Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 35. Ara adalah keluarga Gallan


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Disinilah Ara berada, kampung mendiang ayah dan ibunya. Desa Mekarwangi, sebuah kampung yang masih asri dengan berjejer banyak pepohonan disana, udaranya juga cocok untuk menenangkan diri.


Alasan Ara memilih kampung orang tuanya, sebagian besarnya karena ingin menenangkan dirinya. Sambil menunggu sidang cerai kedua dan mungkin sidang terakhirnya.


"Ibu, Ayah, kakek...maaf Ara baru datang sekarang. Udah lama Ara gak kesini, maafin Ara ya Bu...ayah...kakek. Ara tidak bisa mempertahankan rumah tangga Ara, entah Ara yang tidak baik atau memang ini sudah takdir dari Yang maha kuasa. Ara sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Ara dan mas Bram, tapi kapal rumah tangga kami sudah karam. Maafkan Ara karena Ara sudah mengecewakan Ayah, ibu dan kakek disana. Ara mohon...jangan sedih ya? Ara baik-baik aja kok, Ara bisa hidup sendirian dan menggapai cita-cita Ara. Percayalah bahwa tanpa mas Bram, Ara juga akan bahagia. Doakan Ara ya Bu, ayah, kakek...." lirih Ara seraya membersihkan nisan makam, ibu, ayah dan kakeknya.


Sebelum pergi meninggalkan pemakaman itu, Ara berdoa untuk ketenangan orang-orang terkasihnya di alam sana dan meminta restu untuk memulai hidup yang baru.


Sudah terlalu sakit untuknya hidup didalam rumah tangga yang tidak pernah membuatnya bahagia. Dia juga sudah kehilangan anaknya, apalagi yang tersisa? Cinta? Meskipun cinta masih ada, tapi apa gunanya? Jawabannya saat ini adalah rela, ikhlas lalu bahagia.


Ara sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, ia ingin berada dalam mode tenang dan hening untuk saat ini selama berada di desa. Setelah dari makam, Ara pergi ke rumahnya yang sederhana jauh dari keramaian. Rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi, dimana banyak kenangan masa kecilnya disana.


"Ibu...ayah...kakek...hiks..." tanpa sadar wanita itu menangis, terbayang bagaimana kebahagiaan masa kecilnya dulu bersama ibu, ayah dan kakeknya dirumah itu. Tapi sekarang ia tak punya siapapun dan ia sendirian. "Nggak! Aku gak boleh berfikir kalah aku sendirian, aku masih punya Mia, tante Ratih dan pak Re--"


Ara terdiam saat akan mengucapkan nama Regan, entah kenapa nama pria itu menjadi penting untuknya. "Pak Regan? Kenapa tiba-tiba aku kepikiran dengannya? Tapi--aku tidak pamit dulu pada pak Regan, seharusnya aku pamitan dulu kan?" gumam Ara memikirkan Regan. Sosok pria yang selalu menolongnya.


"Eh! Neng Rara, kamu teh ada disini?"


Suara yang memanggil namanya itu, sontak membuat Ara membalikkan badan dan melihat siapa yang ada disana. "Bu Ijah?"


"Masya Allah, udah berapa bulan kamu gak kesini nak?" sambut Ijah ramah. Ijah adalah tetangga dekat Ara dan dekat juga dengan keluarganya.


Dengan sopan Ara mencium tangan Ijah, mengucapkan salam. "Hehe sekitar 4 bulan bu,"


"Sejak kamu menikah ya? Hem..kamu teh sendirian neng, mana suamimu? Ibu belum pernah lihat dia datang kesini," jelas Ijah yang membuat Ara terdiam bingung mau menjawab apa.


****


Jakarta, siang hari.


🏑 Rumah Ratih🏑


Keluarga Gallan tengah berkumpul di ruang tengah rumah sederhana itu. Terlihat Mia menyimpan gelas berisi air minum ke atas meja, tepat didepan Sean, Anna dan Bryce.


Sebagai tuan rumah, mau suka atau tidak suka. Ratih dan Mia tetap menyambut dengan baik kedatangan keluarga Gallan, kecuali Bram. Mereka tidak bisa menahan rasa tidak suka mereka terhadap pria itu.

__ADS_1


"Mohon maaf, ibu, bapak, nak Sean...ada apa ya kalian datang kemari dan bawa banyak barang-barang juga? Ini sungguh membuat saya terkejut." Ratih memulai lebih dulu untuk bicara, sebab sedari tadi keluarga Gallan terlihat bingung.


"Ini semua untuk ibu, Mia dan juga Ara. Mohon diterima ya Bu," balas Anna seraya tersenyum.


Sementara itu Sean dan Bryce saling melirik bingung, entah apa yang akan mereka katakan hingga membuat gelisah.


Sebenarnya hari ini mereka berencana untuk menemui Ara, memberitahukan pada Ara tentang identitasnya. Bahwa Ara adalah bagian dari keluarga mereka sebab Anna, Bryce dan Sean tidak tahan ingin membuat Ara bahagia bersama mereka. Dengan status keluarga Gallan, Ara tidak akan diremehkan lagi.


"Tapi apa maksudnya semua ini Bu, pak, nak Sean? Sebenarnya kenapa kalian selalu datang kemari? Jika karena masalah Ara, jangan khawatir. Dia bilang kalau dia sudah memaafkan kalian," jelas Ratih pada mereka bertiga.


"Sebenarnya kedatangan kami kali ini berbeda dan alasan sebenarnya kami sering kemari karena Ara. Ara adalah bagian dari keluarga kami," jelas Bryce yang membuat Ratih dan Mia terkejut mendengarnya.


"Ara adalah keluarga kalian? Itu tidak mungkin--" Ratih terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bryce.


Akhirnya Anna yang bicara dan menjelaskan semuanya dari mulai mereka kehilangan Lyodra yang diculik, dibawa orang gila dan jejak terakhir anak bungsu mereka berada di Bandung. Setelah itu Lyodra di ketahui telah meninggal dalam sebuah kebakaran besar bersama orang gila yang menculiknya.


"Lalu tanpa sengaja kami menemukan gelang ini," ucap Anna sambil menunjukkan gelang milik Ara pada Ratih dan Mia. Ibu dan anak itu mengenalnya dengan baik, gelang merah tersebut adalah gelang pemberian orang tua Ara.


"Ini memang gelang Ara..." lirih Ratih sambil menutup mulutnya yang menganga. Ia pun terisak.


"Kami...kami adalah keluarga kandung Ara, kami kesini untuk mengakuinya...hiks..." Anna menangis di dalam dekapan suaminya, ia tak sabar ingin bertemu dengan Ara dan mengakui semuanya.


"Ibu, mana Ara Bu? Bisakah ibu memanggilnya kesini? Kami ingin bertemu dan bicara padanya."


"Maaf, tapi Ara tidak ada disini. Dia sudah pergi,"


Sean, Bryce dan Anna tercengang mendengarnya. "Ara pergi kemana Bu? Dia..." Anna terlihat panik.


"Ma, mama tenang ma!" Sean berusaha menenangkan mamanya, takutnya Anna sakit lagi. Selama beberapa hari ini kesehatan Anna dan Bryce terganggu dengan masalah Ara, lalu tadi siang Giselle yang memaksa untuk segera dinikahkan dengan Bram. Membuat kedua orang tua Sean jadi pusing.


"Ara pergi ke kampung mendiang orang tuanya,"


"Tolong Bu! Berikan kami alamatnya! Kami harus bertemu dengan putri kami,bu." pinta Bryce seraya memohon pada Ratih.


Tak ada alasan bagi Ratih untuk tidak memberitahukan alamat Ara kepada keluarga kandungnya. Pikir Ratih, mungkin keluarga kandung Ara ini sudah berubah.


****

__ADS_1


Malam itu...


Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya keluarga Gallan sampai di desa tempat Ara berada. Ditengah-tengah perjalanan, Anna yang berada didalam mobil melihat Ara tengah berjalan di jalanan sepi dan diganggu dua orang pria.


"Sean, Stop! Itu Ara!" kata Anna pada Sean yang menyetir mobil.


Sontak Sean langsung me mencet padahal rem mobilnya.


Terlihat di tempat sepi itu, tangan Ara ditarik-tarik oleh dua orang pria dengan paksa. "Lepas, mas Bimo! Tolong jangan begini!"


"Ayolah Ara, ngaku saja kalau kamu teh sudah jadi janda! Suami kamu juga gak pernah terlihat, apa jangan-jangan kamu ini istri kedua di kota sana?" ejek Bimo, pria yang berstatus sebagai anak lurah disana dan dia menyukai Ara.


"Jangan bicara sembarangan! Saya...saya..."


Ara juga bingung mau jawab apa, dia memang janda.


"Sudahlah Ara, lebih baik kamu teh ikut nongkrong sama kita kita!" ajak Riki, sembari mencekal tangan Ara dan menyeret wanita itu.


"LEPAS! TOLONG!" teriak Ara meminta pertolongan, ia takut di apa-apakan oleh Bimo dan Riki.


Brugh!


Kedua pria itu jatuh tersungkur ke tanah setelah di pukul dan ditendang oleh seorang pria.


"Berani sentuh dia! Kalian akan berhadapan dengan SAYA!" tunjuk pria itu pada Riko dan Bimo penuh kemarahan.


Kenapa dia ada disini? Kenapa?


Ara menatap pria yang menolongnya itu dengan penuh kemarahan dan kebingungan. Mengapa pria itu ada disana. Lalu mengapa keluarga Gallan ada disana juga, Ara sangat bingung.


...****...


Hai Readers ku tercinta... insyaallah novel ini akan up 2 bab sehari, jadi author mohon dukungannya ya ☺️ dengan komen, vote, gift


Btw sambil nunggu up novelku, mampir sini ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2