
Ara dan Regan langsung memutuskan untuk pindah saat itu juga ke rumah utama Dirgantara, yaitu rumah tempat kakek Regan berada. Tadinya Regan menyarankan agar Ara tinggal di rumahnya, tapi Ara menolak karena ia ingin bersama Dimas yang sendirian disana. Dimas dengan senang hati menerima kedatangan mereka berdua. Bahkan Dimas akan senang kalau Ara akan tinggal selamanya di rumah itu. Dimas juga kesepian di hari tuanya dan di rumah itu ia hanya ditemani pelayan, satpam.
"Nak, bagaimana keadaan kamu? Cicit opa didalam sana?" Dimas bertanya dengan lembut pada Ara, sedari tadi ia menatap perut datar Ara. Dimana ada kehidupan di dalam sana.
"Alhamdulillah baik opa, opa sendiri gimana?" tanya Ara pada Dimas perhatian. Ara menganggap Dimas sama baiknya dengan Aryan, kakek Bram.
"Alhamdulillah opa juga baik kok. Ya udah kamu istirahat di dalam kamar ya nak. Oh ya, Regan apa Ara sudah makan?" tanya Dimas pada Regan.
"Sudah kok opa, tadi di rumah. Ara mau istirahat dulu ya opa, gak apa-apa kan Ara tinggal?" tanya Ara, entah kenapa setelah kejadian melihat kucing mati itu membuat kepalanya cenat cenut.
"Kenapa sayang? Kepala kamu sakit lagi? Aku panggil Arga buat periksa kamu ya." ucap Regan panik.
"Aku cuma butuh tidur aja Mas, gak apa-apa kan aku tidur duluan?" tanya Ara yang tak kuat dengan rasa pusing dan lemas tubuhnya.
"Ya gak apa-apa dong sayang. Aku antar ke kamar ya." tawar Regan seraya mengusap lembut kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Nggak usah mas, bukannya kamu mau ngobrol sama opa? Aku ke kamar sama bi Ijah aja." kata Ara sambil melihat bi Ijah yang masih berdiri di belakang Dimas.
"Ya udah deh. Bik, tolong antar istri saya ke kamar ya bi. Pastikan istri saya tidur dengan nyaman." kata Regan memperingati kepada bi Ijah untuk mengantar Ara dan membuatnya nyaman berada disini.
"Siap den."
Ijah dan Ara pun pergi meninggalkan ruang tengah tersebut. Kemudian mereka naik ke lantai dua rumah itu dan menuju ke kamar Regan.
Sementara Regan dan Dimas berbicara di ruang tengah tentang apa yang terjadi. Dimas terkejut saat Regan menceritakan tentang semua yang terjadi di rumah Regan-Ara. Apalagi jika benar bahwa hal ini berkaitan dengan Windy. Dimas juga mengetahui kasus tentang Windy, wanita itu adalah orang yang memiliki gangguan mental dan berbahaya. Dimas meminta Regan untuk tenang dan tidak gegabah untuk menunjukkan sisi lain dari dirinya, kali ini jika memang benar Windy pelakunya. Wanita itu akan dipastikan tamat, tidak peduli sekuat apapun orang yang ada dibelakangnya.
"Opa siap membantu kamu nak. Tapi apakah kamu sudah menyiapkan bodyguard untuk Ara?"
"Sudah ada opa, mereka masih ada di luar. Sena dan Hugo, opa kenal mereka." jawab Regan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kemampuan mereka tidak diragukan lagi, kamu memilih orang yang tepat." kata Dimas seraya tersenyum pada cucunya. "Kalau begitu kamu jaga istrimu nak, jangan terlalu sibuk bekerja."
"Iya opa, pasti. Apalagi Ara sedang mengandung anak pertama kami, aku tidak akan membiarkan Ara dan calon anak kami kenapa-napa." jelas Regan.
"Heem, kalau gitu opa juga akan perintahkan beberapa orang untuk memperketat pengawasan di rumah ini." Dimas menepuk bahu Regan kemudian ia pergi dari sana.
****
1 bulan kemudian...
Di cafe Chocolate Lovers, terlihat Arga dan Mia tengah menikmati makan siang mereka berdua. Keduanya telah resmi jadian, malah Arga langsung menunjukkan keseriusannya dengan membawa satu-satunya anggota keluarganya, yaitu sang kakak perempuan ke rumah Mia dan langsung melamar Mia. Tak lama lagi mereka akan menikah.
"Ara sama pak Regan kemana ya? Kok lama banget sih."
"Ya gak apa-apa dong yang, biar kita bisa lama berduaan disini." kata Arga seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Idih! Kakak punya penyakit saraf ya? Kedip kedip gitu." Mia mengendikkan bahunya.
"Kakak! Kita gak berduaan, disini banyak orang! Udah deh gak usah aneh-aneh." ucap Mia sambil menepuk bibir Arga yang di monyong monyongkan itu.
"Eh....Mia, bukannya itu si Bram brem Brom ya?" tanya Arga seraya menunjuk ke luar restoran tersebut.
Mia pun menoleh ke arah yang Arga tunjukkan dan ia melihat Bram sedang berpelukan didepan cafenya ini. Berpelukan dengan seorang wanita yang tak lain adalah Tania.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau dia sudah menemukan jodohnya. Jadi dia gak gangguin Ara lagi." Mia tersenyum lega melihat Bram menemukan pasangannya. Jadi pria itu tak akan merecoki rumah tangga sahabatnya.
"Iya, kamu benar juga ya Mi." sahut Arga membenarkan.
Dari kejauhan Arga dan Mia melihat pasangan suami istri Regan dan Ara masuk ke dalam cafe itu dan tentunya mereka berpapasan dengan Bram Tania. Terlihat dua pasangan itu mengobrol sambil berjalan masuk ke dalam cafe.
__ADS_1
"Alhamdulillah, jadi mas Bram dan dokter Tania akan menikah bulan depan?" tanya Ara senang saat mendengar kabar pernikahan Bram dan Tania.
"Iya, kamu harus datang ya Ra." kata Tania seraya tersenyum pada Ara.
"Insya Allah, aku akan datang dok." ucap Ara ramah.
'Woah, bulan depan musim nikah. Kakak dan kak Rachel akan menikah bulan depan, Mia dan pak Arga bulan depan juga. Lalu mas Bram dan dokter Tania' batin Ara.
Sepertinya sudah tak ada permusuhan lagi diantara mereka tentang masa lalu. Bram dan Tania juga terlihat bahagia bersama. Ya, mereka akan menikah bulan depan.
"Ya udah kita masuk ke dalam yuk dok!" kata Ara mengajak Tania masuk lebih dulu. Sementara Regan dan Bram ada dibelakang mereka.
Regan tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Bram. "Selamat ya."
"Makasih." jawab Bram sambil tersenyum.
"Semoga kalian langgeng dan hidup bahagia. Saya tulus mendoakan dan jangan pernah menyia-nyiakan wanita lagi." ucap Regan menasehatinya.
"Insya Allah itu tidak akan pernah terjadi." kata Bram bersungguh-sungguh. Kata-kata religi yang tak pernah diucapkan Bram, kini terucap dibibirnya. Regan terperangah, tapi ia mencoba percaya pada Bram. Mungkin pria itu benar-benar berubah.
"Kamu juga selalu langgeng dan bahagia ya. Semoga anak kalian selamat dan sehat sampai lahir nanti." ucap Bram tulus.
"Aamiin...makasih doanya." sahut Regan.
Kedua pria itu pun masuk ke dalam cafe dan menyusul istri mereka. Namun saat mereka berdua masuk ke dalam sana, terlihat Ara dan Tania tergeletak di lantai sambil memegangi perut mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi?
****
__ADS_1
Hai Readers, maafkan baru up... author slow up karena 2 episode lagi akan end insya Allah 😍🤧