Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 70. Boleh mas cium?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Beberapa menit sebelum pernikahan, Bram melihat sosok Giselle di dalam gedung hotel tepat didekat sebuah tali yang menghubungkan sebuah lampu gantung disana.


Bram menyadari ada yang tidak beres dengan Giselle, ia langsung pergi menghampiri wanita hamil itu. "Apa yang kamu lakukan Giselle?!" hardik Bram sambil memegang tangan Giselle yang sudah memegang pisau ditangannya.


Giselle menatap Bram dengan kesal, namun di matanya itu masih ada cinta untuk Bram. "Bram? Sayang?"


"Aku tanya kamu mau ngapain dengan pisau itu? Kamu mau celakain Ara?" tuduh Bram dengan sorot mata tajam pada Giselle.


"Nggak!" sangkal Giselle dengan keringat bercucuran di wajahnya.


"Jangan macam-macam kamu ya! Berani kamu nyakitin Ara, kamu berurusan sama aku Sel!" ancam Bram sambil mencengkram pergelangan tangan Giselle dengan erat.


Tangan Giselle sakit tapi hatinya lebih sakit sebab ia melihat Bram sangat memperdulikan Ara. Pria yang dulu mencintainya dan tergila-gila padanya ternyata telah berpindah hati pada Ara.


"Lepasin aku Bram! Aku tidak akan biarkan wanita yang sudah merampas semuanya dariku hidup bahagia." tukas Giselle emosional.


"Jangan gila kamu Giselle! Daripada kamu sibuk memikirkan cara jahat mencelakai orang lain, lebih baik kamu pikirkan bagaimana keadaan ayah bayimu. Bukankah dia sedang berada di penjara? Lebih baik kau bantu dia keluar dari sana agar bayimu punya AYAH!" seru Bram lalu tak tahu mendorong Giselle hingga tubuhnya terhuyung, beruntung ia tak sampai jatuh.


Giselle merasakan sakit hati yang teramat dalam dengan perkataan Bram. Ia jadi teringat bahwa dulu yang diperlukan seperti ini adalah Ara. Kenapa sekarang ia mengalami semua ini?


Lalu bagaimana dengan Yoshua di penjara? Dia menderita dan selalu di bully oleh penghuni penjara. Setiap hari ia berharap agar Giselle mau menemuinya. Tapi Giselle tak pernah muncul mengunjunginya. Yoshua hanya berharap waktu cepat berlalu dan dia bisa keluar dari penjara.


*****


Malam pun tiba, acara pernikahan Ara dan Regan diadakan sampai malam hari pukul 7.30. Padahal sebelumnya rencana hanya sampai jam 5 sore, tapi tamu masih banyak yang datang. Si pengantin wanita pun sudah berganti baju sebanyak 3 kali dengan gaun yang berbeda dan yang terakhir, Ara mengenakan gaun merah yang sangat eksentrik dengan warna kulitnya yang putih.


Ara sangat bahagia dengan pernikahannya kali ini, tapi tidak dengan Riana yang masih menunjukkan raut wajah tak senang. Semua rencananya gagal untuk menjodohkan Regan dan Tania. Bahkan acara belum selesai pun Riana sudah pergi dari sana tanpa pamit. Tapi Regan dan Dimas tak peduli.


Akhirnya acara resepsi itu pun sampai pada ujung acara. Setelah semua tamu pulang, kini Ara dan Regan akan segera beristirahat ke salah satu kamar hotel disana yang sudah dibooking oleh Dimas.


"Nah sekarang selamat indehoy ya bro!" Arga menepuk pundak sahabatnya itu. Kemudian ia mendekatkan bibirnya pada telinga Regan. Entah apa yang dibisikkan oleh Arga padanya hingga berhasil membuat pria itu tersipu malu.

__ADS_1


"GILA LO GA!" pekik Regan terkejut dengan ucapan Arga, tapi Arga hanya tersenyum menggodanya.


"Biar cepat jadi, Lo harus ikutin cara gue!" Arg menunjuk pada perutnya.


Disisi lain Ara sedang bicara dengan Mia, Anna, Ratih dan Rachel. Mereka bicara tentang malam yang akan Ara lewati. Sekalian memberikan wejangan pada Ara sebagai seorang istri.


"Bu Anna, Ara tidak perlu dikasih tau tentang istri yang baik. Ara pasti bisa melakukannya Bu!" seru Ratih sambil mengusap lembut punggung Ara. Ratih yakin bahwa Ara akan menjadi istri yang baik.


"Iya anda benar Bu Ratih. Ya sudah, mama cuma mau bilang ini sama kamu nak. Kalau Regan sampai menyakiti kamu, kamu harus bilang sama mama ya! Apalagi kalau dia sampai kdrt!" kata Anna pada putrinya.


"Tante, pak Regan tidak akan melakukan itu. Pak Regan itu orangnya lemah lembut, kayaknya ngebunuh semut aja dia gak tega. Hahaha..." celetuk Mia yang membuat Ara tersenyum.


"Bu Anna, saya jamin bahwa cucu saya tidak akan pernah melakukan itu." kata Dimas yakin. "Sebab jika dia berani macam-macam, saya duluan yang akan turun tangan!" timpal Dimas yang tiba-tiba datang kesana.


"Potong aja burungnya, kek!" sambung Arga yang sontak membuat semua orang disana tertawa termasuk si pengantin baru.


Akhirnya Bryce yang diam sedari tadi jadi ikut bicara, ia meminta semua orang bubar karena pengantin baru harus melakukan ritual mereka. Ara dan Regan tersipu saat mendengarnya.


"Mas, kamu kenapa gendong aku?"


"Mau aja, terus kan tadi kamu habis berdiri lama. Jadi kamu pasti capek, sayang."


Kedua mata Ara yang berwarna coklat muda itu membulat manakala ia mendengar kata sayang dari bibir Regan yang diperuntukkan baginya. Hatinya berdebar, darahnya ikut berdesir merasakan gelanyar aneh didalam tubuhnya.


Oh, inikah cinta?


Ara pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Ia menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan pria itu karena orang-orang di hotel terus menatap mereka dengan tatapan yang aneh dan bahkan sampai tertawa-tawa.


Hingga mereka masuk lift, ada sepasang suami-istri disana melihat Regan menggendong Ara.


"Pah...pah mama mau dong digendong kayak gitu, pa." kata si wanita paruh baya pada suaminya. Ia gemas melihat pasangan yang baru menikah itu.


"Ih mimih...nanti aja di kamar mi, malu sama yang muda mi." bisik sang suami sambil terkekeh. Tapi masih bisa didengar oleh Ara dan Regan.

__ADS_1


"Jangan malu sama yang muda pak, semangat harus tetap dijaga pak walau sudah tak muda lagi! Biar saya dan istri saya juga jadi semangat pak, bu." kata Regan sambil tersenyum dan mendapatkan cubitan dari Ara. "Apa sih sayang?"


Ara melotot pada suaminya, ia tak menyangka bahwa suaminya juga omes begini.


"Tuh pah! Denger kan? Kita jangan kalah sama yang muda pah." kata si wanita paruh baya itu sambil menggamit tangan suaminya.


"Iya ma iya! Yuk kita ke kamar!" ajak sang suami pada istrinya.


Ting!


Tak lama kemudian pintu lift itu terbuka dan sampai di lantai paling atas gedung hotel mewah itu. Dimas sengaja memilih kamar disana karena view-nya paling menawan, bahkan pria tua itu sudah menyiapkan bulan madu keluar negeri untuk cucu dan cucu mantunya.


Sesampainya di dalam kamar, Regan langsung menurunkan Ara yang masih mengenakan gaun berwarna merah maroon itu ke atas ranjang. Tatapan keduanya bertemu dengan canggung. "Ra..."


"Mmm?"


"Boleh Mas cium kamu?" pinta Regan seraya mengusap pipi Ara, ia sudah tidak tahan lagi dengan kecantikan wanita itu.


Ara tersentak sejenak, namun pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya. "Aku istrimu mas, kamu berhak melakukannya mas."


Regan mengangkat dagu wanita itu dengan begitu retoris, ia menatap bibir Ara yang saat itu memakai lipstik maroon sama seperti warna gaunnya. Sangat cantik dan sensual.


Tak lama kemudian, Regan menarik tengkuk istrinya dan detik berikutnya. Bibir mereka telah menyatu, dalam gelora dan rasa yang sah.


Dalam dan semakin dalam, intens penuh cinta. Ciuman yang begitu menggebu, yang sangat dinantikan oleh keduanya selama ini.


"Ara, malam ini bolehkah mas..." Regan menatap nanar dan lapar pada sang istri, tangannya mulai menyibak gaun yang dikenakan Ara.


...****...


KYAAKK!


Besok ya malam pertamanya 🙈🙈btw makasih buat yang kasih vote sama giftnya guys

__ADS_1


__ADS_2