Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 80. Keanehan Ara


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah meminta maaf pada Ara dan semua keluarganya, Giselle memutuskan untuk pergi ke panti asuhan. Mengabdikan dirinya disana untuk berubah menjadi lebih baik. Tak hanya itu, kalau dia beruntung dia bisa saja menemukan titik terang tentang orang tua kandung yang membuangnya.


*****


2 Minggu kemudian...


Di rumah kakek Regan.


Pagi itu, Regan terbangun lebih awal dan ia melihat istrinya masih terlelap. Regan terheran-heran sebab Ara biasanya bangun lebih pagi dan membangunkannya. Tapi dalam seminggu ini Ara terlambat bangun, setelah shalat subuh wanita itu kembali tidur, padahal biasanya ia tidak begitu. Ara juga sering mengeluh ngantuk dan bahkan ia malas untuk mandi. Sepulang kerja, Ara banyak makan dan tak ayal dia tidur lebih awal.


Astagfirullah, istrinya ini kenapa? Regan bingung sendiri dengan sikapnya. Regan tau istrinya bukan pemalas. Regan tidak apa-apa istrinya bersikap begini, tapi ia merasa aneh saja. Seperti ada apa-apa dengan istrinya, tapi apa? Ah ya, dan dia ingat juga Ara pernah minta es kelapa muda tengah malam.


..."Mas...tiba-tiba aku mau es kelapa muda,"...


..."Hah? Tengah malam gini?!"...


"Kamu kenapa sih sayang? Apa kamu sakit?" bisik Regan pada istrinya seraya menatap wajah cantik itu.


"Eunghh--" lenguhan terdengar dari wanita cantik yang terbaring diatas ranjang itu. Perlahan ia membuka matanya dan melihat wajah sang suami didepan matanya. Wajah tanpa ada belek, tampan dan shiningnya luar biasa. Membuat Ara betah memandangi wajah tampan suaminya.


"Udah bangun sayang?" sapa suara lembut Regan yang menyadarkan Ara dari tidur cantiknya.


Buru-buru wanita itu beranjak duduk di tempat tidurnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, matanya pun terbuka lebar.


"Astagfirullah Mas! Maaf aku bangun kesiangan lagi," kata Ara merasa bersalah. Dalam seminggu ini ia selalu bangun kesiangan. "Aku siapkan air hangat sama baju dulu ya, mas. Terus aku mau masak sarapan juga." Ara beranjak dari tempat tidurnya.


Cup!


Langkah Ara turun dari ranjang itu terhenti manakala Regan menarik tangan sang istri dan mencuri kecupan dibibirnya. "Santai aja sayang. Aku siapin sendiri aja,"


"Mana bisa gitu, aku istri kamu mas. Aku harus menyiapkan semua kebutuhanmu." jelas Ara dengan bibir mengerucut.


"Kamu istriku sayang, bukan pembantuku. Lagian aku bisa melakukannya sendiri, kamu gak usah cemas. Mendingan kita ke dokter hari ini," tukas Regan.


"Hah? Kok ke dokter sih?" Ara mengernyitkan keningnya di penuhi rasa heran dengan ajakan Regan.


"Aku ngerasa ada yang aneh sama kamu. Kamu sering capek dan pusing. Mending kita periksa aja yuk sayang!"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa mas, ini cuma kecapean aja kok. Gak usah pake acara ke dokter segala. Udah ah, kita harus siap-siap ke kantor kan!" cetus Ara sambil beranjak bangun dan buru-buru masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya. Regan melihat sang istri dengan heran dan cemas. "Aku yakin ada yang aneh." gumam pria itu pelan.


Regan menyusul istrinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat Ara baru saja selesai mengisi bathub dengan air hangat. Tepat saat wanita itu membalikkan badannya, kepalanya membentur sesuatu.


"Auch!"


Tubuh Ara oleng, tapi untunglah ada sang suami yang merengkuh pinggang mungilnya agar tidak jatuh. Kini tubuh mereka pun saling berhimpitan. "Mas! Aku kira siapa," Ara menatap suaminya.


"Emang kamu pikir aku siapa sayang? Mang Herman? Mang Didin?" goda Regan pada istrinya yang masih dalam mode terkejut itu.


Kedua mata Ara terbuka lebar menatap suaminya. "Mas! Kenapa malah nyebutin nama cowok lain sih? Masa mas cemburu sama mang Herman, sama mang Didin sih?"


Mang Herman dia adalah satpam di rumah itu sedangkan mang Didin adalah supir dadakan sekaligus merangkap jadi tukang kebun di rumah Regan. Rumah yang telah disiapkan Regan untuk ditinggali berdua bersama istrinya. Mereka memutuskan untuk tinggal berdua, tanpa campur tangan orang tua. Tapi walaupun begitu, Ara dan Regan tetap tidak lupa pada orang tua. Mereka berkunjung 1 Minggu sekali ke tempat keluarga Ara dan juga kakek Regan. Ada kalanya mereka menginap di hari libur.


"PFut...masa iya aku cemburu sama mereka? Memangnya kamu tidak puas sama suamimu ini sampai aku harus cemburu?" goda Regan seraya menarik tengkuk Ara dengan lembut. Tatapannya sudah lapar di pagi hari dan Ara sudah bisa menebak, akan mengarah kemana.


Dan benar saja, tak lama kemudian kedua bibir pasangan halal itu beradu, saling bertukar saliva. Suara decapan terdengar menggema di kamar mandi itu. Hingga, Regan melepaskan pagutan itu lebih dulu.


"Kita mandi bareng yuk sayang." ajak Regan seraya membuka kancing piyama tidur Ara dengan tangan nakalnya. Ara me


"Mas... mending mandi sendiri deh, aku mau masak dulu sambil nunggu mas mandi." jawab Ara gugup seraya memalingkan wajahnya, menutupi rona merah di pipinya.


"Terakhir kali mas bilang gitu, terus..."


"Kali ini gak, aku janji. Mandi aja kok, aku mau manjain istriku. Kasihan kamu capek sama pusing." bujuk Regan pada istrinya itu. Akhirnya Ara luluh dan ikut mandi bersama suaminya, benar-benar hanya mandi tidak ada yang lain selain itu.


Bahkan Regan juga memijat tubuh istrinya dan ia merasa keanehan lagi pada Ara. Istrinya lagi-lagi mengeluh ngantuk padahal baru bangun.


*****


Seperti biasanya, Ara dan Regan menjalani aktivitas di kantor pada hari Senin-Sabtu. Ara sudah naik pangkat di kantor papanya, ia menjadi wakil divisi pemasaran berkat kemampuannya.


"Bu Haura, ini laporan kemarin. Sudah saya revisi!" kata Nila seraya menyerahkan laporan pada Ara yang sudah naik jabatan lebih dulu daripada dirinya. Tapi dia tidak merasa iri sama sekali karena walaupun Ara adalah putri pemilik perusahaan, wanita itu mampu menunjukkan bahwa dirinya pantas di posisi itu.


Kerja keras dan semangat, membuat semua orang mengakui Ara tanpa ada embel-embel putri Presdir dan sebagainya. Ara senang karena semua orang mengakui kemampuannya.


"Kamu gak usah panggil aku ibu, kita kan teman Nil." kata Ara sambil melihat-lihat laporan yang diberikan Nila.


"Gak enak dong, masa di kantor panggil Ara. Nanti deh kalau udah beres jam kantor, baru aku panggil Ara hehe." celetuk Nila sambil terkekeh.

__ADS_1


Ara bekerja kantoran, sementara Mia. Dia sekarang bekerja sebagai manager restoran di cafe Chocolate Lovers G milik Gina. Mia tak suka kerja kantoran, padahal ia satu jurusan dengan Ara. Tapi ijazahnya masih bisa di pakai bukan? Mia nyaman seperti ini.


Gina mengalihkan cafe tersebut kepada Mia sebab ia pergi keluar negeri dan menetap disana bersama suaminya. Gina juga pengantin baru, tapi pernikahannya diadakan tertutup. Bahkan Ara tidak tahu Gina sudah menikah kalau Regan tak memberitahukannya.


🍀Cafe Chocolate Lovers G 🍀


Mia terlihat sedang mengawasi banyak pelanggan yang datang kesana. Dia terlihat bahagia dengan pekerjaannya ini.


"Bu Mia!"


"Ya? Ada apa Intan?" tanya Mia pada seorang wanita muda yang menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Cowok itu...dia ada disini lagi, Bu." kata Intan sambil menunjuk pada seorang pria tampan dengan setelan jas rapi tengah duduk di salah satu meja. Dia adalah pria yang mengejar Mia.


"Robby? Dia lagi?" Mia mendesah kasar melihat pria itu. Apalagi saat Robby melambaikan tangan padanya.


"Dia bilang mau ketemu ibu," bisik Intan.


Mia pun datang menghampiri Robby, teman kampusnya yang sekarang sudah menjadi manager di sebuah perusahaan besar.


"Akhirnya kamu kesini juga Mi, waktuku gak banyak."


"Ngapain lagi kamu kesini, Robby?" tanya Mia jutek seperti biasanya.


"Menurutmu aku datang ke cafe mau ngapain?" Robby malah bertanya balik.


"Oke, jadi kamu mau pesan apa? Jangan ganggu pelayan lain." kata Mia ketus.


"Aku gak akan gangguin pelayan lain kalau kamu datengin aku langsung kayak gini." kata Robby sambil tersenyum dan menatap Mia penuh perasaan.


"Jadi kamu mau pesan apa? Buruan! Aku harus cek lantai dua, Rob." Mia bersiap dengan buku catatan kecil dan ponselnya.


Tanpa diduga-duga sebelumnya, Robby menarik tubuh Mia lalu mengecup pipinya. Mia terdiam dan ia hendak melayangkan tinjunya pada Robby. Tapi seseorang sudah meninju Robby lebih dulu, sampai pria itu terjatuh.


"Brengsek Lo! Berani Lo cium cewek gue!" seru pria berkulit putih itu dengan suara yang meninggi pada Robby.


'Dia bilang apa? Cewek gue?' batin Mia kaget dengan ucapan pria itu.


...****...

__ADS_1


__ADS_2