Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 72. Senasib


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Setengah jam yang lalu, sebelum Bram berkelahi dengan beberapa orang pria di bar.


****


Ketika yang di kamar hotel sedang asyik memadu kasih, mereguk indahnya malam pertama sebagai pengantin baru. Di tempat hiburan malam terlihat seorang pria tengah duduk sendirian didekat tempat duduk bartender. Ya, dia adalah Bram. Pernikahan mantan istrinya itu sungguh membuatnya patah hati.


Tapi jangan salah paham, dia datang kesana bukan untuk melampiaskan kekesalannya dengan mabuk-mabukan. Sungguh, ia sudah berhenti meneguk minuman haram itu sebab ia teringat ucapan Ara padanya 2 bulan yang lalu.


...Mas...tolong jangan minum-minuman keras lagi. Jika mas masih sayang pada diri mas. Perpisahan kita jangan mas jadikan alasan untuk hancur, jujur saja...aku tidak suka melihat mas hancur seperti ini. Mari kita sama-sama bahagia mas, dengan hidup kita masing-masing....


Lalu untuk apa dia datang kesana? Tentu saja untuk curhat pada temannya yang seorang bartender disana, yaitu Bima. Bima adalah teman SMA-nya yang mudah diajak bicara ketimbang teman-temannya yang lain.


"Jadi gimana rasanya Bram? Nano nano kan lihat mantan istri Lo nikah duluan sama cowok lain?" ejek Bima seraya menyajikan minuman soda untuk Bram. "Lagian sih Lo, udah dikasih istri bening, baik, Sholehah, malah Lo sia-siain. Lo malah pilih kucing garong." sambungnya lagi dan membuat Bram mendengus marah.


"Ckckck...ya gue salah, gue tau gue bego." sahut Bram sambil menyugar rambutnya dengan kasar. "Tapi Lo tenang aja, dia pasti bentaran doang sama suaminya."


"Bram, jangan bilang Lo mau jadi pebinor hah?"

__ADS_1


CEO dari Wiratama grup itu tersenyum menyeringai setelah meneguk sodanya yang ada didalam gelas. "Pebinor? Gak lah, gue cuma ngambil cinta gue yang ada sama cowok itu. Dan cowok itu cuma jagain jodoh gue doang." kilah Bram yang masih beluk menerima takdir bahwa hati dan tubuh mantan istrinya sudah menjadi milik Regan Dirgantara, pria yang jelas lebih segalanya darinya.


Namun Bram masih belum menyerah, ia akan mendapatkan Ara kembali bagaimana pun caranya.


"Lo jangan gila Bram! Dia udah jadi istri orang, mending Lo cari cewek lain. Gue yakin duren kayak Lo masih laku kok di pasaran." kata Bima sambil terkekeh.


"Gue tau itu, tapi gue cuma mau dia. Mungkin cewek cantik dan seksi banyak, tapi buat dijadikan sebagai istri. Cuma Ara yang cocok, gak ada cewek lain dan selama ini dia adalah istri yang baik buat gue." sesal Bram.


"Penyesalan Lo udah terlambat Bram, itu sih menurut gue ya. Mending Lo terima kenyataan. Dan coba jalani hubungan lain, jangan kalah sama mantan istri Lo. Contohnya tuh sama Bu dokter disana!" seru Bima seraya melirik seorang gadis yang sedang minum alkohol sendirian di pojokan sambil menangis.


Sontak Bram juga melihat pada wanita itu dan dia adalah Tania. Wajah Tania terlihat patah hati dan frustasi. "Sorry, dia bukan tipe gue. Apalagi dia minum minuman keras." ucap Bram tersenyum remeh.


Itu karena mereka senasib, sama-sama patah hati ditinggal nikah. Bram melihat wanita itu dengan kasihan.


Tak lama kemudian, 3 orang pria mendekati Tania bahkan meraba-raba tubuh Tania dengan kurang ajar. Bram tidak bisa diam saja melihat ada wanita yang dimanfaatkan seperti itu.


"Kurang ajar! Lepaskan saya!" teriak Tania yang berusaha melepaskan dirinya dari tangan salah seorang pria yang mencekalnya.


BUGH!

__ADS_1


Bram menendang dan memukul wajah pria itu hingga terjengkang.


"Berani Lo sama cewek, HAH?!" hardik Bram pada pria itu.


"Brengsek!" tukas pria itu sambil meludahkan darah dari mulutnya. "Berani Lo ganggu kesenangan GUE!" sentak pria berbadan besar itu.


Sementara itu disana ada Tania yang melihat perkelahian Bram dengan panik. "TOLONG! Tolong hentikan!"


Akhirnya petugas keamanan di tempat hiburan malam itu datang untuk melerai setelah terjadi adegan baku hantam antara Bram dan tiga orang pria itu. "Kamu gak apa-apa?" tanya Tania saat melihat wajah Bram yang lebam-lebam.


"Saya tidak apa-apa." sahut Bram cuek.


"Saya akan obati anda, saya seorang dokter." kata Tania datar.


"Seorang dokter? Tapi kenapa tidak bisa jaga diri? Apa dokter tidak tahu bahaya alkohol?" gumam Bram pelan.


"Apa kamu bilang barusan?!" sentak Tania dengan tatapan tajamnya pada Bram.


...****...

__ADS_1


__ADS_2