Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 9. Ara di rumah sakit


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Mendengar pertanyaan dari Giselle, Bram langsung menghentikan aktivitas makannya dan menatap wanita yang ia cintai dengan dalam.


"Kenapa diam Bram? Jangan bilang kalau kamu tidak akan menceraikan dia?" Giselle mencacar Bram dengan pertanyaan yang mendesaknya. Terlihat jelas bahwa Giselle mulai takut kehilangan Bram.


Bram tersenyum tipis, kemudian dia menjawab pada Giselle dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. "Aku pasti akan bercerai darinya, tapi--harus dia sendiri yang menceraikan aku."


"Tapi--kenapa bukan kamu saja yang menceraikan dia? Bagaimana kalau dia tidak mau melepaskanmu, Bram?" Giselle gelisah hanya dengan memikirkannya saja. Melihat tampilan dari istri seorang Bramasta Wiratama, membuat Giselle merasa bahwa Ara tidak akan mau berpisah dari pria sempurna seperti Bram.


"Dia pasti akan melepaskanku... saat ini dia pasti sudah tahu bahwa aku mencoba untuk menggugur--" ucapan Bram terpotong di sana.


Ya ampun, hampir saja aku keceplosan. Giselle tidak boleh mengetahui kalau Ara sedang hamil.


"Menggu--apa Bram?"


"Tidak apa-apa... pokoknya kau tenang saja dalam waktu 1 bulan, dia pasti akan meminta cerai padaku." kata Bram seraya mengusap lembut sudut bibir Giselle yang ada sedikit saus disana.


Giselle menatap Bram dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu serius kan?"


"Iya sayang, serius." jawab Bram sembari tersenyum lembut. Senyuman yang berbeda dengan senyuman manis licik yang ia tunjukkan pada Ara.


Pasti saat ini Ara sudah keguguran.


Rencananya Bram akan menelpon anak buahnya setelah dia keluar dari apartemen Giselle. Bram tidak mau Giselle mendengarkan percakapannya dengan anak buahnya.


Setelah makan bersama dengan Giselle, Bram langsung pamit kembali ke kantor pada sore itu. Dia pun menelepon anak buahnya dalam perjalanan ke kantor.


"APA?! Dia kabur?! Aduh...kalian ini tidak becus ya?!" hardik Bram pada anak buahnya di dalam sambungan telepon itu.


"Sial! Jadi bayi itu masih ada? Ah... terpaksa aku harus bermanis-manis padanya dulu dan aku sangat malas untuk ini!" Bram gusar sambil meremass setir kemudinya dengan erat.


...****...


Di dalam perjalanan pulang ke apartemennya, Regan berada di mobil dan melihat rintik-rintik hujan mulai turun membasahi kaca mobil. Regan segera menyalakan pembersih kaca mobil. "Tadi hujannya kecil, sekarang jadi deras." gumam Regan sambil sesekali menatap langit yang mendung dan hujan.


Ketika dia melewati sebuah gang yang menuju ke dekat hutan, Regan melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan. Terlihat seperti seorang wanita yang mengenakan blouse warna biru dan rambutnya panjang.


"Ya Tuhan, kasihan sekali wanita itu!"


Regan segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian dia keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita yang tergeletak di atas aspal tersebut. Dia kehujanan dan pastinya kedinginan juga.


Rambut panjang yang menutupi wajah wanita itu.

__ADS_1


"Mbak! Mbak!" Regan menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu ditengah guyuran air hujan yang deras.


Alangkah kagetnya Regan ketika dia melihat dengan jelas wajah wanita itu. Dia sangat mengenalinya. "A-Ara? Ara kamu kenapa? Ara!" Regan panik melihat mahasiswanya tidak sadarkan diri ditengah hujan.


Pria itu pun segera membopong tubuh Ara, tak lupa ia membawa tas selempang Ara dan membawanya masuk ke dalam mobil, untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Ara...apa yang terjadi denganmu?" gumam Regan, sesekali melihat ke sebelahnya dengan cemas. Tepat disana Ara berada, kadang tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat.


****


Sesampainya di rumah sakit, Regan menggendong Ara dan masuk ke dalam rumah sakit. Dibaringkanlah wanita itu diatas brankar dan dibawa ke ruang UGD untuk dilakukan penanganan.


Diluar ruang UGD, Regan tampak kebingungan karena dia tidak mengetahui nomor kontak dari suami Ara. Dia hanya punya kontak telpon di rumah keluarga Wiratama.


Bisa saja dia membuka ponsel milik Ara yang ada di tas wanita itu, tapi dia tidak mungkin melakukan itu karena akan dianggap tidak sopan.


"Ya sudah, aku tidak punya pilihan lain selain menelepon keluarga suaminya." Regan merogoh ponsel di dalam saku bajunya, kemudian dia segera menelepon nomor kontak di rumah keluarga Wiratama.


Aryan yang kebetulan sedang berada tak jauh dari telpon rumah, segera mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum." sapa Regan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, ini siapa ya?"


"Benar, saya adalah Aryan Wiratama... dengan siapa saya bicara?" tanya Aryan yang asing dengan suara pria ini.


"Pak, mohon maaf karena saya menganggu waktunya...saya Regan, dosen Haura di kampus, saya ingin mengabarkan bahwa saat ini Haura berada di rumah sakit." jelas Regan tanpa basa-basi.


"A-apa? Ara di rumah sakit? Rumah sakit mana pak?" tanya Aryan panik mendengar berita tentang cucu menantunya itu.


Regan mengatakan alamat rumah sakit dan juga tempat Ara di rawat sekarang karena Ara telah dipindahkan dari ruang UGD ke ruang rawat. Semua biaya rumah sakit Regan lah yang menanggungnya.


"Dokter bagaimana keadaannya?"


"Istri bapak kami dehidrasi dan saya mengindikasi bahwa ada obat bius di dalam tubuhnya. Namun bayinya baik-baik saja dan bisa bertahan. Tapi saya sarankan agar istri bapak mendapatkan perawatan terlebih dahulu karena demamnya masih belum turun."


"Maaf dok--tapi saya bukan--"


Ara sedang hamil?


Regan kaget karena dia baru tahu bahwa Ara sedang hamil. Pria itu jadi berpikir bahwa Ara bahagia bersama Bram.


Setelah hampir 15 menit Regan menunggu Ara di ruang rawat, Bram, Deni dan Aryan datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Regan menyapa Bram, Deni dan Aryan dengan sopan. "Apa bapak dosennya Ara?" tanya Bram lebih dulu.


"Iya pak."


"Terimakasih anda telah menyelamatkan istri saya. Kalau tidak ada bapak, mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk pada istri saya." ucap Bram seraya mengulurkan tangannya kepada Regan. Tak lupa Bram menunjukkan senyum palsunya.


Suaminya terlihat sangat ramah, sepertinya dia sangat mencintai Ara. Batin Regan.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi karena saya harus segera pulang. Semoga Ara cepat sembuh."


"Terimakasih ya pak Regan." Aryan juga berterima kasih pada Regan.


Bram dan Aryan masuk ke dalam rumah rawat itu bersama dengan datangnya dokter yang akan kembali mengecek keadaan Ara. Sementara Regan pergi dari rumah sakit.


Aryan dan Bram mendengarkan penjelasan dari dokter bahwa Ara sedang hamil dan sangat penting untuk menjaga kesehatan mental juga fisiknya. Aryan begitu bahagia mengetahui cucu menantunya sedang hamil.


"Alhamdulillah ya Allah, aku akan jadi kakek buyut!" Aryan mengusap wajahnya dengan bahagia. Tapi disisi lain Bram terlihat menahan amarah meski bibirnya tersenyum, tapi tak tulus.


Kenapa malah jadi begini? Tadinya aku tidak ingin Opa tau tentang kehamilan Ara. Kenapa bayinya tidak mati saja? Bagaimana kalau dia mengatakan pada Opa, bahwa aku mencoba menggugurkan bayinya?


"Selamat ya pak." ucap dokter kepada Aryan dan Bram.


"Bram, kamu harus menjaga istrimu dengan baik! Berikan apapun yang istrimu inginkan, jangan terlalu memforsir dirimu untuk bekerja di kantor. Ingat! Kau punya istri yang sedang hamil dan Ara sedang mengandung anak pertama kalian." Aryan menatap Bram penuh dengan harapan, dia minta ini dan itu kepada cucunya yang intinya disuruh menjaga Ara.


10 menit kemudian, Ara membuka matanya dan melihat Aryan juga Bram ada disana. Ara menatap suaminya dengan tajam.


"Sayang, kamu sudah sadar?" sambut Bram sambil menggenggam tangan Ara tapi kamu dapat respon dari wanita itu.


"Ara, kamu sudah sadar nak? Istirahatlah dulu...denganmu masih belum turun. Kamu harus menjaga kesehatan karena kamu sedang hamil, nak." Aryan perhatian kepada Ara. Jika bukan karena pria tua itu, mungkin Ara tidak akan bertahan sampai saat ini. Dia satu-satunya orang yang baik padanya dalam keluarga Wiratama.


Ara menatap Aryan dengan lirih. "Opa...aku mau bicara dengan Mas Bram empat mata," ucap Ara tiba-tiba.


"Oh...kenapa nak? Apa opa tidak boleh dengar?" Aryan heran.


"Hehe... maaf Opa tadinya aku ingin merahasiakan kehamilan ini terlebih dahulu dan Mas Bram jadi orang pertama yang tahu tentang kehamilanku. Jadi izinkan aku berbicara empat mata dengannya untuk mengatakan tentang anak kami." Ara berbohong.


Aryan pun paham, kemudian dia dan Deni pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan Bram dan Ara berdua saja.


Kedua netra pasangan suami istri itu bertemu pandang dengan tajam. "Kamu mau ngomong apa?" tanya Bram lebih dulu memecah keheningan diantara dirinya dan Ara.


"Mas... bukankah ada yang ingin kamu jelaskan padaku?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2