Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 56. Regan penyelamat


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ara kembali memuntahkan makanan yang bahkan baru menyentuh bibirnya dan belum masuk ke dalam kerongkongan apalagi sampai ke perutnya.


Entah kenapa dia ingin muntah ketika ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya, ia teringat ketika salah satu pria itu memaksa mencium bibirnya, bahkan lidah si pria berusaha masuk ke dalam mulutnya. Astagfirullah, ia merasa sangat kotor.


Kedua orang itu menatap Ara cemas, mereka tidak menyangka bahwa Ara akan trauma dengan pelecehan yang dialaminya. Jangan pernah meremehkan kondisi mental seseorang, karena kondisi seseorang berbeda-beda.


Regan dan Mia berusaha untuk menanggapi kondisi Ara sebagai syok sesaat. Belum sampai tahap gangguan mental, amit-amit bila itu sampai terjadi. Mereka yakin Ara tidak selemah itu dan apa yang terjadi saat ini hanyalah bersifat sementara saja.


"Ra...kamu tenang ya." lirih Regan berusaha untuk menenangkan gadis itu.


"Tubuh ini...tubuhku sudah kotor! Aku benci, ini sudah kotor!!" teriak Ara histeris, lalu ia mencakar cakar lehernya sendiri sampai berdarah.


"Astagfirullah! Ara jangan, hentikan!" teriak Mia kaget dengan apa yang dilakukan Ara saat ini.


"Stop Ara! Stop! Saya tau kamu tidak selemah itu!" Regan memegangi tangan Ara, agar wanita itu tidak menyakiti dirinya lain. Sungguh hatinya hancur melihat malaikat kecilnya terluka begini. Rasanya memenjarakan orang-orang itu tidak cukup untuknya, ia mulai berpikir untuk membuat hidup Yoshua dan ketiga anak buahnya seperti hidup enggan mati pun tak mau.


"Lepaskan saya PAK REGAN! LEPASKAN!" teriak Ara semakin histeris seraya merantau-ronta minta untuk dilepaskan.


Tau apa jadinya bila Regan melepaskan genggaman dan cengkeraman tangannya? Pasti Ara akan mencoba menyakiti dirinya lagi, sekarang saja lehernya sudah berdarah-darah karena dia cakar-cakar. Regan tidak mau hal itu terjadi, ia tak mau Ara terluka.


"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu! Tenangkan diri kamu Ara, saya mohon! Semuanya sudah baik-baik saja, tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Saya janji..." lirih Regan seraya membujuk Ara, ia sungguh-sungguh akan menjaga wanita itu dan tidak akan pernah membiarkan Ara si malaikat kecilnya terluka lagi.


Ara masih menangis, tapi tangannya tak memberikan perlawanan lagi. Ia terdiam lalu bersandar di pelukan Regan. Kata-kata Regan berhasil menenangkannya.

__ADS_1


"Hiks...aku sudah kotor...aku sudah kotor, aku wanita yang buruk."


"Tidak! Kamu bukan wanita yang buruk, tidak Ra." ucap Regan seraya mengusap lembut kepala hingga ke punggung gadis itu. Tak lama kemudian, wanita itu tak bergeming dalam pelukan Regan.


"Ra...Ara?" Regan mengurai pelukannya, ia cemas tak kunjung mendapatkan respon dari Ara. Hingga Regan dan Mia melihat tubuh Ara terkulai lemah dalam keadaan mata yang terpejam. Dan ya, gadis itu tak sadarkan diri.


"Ara!" pekik Mia terkejut.


"Mia, tolong panggil dokter!" titah Regan pada Mia sembari membaringkan tubuh Ara di atas ranjang.


"Baik pak!"sahut Mia lalu pergi keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter.


Ya Allah saking paniknya aku...aku lupa memanggil dokter.


*****


"Alhamdulillah sekarang keadaan Bu Haura sudah jauh lebih baik. Saya ucapkan selamat untuk Bu Haura atas kesembuhannya." ucap Tania, psikolog yang menangani Ara selama dalam masa penyembuhannya.


"Terima kasih dok, terimakasih karena dokter sudah membantu saya." Ara mengucapkan sangat berterima kasih kepada Tania Karena wanita itu telah banyak membantunya dalam proses pemulihan mental dan batinnya.


"Tidak, tolong jangan berterima kasih kepada saya. Ini semua berkat diri ibu sendiri dan juga dukungan orang terdekat ibu. Saya hanya berperan sebagai mediasi disini." dokter psikolog muda itu tersenyum manis.


Tak lama kemudian, Ara keluar dari ruang konsultasi karena ia mendapatkan pesan dari Regan bahwa pria itu sudah berada di depan ruang konsultasi. Tania mengantar Ara keluar dari ruangannya dan saat melihat Regan, gadis bernama Tania itu tak berhenti menatapnya.


"Kamu udah selesai Ra?"

__ADS_1


"Iya kak, aku sudah selesai." jawab Ara sambil tersenyum melihat pria itu.


Kini mereka sudah berbicara informal dan tidak formal seperti biasanya. Sebab selama satu bulan itu Ara dan Regan semakin dekat saja. Ara mulai memanggil pria itu dengan panggilan kakak dan bicaranya pun jadi aku-kamu agar lebih akrab.


"Kita bicara sambil makan siang yuk. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu." Regan menggandeng tangan Ara, ia tak sabar ingin mengatakan sesuatu pada Ara.


Regan sungguh tidak nyaman melihat tatapan Tania kepadanya. Ia membuang muka dan menatap Ara saja.


"Tunggu kak, aku belum pamit sama dokter Tania." kata Ara seraya melepaskan genggaman tangannya dari pria itu. Ara merasa tidak enak sebab Tania berada di sana namun dia seperti makhluk tak kasat mata.


"Nggak usah," ucap Regan malas.


Apaan sih nih cewek? Kenapa ngeliatin aku sampai kayak gini?


"Nggak sopan dong kak." lirih Ara lembut yang selalu menenangkan hati Regan. Sampai pria itu tidak bisa bilang tidak.


"Dokter Tania, sekali lagi saya berterima kasih untuk semua yang telah dokter lakukan kepada saya. Dokter selalu membantu saya selama saya dalam masa penyembuhan. Lain kali, saya akan mengundang dokter Tania untuk makan malam bersama." jelas Ara pada Tania.


"Iya baiklah," jawab Tania seraya melirik Regan, tapi pria itu cuek saja.


Padahal aku lebih cantik darinya, tapi kenapa dia tidak meliriku sama sekali? Batin Tania kesal.


"Ayo Ra! Kalau kamu telat makan, nanti maag kamu kambuh." ucap Regan perhatian bak kekasih yang sangat sayang pada Ara.


Ya, selama 1 bulan itu Regan selalu meluangkan waktunya untuk bersama Ara. Selama itu pula, Ara merasa bersyukur kepada Allah karena telah menghadirkan sosok Regan di dalam hidupnya. Regan seperti penyelamat di dalam hidupnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2