Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 29. TALAK


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ara berteriak histeris diiringi Isak tangis, wanita itu begitu terpukul mengetahui kenyataan bahwa calon anaknya telah tiada. Anak yang selama ini ia harapkan keberadaannya, meski suaminya sendiri tak peduli padanya. Tapi Ara sangat menyayangi anaknya yang belum lahir itu.


Kenyataan ini sangat pahit dan sakit untuknya.


Bagaikan dihantam badai badai, perasaan Ara saat ini berkeping-keping. Hancur dan merasa bersalah sebab ia tak bisa melindungi calon anaknya dari Bryce.


"TIDAK! ANAKKU MASIH HIDUP!! AARRGGGHHH....TIDAK!! HIKSS..."


Ratih, Mia dan Regan berusaha menenangkan Ara dengan kata-kata. Tapi nyatanya kata-kata mereka sama sekali tidak berguna untuk saat ini, untuk seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.


"Ra tenang ya, Ara... istighfar nak!" Ratih memegangi tangan Ara menjambak Jambak rambutnya sendiri. Tapi Ara terus menepis tangan Ratih dan Mia yang mencoba menenangkannya itu.


Ya Allah, Ara...kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?


"Aku bodoh...aku bodoh tidak bisa melindungi anakku sendiri! Aku bukan ibu yang baik! Huaaahhh.....hiks..." Ara kembali terisak, kali ini ia melepas selang infus tangannya lalu beranjak bangun dari sana.


Ratih dan Ara kembali menahannya, sementara Regan masih diam dan menjaga batasannya sebab ia tau bahwa Ara tidak suka disentuh pria yang bukan muhrimnya.


Ara keluar dari ruangan itu dengan keadaan linglung dan tangan berdarah-darah. Tak jauh dari sana ada Bryce, Anna dan Sean disana melihat Ara yang hancur. Mata mereka bertiga merah karena menangis. Ya, mereka sudah tau kebenaran tentang Ara yang adalah keluarga mereka.


"ANAKKU! DIA SUDAH MEMBUNUHNYA! AKU UDAH BILANG JANGAN PUKUL AKU! KENAPA DIA PUKUL AKU?!" Teriak Ara sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Ara, tenangkan dirimu!" Regan pun akhirnya bertindak ketiga Ara sudah bertindak di luar akal sehatnya. Ia memeluk tubuh Ara dari belakang dan menahan Ara untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. "Ini bukan salah kamu, Ra."


"Hiks...hiks..."


Lorong itu menggema dengan tangisan dan jeritan Ara, orang-orang yang berlalu lalang disana melihat Ara dengan tatapan iba.


Pelukan Regan dan kata-kata pria itu berhasil membuat Ara sedikit tenang, namun ketenangan itu kembali terusik saat Bryce mendekat ke arahnya dengan wajah bersalahnya. Anna dan Sean juga mengikutinya dari belakang.


Anakku... Lyodra. Lirih Bryce dalam hatinya.


Ara melepaskan pelukan Regan darinya dan menatap Bryce dengan gemetar. Bayangan kejadian yang belum lama itu kembali membuat luka di hatinya, luka yang dalam. Sontak saja wanita itu memegang perut datarnya dengan ketakutan.


"Nak, saya ingin meminta--" Bryce hendak memegang Ara, namun wanita itu melangkah mundur dan bersembunyi di belakang Regan.


"AKHHH...sakit pak...tolong jangan pukul saya, tolong! Sungguh bukan saya! Bukan saya yang mendorong mbak Giselle! BUKAN SAYA!" teriak Ara kembali histeris.


"Ara... tenang ya, ada saya disini!" kata Regan mencoba melindungi.

__ADS_1


Perih hati Bryce, Sean dan Anna melihat Ara yang histeris karena kehilangan bayinya. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Bryce, rasa bersalahnya lebih parah dari apapun. Dia sudah menyakiti mental dan fisik anaknya, lalu tanpa sengaja membunuh cucunya.


Ya Allah...aku sangat buruk, aku sangat jahat. Sebagai seorang pria juga sebagai seorang ayah aku tak pantas.


Ratih, Mia dan Regan menatap tajam pada Bryce. Mereka jadi menduga-duga bahwa Bryce adalah pria yang melakukan penganiayaan terhadap Ara.


"Nak...saya tidak akan menyakiti kamu," ucap Bryce dengan air mata yang luruh dan sikap lembut, beda dengan beberapa saat yang lalu saat ia menyakiti Ara.


"TIDAK! MENJAUH! JANGAN PUKUL AKU! HENTIKAN! SAKITT!" teriak Ara yang panik dan ketakutan ketika Bryce semakin mendekat padanya.


"Tolong jangan mendekat lagi pak, tolong!" Regan menghadang jalan Bryce untuk mendekati Ara.


Bryce paham dan langsung diam dengan kepala menunduk. Regan memegang tangan Ara dan berusaha membujuknya untuk kembali ke ruangannya.


"Ra, kita ke dalam ya. Kamu harus istirahat, oke?"


"Tapi dia masih ada disini, dia pasti akan menyakiti aku!" seru Ara sambil memalingkan wajahnya dari Bryce yang menatapnya.


"Tidak ada yang akan menyakitimu, karena ada aku disini." Regan memapah Ara, kali ini Ara menjadi jauh lebih tenang dan tidak histeris lagi karena Regan.


Mia dan Regan membawa Ara masuk ke dalam ruang rawat. Sementara Ratih masih ada di luar sana bersama keluarga Gallan. Ratih menatap menelisik pada Bryce, Anna dan Sean.


"Benar, memang saya." jawab Bryce mengaku.


"Baiklah, siap-siap saja bapak akan berurusan dengan polisi!" kata Ratih ketus, lalu pergi begitu saja dari sana meninggalkan keluarga Gallan yang mematung disana.


Sepeninggal Ratih yang kembali ke ruangan Ara. Anna, Bryce dan Sean terlihat sedih, galau merasa bersalah.


"Ma, pa, kita sudah menyakiti Lyodra! Sean bahkan gak punya muka buat ketemu sama dia!" serka Sean seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia baru tau bahwa Ara adalah adik kandungnya sedangkan Giselle bukan anak kandung.


Sean merasa sangat jahat karena sudah bersikap buruk pada Ara. Anna juga merasakan hal yang sama. Padahal mereka ingin segera memeluk Ara dan mengatakan bahwa mereka adalah keluarga kandung Ara, tapi melihat keadaannya seperti ini mereka jadi malu dan tidak berani.


"Pa! Kenapa papa tega melukainya sampai keguguran pa? Seandainya dia memang sudah jahat sama Giselle, gak seharusnya papa melukainya seperti itu. Papa sadar gak sih? Apa yang papa lakukan adalah tindakan kriminal? Ara perempuan pa, apa papa lupa? Dia juga sedang hamil?" tegur Anna pada Bryce, dia kecewa pada suaminya karena sudah membuat Ara kehilangan bayinya dan mengalami luka dalam.


Ya, kalau menyangkut Giselle. Bryce selalu menjadi yang terdepan. Apapun keinginan Giselle dan apapun yang menganggu Giselle, Bryce pasti akan membereskannya.


"Iya ma, papa tau...papa salah karena papa terbawa emosi sampai melupakan fakta itu! Papa akan serahkan diri papa ke kantor polisi, Papa salah ma....papa salah pada darah daging kita!" Bryce menangisi kebodohannya.


"Kita semua bersalah...kita sudah menyakiti Lyodra!" kata Sean terpukul.


Mereka bertiga menyesali perbuatan mereka para Ara, tapi apa gunanya menyesal? Apa gunanya mengetahui fakta bahwa Ara adalah anak dari keluarga Gallan, sedangkan mereka sekarang malu untuk bertemu dengannya apalagi mengaku bahwa mereka adalah keluarganya.

__ADS_1


Setelah itu Bryce langsung pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan dirinya sebelum polisi menjemputnya. Bryce mengatakan pada istri dan anak sulungnya untuk menjaga Ara dan Giselle. Bagi Bryce kedua gadis itu sama-sama anaknya.


"Jaga Lyodra, Ma...Sean, dia sedang membutuhkan kita sebagai keluarganya." ucap Bryce sebelum ia pergi ke kantor polisi.


Sean dan Anna kembali terisak mengingat mereka pernah melabrak Ara. Bahkan memaki wanita itu. Saking sibuknya dengan pergulatan batin dan rasa bersalah, mereka melupakan Giselle yang saat ini tengah dirawat, untungnya dia bersama dengan Bram.


****


Malam itu setelah Giselle tidur, Bram keluar ruang rawat Giselle. Ia berniat menjenguk Ara, pastinya wanita itu masih ada di rumah sakit mengingat dia baru saja keguguran.


Niat Bram baik, ia hanya ingin melihat kondisi Ara dan menanyakan kenapa Ara bisa keguguran sekalian menghiburnya.Bram masuk ke dalam ruangan Ara dan langsung disambut tidak baik oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


Disana ada Arga, Regan dan Mia yang sedang menjaga Ara. Ara menatap benci pada suaminya.


"Mau apa anda kesini?" tanya Regan sinis.


Bram mengacuhkan Regan dan mendekati Ara yang tengah duduk diatas ranjangnya.


"Jangan mendekat Mas! Sekali lagi kamu melangkah kemari, aku tidak akan tinggal diam!" ancam Ara marah.


"Ara, aku hanya ingin menghibur kamu." jawab Bram yang malah mendapatkan tatapan sinis dari semua orang yang ada di ruangan itu.


"Menghibur? Hahaha...lucu banget kamu Mas, yang ada harusnya kamu sedang berpesta sekarang! Karena keinginan kamu terwujud," ucap Ara seraya tertawa sinis.


"Aku masih punya hati, jangan bicara seolah-olah aku tak punya hati!" bentak Bram marah.


"Ya, kalau kamu masih punya hati. Ayo talak aku sekarang juga, ceraikan aku dan lepaskan aku dari pernikahan toxic ini!" sungguh wanita itu sangat lelah untuk bertahan, keinginannya untuk mempertahankan kapal karam rumah tangganya sudah hilang bersama dengan kematian janinnya.


"Kamu pikir aku tak berani?"


Bram sangat siap untuk bercerai dari Ara, lagipula ia punya Giselle dan anak yang dikandungnya. Dia tidak akan mengasihani Ara lagi sebab Ara sendiri yang meminta cerai darinya.


"Aku Bramasta Wiratama, menjatuhkan talak ketiga pada Haura Yameena Arandita! Mulai saat ini dan seterusnya dia bukan istriku lagi!" seru Bram pada Ara dengan perasaan yang lega.


Arga tersenyum mengejek mendengar Bram baru saja mengucap kata talak pada Ara.


Bodoh, bego. Lo gak tau aja kalau bayi didalam kandungan lakor itu bukan bayi Lo. Ah tapi bodoh amat, biarin aja dah.


...*****...


Jangan lupa komennya Readers ❀️❀️❀️☺️

__ADS_1


__ADS_2