Waalaikumsalam kak."
"Ra, kamu mau tidur? Maaf ya aku ganggu kamu." ucap Regan tak enak hati dan hendak menutup video callnya.
"Eh...enggak kok! Aku lagi nunggu kakak." celetuk Ara yang membuat Regan di seberang sana tersipu malu. "Eh...enggak...aku gak nunggu kakak!" sangkalnya kemudian. Ara malu saat dirinya mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Bahwa ia menunggu panggilan telpon dari Regan.
"Hehe...kalau gitu, boleh gak aku ngomong sebentar sama kamu?" tanya Regan sambil menatap wajah cantik natural Ara di layar ponselnya.
"Iya kak, boleh."
"Ra...aku mau tanya soal mama kamu. Apa dia masih marah sama aku?"
"Tapi tadi--"
Ara tersenyum. "Tadi Mama memang bilang kalau mama sempat mau mutusin hubungan kita, tapi--"
"APA? Gak boleh!" Regan langsung memotong perkataan Ara dan wajahnya berubah menjadi panik.
"Kak...kakak tenang dulu."
"Kita gak boleh putus! Aku gak bisa jauh dari malaikatku lagi. Aku ingin kita bersama selamanya." ucap Regan lirih dengan bibir yang mencebik.
Ara gemas melihat Regan yang benar-benar takut kehilangannya. Ara merasa sangat beruntung karena dia dicintai oleh pria sebaik Regan. Jika Bram, mantan suaminya hanya bisa melukainya, maka Regan adalah penyembuh lukanya. Kini Ara telah menemukan cinta yang baru, dia yakin bahwa ia akan bahagia kali ini dan Regan ternyata adalah cinta pertamanya.
"Ra, kenapa kamu nangis? Ra..." Regan panik melihat dari layar ponselnya, buliran air mata jatuh membasahi pipi Ara.
"Aku gak apa-apa kak." Ara buru-buru menyeka air matanya.
"Gak apa-apa gimana? Kamu nangis gitu! Ayo bilang ada apa? Ara...aku calon suamimu dan aku harus tau tentangmu,kan?" tanya Regan cemas. Mungkin jika pria itu ada disana, ia akan memeluk dan menyeka air matanya.
"Aku beneran gak apa-apa," ucap Ara terharu, ia memalingkan wajahnya dari layar kamera yang menampilkan wajah cemas Regan disana.
__ADS_1
"Ra... pokoknya aku ngambek ya kalau kamu gak mau bilang!" ancam Regan seperti anak kecil.
"Kak...aku menangis karena aku terharu. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, karena aku mendapatkan cinta dari pria sebaik dan sesempurna kamu." jelas Ara dengan buliran air mata yang semakin deras membasahi pipinya. "Aku pikir aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi dan memiliki seseorang yang mencintaiku. Tapi sekarang aku punya kamu, kak."
"Bukan hanya sekarang Ra, tapi untuk selamanya. Seterusnya sampai maut memisahkan! Kita akan saling memiliki. Dan asalkan kamu tau, aku juga merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini. Bisa mendapatkan cinta dari kamu, wanita baik, Sholehah, lembut, penyabar dan kamu strong. Jadi kita sama-sama beruntung." ucap Regan seraya tersenyum pada calon istrinya itu. "Jadi, kamu jangan nangis lagi ya? Sayang air matamu itu Ra."
"Iya kak..hehe." wanita itu terkekeh.
"Ya udah kamu cepet bobo gih! Udah malam, besok kan hari pertama kamu kerja?" kata Regan begitu perhatian pada Ara.
"Iya kak."
"Besok aku jemput ya?"
"Iya kak. Kakak juga tidur ya, mimpi indah kak." Ara kembali tersenyum, ia tidak mau sampai Regan melihatnya bersedih.
"Iya selamat' tidur Malaikat cantikku, i love you." pria itu memberanikan dirinya untuk menyatakan cintanya. Ia bahkan tersenyum bahagia saat melihat raut wajah Ara yang memerah.
"Kok diem aja sih?" tanya Regan berharap balasan.
"I love you too." balas Ara malu-malu.
"I Love you three, hehe." canda Regan yang membuat Ara terkekeh. Akhirnya panggilan video call itu pun diakhiri dengan salam. Kemudian dua insan yang belum lama lamaran itu, tertidur di dalam kamar mereka masing-masing.
Berharap memimpikan hari esok yang cerah, berharap segera resmi dalam ikatan pernikahan.
*****
Keesokan harinya, pagi itu Ara dan keluarganya berkumpul di ruang makan. Hari ini adalah hari pertama Ara bekerja di perusahaan papanya setelah lulus kuliah. Bryce tadinya menyarankan posisi tinggi pada Ara, tapi gadis itu menolak dan ingin bekerja di mulai dari nol. Ia tidak mau di spesialkan karena dia adalah Presdir.
Ketika sedang sarapan sambil berbincang hangat, seorang pembantu rumah tangga di rumah itu menghampiri Ara dan mengatakan bahwa seseorang sudah menunggunya didepan rumah.
"Siapa yang datang bi Ani?" tanya Ara sambil mengusap basah dibibirnya bekas minum.
"Tuan Bram, nona." jawab Ani.
Seketika Ara, Bryce, Sean dan Anna terkejut mendengar Bram datang. Mau apa pria itu datang kemari sepagi ini?
...*****...
Hai Readers yang baik β€οΈβ€οΈπ jangan bosan-bosan untuk komen ya ππ
Jangan lupa mampir ke novel ini ya, karya kak Chika SsiβΊοΈ sambil nunggu up lagi
__ADS_1