Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 24. Kamu boleh pergi, Ara


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Beberapa menit sebelum Anna melabrak Ara di rumahnya.


Rumah sakit.


Di dalam sebuah ruang rawat inap, terlihat Bram, Giselle dan seorang dokter wanita tengah memeriksa kandungan Giselle dengan USG.


Layar monitor menunjukkan kandungan Giselle yang masih kecil itu. Bram masih terus menggenggam tangan Giselle sampai dia melupakan pekerjaannya dan lebih menemani wanita itu di rumah sakit. "Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Bram tanpa sadar mengucapkan bahwa istrinya adalah Giselle.


Mendengar ucapan itu seketika hati Giselle menjadi bahagia dan kembali ia merasa menang dari Ara yang statusnya adalah istri sah dari Bram.


Terbesit rasa bersalah di dalam hati Giselle karena dulu pernah meninggalkan Bram, pria yang jelas-jelas mencintainya dan dia lebih memilih pria lain yang memiliki darah Prancis-indo. Maka sekarang Gisel tidak akan pernah melepaskan Bram, meski bayi yang dikandung olehnya bukanlah bayi Bram tapi bayi dari kekasihnya waktu di Paris.


"Bapak tidak perlu khawatir, keadaan istri bapak baik-baik saja. Janinnya juga tidak ada masalah apapun," dokter menjelaskan.


"Tapi istri saya merasa kesakitan dok! Tadi dia di dorong oleh is---wanita gila." kata Bram yang baru saja akan mengatakan bahwa Ara adalah istrinya, tapi dia jadi mengatakan wanita itu sebagai wanita gila.


"Sayang, aku nggak apa-apa kok. Udah ya jangan marah-marah sama Ara, kendalikan emosi kamu ya." kata Giselle seraya menenangkan emosi Bram dan berusaha untuk terlihat seperti malaikat di mata pria itu.


"Tapi Ara, dia sangat keterlaluan! Bagaimana bila terjadi sesuatu pada anak kita


"Apa kamu bilang? Siapa yang dorong anak saya?!" seru Anna yang sudah berada di ambang pintu dan sepertinya wanita itu telah mendengar semuanya. Begitu pula dengan Sean, kakak Giselle yang juga ada disana.


"Tante..." Bram langsung terdiam, lidahnya kelu.


"Siapa yang sudah dorong kamu, Giselle? Cepat bilang pada mama dan kakak?" tanya Anna mendengus kesal.


"Ma... Giselle gak apa-apa kok ma, udah jangan diperpanjang." Giselle berusaha menenangkan mamanya, walau dalam hati ia senang karena semua orang perhatian padanya apalagi menganggap ia rendah hati.


"Jawab saya, Bram! Apa istri kamu yang melakukannya?" tanya Sean kali ini dengan suara yang meninggi.


"Itu..."


"Brengsek! Beraninya dia mencelakai adikku!"


"Ini gak bisa dibiarkan! Mama mau temui dia, wanita itu harus diberi pelajaran karena sudah mencelakai anak dan calon cucu mama." Anna berapi-api, dia sangat menyayangi Giselle dan tidak mau terjadi sesuatu pada Putri kesayangannya itu.


"Aku ikut Ma. Pak Bram, tolong jaga adikku." kata Sean pada Bram sebelum ia dan ibunya pergi dari ruangan itu.


Ketika Sean dan Anna emosi, Bram sama sekali tidak peduli pada nasib Ara yang mungkin akan dilabrak oleh mereka. Yang dia pedulikan hanya Giselle dan calon anaknya saja.


Padahal Giselle tidak apa-apa, tapi Bram kekeh ingin Giselle diam dulu di rumah sakit. Giselle pun meminta Bram membelikannya makanan, ia sedang ingin kue Stoberi. "Bram, aku takut kalau Ara di apa-apain sama mama dan kakakku." kata Giselle dengan gelisah.


Ah bodoh amat! Sukur sukur dia sama bayinya mati.

__ADS_1


"Biarin aja! Dia emang pantas di berikan pelajaran, dia sudah buat kamu celaka." kata Bram tak peduli. "Udah ah jangan ngomongin dia lagi, aku mau beli cake stroberi dulu buat kamu dan anak kita." Bram mengecup kening Giselle dengan penuh kasih sayang, lalu dia pergi dari ruangan itu untuk membeli cake yang diinginkan oleh kekasihnya itu.


Tak lama setelah Bram pergi, Giselle mengambil ponselnya yang sudah dari tadi bergetar di dalam tasnya.


"Mau apalagi kamu Yos?" tanya Giselle dengan suara marah.


"Sayang, apa begini sambutanmu padaku hah? Aku masih kekasihmu sayang dan kau juga sedang mengandung anakku."


"Kenapa kamu baru mengakuinya bahwa anak ini adalah anakmu? Waktu itu kamu mengusirku," ucap Giselle sarkas.


"Waktu itu aku khilaf baby, sekarang aku sudah sadar bahwa aku salah. So, aku akan segera menemuimu."


"TIDAK! Jangan berani-beraninya kau menemuiku apalagi mengaku bahwa kau adalah ayah dari anakku karena SUDAH ada pria baik yang bertanggung jawab atas anak ini!"


"APA?"


"Aku akan kesana dan memberitahukan kepada pria itu bahwa benih yang ada di dalam rahimmu adalah milikku. Ah ya, aku juga bisa membunuhnya!"


"JANGAN!" Giselle berteriak ketakutan.


"Bye baby, aku akan segera menemuimu."


Setelah itu telepon pun terputus, Giselle seketika menjadi panik ketika kekasihnya yang bernama Yoshua akan menemuinya. Bisa-bisa rencananya untuk mendapatkan pria baik dan kaya menjadi gagal total.


Tanpa Giselle sadari, ada seseorang diluar ruangan itu yang merekam percakapannya dengan Yoshua.


Rumah Ara dan Bram.


Setelah menampar Ara, entah kenapa perasaan Anna menjadi tidak nyaman. Terlebih lagi saat melihat wajah polos Ara yang tampak tidak asing baginya. Sean juga terkejut melihat wajah wanita yang sudah mencelakai adiknya itu.


Ada perasaan aneh didalam diri mereka saat bertemu dengan Ara. "Kenapa wanita ini mirip dengan mama? Ah...gak mungkin! Ingat dia Sean, dia yang sudah melukai adikmu." batin Sean.


"Maaf Bu, ada apa ibu datang kesini dan tiba-tiba menampar saya?" tanya Ara tak terima.


"Kamu kan yang sudah mendorong anak saya? Saya tau kamu benci pada anak saya ,tapi kamu tidak boleh mencelakai anak saya begitu." omel Anna pada Ara, dengan dada yang bergemuruh. Tapi hatinya merasa aneh melihat sepasang mata berwarna coklat muda milik Ara itu


"Saya tidak pernah mendorongnya Bu," kata Ara tegas. Ara tidak akan pernah mengakui kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.


"Jangan pura-pura tidak tahu ya kamu! Saya tau kamu ingin menyingkirkan anak saya dan calon cucu saya." hardik Anna marah-marah pada Ara.


"Siapa yang menyingkirkan siapa Bu? Putri ibu yang berusaha menyingkirkan seorang istri dari suaminya." jelas Ara sambil menahan tangis.


Ya Allah, kenapa saat melihat ibu mbak Giselle, hatiku merasa aneh?


"APA?"

__ADS_1


"Putri ibu pelakor dan drama queen, apa ibu tau itu?" Ara kesal.


Kali ini Sean yang memberikan tamparan pada Ara, cukup keras sampai bibirnya terluka dan wanita itu terhuyung. Aneh, hati Anna merasa kasihan melihatnya. Tapi dia teringat lagi dengan Giselle yang terbaring di rumah sakit. Tentu saja dia akan membela Giselle.


"Kamu--"


"Cukup Bu Anna, hentikan semua ini!" teriak seorang pria yang berada di depan halaman rumah itu.


Anna dan Sean menoleh ke arah suara itu, terlihat Aryan tengah berjalan dengan membawa tongkatnya. Ditemani oleh Deni, seperti biasanya.


"Opa!" Ara langsung menyalami tangan Aryan dengan sopan.


Aryan emosi melihat wajah Ara yang lebam karena ulah Sean. Lalu ia pun memukul kaki Sean dengan tongkatnya.


"Auw!!"


"Pak Aryan!" serka Anna seraya menatap Aryan dengan tatapan tajam.


"Berani sekali kalian melukai menantu keluarga Wiratama!" teriak Aryan emosi. Jujur, Aryan sakit hati melihat Ara diperlakukan seperti itu oleh Anna dan Sean.


Aryan pun meminta Anna dan Sean untuk meminta maaf pada Ara, namun mereka menolak untuk meminta maaf. Menurut mereka, ini belum seberapa dengan apa yang terjadi pada Giselle. Anna juga mengatakan bahwa dia mengharapkan ketegasan dari Aryan agar Bram segera bertanggung jawab pada Giselle.


Setelah Anna dan Sean pergi dari sana, Aryan menghampiri Ara dan berusaha untuk menghiburnya. Ara mencoba bersikap seperti biasa meskipun sebenarnya air matanya ingin sekali keluar.


"Opa, opa mau minum apa?"


"Ra...maafkan opa nak, maafkan opa!" Pria tua itu tertunduk sedih, bulir air matanya mengalir deras.


"Opa, kenapa opa minta maaf sama Ara? Apa salah opa?" Ara menggenggam tangan keriput itu, matanya berkaca-kaca.


"Opa sudah egois, opa pikir Bram akan berubah dengan kamu terus berada di sisinya dan opa malah membiarkanmu menderita. Maafkan Opa, Ara...hiks...maaf...tau begini, opa tidak akan memaksamu!" Rasa bersalah membuat dada Aryan sesak, ia tidak mau Ara terus menderita batin. Tak baik juga bukan untuk bayinya.


"Ini bukan salah opa, ini salahku yang tidak cukup kuat untuk mengambil hati mas Bram. Aku tidak bisa menang karena aku lemah, Opa."


"Tidak Ra, kamu kuat...kamu kuat bertahan sampai sejauh ini! Sekarang kamu boleh pergi Ara."


Ara tercekat mendengar ucapan Aryan, air mata pun jatuh membasahi pipinya. "Opa...apa Ara boleh pergi?"


"Iya nak, kamu boleh pergi ke rumah Bu Ratih atau ke rumah Opa. Opa yang akan mengurus cucu dan calon cicit opa." kata Aryan sambil memeluk Ara. Mungkin lebih baik melepaskan, jika bertahan itu menyakitkan.


Dan ya, saat itu juga Ara mengemasi barang-barangnya. Ia pergi ke rumah Ratih diantar oleh Deni dan Aryan. Lebih baik begini daripada hatinya terus terluka.


...******...


Hai Readers, author mohon pengertiannya...kalau gak suka cerita author jangan kasih rating 1, cukup tinggalkan saja. Dan jangan tinggalkan komen yang bisa membuat seseorang tak nyaman 😊 Mending kasih bintang 5 aja.

__ADS_1


Jangan lupa ini hari Senin, author minta gift, vote atau komennya dong😍 dan mohon bersabar untuk Penyesalan si Bram.


__ADS_2