Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 86. Paket misterius


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Setelah diberi kesempatan oleh Mia untuk menjelaskan kejadian semalam, Arga buru-buru menjelaskannya. Tentang Windy yang adalah mantan pacar Regan yang psikopat dan semalam Arga bicara sedekat itu dengannya untuk mengancam dirinya. Dia tidak mau Windy sampai mengganggu rumah tangga temannya.


"Apa kakak serius? Jadi cewek yang semalam itu dia berbahaya?" Mia tercengang mendengar cerita Arga tentang Windy.


"Iya Mi, makanya semalam aku panik dan aku marah. Aku takut dia gangguin sahabat kamu, Ara. Makanya aku ancam dia tuh, tapi kamunya salah paham!"


"Ancam ancam sih ancam, tapi gak usah pakai pegang-pegangan tangan segala kali." cetus Mia sebal.


"Iya sayang, nanti nggak pakai pegang-pegangan lagi deh." Arga tersenyum lebar sampai menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Sayang? Idih apa-apaan pakai manggil aku sayang segala! Sayang kepala lo peyang!" seru Mia kesal dan menunjukkan wajah cemberutnya.


"Mia, kamu gemesin deh kalau lagi kesel gitu. Makin imut, aku suka. Tapi aku lebih suka kalau kamu senyum, lebih manis." Arga menggoda Mia lagi, kali ini tatapan harga mampu membuat hati Mia meleleh. Dan ya, dia memang tidak bisa lama-lama marah kepada pria ini. Entah kenapa, selalu saja ada caranya untuk membuat Mia cepat luluh.


"Apaan sih! Jangan gombal deh, aku masih marah tau." ucap Mia ketus.


"Marahnya jangan lama-lama, nanti cantiknya ilang Lo."


"Bodoh amat!" bibir Mia mengerucut dan membuat Arga gemas.


"Tapi Mi--kamu udah gak salah paham lagi kan? Aku beneran gak ada hubungan sama dia." jelas Arga sekali lagi dengan suara lemahnya.


"Iya udah enggak. Tapi aku jadi khawatir sama Ara dan pak Regan, gimana kalau emang benar si Windy Windy the Pooh itu masih gila. Terus kenapa dia bisa bebas dari rumah sakit jiwa semudah itu? Apalagi dia udah bunuh orang kan?" kini fokus Mia jadi pada Ara dan Regan. Ia juga jadi khawatir pada sosok bernama Windy itu. Tapi saat melihat sosok Windy kemarin, gadis itu tidak terlihat seperti orang yang psikopat. Malah lebih tepatnya seperti gadis polos dan lugu.


"Aku juga heran, tapi melihat latar belakang keluarganya. Tidak menutup kemungkinan kalau dia bisa keluar cepat karena koneksi keluarganya." terang Arga.


"Apa maksud kakak?" tanya Mia penasaran.


"Latar belakang keluarganya gak sederhana." jawab Arga dengan raut wajah gelisah.


"Huh?"


"Udah, kita jangan ngomongin yang berat-berat dulu. Aku mau kasih tau kalau kita bentar lagi bakal punya keponakan, apa gak sebaiknya kita nyusul juga?"


Kedua bola mata Mia melebar saat mendengarnya. "Apa maksud kakak?"

__ADS_1


"Ara hamil sayang," jawab Arga yang membuat senyuman merekah dibibir Mia. Dan Arga senang melihat gadis itu tersenyum setelah marah-marah terus.


"Kakak serius? Alhamdulillah ya Allah...mereka dikasih amanah secepat ini!" Mia turut bahagia mendengar kabar ini.


"Iya, nanti kita ucapin selamat sama-sama ya sama mereka. Tapi kita juga harus cepet nyusul dong, pertama-tama kamu terima cinta aku, terus kita nikah." kata Arga blak-blakan dan gamblang.


"Maaf kak, aku gak tau kakak serius apa enggak." kata Mia masih meragukan perasaan Arga. Ia pikir Arga mengajaknya pacaran saja, ternyata Arga mengajaknya ke arah yang lebih serius.


"Mia aku serius...gimana kalau kita tunangan dulu Mi?" tanya Arga seraya memegang tangan Mia. Dia menatap gadis itu walau Mia memalingkan wajahnya.


"Mia... jawab dong." tukas Arga sebab Mia diam saja.


"A-aku gak tau." Mia terbata.


"Mia..."


'Tampaknya usahaku belum membuahkan hasil. Oke aku coba lagi deh' ucap Arga dalam hatinya kecewa. Arga pun melepaskan tangan Mia dari genggamannya.


'Maaf kak, tapi aku masih kurang yakin sama kakak. Apalagi kalau untuk nikah, aku belum siap' batin Mia.


"Assalamualaikum! Ibu udah bawa obatnya," kata Ratih sambil berjalan masuk ke ke dalam rumah.


"Kebetulan ibu udah dateng, ada yang mau saya bicarakan sama ibu." kata Arga pada Ratih dengan wajah serius. Tadinya ia yang berbaring, langsung menegakkan tubuhnya untuk duduk. Biasanya Arga memanggil Ratih dengan Tante sekarang jadi ibu? Mia menyadari hal itu.


"Ada apa nak? Sebaiknya nak Arga makan terus minum obat dulu ya." kata Ratih.


"Gak Bu! Harus sekarang bu. Saya mau bilang kalau saya mau nikahin Mia Bu, saya cinta sama Mia, saya serius sama Mia." kata Arga tegas dan membuat Ratih dan Mia tercengang dengan kata-katanya. Pria itu benar-benar mengatakan niatnya.


"Nak Arga..."


"Saya akan buktikan ketulusan saya Bu." ucap Arga sambil mengangkat kepalanya dengan percaya diri.


'Kak Arga apa-apaan sih pake bilang ke ibu segala? Pernikahan itu bukan main-main. Atau emang dia serius sama aku? Ya Allah...aku bingung' batin Mia bingung.


****


3 hari sudah berlalu sejak Ara di rawat di rumah sakit. Demamnya sudah turun, kondisi kandungannya juga sudah membaik. Kini waktunya Ara pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Dok, beneran istri dan calon anak saya sudah baik-baik saja?"tanya Regan yang sudah berapa kali dia bertanya seperti ini.


"Iya pak, sudah bisa pulang ke rumah kok." jelas sang dokter sambil tersenyum.


"Benaran dok?"tanya Regan lagi tak yakin.


"Mas, udah dong jangan tanya-tanya lagi bu dokternya! Aku sama baby kita gak apa-apa mas. Pokoknya aku pulang hari ini mas, aku gak mau lama-lama di rumah sakit." omel Ara kesal.


"Oke sayang, kita pulang ya. Kamu jangan ngomel-ngomel gitu dong, nanti baby kita kaget." Regan langsung menurut ketika Ara mengomel. Istrinya sekarang suka mengomel, mungkin efek hamil.


"Ya udah kita pulang mas, aku mau pulang."


"Ya mama sayang, babynya papa, ayo pulang." pria itu menundukkan kepalanya dan bicara pada perut Ara. Wanita hamil muda itu tersenyum melihat suaminya bicara pada janin perutnya. Rasanya hati Ara jadi tenang.


Setelah membereskan barang-barang Ara disana, pasangan suami istri itu pun pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka bersama dengan mang Didin yang menyetir.


Sesampainya di rumah, Regan langsung menggendong Ara. Ia tak mengizinkan Ara berjalan dan kelelahan. "Mas, kamu lebay banget deh." kata Ara sambil terkekeh. Ia malu pada Hugo dan juga Sena yang selalu mengikutinya kemana-mana.


"Bukan lebay, tapi aku tuh sayang." bisik Regan sambil tersenyum. Ia senang bisa memanjakan istrinya. "Oh ya, Hugo, Sena. Kalian bisa tunggu di luar," ucap Regan pada kedua bodyguard itu. Sebab ia bisa menjaga istrinya kalau ada di rumah.


"Baik pak." sahut Sena dan Hugo kompak. Dua orang itu pun keluar dari rumah dan berjaga di depan rumah.


Ketika Ara sedang asyik makan cemilan di ruang tengah sambil menikmati hari Minggunya. Tiba-tiba saja pak Herman masuk sambil membawa kotak berwarna merah.


"Non maaf menganggu."


"Ya mang Herman, ada apa mang?" tanya Ara sambil melihat ke arah Herman.


"Ini Bu, tadi ada tukang paket titipin ini buat ibu." kata Herman seraya menyerahkan kotak tersebut kepada Ara.


"Dari siapa mang?" Ara memegang kotak itu dan melihatnya. Seperti kotak hadiah, di atas kotak itu ada tulisan dengan tinta warna merah seperti darah. 'Selamat atas kehamilannya, semoga panjang umur'


"Tadi dia bilang dari temen non, tapi gak sebut nama non." jelas Herman yang membuat Ara mengernyitkan keningnya bingung.


Setelah itu Herman pun pergi keluar dari rumah tersebut dan kembali ke posnya didepan bersama Hugo dan Sena. Ara penasaran dan membuka kotak misterius itu.


"AKHHH!!" jerit Ara begitu ia melihat isi kotaknya. Ara langsung lemas, seakan tubuhnya tak bertulang saat itu juga.

__ADS_1


"Sayang! Kamu kenapa?!" teriak Regan dari arah dapur seraya menghampiri istrinya dengan panik.


...****...


__ADS_2