
...🍁🍁🍁...
"Apa? Janinnya sudah meninggal di dalam perut dan harus di kuret dok?" Ratih terkejut setelah mendengar penjelasan dari dokter bahwa janin yang dikandung oleh Ara telah meninggal di dalam kandungan.
Bukan hanya Ratih yang terkejut dengan apa yang dijelaskan oleh dokter, tapi Bryce dan Anna juga. Mereka berdua tidak percaya, pertemuan pertama mereka dengan putri kandung mereka yang selama ini hilang. Tidak ada kesan baik sama sekali, jauh dari kata itu.
"Pa... bagaimana ini?" tanya Anna pada Bryce dengan berurai air mata. Bryce juga sama syoknya dengan Anna yang mendengar perkataan dokter tentang kondisi bayi Ara.
"Papa...papa sudah berdosa Ma...karena papa...." Bryce mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Ia benar-benar ayah yang jahat, ia sudah membunuh cucunya sendiri. "Papa...papa yang sudah membuat Lyodra kehilangan anaknya."
"Apa maksud papa?" tanya Anna tak mengerti.
Tubuh Bryce gemetar, ia merasakan sakit di bagian dadanya. Kemudian ia pun jatuh tak sadarkan diri dan membuat Anna panik.
"Pa! Papa kenapa pa? Papa!!" teriak Anna seraya menggoyang-goyangkan tubuh suaminya, ia panik melihat suaminya tiba-tiba jatuh pingsan.
Tak lama kemudian, Sean yang baru saja keluar dari ruangan Giselle melihat papa dan mamanya dari kejauhan. Ia segera membantu papanya untuk dibawa ke ruang perawatan.
****
Keputusan dari wali terutama dari suami Ara harus di buat dengan segera, untuk mengeluarkan janin yang sudah bernyawa itu ada didalam kandungan Ara. Namun kini janinnya sudah tiada. Entah apa yang akan terjadi pada Ara saat ia bangun nanti.
Dengan terpaksa, Mia mendatangi Bram yang diketahui berada di rumah sakit itu karena dokter membutuhkan persetujuan Bram untuk menandatangani surat pernyataan mengoperasi perut Ara.
Mia mendelik sinis melihat kemesraan Bram dan Giselle di dalam ruang rawat wanita menyebalkan itu. Mia membawa suratnya dan menghampiri Bram.
"Ada apa kamu kemari? Kamu teman Ara, kan?" tanya Bram sambil menghentikan suapan kuenya pada Giselle. Ia menatap Mia yang terlihat sinis dan dingin padanya.
"Bagus ya, istri sah lagi dirawat dan dalam kondisi tidak baik dan suaminya malah sibuk ngurusin pelakor." sindir Mia seraya menatap Giselle dengan tatapan penuh kebencian. Ia sakit sangat sakit, teman yang sudah seperti saudara baginya diperlakukan kejam oleh dua orang iblis ini.
Giselle tidak membalas ucapan Mia, dia cuek saja seolah tak bersalah.
"Yang sopan kalau bicara, ya!" hardik Bram tak terima Giselle dihina sebagai pelakor.
"Sudahlah, saya tidak mau berbasa-basi dengan suami sampah seperti anda. Saya cuma mau memberitahukan pada anda, kalau Ara mau di operasi dan membutuhkan persetujuan anda, sebagai suami diatas KERTASNYA." kata Mia sinis.
Bram langsung terperanjat dari tempat duduknya dan tampak terkejut. Giselle tak suka melihat Bram peduli pada Ara. "Operasi? Operasi apa?"
"Janin meninggal didalam kandungan dan harus di keluarkan. Sepertinya ini berita bahagia buat kamu ya, pak Bramasta Wiratama." cetus Mia dengan air mata tertahan, ia menyerahkan secarik kertas persetujuan kepada Bram, tak lupa penanya juga. "Ah, tentu berita bagus juga buat si pelakor ini." imbuhnya.
Yes, doaku terkabul. Makasih ya tuhan! Giselle kegirangan dalam hatinya dan merasa menang. Dia tidak memiliki saingan lagi, sebab yang membuat Ara bertahan adalah baginya dan sekarang bayinya sudah tidak ada lagi. Jadi Ara tidak akan punya alasan untuk bertahan dengan Bram.
__ADS_1
"Bayinya meninggal?" gumam Bram pelan sambil memegang kertas itu. Entah kenapa Bram terlihat sedikit terganggu mendengar berita itu.
"Astagfirullah, bayinya Ara meninggal?" tanya Giselle terkejut, ia menunjuk wajah memelasnya.
"Cepat tanda tangan! Ara harus segera di operasi!" seru Mia pada Bram tak sabar.
Tanpa banyak bicara, Bram langsung menandatangani surat persetujuan itu DNA menyerahkannya pada Mia. Setelah menerima surat yang sudah ditandatangani itu, Mia melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
Namun langkahnya terhenti, lalu ia menoleh ke arah Bram. "Kamu tau pak? Penyesalan itu selalu datang terlambat tapi bapak sangat terlambat." ucap Mia lalu ia benar-benar keluar dari sana dengan perasaan kecewa dan marah pada Bram.
Aneh.
Bram merasa terganggu dengan ucapan Mia yang sudah jelas itu tentang Ara. Giselle langsung menarik tangan Bram dan membuat pria itu kembali duduk di atas kursi tepat disampingnya.
"Bram, kamu gak usah pikirkan perkataannya. Mending kamu suapi saja aku, aku masih lapar." pinta Giselle manja, tapi Bram hanya diam saja mematung.
Ara kehilangan bayinya? Kenapa bisa? Bukankah dia sangat menjaga dan mempertahankan bayinya?
Bram, kamu gak boleh sampai bersimpati sama dia! Gak boleh Bram.
Merasa diacuhkan, Giselle pun memegang perutnya sambil meringis kesakitan. "Ahh.. sakit...Bram.."
"Kamu kenapa sayang? Aku panggil dokter ya!" kata Bram panik, dia baru tersadar dari lamunannya.
****
Setelah persetujuan itu, Ara langsung di operasi kecil oleh tim medis. 1 jam berlalu sejak operasi, Ara masih belum sadarkan diri karena obat bius.
Ratih dan Mia menatap Ara dengan kasihan. Tidak ada yang peduli pada Ara selain mereka saja. Ibu dan anak itu begitu marah pada Bram dan keluarganya. Terutama kepada orang yang sudah menganiaya Ara hingga keguguran, Ratih bertekad untuk melaporkan kasus ini ke polisi. Mereka mendengar tentang penganiayaan itu dari Arga dan beberapa dokter yang menjadi saksi saat Ara dipukuli.
"Bu, gimana kalau Ara tau kalau bayinya sudah meninggal? Dia pasti sedih kan?" tanya Mia cemas, reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Ara ketika wanita itu sadar nanti. Ia sangat menyayangi anaknya yang belum lahir itu, tapi sayang anaknya yang masih berbentuk janin itu telah tiada.
"Dia pasti sedih, nak. Tapi ada kita disini, kita disini untuk menguatkannya." kata Ratih sambil melihat Ara yang masih terpejam di atas ranjang itu.
CEKLET!
Pintu ruangan itu terbuka lebar.
"Bu, Mia, gimana keadaan Ara?" tanya Regan dengan nafas terengah-engah saat memasuki ruang rawat Ara.
"Ara masih belum siuman, pak." sahut Mia menjawab.
__ADS_1
Regan terlihat cemas melihat Ara, dadanya naik turun dan nafasnya tidak teratur. Ia langsung pergi ke rumah sakit begitu dikabari oleh Arga dan ia langsung keluar dari ruang rapat di kantornya.
"Ra..." lirih Regan pelan seraya menatap gadis itu dengan sendu.
Maafkan aku tidak bisa melindungi kamu Ra.
"Bu, apa Ara gak apa-apa?" tanya Regan pada Ratih.
"Ara...bayinya meninggal nak." jawab Ratih sambil menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian, Ara membuat matanya dan tangannya juga mulai bergerak. Ia menatap ruangan yang di dominasi oleh cat berwarna putih itu.
"Alhamdulillah, kamu sudah siuman nak?" Ratih memegang tangan Ara dengan lega.
"Apa maksud ibu barusan? Bayi siapa yang meninggal Bu?" Ara langsung beranjak duduk, dia menatap Ratih dengan tatapan menelisik. Wajahnya begitu pucat.
"A-Ara..."
Astagfirullah, Ara mendengarnya.
"Ra, kamu tenang dulu ya." Mia mencoba menenangkan Ara dan memegang tangannya, tapi Ara menepisnya. Regan cemas melihatnya tapi di tidak bisa berkata-kata.
"Jawab Bu! Bayi siapa yang meninggal Bu?!" sentak Ara dengan buliran air mata membasahi pipinya. Ratih dan Mia juga tak kuasa menahan tangis, bibir mereka kelu dan beku secara mendadak.
Tapi saat Ara merasakan perih dibagian intinya seperti dijahit atau--
"Gak! Anakku masih ada, dia gak mungkin....gak...hiks...anakku masih ada!!" Ara menangis histeris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu harus kuat nak," Ratih berusaha menenangkan Ara dengan memeluknya. Mia dan Regan yang ada disana tak kuasa melihat kesedihan Ara.
"Anakku! TIIIDAAAKKK! ARGGGGH!!"
Diluar sana, Bryce, Anna dan Sean mengintip Ara dari balik jendela. Mereka tak berani masuk ke dalam sana, hanya bisa menangis menyesali semua perbuatan mereka.
Mereka akan meminta maaf setelah waktunya pas, tapi entahlah apakah maaf itu masih ada setelah ini, atau tidak?
...*****...
Maaf up kemalaman 🤧🤧 author sibuk mau tamatin novel sebelah dulu...
insya Allah bulan depan author double up, bulan ini slow dulu ya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel author yang lain ya 😁